
Aku yakin dan berani bertaruh. Aku pasti jatuh di lantai kantin yang licin. Kepalaku yang berharga, terluka akibat terbentur lantai.
Aku akan dirawat, di tempat yang sama seperti usai Max menghisap darahku. Mungkin, aku akan menghabiskan waktu yang lebih lama di sana. Aduh... Rasanya, kepalaku...
“Kau tidak tertidur di hari pertamamu bekerja kan, Miss Dallaire?”
Eh?
Eh? Eh? Eh? Itu... Itu suaranya, Luc! Apa... yang dia bilang? Tertidur? Aku jatuh dan pingsan, bodoh! Aku pingsan!! Pingsan! Masa enggak tahu, sih?
Tunggu. Tapi... rasanya, tubuhku kok jadi ringan ya? Seperti, ada yang menopangku. Mungkin, karena aku sedang pingsan, jadi berasa kayak ringan. Hm, ya, itu.
“Miss Dallaire?” panggil Luc. Mana ada orang enggak sadar bisa jawab, kalau dipanggil? Dasar... Kebangetan.
“Miss Dallaire?” panggil Luc lagi. Pria ini, beneran bodoh deh! Aku kan, pingsan! Berapa kali kubilang?!
Tiba-tiba, tangan Luc menepuk-nepuk pipiku. “Rei? Rei, kau baik-baik saja?” tanyanya dengan bahasa non formal. Dia terdengar cemas. Dan aku, baru tahu kalau dia bisa secemas itu.
Eh? Aku dengar semua perkataannya, lho! Kalau orang pingsan, enggak mungkin juga bisa mendengar omongan orang lain sejelas ini. Kayaknya, aku...
Perlahan, ku buka sedikit demi sedikit kelopak mataku. Sebelum Luc sungguhan memanggil dokter, aku harus memastikan keadaanku terlebih dahulu. Kalau aku enggak beneran pingsan kan... Malu jadi...
Walah?!
Tentu, hal yang pertama kali ku ekspresikan adalah itu. Kaget dong. Saat melihat tubuhku yang tadinya jatuh, rupanya masih tertahan oleh tangan Luc yang cekatan. Kesimpulannya, aku tidak jadi jatuh.
__ADS_1
Berarti, bayanganku bakal di rawat di ruangan yang kemarin, hanya ilusi belaka. Kepalaku yang tadi sempat sakit, sekali lagi itu hanyalah efek dari ilusi yang kuciptakan. Sekarang, aku tidak tahu harus bagaimana. Karena aku, saat ini sedang dirudung...
Malu.
“Kau baik-baik saja?” tanya Luc dengan muka cemas, mengetahui aku kembali membuka mata. Kuanggukkan kepalaku, sebagai jawaban. Luc membantuku berdiri seperti semula.
“Tadi, aku sempat menangkapmu, kok. Kenapa masih memejamkan mata? Membuatku kaget saja” gerutunya amat kesal. “Oh, tadi kepalaku terdengklak ke belakang. Meski baik-baik saja, rasanya pusing kalau langsung berdiri” elakku sok logis. “Oh... Dramatisasi ya?” balas Luc bernada menyindir.
“Zaman sekarang ya begitu. Ada orang sakit, dibilang drama” kataku membalas. “Cih, apa coba yang membuat Tuan Deval tertarik sampai memaksamu untuk bergabung di sini? Sudah merepotkan, malas, tidak bertanggung jawab pula!” ejek Luc makin menyebalkan. Kesabaranku, sudah berada di ambang batas. Orang ini, belum kenal saja sudah aneh-aneh ngomongnya.
Buru-buru, ku cubit dengan pelan punggung tangannya. Kalau kau tidak sopan, aku juga bisa. Mau kau sok kenal, akan ku tanggapi. Tuh, rasakan!
Meski cuma cubitan kecil, Luc langsung mengaduh kesakitan. Padahal, badannya segede itu lho. Tubuhku saja, kalah besar dan kalah tinggi darinya. Tanganku, bagai semut dan raksasa kalau dibanding dengan tangannya. Lemah.
“Aduh, kau! Cari mati, ya?” ancam Luc. “Siapa? Enggak kenal. Enggak ada manusia di kota ini yang namanya, mati” candaku santai. Ekspresinya, seketika ingin sekali mengacak-acak mukaku. Kesal, ya? Salah sendiri. Menilai seseorang, cuman dari covernya.
Dia tampak berpikir sejenak. “Tuan Deval bilang, kita harusnya berbicara dengan santai. Jadi kurasa, lebih baik non-formal” jawabnya memutuskan. Duh, bakal emosian terus nih. Tapi, yah... Enggak masalah. Penting, bisa jadi akrab. Pekerjaan itu, kalau lingkungannya bagus, nanti hasil dari kerjanya juga akan bagus.
Luc mengajakku berkeliling ke setiap sudut ruangan hotel. Di setiap perjalanan, tak henti-hentinya ku membuka mulut. Mulai dari interior hingga nomor ruangannya, benar-benar sama dengan Golden Luxury Hotel, tempatku bekerja.
Aku tahu. Memang, hotel ini adalah hotel yang sama. Hanya saja, ada filter yang membedakan para tamu. Itu berarti, luas bangunan ini sungguh sangat besar.
“Sudah sejak lama, Tuan Deval membuat sebuah aturan untuk panggilan satu sama lain. Tapi hingga saat ini, aku paling tidak bisa berbicara santai dengannya. Beruntung, kau mudah sekali langsung memanggil namanya” curhat Luc. “Awalnya, aku juga tidak bisa memanggil tanpa sebutan, Direktur. Tapi, kalau tidak di patuhi, kalau aku di hukum gantung... siapa yang mau tanggung jawab?” tanggapku jujur. Luc mendadak tertawa, usai mendengar jawabanku.
Aneh. Padahal, tidak ada yang lucu dari perkataanku barusan. Tidak tahu sih, kalau menurutnya lucu. Buatku, tidak masalah selain dia memang sungguhan terhibur.
__ADS_1
“Iya sih. Perkataanmu, memang ada benarnya. Tapi, ada hal yang penting dan harus kau ketahui. Alasan mengapa aku tidak bisa berbicara santai padanya, tapi bisa melakukannya di hadapan Robin maupun Max. Itu karena... ini” kata Luc. Langkahnya terhenti di sebuah ukiran batu. Ukiran itu, ternyata sebuah lukisan.
Lukisannya, terukir di tembok yang ada di lobby hotel. “Kau lihat? Ini adalah cerita dari Perang Vosre, yang diukir di sini. Pria yang sedang menggunakan tubuhnya, untuk melindungi segerombolan orang di belakang itu... Pria dari klan Tuan Deval. Dia, merelakan nyawanya demi melindungi klan lain, yang dituduh telah membunuh banyak manusia oleh Pemburu Kematian” terang Luc mengingat kisah dari masa lalu. Dan lagi-lagi, Perang Vosre.
“Kenapa klan Marc bisa seberani itu, menghadapi para Pemburu Kematian?” tanyaku malah jadi penasaran. “Mereka adalah klan dengan kedudukan tertinggi dari klan-klan penghisap darah yang lain. Karena itu, mereka merasa bertanggung jawab untuk melindungi klan lain yang lebih lemah. Termasuk, klanku...” jawab Luc. Aku mengerutkan kening.
“Memangnya, apa yang terjadi dengan klanmu?”
“Setelah Perang Vosre pecah, banyak sekali orang-orang dari klanku bahkan keluargaku, tewas terkena serangan. Klanku, dituduh turut bersalah atas kematian para manusia. Pemburu Kematian bilang, manusia itu tewas setelah darahnya diserap. Saat dalam keadaan terdesak, klan Tuan Marc menampung klan kami dan menyatukan klan kami dengan klan mereka”
“Dan akhirnya, kau tidak jadi di eksekusi oleh para Pemburu Kematian? Karena merasa terhormat nyawa klanmu diselamatkan, kau jadi merasa tidak enak kalau berbicara santai dengannya?”
“Bukan tidak enak. Tidak pantas! Baik dulu maupun sekarang, klanku tetaplah berada di bawahnya. Apalagi sekarang, Tuan Deval adalah pimpinan tertinggi dari klannya”
Aku segera menatap ke arah lain, ketika mendengar suara Luc mulai agak ngegas. Mau cerita ataupun sedang bicara biasa, dia kebiasaan selalu ngegas. Jadi malas ngomong.
“Tapi terima kasih, sudah mendengarkanku. Harusnya, aku menjelaskan bukannya curhat” ucap Luc mendadak. Mengejutkan sekali. Dia bilang apa? Makasih? Padahal, aku enggak membantu apa-apa.
“Aku mengerti, kau memang tidak bisa, karena terhalang oleh sejarah itu. Tapi, di masa saat ini, Marc tetaplah iblis pada umumnya. Dia juga merasa kesepian. Kalau tidak ada yang peduli dengan perasaannya yang seperti itu, kurasa itu juga bukanlah bentuk dari rasa hormat” ujarku, berusaha menanggapi dari sisi Marc. Sumpah, aku mengatakannya karena memang aku merasa, Marc agak kesepian tadi. Padahal, dia sudah heboh pas mau mengantarku berkeliling.
“Apa maksudmu?” tanya Luc dengan wajah serius. Waduh, salah ngomong ya? Aku lupa, dia ini kan iblis. Mana bisa diajak ngomong kayak orang normal?
“Maksudku, itulah mengapa dia meminta kalian untuk berbicara santai padanya. Terutama kau. Dia pikir, kau adalah temannya yang paling dekat. Kalau akrab, kita bisa saling bertukar pikiran kan? Kita juga bisa tahu, seberapa berharga diri kita di hadapannya” lanjutku menjelaskan. Seketika, wajah Luc berubah murung. Dia terlihat menunduk.
“Kau... tidak mau akrab dengannya? Padahal, Marc sudah berusaha keras kan ya? Masa, dikecewakan? Mungkin itu juga alasan, kenapa lainnya bisa berbicara santai dengannya. Kau pasti... sangat ingin berteman baik dengannya, kan? Aku tidak bicara tentang aturan dalam klan, lho ya? Aku bicara soal, teman dalam lingkungan kerja” kataku panjang. Hari ini, melelahkan sekali. Jarang-jarang, aku bisa ngomong sebanyak ini.
__ADS_1
Tiba-tiba, Luc kembali menatap ke arahku. Dia mengelus lembut kepalaku. “Kau ini benar-benar, ya? Jadi karena ini, Marc bersikeras untuk mengajakmu bergabung” ujarnya.
Jangan gitu, dong! Kau kan, seorang pria! Kalau bersikap manis begitu, pertahananku sebagai wanita agar tak jatuh cinta, bisa hancur sedikit demi sedikit.