produk gagal

produk gagal
Pasca Pelatihan


__ADS_3

“Reine? Kamu baik-baik saja? Maaf, aku terlambat mengikuti pelatihan pertamamu” ujar Robin, ketika aku berada di ruang perawatan. Ya. Omong-omong, setelah kejadian tadi, aku langsung membawa Luc ke ruang perawatan. Dia terluka, usai menghalangi beberapa iblis dari klan Ludovic yang mengamuk.


Ku kira, hanya aku yang menjadi pegawai di sini. Setelah kode dibunyikan oleh Luc, beberapa orang berpakaian serba hitam dan juga bertudung, tampak memenuhi ruang eksekusi. Dengan sebuah tombak di tangan, mereka mengalahkan klan Ludovic dengan mudah.


Saat ini, klan Ludovic sedang di kurung dalam sel yang baru. Untungnya, semuanya bisa dikendalikan dengan baik. Dan untungnya lagi, Luc hanya mendapatkan luka ringan. Kupikir, masih bisa sembuh dengan cepat.


“Aku baik-baik saja, Rob. Tidak masalah, yang penting kamu sudah berada di sini, bukan?” jawabku. “Padahal kemarin malam, aku sudah berjanji akan menemani pelatihan pertamamu” sesal Robin. Aku hanya menggeleng pelan.


“Kamu sibuk, tidak perlu menyesalinya” tanggapku berusaha menenangkan. “Maaf, harus ada kejadian seperti ini di hari pertamamu bekerja” katanya, menyesali sesuatu yang lain. “Ya. Ngomong-ngomong soal itu. Apakah pertahanan bangunan ini, tidak lagi aman? Bahkan, klan level 7 seperti klannya Ludovic saja, bisa menembus keamanan Underwall. Apa keamanan bangunan ini bisa disadap begitu?” tanyaku mendesak.


Robin tersenyum. Kemudian, dia berkata,


“Sepertinya, pelatihan pertamamu akan mendapatkan nilai sempurna. Kamu bahkan sudah tahu, level-level dalam klan penghisap darah”


“Aku hanya tahu, sedikit. Ada empat wilayah yang ditempati para klan penghisap darah. Klan Barat dengan klan berlevel, 4 sampai 6. Klan Timur, dengan level 7 sampai 8. Klan Selatan, klan yang terkenal, termasuk klanmu. Level 2 sampai 3. Dan terakhir, Klan Utara dengan level pertama, klan yang ditempati klannya Maximilien. Klan Marc tidak termasuk, karena dia merupakan klan pusat dan tak memiliki level. Sebab, kekuatannya tak bisa dihitung dengan level. Klan bangsawan kelas utama memiliki kekuatan tak terhingga dan martabat serta moral yang tinggi”


“Intinya, Marc berbeda dengan klan kami. Good job, Reine. Oh, dan soal pertahanan bangunan ini. Tadi selesai kulakukan pengecekan. Semuanya aman. Mungkin, ada orang dalam yang menyamarkan mereka. Karena itu, aku dan Marc sedang menyelidikinya. Tadi, regu Max juga sudah diturunkan untuk penyelidikan. Jadi, kamu tidak perlu khawatir dan beristirahatlah”


Aku menghela nafas lega, usai mendengar penjelasan dari Robin. Sepertinya, memang benar begitu adanya. Ada orang dalam yang berkhianat.


“Karena alasan itu, Rei. Kami... hanya percaya pada manusia. Kadang, apa yang kami khawatirkan, akhirnya terjadi” ungkap Robin samar-samar. Aku mengerutkan kening. “Hm? Apa yang kalian khawatirkan?” tanyaku penasaran.


Robin segera menggeleng. “Akan kuberi tahu nanti. Setelah kamu beristirahat. Kata Luc, kamu melakukan tugasmu dengan baik. Kamu hebat, Reine” pujinya mengalihkan. Ya... yah, begitulah. Ku tarik pelatuknya, malah dua peluru sekaligus yang menembus Ludovic.


Kalian tidak percaya? Aku berhasil melumpuhkan Ludovic lho! Dengan dua kali tembakan, tubuh Ludovic berubah menjadi abu. Di detik terakhir sebelum kematiannya, dia tidak menyerah pada pendapatnya tentang, ‘semua manusia itu lemah’.


Dasar, iblis tidak tahu diri!

__ADS_1


“Istirahatlah. Aku akan memantau Max dulu. Terkadang, dia masih terlalu labil dan suka seenaknya sendiri. Sekali lagi, maafkan aku. Di pelatihan berikutnya, aku pasti akan menemanimu” pamit Robin yang tetap menyesali keterlambatannya. “Tidak masalah kataku. Kamu tidak perlu minta maaf!” balasku agak kesal. Dia tertawa pelan sembari mencomel pipi kananku.


“Aduh!” rintihku makin kesal. Sekali lagi, dia hanya tertawa kecil diikuti lambaian tangannya. Dia melangkah pergi, usai membuatku sedikit sebal. Dasar, iblis ini juga sama menyebalkannya.


Lukaku hanya sedikit. Kalau terus berpikir di atas tempat tidur, aku tidak bisa tenang. Aku harus bangun dan memastikannya sendiri!


Buru-buru, ku pakai alas kakiku dan melangkah menuju ke ruang perawatan sebelah. Dari kaca jendela, kulihat Luc sedang tertidur pulas. Sepertinya, dia terkena efek obat.


Jadi ingat kata Max. Bagi para penghisap darah, tidur akan membuat luka jadi cepat sembuh. Ketika tidur, regenerasi kulit akan membungkus luka sebesar apapun.


Kurasa, aku tidak boleh mengganggunya. Perlahan, ku coba untuk melangkah menjauh dari ruang perawatan. Ketika langkah pertama ku hentakkan, kaca jendela ruangan, terdengar diketuk dengan kasar.


Aku menoleh ke arah asal suara. Luc. Dia menatap ke arahku, lewat kaca jendela. Ekspresinya seakan berkata, ‘mau apa kau?’. Jadi, sesegera mungkin ku gelengkan kepalaku.


Sayangnya, dia malah menyuruhku masuk. Orang ini... apa yang akan dia lakukan dengan keadaan yang begitu? Mau memarahiku?


“Kau baik-baik saja?” tanyaku menyapa. “Kukira, kau yang bakal mati...” balasnya nyelekit. Sudah biasa kok. “Hush!” seruku mengingatkan. “Syukur deh, kau masih hidup” tambahnya lebih menyakitkan.


Dih!


Kusentil bibirnya dengan jemariku. Rasakan, tuh! Kau tahu? Itu adalah sentilan paling bertenaga dari Reine Dallaire. Kemarahanku sudah mencapai ubun-ubun. Membuat jemariku, lebih kuat menyentilnya.


“Aduh!” rintihnya kesakitan. “Itu sebabnya, kau harus berhenti mengolok orang lain di saat situasimu lagi enggak baik! Aku masih tidak tega lho! Makanya, aku melihatmu kemari! Kau malah, menyerangku dengan perkataan yang seperti itu!” dengusku kesal. “Kau marah?” tanyanya dengan polosnya.


Kemarahanku tak bisa dibendung lagi. “Tentu saja!” teriakku melampiaskan. "Oke, maaf” sesalnya tak terduga. Dia terlihat menunduk, dengan kondisi masih berbaring di tempat tidur ruang perawatan.


Eh? Enggak salah dengar? Maaf, katanya? Apa karena sedang sakit, dia jadi begitu? Duh, makin kesal jadinya!!!

__ADS_1


“Sudahlah, beristirahatlah” pintaku pelan. Tidak ada gunanya, berdebat dengan orang yang lagi sakit. Lukanya benar-benar sewajah penuh. Lengannya juga kelihatan sobek dan dijahit panjang. Iblis dari klannya Ludovic itu... kalau mereka datangnya tidak mendadak, pasti Luc bisa mengalahkan mereka semua.


“Tidak perlu mencemaskanku. Yang penting, kau baik-baik saja. Aku bisa dibunuh Marc, kalau kau terluka” ujar Luc tiba-tiba. “Aku terluka, kok. Nih, lihat. Jadi, Marc akan membunuhmu, kalau aku terluka? Kalau gitu, bakal kubilang Marc deh. Biar kau, langsung dieksekusi dengannya” candaku menakuti. Niatku, cuman bercanda kok. Sungguh.


Tapi, wajah Luc malah berubah tegang. Buru-buru, dia melompat dari ranjang dan berlutut di hadapanku. Dia ini... kenapa? Gila? Ada korsleting mungkin, di otaknya? Apa karena efek obat? Atau... efek diterjang musuh sebanyak itu?! Wah! Gawat!


“Maafkan aku, Miss Dallaire. Tolong, ampuni aku...” pinta Luc memohon. Seperti dugaanmu, aku hanya bisa mengerutkan kening penuh dengan keheranan. “Kau baik-baik saja? Apaan sih? Jadi takut nih. Bangunlah!” tanggapku biasa.


Masih dengan menunduk, Luc akhirnya bangun. Dia kenapa ya? Apa jangan-jangan... Marc menyuruhnya untuk menjaga sikap? Tidak biasanya, dia berubah gini. Padahal biasanya, kalau ngomong kasar, ya bakal kasar terus tanpa minta maaf.


So, aku harus memastikannya.


“Kalau begitu, beristirahatlah. Jangan jadi canggung begitu. Aku hanya bercanda. Bye, Luc” pamitku cepat-cepat. Aku tidak ingin, dia berubah jadi makin aneh. Karena itu, kuputuskan untuk menemui Marc di ruangannya.


Dengan agak terburu-buru, ku tekan tombol 17. Ruangannya, ada di lantai 17. Tak lama kemudian, pintu lift terbuka.


Aku tak sengaja, berpapasan dengan Max. Sepertinya, dia selesai melaporkan sesuatu pada Marc. “Direktur ada di dalam?” tanyaku berbasa-basi.


“Hm, tentu. Ooh, aku suka kemajuanmu, Sayang...” jawab Max dengan kalimat pujiannya. Dia... masih terasa normal. Meski firasatku berkata, ada yang sedang dia sembunyikan. Tapi, bodoh lah.


Usai mengatakan itu, Max tampak berlalu. Jadi, segera kuketuk saja pintu Marc sebelum dia lebih sibuk lagi. Dan lebih sulit lagi untuk di temui. Direktur memang begitu.


Gagang pintu masih ku pegang. Mendadak, tubuhku terasa tertarik ke dalam. Pintunya, terbuka. Dan Marc yang membukanya dari dalam. Tidak seperti biasa.


Dengan wajah panik dan khawatir tingkat dewa, dia menarikku. Kecepatannya, bagai kilat menyambar hingga tak bisa lagi ku kendalikan.


Marc memelukku. Rasanya, sangat erat. Aku bahkan bisa mendengar suara detak jantungnya yang cepat dan tak beraturan.

__ADS_1


Dia... kenapa?


__ADS_2