produk gagal

produk gagal
Tugas Khusus


__ADS_3

“Carine?” ulang Marc bingung. Dia seperti, pernah mendengar nama itu di suatu tempat. Namun, meski berusaha mengingat dengan keras, dia tetap tak dapat mengingat.


Dan lagi, wanita yang berdiri di hadapannya tersebut, memiliki wajah yang serupa dengan wajah Reine. Bahkan dapat dikatakan, mereka tak ada bedanya. Seperti, Reine yang bertransformasi menjadi Carine.


“Bukan, Deval. Bukan itu. Aku akan menjelaskan semuanya, tapi aku takut tak ada waktu. Rav, bukalah portal lain menggunakan ini. Terus, bawa Robin dan Luc ke tempat perawatan. Kamu mengerti?” pinta Carine lembut nan tegas, nada yang khas darinya. “Baik, Nona. Aku mengerti” jawab Raven diikuti anggukan patuh. Bersama dengan Carine, Raven tampak lebih jinak dan sangat menurut.


“Deval, kau harus ikut denganku. Ada hal penting yang wajib kita selamatkan terlebih dahulu” kata Carine ke arah Marc. Meski babak belur, Marc masih bisa berdiri. Namun, ya begitu. Tampaknya, dia masih bingung dengan seluruh kejadian yang terjadi di depan matanya.


“Deval? Kenapa bengong? Ku bilang, aku akan menjelaskannya. Tapi karena waktu, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Masih kuat jalan, kan?” tanya Carine sembari mengembalikan pedang ke dalam tempatnya. Marc hanya mengangguk dengan terbata-bata. “Rav, aku akan pergi ke runtuhan lama. Kalau kamu sudah sampai, kabarkan pada yang mulia. Penyihir tua bangka itu, sedang melewati portal yang mengarah ke pusat kota” perintah Carine pada Raven lagi. Dia tetap terlihat tenang, menghadapi mahluk sekelas penyihir hitam.


Raven mengangguk sembari mencengkeram erat Robin dan Luc dengan kedua kaki naganya. “Nona, berhati-hatilah” ucapnya tak lama. “Hm, kau juga. Jangan lupa, kirimkan pesanku padanya. Aku hanya sekedar mengantisipasi. Kalau-kalau, aku terlambat mengeksekusinya” tegas Carine. Raven kembali mengangguk, sebelum terbang ke atas langit.


“Oke, yang itu beres. Sekarang, ayo, Deval” ajak Carine. Seperti orang kikuk, Marc bergerak pelan ke arah Carine. “Kau siap?” tanya wanita itu. Marc mengangguk pelan.


Kemudian, Carine tampak mengayunkan pedangnya. Seketika, pedang berubah menjadi sebuah tongkat perak. Yang jika diangkat, panjangnya melebihi tinggi Carine sendiri.


Lalu, tongkat tersebut dientakkan ke tanah. Bagai sihir,  Marc mendadak terbang. Di bawahnya, beberapa kupu-kupu terlihat melingkari dirinya dan Carine. Pemandangan itu sangat mengagumkan bagi Marc. Ternyata, kupu-kupu pelindung benar-benar nyata.

__ADS_1


Dan dia, adalah manusia biasa yang bernama, Carine. Marc baru mempercayainya hari ini. Tak hanya dia, Robin maupun Luc pun, mungkin akan sangat terkejut saat tahu jika, Reine telah bereinkarnasi menjadi Carine.


Atau, sebaliknya?


Pikiran Marc saat itu hanya dihiasi oleh perubahan Reine menjadi Carine. Dia juga diam-diam terus memperhatikan Carine di sela-sela mereka terbang bersama kupu-kupu. Marc juga berulang kali menatap ke arah permata perak yang menghiasi kepala tongkat milik Carine.


Jadi, diakah pemilik permata itu? Lalu, apa hubungannya dengan Reine? Apakah selama ini, Reine tidaklah nyata?


Pikiran Marc lagi-lagi terpusat ke sana. Tanpa sadar, dia telah tiba di runtuhan lama. Sebuah tempat yang tak asing bagi Marc.


“Kenapa aku mengajakmu kemari? Karena, ini adalah tugas dari seorang Pemburu Kematian sepertimu. Jadi, ini adalah runtuhan lama. Kau pasti tahu, dulu di sini adalah tempat berdirinya sebuah istana” jelas Carine. Mereka pun, tampak turun. Setelah itu, sekumpulan kupu-kupu yang membuat mereka terbang, seketika berpencar dan menghilang seperti debu.


Runtuhan tersebut, tak pernah lapuk meski di makan zaman. Bekas dari istana putih yang dulunya begitu megah, masih menyisakan pilar-pilar beton yang menyangga bangunan tersebut. Bahkan, pintu masuk istana masih utuh berdiri.


Bagiku, ini adalah petunjuk dari Langit untuk para pemimpin masa kini. Di mana, istana ini dulunya di pimpin oleh seorang Ratu yang tegas dan bijaksana. Kerajaan benar-benar dalam posisi yang aman, damai dan sejahtera. Tragisnya, istana di hancurkan oleh kekuatan jahat para iblis hitam. Kemudian, sang Ratu lebih dulu menyelamatkan rakyatnya di suatu tempat. Hanya beberapa tentara yang siap mati, bergabung dengannya. Dengan segenap kekuatan itu, Ratu itu rela merenggang nyawa demi rakyatnya, batin Marc. Dia tampak berjalan, sembari berusaha membayangkan suasana itu di dalam pikirannya.  Pengorbanan seorang pemimpin, untuk melindungi rakyatnya. Sebab itu, bangunan ini menjadi saksi bisu pengorbanan yang telah sang Ratu lakukan.


“Dan tempat ini, kini menjadi kunci dari permata perak. Kau tahu kenapa?” celetuk Carine, bak sedari tadi telah mendengar batin Marc. “Sa... Saya tidak mengerti...” jawab Marc kelabakan. “Karena... Aku tidak akan mengatakannya sekarang. Jadi, nanti tunggu ya?” canda Carine menggoda.

__ADS_1


Melihat Marc yang terus tegang dan kebingungan, Carine terus berusaha mencairkan suasana. “Tugas kita adalah mengembalikan permata ini ke tempatnya. Kau tahu di mana? Enggak, ya? Permata perak ini, harus dikembalikan di podium istana. Jika tidak, seluruh penduduk di dunia baru ini, tidak akan bisa hidup lagi. Dan lagi, ini tugas khusus, lho! Jarang, ada Pemburu Kematian yang ikut kemari” terang Carine. Seketika, Marc tersadar. “Suatu kehormatan bagi saya, dapat mengemban tugas khusus seperti ini” ucapnya penuh hormat.


Carine tersenyum. Dengan langkah tegas, dia menuju ke arah podium. Sejenak, Marc merasakan tekanan angin yang kuat. Angin tersebut, bak menyuruhnya untuk berhenti melangkah.


Saat melihat Carine melangkah sudah cukup jauh darinya, Marc melihat sekelebat bayangan dari masa lalu. Seorang wanita tampak melangkah ke arah mimbar kerajaan untuk menerima sebuah perintah resmi. Di sebelahnya, podium berwarna putih itu, masih berada di sana. Di atas karpet merah yang suci.


Carine melepaskan permata perak dari kepala tongkatnya. Sudah seperti biasa dia lakukan, perlahan Carine menempatkan permata tersebut ke podium. Di bagian depan podium itu, terdapat sebuah cekungan lebar. Saat permata perak di tempatkan ke dalam cekungan itu, angin yang sempat menghalangi langkah Marc, kembali seperti semula.


Dunia baru, telah normal kembali.


“Sekarang, waktunya berburu. Kali ini, apakah kau juga sudah siap? Kalau lelah, kau boleh menolak. Aku akan mengirimu ke tempat Robin dan Luc” ujar Carine memberikan opsi. Marc tampak terdiam. Dia masih tidak bisa menghilangkan perasaannya yang bingung.


Di hadapan Marc, ada sosok wanita yang berwajah sama dengan Reine. Pesona Reine, seakan telah tumpah menjadi milik Carine. Atau mungkin, sifat Reine juga merupakan bagian dari sifat lain yang dimiliki oleh Carine?


Tapi, dia bukanlah Reine. Mungkin, wajah yang Marc lihat merupakan cermin ilusi yang diciptakan oleh pikirannya. Dia hanya tidak bisa menerima.


Tidak.

__ADS_1


Reine belum tewas. Tapi, dia menghilang. Menghilang? Ke mana? Dia sudah tidak ada di dunia ini lagi.


Lalu, apakah itu artinya... Reine benar-benar telah... tiada?


__ADS_2