produk gagal

produk gagal
Pengintaian


__ADS_3

Aku tersadar, ketika semuanya telah usai. Saat terbangun setelah beberapa menit tak sadarkan diri, aku sudah berada di pelukan Marc. Entah, apa yang terjadi. Seingatku, aku berusaha melepaskan diri dari kedua iblis klan elang. Pikirku, dengan menggunakan kekuatan perisai, mereka bisa dibasmi dengan cepat. Namun, perkiraanku salah. Rupanya, malah aku yang terjembab dalam kekuatan yang begitu besar. Sehingga diriku, tak kuat menahannya lagi dan tentu, pingsan. Ketika sedikit sadar, aku melihat ada Max sedang memegang pistol di sana. Tapi kemudian, aku tidak tahu lagi.


“Kamu baik-baik saja? Ada yang terluka?” tanya Marc terlihat mulai cemas, ketika dirinya menyadari Reine sudah siuman. Reine hanya menggeleng pelan. Dia berusaha bangkit dari pelukan Marc.


“Bagaimana dengan iblis itu?” balas Reine mengalihkan. “Tenang saja, mereka sudah dibasmi” ujar Marc memberi tahu. Sekali lagi, Reine hanya menjawab dengan kepalanya. Baik itu sebuah anggukan, maupun gelengan. Reine mungkin, sedikit memberi jarak, antara dirinya dan Marc.


Bukan karena membenci pria itu, hanya saja Reine masih merasa trauma. Perkataan Marc tempo hari, membuatnya terluka dan sedikit hilang harapan. Bahkan, hari ini dia memberanikan diri untuk mengalahkan musuh sendirian lagi. Demi alasan, dia mampu melindungi dirinya sendiri dan dia, bukanlah penyerang Underwall. Persis seperti, yang selama ini Marc pikirkan tentang dirinya.


“Kamu sungguh baik-baik saja? Mungkin, ada luka yang...” “Oh, ya! Max! Bukankah, dia ada bersamamu tadi? Aku sempat sadar sebentar dan melihatnya sedang mengurus para iblis” sela Reine cepat. “Oh, ya, Max sedang kumintai tolong untuk segera menangkap seseorang. Sebaiknya, kita kembali ke Underwall” pinta Marc. Reine mengangguk pelan.


Marc melupakan kendaraan ketika pergi menyelamatkan Reine. Dia sangat terburu-buru hingga melupakan kendaraan. Tapi, dia seorang iblis penghisap darah. Tentu saja, ada atau tidak adanya sebuah kendaraan, tidak terpengaruh baginya bukan?


Seperti yang kita pikirkan. Marc segera menanting tubuh Reine bak karung beras, menaikannya ke bahu dan membawanya terbang begitu saja. Dia juga bukanlah penerbang yang hebat seperti halnya Max, namun kita tidak bisa menyimpulkan kalau dia, tidak bisa terbang.


Ya, singkatnya, saat ini Reine sedang di bawa bernostalgia kembali di atas udara. Saat datang ke tempat para iblis klan elang, dia juga dibawa terbang. Pulangnya pun, dia terbang lagi. Tapi yang ini, wajahnya terlihat pasrah. Yah, bukan apa-apa sih. Cuman memang kan, situasi hubungan mereka sedang buruk.


Sampai setibanya di Underwall pun, tak ada pembicaraan yang terdengar dari mulut mereka. Reine tidak tahu harus mengatakan apa, karena pada akhirnya, dia membutuhkan bantuan Marc. Sedangkan Marc, dia tidak tahu harus memulai dari mana, karena Reine sama sekali tidak terluka dan baik-baik saja. Meski, wanita itu sempat tak sadarkan diri akibat kelelahan.


Marc menurunkan Reine dari bahunya. Tak lama setelah kedatangan Reine, Robin tampak menyambut. Dan rupanya, Luc juga sudah berada di sana. Sedangkan Max? Lagi-lagi dia menghilang bersama urusannya.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja?” tanya Robin selembut biasanya. “Hm, tentu” jawab Reine berusaha tersenyum. “Direktur, Maximilien...” lapor Luc terhenti, usai Robin menyikut lengannya pelan. “Rob, tolong antarkan Miss Dallaire ke kamarnya. Luc, ikuti aku” perintah Marc sembari lebih dulu melangkah pergi.


Reine tak berusaha menatap Marc ataupun mengatakan sesuatu. Dia hanya menunduk, menatap ke arah lantai lobby yang sudah bersih. Sebagai informasi saja. Tadi, lobby hotel sempat kacau, akibat dari serangan beberapa iblis. Mereke diprovokasi oleh Lady Dia hingga berani menyerang Underwall. Dan karena itu, mereka telah mendapatkan balasannya.


“Kamu terluka?” tanya Robin masih khawatir. “Tidak, aku baik-baik saja” jawab Reine jujur. “Ku dengar, kamu sempat pingsan?” tanya Robin lagi. “Ya, tapi tak masalah. Tidak perlu khawatir” ujar Reine berusaha menjadi kuat.


Kini, mereka telah berada di depan kamar Reine. “Kalau kamu membutuhkan sesuatu, kamu bisa memintanya padaku. Aku akan datang secepat kilat. Kamu mengerti?” pesan Robin. “Makasih...” ucap Reine diikuti senyum khasnya. Tak lama setelah itu, Robin tampak berbalik pergi. Reine segera menutup rapat pintu kamarnya.


“Mereka menyembunyikan sesuatu. Aku harus mencari tahu, apa yang sedang mereka rencanakan” cetus Reine masih bersikeras. Dia, tak begitu saja mengakhiri pengintaiannya, setelah tadi, sempat gagal di misi pertama mengikuti Luc. Reine yakin kali ini, dia tidak akan gagal lagi.


Jadi, diam-diam Reine membuka pintu kamarnya. Dia lebih dulu mengecek beberapa sudut di luar ruangan, sebelum benar-benar keluar. Reine seperti, para detektif handal yang sedang mengintai targetnya.


Ketika keadaan bisa dibilang, “oke”, Reine langsung keluar. Dia berjalan dengan sangat normal bak hendak menyelesaikan beberapa kegiatan lain. Seperti tamu hotel lain, dia terlihat berjalan dengan wajah sibuk.


Meski tak tahu secara pasti... tapi, aku cukup sadar. Sepanjang jalan, Marc hanya menjawab pertanyaan soal iblis dan bertanya penyebab dirinya pingsan. Dia sama sekali tidak membicarakan tentang Luc dan... Lady Dia. Aku yakin, mereka pasti berhasil menangkap Lady Dia. Karena dia, orang yang telah menyebabkan Underwall terus diserang oleh beberapa iblis yang berniat untuk menghancurkan sel. Jadi, ada kemungkinan kalau Lady Dia... sedang dikurung dalam sel. Setelah kejadian, Luc juga terlihat kembali normal. Pasti, ada sesuatu yang sangat penting, pikir Reine panjang.


“Ting!”


Pintu lift terbuka. Dia, sudah tiba di tempat parkir kendaraan, ruang bawah tanah pertama. “Sudah kuduga, ruang bawah tanah kedua, tempat sel itu berada, tak ada tombol manapun untuk pergi ke sana. Mengingat, ini adalah lift untuk tamu. Tentu, sel tidak akan pernah di ekspos ke luar. Hanya ada satu lift yang menuju ke sana. Lift yang itu, berada di dekat ruangan Marc. Mustahil untukku pergi ke sana. Mereka pasti, akan langsung tahu dan menyuruhku pergi. Tapi kalau lift untuk para tamu... mereka mungkin tak akan menyadarinya” gumam Reine mengoceh sendiri. Dia juga tampak mondar-mandir tak jelas, hanya untuk memikirkan sebuah cara.

__ADS_1


“Tapi, bagaimana bisa sampai ke sana, kalau tidak ada akses untuk lift para tamu?” ujar Reine bertanya-tanya. Dia terlihat memandangi lift yang mulai menutup dan naik ke lantai atas. “Oh! Ya! Itu!” seru Reine girang.


Tanpa berlama-lama, dia segera berlari ke arah tangga darurat. “Tak ada yang tak mungkin. Tangga darurat, pasti ada jalan menuju ke sana. Ketika keadaan gawat, tidak mungkin menyelamatkan para tahanan lewat lift. Terlalu lama. Pasti, mereka memberi pintu darurat yang tersambung ke tangga. Bagus, Reine! Ayo, pergi!” ujarnya mendetail. Reine tampak lebih bersemangat dari siapapun di dunia, saat ini.


Jadi, dia tidak akan menyerah. Walau pintu yang dia maksud, terkunci rapat dari dalam. Namun, bukan Reine jika dia tak memikirkan hal itu juga. Reine sudah memikirkan hal tersebut jauh, sebelum dirinya sampai di sana.


“Ibuku seorang penyihir. Dia pernah melakukan ini sekali. Meski dilarang, tapi di saat mendesak, semuanya bisa dilakukan, bukan? Jadi, bagaimana ibuku melakukannya...” kata Reine sembari berjongkok ke hadapan lubang kunci. Kemudian, Reine terlihat menggosok-gosokkan kedua tangannya ke depan.


“Magie, magie, faites-le fonctionner! Transformer n'importe quoi en papier! Buatlah kunci dan bukalah pintu ini” ujar Reine membaca mantra. Akan tetapi, tak ada yang terjadi setelah dia melakukan hal itu. Dia tampak bernafas panjang. “Tentu saja, aku bukan ibu. Tentu, ini tidak akan bekerja. Bodohnya aku!” umpatnya untuk dirinya sendiri.


Namun mendadak, perkataan Reine barusan mungkin harus dia tarik kembali. Saat sudah hampir putus asa, pintu tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan terjadi. Beberapa kupu-kupu putih, tampak bertebaran di dekat sana. Ketika kupu-kupu mulai terbang dan menghilang, pintu darurat pun terbuka.


Buru-buru, Reine melompat masuk ke dalam sana. Dengan langkah perlahan kembali, Reine berusaha lebih dekat dengan pintu masuk sel. Dari sini, dia mungkin sudah cukup hafal dengan beberapa sudut yang ada.


Jadi, Reine memanfaatkan hal tersebut hanya untuk sekedar bersembunyi sebentar. Saat situasi dirasa telah aman, Reine segera melangkah lebih jauh. Dia bersembunyi di beberapa tempat lain. Dan akhirnya, dia sampai.


Reine sudah dekat dengan sebuah ruangan yang terlihat sudah ramai. Di depan pintu ruangan itu, Robin dan Luc tampak sudah berdiri. Mereka terlihat saling bercakap-cakap. Reine maju lebih dekat, agar bisa mendengar.


“Kau bilang, dia siapa?” tanya Robin mengulang. “Atasan Reine di Luxury. Claudia Harlett” ucap Luc memperjelas. “Dia... manusia. Bukankah, kita tidak menangani hal ini?” bisik Robin. Meski berbisik, suaranya masih dapat dicapai oleh pendengaran Reine.

__ADS_1


Luc sedikit mendekat ke arah telinga Robin, usai sedikit celingukan melihat situasi. “Dia... yang memprovokasi para iblis, agar menyerang Underwall. Kau tahu... Tuan Deval pasti, tidak akan melepaskannya begitu saja. Dan lagi, dia mengancamku untuk segera memindahkan Reine kembali ke Luxury” ungkapnya pelan. “Tidak masuk akal!” seru Robin marah. Luc buru-buru menyikut lengan Robin dengan keras.


“Lady Dia... mereka benar-benar mengurung Lady Dia di tempat itu? Kenapa? Kenapa mereka mengurung Lady Dia dengan para iblis? Bukankah, itu sangat beresiko? Lady Dia hanya manusia, meski dia telah berbuat buruk pada Underwall. Tapi, bukankah itu sedikit... keterlaluan?” gumam Reine pelan. Dia kembali menatap ke arah ruangan yang digunakan Marc untuk mengurung Lady Dia. Dalam hati, tercetus sebuah niat untuk melakukan sesuatu.


__ADS_2