
Sejenak, Marc berpikir. Saat ini, ucapan Reine mendadak masuk akal baginya. Mungkin, katakanlah kita sekarang sama-sama tahu, ke mana Gray pergi.
Akan tetapi, Marc tidak pernah tahu, apa yang membuatnya pergi ke sana. Di saat genting, bukankah hal yang wajar bila lebih mementingkan Underwall, dari pada pergi ke dunia lain? Belum sempat berpikir jauh, tempat Marc dan Reine telah diserang.
Beberapa iblis tampak berhasil mengambil alih tempat itu. Reine dan Marc terlihat terjebab di lantai. Mereka benar-benar terpojok oleh serangan tersebut.
~~
Langkah kakinya terdengar tegas. Dengan sepatu khusus perang miliknya, Gray melangkah menuju ke sebuah tujuan.
“Komandan!” sapa sesosok pria dengan seragam lengkap, tampak penuh hormat. Gray tengah berada di sebuah pangkalan militer. Pangkalan militer yang ada di dunia manusia. Dua orang penjaga pagar besi menjulang tinggi, segera membukakan pintu untuknya.
Gray hanya mengangguk pelan dan masuk ke dalam sebuah pintu. Di belakangnya, terlihat beberapa orang mengikuti. Dan seketika itu, baju yang Gray kenakan, berubah kilat dengan setelan jas panjang lengkap dengan tongkat miliknya.
Tak hanya itu, orang-orang yang mengikuti Gray tadi pun, juga turut berganti baju dengan cepatnya. Di dalam, sudah ada ratusan prajurit militer yang telah siap di barisannya masing-masing. Mereka semua tampak gagah dan tegap.
“Dunia baru telah dikuasai oleh Pvalka. Salah satu prajurit Underwall, berkhianat. Dan satu-satunya kunci keutuhan dunia baru, masih terjebak di Underwall. Baru saja, sinyal bantuan telah diluncurkan. Saat ini, Underwall tengah berada dalam kendali pasukan Pvalka. Segera bagi tiga barisan!” perintah Gray, usai menjelaskan kondisi terkini. Rupanya, sinyal dari Marc telah berhasil terbaca oleh Gray. Saat ini, fokus penyelamatan para Pemburu Kematian yang menjelma menjadi prajurit militer tersebut, terbagi menjadi tiga.
“Tim Alpha, baris pertama! Tugas kalian, amankan para manusia biasa. Dengan hancurnya dunia baru, tidak menutup kemungkinan dunia manusia akan dihancurkan pula. Ku serahkan mereka pada kalian!” lanjut Gray memberi perintah. “Baik!” jawab seluruh anggota Tim Alpha terdengar bersamaan. Mereka akan menjaga dunia manusia biasa dari serangan Pvalka yang diam-diam berusaha menguasai.
“Tim Beta, tembak semua iblis dan siluman yang terindikasi berkhianat. Pisahkan iblis dan siluman yang tidak terindikasi, dari manusia biasa. Tempatkan mereka di tempat terpencil di Selatan. Kalian mengerti?!” lanjut Gray. “Baik, Komandan!” jawab Tim Beta yang suaranya, tak jauh dengan kekompakan dengan Tim Alpha.
Kini, Gray beralih ke arah tim terakhir. “Tim Gamma, hancurkan seluruh portal! Tembak iblis yang masuk ke dalam dunia manusia, melalui portal. Termasuk... portal yang berasal dari Underwall” ucap Gray tegas. “Mohon izin, Komandan! Seperti yang anda katakan sebelumnya, kunci dari dunia baru sedang berada di dalam Underwall. Mereka masih membutuhkan portal. Mohon arahan!” tanggap salah satu Pemburu Kematian. Sepertinya, dia adalah Kapten Tim Gamma. Sebab, dengan beraninya dia menginterupsi perintah Gray.
Gray mengerutkan keningnya. Saat ini, dia terlihat kesal. “Apakah keselamatan mereka... lebih penting dari semua manusia di dunia ini, yang tidak memiliki kekuatan istimewa? Jika ya, jangan hancurkan portalnya” balas Gray dengan nada pelan.
__ADS_1
“Harap hukum saya, Komandan!” pinta si Kapten Tim Gamma. “Aku mengerti maksudmu. Di sana, ada seorang Pemburu Kematian yang juga sedang terjebak. Dia tidak hanya teman baikmu. Marc... juga orang yang penting untukku. Tapi, tugas kita adalah melindungi semuanya” jelas Gray, terlihat jelas kekhawatirannya. Namun, dia tahu Marc, Robin dan juga Reine tidaklah sendiri. Masih ada Raven, yang dia tinggalkan di sana.
Dan juga...
Kalau kau mendengarku sekali saja, tolong... Tolong, bantu aku sekali lagi. Bertarung bersamaku lagi, pinta Gray dalam hati. Berharap, suaranya bakal tersampaikan pada Carine. Berharap, benang merah yang mengikat mereka... masih tertanam dalam di hati masing-masing.
Gray tampak masih memejamkan kedua matanya. Bibirnya, terus bergerak pelan mencoba terhubung dengan separuh jiwanya.
Kembalilah ke sisiku, Carine...
~~
“Rein! Reine! Reine, sadarlah! Kamu baik-baik saja?!” pekik Marc cemas. Marc masih berusaha bangkit, usai serangan mematikan dari para iblis yang berhasil menguasai Underwall. Sementara itu, Reine berhasil Marc lindungi dengan sayap tersembunyinya yang otomatis muncul.
Entah mengapa, Reine mendadak terdiam. Beberapa detik yang lalu, hatinya terasa tersengat sesuatu. Bak serangan listrik, hingga mampu membuat otaknya terhenti sejenak.
Bukan.
Bukan Reine yang mencoba menyadarkan dirinya sendiri. Itu berasal dari Carine. Sejenak, pikirannya mendadak kacau. Rupanya, harapan dari hati Gray yang paling dalam, telah sampai tepat sasaran.
“Ambil pisaumu!”
Perintah dari suara itu, terdengar jelas di dalam pikiran Reine. Bagai kilat menyambar, Reine segera mengambil pisau warisan sang ayah dari dalam saku celana. Sekali lagi, suara yang tak asing tersebut selalu membantunya di kala situasi makin sempit.
“Lemparkan ke depan! Hanya ke arah itu, kau bisa meloloskan diri! Cepat! Kita tidak punya waktu!”
__ADS_1
Reine melemparkan pisau, sesuai dengan arahan suara tersebut. Dia tak pernah ragu, ketika suara itu mengambil alih pikirannya. Reine telah percaya, karena suara itu selalu membimbingnya.
Sesuai perkiraan, pisau tersebut berhasil membuka jalan Reine dan Marc yang tadinya buntu. Anehnya, pisau tersebut mendadak membentuk beberapa pisau lain. Bak, kekuatan Gray yang pernah melindungi Reine dahulu. Tepatnya, di kedai ayam tiruan.
“Lari!”
Dengan segera, Reine menarik tangan Marc dan melarikan diri ke arah jalan yang sedang kosong. Beberapa iblis yang tadinya menutup jalan keluar Reine, kompak hancur menjadi abu, setelah terkena serangan pisau Reine.
Reine masih menggenggam tangan Marc. Dia bingung, mencari-cari ke arah mana mereka akan aman. Reine bisa melihat, usaha para penjaga Underwall, bahkan Robin pun, bersusah payah melindungi hotel raksasa ini.
Marc tiba-tiba melepaskan tangan Reine. Dia memilih jalan lain untuk membantu lainnya. Melindungi Underwall adalah tugas utamanya.
“Pergi ke perpustakaan! Kamu akan aman di sana” perinta Marc. Reine menghentikan langkahnya. Dia menolak dengan gelengan kepala. “Aku akan segera kembali” janji Marc serius.
Reine terdiam sejenak. Antara hendak mengikuti langkah Marc atau menuruti perintahnya. Bimbang merasuk pikirannya.
“Cepat, Reine!” seru Marc terjebak oleh waktu yang makin menipis. Sontak, Reine segera berlari ke arah Perpustakaan yang tak jauh. Baru beberapa langkah meninggalkan Marc, langkah Reine kembali terhenti.
Reine menoleh ke belakang. Di sana, Marc masih mengawasinya. Terlihat jelas, guratan cemas menghiasi wajahnya.
“Pergilah” ucap Marc pelan. “Tolong, hati-hati...” pesan Reine. Nada suaranya terdengar sedih, berat dan tentu, sangat kacau. Mendengar suara parau milik Reine barusan, Marc tak dapat menahannya.
Pria tersebut mendadak berlari kembali menghampiri Reine. Dia memeluk wanitanya dengan sangat erat. Dia tetap tak bisa meninggalkannya begitu saja.
“Aku mencintaimu...” ungkap Marc pelan. Dia menyampaikan perasaannya dengan sangat dan sangat tulus. Tanpa sadar, air mata keduanya tampak mengalir deras.
__ADS_1
Perpisahan, bukanlah kata yang tepat untuk mereka.
Mereka, yang sedang di kuasai oleh cinta.