
Aku termenung, duduk di kursi yang berhadapan dengan Marc. Pembicaraan kami yang belum sempat selesai tadi, akan segera di lanjutkan kembali. Iblis itu benar-benar mengganggu obrolan yang harusnya, sudah selesai beberapa menit lalu.
Bukannya enggan. Aku, pasti bakal kena marah. Sudah tidak kompeten, lemah dan tidak bisa apa-apa, malah hanya merepotkan orang lain. Begitu dengan sok, bersikap seolah jual mahal pada Direktur Deval.
Pakai acara mau menolak tawarannya segala. Reine, sadarlah! Kau itu apa? Lihat? Kau malah menyebabkan Robin terluka, kan? Sekarang, malah kau yang berhutang nyawa pada para iblis ini. Hh...
“Fokus, Rei!” ucap Marc menyadarkanku. Buru-buru, kutegakkan tubuhku kembali. “Maaf, Direktur...” sesalku kemudian. Dia terdengar menghela nafas.
“Dengar, Rei. Aku tahu, kamu pasti syok atas kejadian hari ini. Padahal, kamu masih belum resmi bekerja dengan kami. Maaf, sudah membuatmu kaget”
“Justru, saya yang meminta maaf. Karena saya tidak mematuhi perintah dari anda, saya menyebabkan Robin terluka”
“Sudah kuduga, kamu syok. Hal itu, biasa untuk kami. Tapi jika sampai hal itu berbalik terjadi padamu, aku tidak akan membayangkan bagaimana jadinya. Seperti yang Max bilang, kami memiliki daya pulih yang cepat”
“Maafkan saya, Direktur...”
“Rei, sudah kubilang bukan? Di sini, aku bukan Direkturmu. Dan hari ini, Robin terluka bukan karenamu. Dia sengaja melakukannya, agar kamu terlindungi. Itu sebuah kewajiban. Baik untuk Robin, diriku, Max ataupun Luc. Sayangnya, Max lebih dulu membuat kesalahan. Maaf...” ujar Marc menyesal. “Aku yang minta maaf. Sekarang, anda sudah lihat kan? Saya, tidak memiliki kemampuan yang sama dengan ayah saya. Jadi, bagaimana bisa saya melanjutkan tugasnya?” tanggapku apa adanya. Namun, wajahnya yang tadi sempat murung, berubah tegas hanya dalam sepersekian detik.
“Tidak. Kamu memiliki kemampuan yang sama dengannya. Jangan menyimpulkan, kamu adalah orang lemah akibat dari kejadian hari ini” tolak Marc tak setuju dengan perkataanku. “Kalau memang benar? Anda mau apa?” tanyaku mendesak. “Kalau kamu berkenan, aku akan memberimu pelatihan. Dari sini, kita akan lihat. Bagaimana dirimu yang sebenarnya. Jika gagal, kamu bisa kembali ke Golden Luxury Hotel. Setuju?” tawar Marc serius.
Sungguh? Dia ini, bersikeras sekali sih. Seperti, sudah memindai tubuhku saja. Jadi ingat, apa yang dikatakan Miss Cara beberapa hari yang lalu. Apa benar, ya aku memiliki kekuatan seperti itu?
Umpama, setelah menjalani pelatihan itu, kekuatanku benar-benar muncul... Lalu, apa yang akan kulakukan? Bagaimana kalau mereka memanfaatkanku nanti? Seandainya setuju dengan tawaran Marc, berarti aku harus bekerja lebih berat.
Tapi kalau menolak, rasa penasaran dengan kekuatan yang kumiliki, makin bertambah besar. Miss Cara, bukan tipe orang yang pembohong soal kekuatan itu. Jadi, bagaimana kalau kita membuktikannya?
__ADS_1
“Baiklah, aku setuju” ucapku, usai berpikir panjang sejenak. Untuk yang kedua kalinya, aku melihat ekspresi Marc kembali berubah. Meski hanya sedikit, senyumnya membuatku... lega? Begitulah.
Marc menjabat tanganku. “Selamat datang di klan kami, Miss Dallaire” sambutnya puas. “Kau bilang, tidak ada Direktur dan Pegawai?” tanyaku mengingatkan. “Sure. Aku hampir lupa tentang itu. Mulai sekarang, kita bisa berbicara lebih santai. Kamu bisa memanggilku, Marc. Begitu juga dengan yang lain. Tapi sepertinya, Robin sudah lebih dulu melakukannya” jelas Marc.
Aku mengerutkan keningku. “Melakukan apa?” tanggapku kemudian. “Memanggilmu tanpa Miss...” kata Marc diikuti pandangan matanya yang mengarah ke tempat lain. “Bukankah, kau sudah sering memanggil namaku saja?” balasku mengingat-ingat.
“Kaku... ku ucapkan, pada saat gawat saja” ungkapnya pelan. “Kalau kau tidak bisa melakukannya, aku akan tetap memanggilmu Direktur” ancamku. “Oke, akan ku coba. Perkenalan pribadi, sudah. Sekarang, tinggal perkenalan bangunan. Kamu keberatan, kalau kita berkeliling sebentar?” tanya Marc menawarkan.
Aku tak sengaja menatap matanya. Tatapan Marc, seakan sangat meyakinkan. Ternyata, dia juga ramah. Kalau saja pintu ruangannya tidak diketuk, aku pasti sudah setuju berkeliling dengannya.
Sayang sekali...
Sayangnya, Luc harus muncul dari balik pintu. Usai Marc, mempersilakannya untuk masuk. “Latihan untuk Miss Dallaire, akan siap dalam sepuluh menit. Untuk itu, biarkan aku memperkenalkan gedung ini padanya” lapor Luc, sekalian meminta izin.
“Oh, ya... ide bagus. Barusan, aku juga hendak mengajaknya berkeliling” tanggap Marc terlihat kaget. “Anda tidak perlu melakukannya, Tuan Deval. Biar saya saja. Sebaiknya, anda fokus pada pekerjaan. Rapat perusahaan, sebentar lagi akan di adakan. Jadi, tolong gunakan waktu anda dengan sebaik mungkin. Hal yang bisa kuurus, akan kuurus” kata Luc menawarkan diri. Dia ini, tipe asisten yang benar-benar setia dan melakukan segalanya untuk atasan. Bagus, sih...
“Kalau begitu, tolong ya...” pinta Marc. “Kalau begitu, saya permisi. Miss Dallaire, ikuti aku” pamit Luc, yang kemudian beralih ke arahku. Dengan enggan, aku mengikutinya. Sumpah, masih mending bicara dengan Max. Dia bisa diajak ngomong dikit, walau menyebalkan juga.
Sebelum aku sampai di pintu, kepalaku mendadak menoleh kembali ke belakang. Ternyata, Marc masih menatapku lekat-lekat. Bahkan, walau aku sudah sampai di pintu sekalipun.
Aku menunduk sejenak, memberi hormat sebelum pergi. Saat aku melihat wajahnya, aku berani sumpah. Dia, tampak kecewa. Apa karena, tidak bisa mengajakku berkeliling dan harus bekerja?
Dia, bak macan dalam kandang. Matanya kesepian, ketika melihatku pergi. Aku mendadak enggak tega.
Eh, apa? Enggak! Harus tega! Apanya yang macan dalam kandang? Dia itu, bukan macan lagi. Serigala! Sudah pandai mengganti ekspresi, sangat tenang dan selalu terlihat menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1
Berbahaya.
Kata-kata itu, keluar lagi dari pikiranku. Dari pada aku harus terus melihat wajah itu, pergi dengan cepat adalah jawaban. Tanpa memedulikannya lagi, aku buru-buru menutup pintu.
Kini, aura yang berbeda akhirnya muncul. Bersama dengan Luc di depanku, aku merasakan sesuatu yang lain. Aku memang percaya pada Marc ataupun Robin. Kupikir, perasaanku agak nyaman saat bersama mereka.
Tapi Luc...
Pria dengan tinggi kurang lebih, 186 sentimeter itu, sedang berjalan membelakangiku. Dari sini, bisa kulihat lebar bahunya yang atletis. Aku terlihat sangat kecil darinya, dengan tinggi hanya mencapai 159 senti.
Sepertinya, memang aku yang pendek. Baik itu Marc, Luc dan Robin, tinggi mereka rata-rata sama. Kalau Max menurutku, dia sekitar... 183 senti? Tetap saja, aku masih kalah jauh darinya. Kayaknya, aku bakal mudah sekali dirudung oleh mereka semua. Hadeh... nasibku...
“Apa yang kau pikirkan sedari tadi? Kau pikir, kau sedang study tour?” celetuk Luc dengan nada menyindir. “Maafkan saya, Tuan Luc...” sesalku asal. “Hh? Setelah asyik melamun, sekarang malah berpura-pura lesu? Apa yang terjadi nantinya, pas latihan sudah dimulai? Kalau belum latihan saja, kau sudah malas begini?” tanggapnya bernada tak enak.
Heh! Aku bukannya lesu atau apa. Aku cuman, malas saja denganmu! Aku masih syok nih, gara-gara kejadian tadi! Bisa enggak sih, lihat situasi? Aku baru saja pulih, lho!
Enggak jadi. Enggak mungkin, aku akan mengatakan hal itu padanya. Yang ada, nanti pasti aku bakal kena masalah sendiri. Dia pasti, mengadu yang tidak-tidak pada Marc. Sebelum itu terjadi, aku lebih baik diam dan menurut saja.
“Sekarang, berlagak diam? Sepertinya, Tuan Deval terlalu memanjakanmu ya...” celetuknya lagi. Orang ini benar-benar... Aku diam, salah. Aku ngomong, dibilang malas. Pura-pura lesu. Maksudnya, apa?!!!
Takut salah pas menanggapi, aku hanya menjawab dengan helaan nafas. Setibanya kami di sebuah ruangan mirip kantin, Luc berhenti melangkah. Yang membuatku takjub, bangunan ini benar-benar mirip dengan Golden Luxury Hotel. Tempatku dulu bekerja.
Oh, ya aku jadi ingat kalau berbicara tentang itu. Kalau aku sudah di sini, bagaimana ya dengan pekerjaanku yang ada di sana? Masa, aku meninggalkannya begitu saja, tanpa pamit?
Hmm, nanti kalau ketemu Marc, akan kutanyakan lagi lah. Dia kan, tetaplah Direktur di tempat itu. Sekarang, aku fokus saja pada Luc sebelum dia mengamuk lagi.
__ADS_1
Saat kulangkahkan satu kakiku untuk mengikutinya berjalan masuk ke arah kantin, tiba-tiba kakiku terasa hilang kendali. Kakiku terpeleset, oleh sebuah genangan air yang membasahi lantai kantin. Kayaknya, aku bakal jatuh deh.
Eh, eh, eh... aku jatuh. Lantainya terlalu licin. Tidak! Aduh! Aku jatuh!!