produk gagal

produk gagal
Bukan Orang Asing


__ADS_3

Malam ini, sesuai dengan janji. Reine pergi bersama dengan Robin. Sebenarnya, Reine merasa sedang tak ingin keluar. Akan tetapi, dia tidak mau membuat Robin kecewa.


Robin menemukan sebuah kedai yang jauh dari keramaian di pusat kota. Hanya dengan mengandalkan cahaya dari lampu-lampu kecil, kedai tersebut terasa misterius dan penuh keindahan. Belum lagi, letaknya yang tak jauh dari bukit dengan bunga.


“Kamu melamun lagi, Rein. Masih terpikir yang tadi?” ujar Robin menyadarkan lamun Reine sepenuhnya. “Tidak. Aku baik-baik saja. Pemandangan di sini, bagus sekali. Aku sampai, tak bisa beralih” tanggap Reine segera mengalihkan. “Hm, benar. Aku sengaja membawamu kemari. Oh ya, setelah ini, ada tempat lain yang harus kutunjukkan padamu. Kamu mau ikut?” tawar Robin. Reine tampak mengangguk setuju. Keduanya, terlihat menikmati makanan masing-masing.


Robin benar-benar penyemangat yang baik. Dia berusaha semaksimal mungkin, untuk membuat Reine melupakan masalah. Tempat yang dia tunjukkan pada Reine, semacam atap di sebuah gedung tertinggi di pusat kota. Di atap tersebut, banyak sekali orang-orang yang datang hanya untuk menikmati pemandangan malam.


Ada pula, pasangan manis yang menandai nama masing-masing di sebuah dinding atap. Dinding itu, seperti memang di pergunakan untuk menulis. Apalagi untuk pasangan muda zaman sekarang. Terasa lebih trendi.


Mungkin karena itu, tempatnya sangat padat. Atap tersebut mampu menampung banyak sekali orang yang datang. Meski ramai, atap itu tetaplah memancarkan keindahannya.


“Hh, padahal akulah orang yang pertama kali menemukan tempat ini” celetuk Robin ketika melihat pemandangan langit di dekat pagar pembatas atap. “Kau?” tanya Reine bernada tak percaya. “Kamu pun juga meragukanku. Hh, aku kecewa sekali...” jawab Robin agak kesal. Reine tak dapat menjawab apapun. Dia berusaha untuk menghibur Robin dengan celingukan mencari-cari sesuatu.


Namun, Reine malah menemukan sesuatu yang asing baginya. Reine baru sadar. Ternyata, pengunjung yang masuk ke area ini, tampak mengenakan sebuah gelang di tangan masing-masing. Ketika melihat ke arah tangannya maupun tangan Robin, tak ada gelang itu di sana.


“Sepertinya, ada yang salah. Jangan-jangan... tempat ini tidak bebas biaya, seperti yang kamu katakan?” ujar Reine tiba-tiba. “Yah, tentu saja. Tempat ini, dipungut sedikit biaya kecil untuk perawatannya. Gelang itu, adalah tanda jika kamu sudah turut membantu menjaga kebersihan tempat ini”


“Lalu, kenapa kita tidak mengenakannya?”


“Untuk apa?”


“Tentu saja, untuk ikut membantu menjaga atap ini!”


“Oh, tidak perlu”

__ADS_1


“Kenapa tidak? Aku juga pengunjung atap ini, sama seperti yang lain. Terlepas aku adalah iblis atau bukan”


“Bukan masalah itu. Kamu tidak perlu melakukannya, karena aku pemilik tempat ini. Jadi, tidak masalah” ungkap Robin dengan santainya. “Apa? Tunggu, hah?!” seru Reine kaget dan juga syok. Robin hanya mengangguk pelan, untuk menanggapi. “Jadi, nikmatilah...” ucapnya kemudian.


Reine tersenyum tipis. “Semenjak berada di Underwall, aku selalu mendapat keberuntungan. Terima kasih...” balas Reine. “Kamu memang layak mendapatkannya, Rein” kata Robin tulus. “Layak, ya...” ujar Reine pelan.


Reine tampak menatap ke arah langit. Dia kembali mengingat pembicaraannya dengan Max tadi siang. Percakapan yang membuatnya harus berpikir dua kali.


~~


“Selain sembrono, kau juga terlalu ceroboh. Entah, apa yang harus kulakukan dengan sifatmu itu, Honey” ucap seseorang. Reine buru-buru berbalik dan mendapati Max telah menangkapnya. “Max, rupanya...” tanggap Reine. “Kenapa? Mengharapkan yang lain?” tebak Max.


Reine segera bangkit dari pelukan Max. “Tidak juga” jawabnya. “Wajahmu terlihat kecewa. Wajar, jika pertemuan hari ini agak menyebalkan. Jadi, apa yang Marc katakan padamu?” tanya Max langsung pada intinya. “Sepertinya, aku adalah orang yang dia curigai sebagai penyebab dari segala kekacauan yang terjadi di Underwall” ungkap Reine.


“Kalau sudah tahu itu akan terjadi, kenapa malah membawaku masuk?”


“Karena... tidak ada pilihan lain?”


“Bodoh sekali. Jangan peduli padaku, memberiku tempat dan bahkan, melatihku agar lebih peka pada kekuatan yang ada pada diriku sendiri”


“Tidak bisa, kami harus melakukan semua hal yang kau sebutkan tadi”


“Kenapa? Agar bisa dipersalahkan?”


“Salahmu hanya satu”

__ADS_1


“Apa?!” pekik Reine mulai kesal. “Orang yang membuat kekacauan di Underwall? Bahkan kau, juga mencurigaiku?!” lanjutnya makin marah. “Salahmu, karena selalu membuat kami khawatir. Kamu terlalu berani hingga kami, tidak bisa mengatasi langkahmu. Tolong, jangan buat kami syok lagi, Honey. Kadang, kami tak siap” ungkap Max tampak tenang.


Reine mengerutkan keningnya. “Kalau kau selamanya mengharapkan Miss Dallaire ini, yang tak bisa berbuat apa-apa saat iblis menyerang, maaf, itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Kau tahu, selama berada di sini aku selalu tak berhenti bersyukur. Kenapa? Karena aku merasa aman. Kekuatan yang ingin kalian munculkan, akhirnya berhasil membuatku terlindungi. Aku sudah tak perlu susah seperti sebelumnya. Kau bisa rasakan, bagaimana rasanya seseorang yang ditandai oleh iblis? Hanya karena memiliki kekuatan lain? Padahal, aku cuman manusia biasa. Dengan adanya kekuatan ini, aku tidak hanya bisa melindungi diriku sendiri, tapi orang lain juga. Jadi, berhentilah melindungiku dan bertarung saja bersama-sama” ucap Reine bersungguh-sungguh. Max tampak tersenyum khas, usai mendengar perkataan Reine.


“Baiklah, kami akan melakukannya. Mulai sekarang, kami tidak akan mengkhawatirkanmu lagi. Jika sesuatu terjadi, kami hanya akan mengawasimu. Akan ku pastikan itu terjadi pada kami semua, agar kamu juga bisa melihat seberapa kuat dirimu yang sebenarnya. Bagaimana? Itukan, maumu?” tawar Max sambil bersendekap. Tanpa pikir panjang, Reine segera mengiyakan. Dia tampak menatap ke arah Max dengan tatapan serius.


~~


Kalau mereka bisa melepaskanku begitu, artinya mereka tidak akan membuntuti kemanpun aku pergi. Sayangnya, aku juga penasaran, siapa penyebab terjadinya segala kejadian yang menimpa Underwall. Dengan tingkat keamanan tinggi, tidak akan mungkin Underwall di bobol. Pasti, ada orang dalam yang turut campur. Aku tak bisa mencurigai salah satu dari mereka, karena aku sendiri pun juga turut dicurigai. Jadi, aku akan mencari tahu saat ini juga. Robin bilang, malam ini akan ada pertemuan. Mungkin, aku bisa menyelinap untuk mengamati sesuatu, pikir Reine penuh dengan rencana.


Malam itu, usai pulang dari atap gedung bersama dengan Robin, Reine lebih dulu masuk ke dalam kamarnya. Setelah beberapa jam berlalu, Reine kembali keluar dari kamar tanpa bersuara dan sealami mungkin.


Biasanya, jika sedang diawasi, dia akan menemukan beberapa penjaga di setiap sudut jalan menuju kamarnya. Kali ini, tidak ada. Namun, Reine tetap waspada dengan beberapa kamera yang bisa membuatnya kehilangan kesempatan untuk mengamati sesuatu.


Aku mencurigai satu hal. Lorong belakang. Di sana, Marc pernah bilang, lorong itu adalah tempat transit antara hotel manusia ke Hotel Underwall. Meski Marc bilang, hal itu tidak akan mungkin bisa tertembus oleh iblis yang berniat buruk, karena adanya perisai seperti filter. Tapi aku, masih meragukannya. Siapa tahu, ada hal lain yang bisa mengacaukan perisai itu, batin Reine.


Reine melangkah, setengah mengendap-endap dan mencoba untuk tenang. Dia sudah berada di lorong, saat ini. Ketika dirinya sudah dekat dengan perisai yang dimaksud, Reine mendadak harus bersembunyi dari sana.


Perisai tampak bersinar. Pertanda, akan ada seseorang yang masuk. Orang normal bilang, itu mungkin hanya seorang iblis. Akan tetapi, kedua mata Reine menemukan sesuatu yang tak normal.


Kedua mata Reine membelalak terkejut. Sembari berusaha menutup mulutnya rapat-rapat, agar tak menimbulkan suara, Reine tetap fokus pada perisai. Hingga seseorang tampak muncul dari perisai yang tadinya, transparan. Orang yang Reine kenal.


Tak lama setelah itu, muncul orang lain dari belakang perisai yang mulai kembali ke warna semula, transparan. Reine melihat orang yang berasal dari perisai, tampak berbincang dengan orang lain yang berada di belakang perisai. Mereka terlihat akrab, meski saling melempar tatapan tajam. Namun di antara kedua orang itu, Reine mengenal mereka semua.


“Luc? Dan... Lady... Dia?!”

__ADS_1


__ADS_2