produk gagal

produk gagal
Gagal Mengendalikan


__ADS_3

Marc membawa Reine ke sebuah tempat. Untuk sampai di tempat itu, mereka harus menaiki lift menuju ke lantai paling atas. Sebelumnya, tak ada seorang pun yang sampai menekan sebuah tombol bernomor, 22 tersebut. Ini adalah pertama kalinya bagi Reine.


Memang, Marc tak pernah mengundang seseorang ke dalam ruangan tersebut. Ruangan yang di desain bak kamar hotel VIP lainnya itu, disebut sebagai “Rumah” bagi Marc. Beratus-ratus tahun, dia tinggal di sana. Tanpa adanya tamu atau siapa pun yang datang untuk berkunjung.


Dan hari ini, Reine adalah satu-satunya orang yang masuk ke dalam rumah itu. Tamu pertama bagi rumah tersebut. Serta, seseorang yang khusus untuk Marc.


“Wuah!”


Kata pertama yang terucap dari mulut Reine, ketika Marc membuka pintu rumahnya. Ruangan seukuran rumah minimalis pada umumnya itu, telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas mewah. Perabotan megah dan interior di dalamnya, membuat Reine bak sedang berada dalam negeri dongeng.


“Wuah! Langit-langitnya berlapis emas!” seru Reine tak berhenti takjub. Meski demikian, Marc hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. “Duduklah sesukamu, selagi ku buatkan teh hangat” pinta Marc mempersilakan.


Bukannya duduk, Reine malah terus menerus berkata, “Wuah!”. Satu kata itu, seperti tak akan ada habisnya sepanjang ke arah mana pun Reine menatap. Bahkan, sesepele pigura emas di meja kayu.


“Rein, bisakah kau berhenti melakukannya? Sudah berapa kali aku mendengar seruan, Wah dari mulutmu?” ujar Marc memperingatkan. “Ini di mana?” tanggap Reine dengan pertanyaan anehnya. “Underwall, Miss Dallaire...” jawab Marc diikuti senyumnya menertawakan tingkah Reine.


“Seumur hidup, tidak pernah ku temukan kamar VIP seperti ini”


“Ada, malah banyak. Kamu saja yang agak berlebihan...”


“Berlebihan? Hari ini, pertama kalinya aku berada di tempat seperti ini. Dan tempat ini, memang Wuah! sekali. Apa ya? Sebuah kamar dalam kamar? Aduh, gimana cara ngejelasinnya? Jadi bingung...”

__ADS_1


Sekali lagi, Marc hanya bisa menanggapinya dengan menggelengkan kepala. Kali ini, dia tertawa pelan. Sambil menyiapkan dua cangkir teh hangat, dia tak berhenti mengamati Reine yang masih bersemangat membahas rumah.


“Apa yang kamu harapkan dari rumah seorang pemilik hotel, Rein? Tentu saja, mereka akan tinggal di tempat yang membuatnya nyaman. Baik untuk bekerja ataupun beristirahat. Kulihat, kamu begitu penasaran. Mau berkeliling?” tawar Marc. Reine menatapnya dengan kedua mata melebar. “Boleh?” tanyanya terkejut. Marc kembali tersenyum khas.


Usai menaruh dua cangkir teh di atas meja ruang tamu, Marc mengikuti langkah Reine dari belakang. Dia lega, membawanya kemari adalah keputusan yang bagus. Meski tak semuanya minimal, dia bisa mencairkan sedikit ketakutan Reine.


Serangan Arthur benar-benar mengejutkan. Apa yang kutakutkan, selalu benar-benar terjadi. Padahal, Max telah memperingatkanku agar berhenti memikirkan hal negatif. Dia... Menepati janjinya. Luc bilang, Max telah mengurus Arthur hingga kejadian ini, menjadi peringatan bagi iblis lain. Mereka yang ingin menyerang Reine dengan alasan permata perak, mungkin akan sedikit sadar. Bahwa kami, tak pernah main-main ketika sedang melindungi seseorang demi ketenteraman dunia ini. Bahkan, nyawa pun akan kami taruhkan jika perlu, batin Marc bertekad.


“Wuah! Duh!”


Buru-buru, Marc menangkap tubuh Reine. Dia hampir saja, terjatuh dan ambruk ke belakang. Sepertinya, Reine enggak lihat ada tangga kecil yang membatasi antara ruang tamu dengan ruang makan.


Biasanya, Reine bakal bangkit dan mengumpat dirinya sendiri. Tapi kali ini, dia hanya bangkit dan menunduk. Marc menduga, mungkin Reine sedikit malu.


Kini, hanya sebuah guratan penuh kecemasan, takut dan tegang terlihat jelas di wajahnya. “Sepertinya, latihan demi latihan tak berguna bagiku. Bahkan, teman dekat dan orang yang ku anggap baik, bisa menjadi musuh bagiku. Hanya karena permata ini. Tadi, terlihat dengan jelas kalau aku tidak bisa melakukan apa pun. Aku lemah... Dan hanya bisa khawatir” ungkap Reine. Marc baru menyadari, jika semangat Reine ketika masuk ke dalam rumahnya tadi, hanyalah sebuah kepalsuan.


“Aku lengah. Harusnya, aku lebih memperhatikanmu. Kamu tidak mungkin, bisa secepat itu melupakan kejadian tadi. Mulai sekarang, kamu tidak perlu takut. Aku akan memberimu pelatihan yang sesungguhnya. Aku juga akan berhenti mencemaskanmu. Harusnya, aku tidak boleh selalu cemas, saat membiarkanmu muncul keluar. Kamu juga butuh mempelajari situasi dan kenyataan yang ada di dunia ini. Karena kamu, tidak akan bisa kembali ke dunia asalmu lagi”


“Apa? Kenapa? Kenapa aku harus selalu berada di sini? Kenapa aku tidak bisa kembali? Bukankah hal yang mudah, untuk membuatku kembali?”


“Karena kamu sudah berkontrak dengan kami. Kamu ingat?”

__ADS_1


“Tidak. Pasti, ada alasan lain dari yang itu. Permata ini... pasti ada hubungannya”


“Kenapa kamu harus kembali, jika kamu berasal dari dunia ini? Apa yang membuatmu harus kembali ke sana? Kamu bahkan, tak memiliki apa pun yang memberatkanmu, Rein... Benar, kan?”


Reine terdiam, usai mendengar perkataan Marc. Memang, dia ada benarnya. Semenjak kecil, dia tiba-tiba kehilangan ibu. Hari itu terasa cepat. Tiba-tiba dia sudah sampai saja di depan sebuah pintu rumah seorang wanita tua.


Di rumah itu, dia tinggal bersama anak yatim dan piatu lainnya. Cerita yang sering dia bagikan kepada yang lain tentang, hutan berperisai sihir dan bunga yang menari adalah kenyataan. Sebuah pemandangan yang melekat dalam memorinya, tentang sebuah dunia yang berada di balik portal.


Kaiionveedrel, nama dunia yang ditinggali oleh Reine. Dunia tempat Reine dan ibunya yang seorang penyihir berasal. Jadi, mengapa dia sangat ingin kembali ke dunia manusia? Dia masih tak mengakui bahwa dirinya, bukanlah manusia biasa. Dia, seorang penyihir terakhir yang masih hidup di generasi ini.


“Rein?” panggil Marc makin khawatir. “Aku baik-baik saja. Maaf, tadi aku sempat melupakan diriku sendiri. Sekarang, aku akan berjuang. Aku tidak akan takut lagi dan terus berlatih. Agar, aku bisa melindungi diriku sendiri dan permatanya” ucap Reine bertekad. Dia juga tak lupa untuk tersenyum khas ke arah Marc.


Beberapa detik kemudian, suasana menjadi sunyi. Situasi makin terasa intens. Hanya sejengkal saja yang membatasi keduanya.


“Maaf, aku... tidak bisa menyimpannya lagi. Rein, aku...” ujar Marc terbata-bata. “Ya?” tanggap Reine serius. Marc terlihat menghela nafas. “Maaf. Maafkan aku...” sesalnya membuat Reine kebingungan.


Belum sempat Reine mengatakan sesuatu, Marc sudah lebih dulu menyambar bibir mungilnya. Dia mencium Reine dengan ketulusan hati yang terdalam. Beberapa detik kemudian, dia berhenti sejenak.


“Maaf, mungkin aku bisa melakukan segalanya untuk membuatmu bertahan di sini. Sayangnya, aku gagal mengendalikan sesuatu yang lain dari dalam diriku. Konsekuensi, atas apa yang selalu ku lakukan padamu” kata Marc. Meski sempat kaget, Reine juga penasaran atas tindakan yang dilakukan Marc barusan. “Apa?” tanyanya tak sabar. “Memberi perhatian, membuatku tak sadar. Hal sesepele itu... dengan mudahnya membuatku... Tidak bisa menolak untuk tidak jatuh cinta padamu. Maaf, aku gagal mengendalikan perasaanku...” sesalnya.


Reine menatap ke arah lain sejenak. Terus menatap Marc, membuatnya semakin hilang arah. “Aku mungkin... sedikit merasakan itu. Ada... hal lain yang membuatku menyadari sesuatu. Jadi... aku sudah tahu” balas Reine agak malu.

__ADS_1


Buru-buru, Marc segera mencium kembali bibir Reine. Mendapatkan sinyal persetujuan, membuatnya lebih cepat bertindak tanpa kehati-hatian. Marc terus menyerang bibir Reine hingga pada akhirnya, Reine memilih untuk menyerah dan membalas ciuman itu.


__ADS_2