
“Dia akan baik-baik saja, selama kita masih berada di sini, Marc” ucap Gray menenangkan. Di dalam pikirannya, hanya perkataan itu yang tersisa. Dia tampak melangkah menyusuri lorong hotel dengan ekspresi serius.
Kadang, saat kau melihat wajahnya yang sedang begitu, pasti kau akan mendadak merasa dalam bahaya. Yah, bisa dibilang, wajahnya sangat buruk. Akibat dari tipenya yang terlalu fokus, semua akan dia pikirkan, walau sambil jalan sekalipun. Dan sebab itulah, dia tidak pernah merasa tenang atau beberapa kali, tampak mengabaikan orang-orang terdekatnya.
Sayangnya, kali ini dia mengabaikan orang yang tak tepat. Meski terus menatap dan memanggilanya dengan keras, orang itu tak kunjung mendapatkan balasan. Orang itu sampai sempat berpikir, kalau Marc sedang marah padanya.
“Tuan Deval?!”
Akibat dari sebuah suara yang tak asing tersebut, akhirnya Marc menoleh dengan segera. “Rei...ne?!” tanggapnya kaget bukan main. Bagaimana tidak, kalau melihat wajah orang yang sudah seratus kali memanggilnya itu, berubah manyun. Dan sangat kesal, tentunya.
“Kau sengaja mengabaikanku? Meski, kita sudah tak pernah bertemu?!” tanya Reine dengan nada suaranya yang semakin meninggi. “Bu...bukan gitu. Aku... Maaf, aku tadi terlalu fokus hingga...” jelas Marc terhenti. Dia pikir, penjelasan tak akan mampu membuat Reine merasa tenang. Jadi... dengan cepat, Marc mengambil langkah yang besar.
Marc berlari ke arah wanita yang selalu membuatnya tak berhenti berpikir tersebut. Dia tampak memeluk tubuh Reine dengan erat. “Maaf...” sesalnya pelan.
Tanpa menjawab dengan sepatah kata pun lagi, Reine sudah paham akan situasi Marc. Sebab itu, dia segera membalas Marc dengan pelukan yang lebih hangat lagi. Mereka terlihat hanyut satu sama lain.
“Aku... sangat merindukanmu...”
Ucapan yang hampir bersamaan bagai mantra sihir itu, langsung terucap dari bibir masing-masing. Seperti takdir, yang telah mengikat keduanya. Dan berharap, tak akan ada lagi yang sanggup memisahkannya.
“Berbahagialah hingga kalian puas. Ketika waktunya tiba, aku tidak ingin kalian melupakan kisah cinta ini. Semoga, Langit selalu memiliki jalan yang terbaik untuk kalian...” gumam Gray pelan. Rupanya, dia tak sengaja berpapasan dengan keduanya. Namun, dia memilih untuk menyembunyikan diri di balik dinding.
Saat ini, dia hanya bisa mengintip. Sebab, sudah banyak waktu yang dia habiskan bersama dengan Carine. Dan sayangnya, dia tak bisa memaksimalkan waktu berharga itu untuk memperbaiki hubungan keduanya. Amat sangat disayangkan.
Ketika berbalik hendak meninggalkan tempat tersebut, Gray dikejutkan oleh kemunculan seseorang secara mendadak. Orang itu, seperti sudah hafal dengan area Underwall. Bahkan, meski Gray tengah bersembunyi sekali pun, dia tetap dapat menemukannya.
__ADS_1
“Huah! Raven?!”
Gray benar-benar kaget. Dia sampai tersentak mundur. Kemunculan manusia yang bisa bertransformasi menjadi berbagai binatang itu, kini telah berada di hadapannya. Untung, orang itu tak membuat gaduh.
“Yang mulia...” ujar Raven, pria yang pernah muncul ketika Carine masih berada di Underwall kala itu. Gray, memaksanya pergi ke ruangan rahasia. Sebab, jika yang lain tahu dengan kemunculan mahluk langka itu, mungkin seluruh dunia iblis bakal riuh.
Raven, seorang Stellerians-Anima yang telah menemani perjalanan hidup Gray selama era demi era. Dari Carine belum turut serta hingga Carine menghilang lagi. Bisa dibilang, Raven adalah saksi hidup dari mereka berdua. Tak hanya mereka, tapi yang paling utama, saksi dari kisah hidup seorang Gray,
“Apa yang membawamu kemari? Siapa yang membebaskanmu? Bukankah, setelah insiden itu... kau sudah ku segel di sebuah tempat?” tanya Gray, terdengar tak ramah. “Yang mulia, sebelumnya kuucapkan terima kasih banyak” jawab Raven melenceng. Gray mendadak bersedekap sembari menyilangkan satu kakinya. Tak lupa, dia tampak mengerutkan kening.
“Maksudmu?”
“Terima kasih, karena anda telah menyegel saya di tempat yang sangat menyebalkan”
“Oh, itu... ha hah ha... tidak perlu sungkan. Aku selalu memberimu yang terbaik, bukan?”
“Dasar anak kurang ajar! Kau tidak tahu berterima kasih, ya? Kebaikan Carine itu, semuanya berasal dariku! Jika aku tidak mengizinkannya dan mengajarinya dengan baik, dia tidak akan pernah memperlakukanmu dengan begitu berkesan!”
“Tadi, bukankah saya sudah sempat berterima kasih?”
Mendengar ucapan Raven barusan, Gray mendadak terdiam. Dia kehabisan kata-kata. Dia gagal mendebat Raven dan malah terjebak perkataannya sendiri. Bodoh.
“Kau dan dia... memang tidak ada bedanya. Selalu saja membuatku kesal! Sudah, katakan saja. Apa maumu?” tanya Gray langsung pada intinya. “Anda tidak penasaran, siapa yang mampu membebaskan saya?” balas Raven bertanya balik. “Enggak! Kau itu dungu, ya? Tadi, aku sudah menanyakannya. Tapi, apa? Kau tetap enggak jawab juga. Capek nanya begitu terus. Dan aku, juga tidak jadi penasaran. Palingan, Nonamu yang tersayang itu... yang mampu membebaskan segelnya. Auh, dia juga enggak kalah menyebalkan!” curhat Gray.
Raven terlihat geleng-geleng kepala. “Nona membebaskan segel, karena sudah waktunya saya kembali berada di samping anda! Sudah tahu genting, anda malah enak-enakan!” ujarnya kesal. “Apanya yang genting? Nonamu saja... yang terlalu panik!” seru Gray tak kalah keras.
__ADS_1
“Yang mulia, jika permata berhasil di ambil alih oleh penyihir hitam... maka, dunia ini... tak akan lama lagi”
“Rav, aku sudah berapa kali bilang padamu? Penyihir itu, cuma buat keren-kerenan saja. Mau berapa kali lipat pun kekuatan mereka, semuanya akan sia-sia. Para Pemburu akan selalu bisa diandalkan. Dan Langit, enggak akan berdiam diri melihat semuanya”
“Tapi, bagaimana jika bencana ini... adalah hukuman untuk anda? Sebuah cobaan yang harus anda selesaikan sendirian. Jika tidak, anda lah yang akan menerima akibatnya. Mengingat, perbuatan di masa lalu anda... bukanlah hal yang dapat dimaafkan oleh Langit. Meski waktu telah berlalu terlalu lama, sekali pun”
“Perbuatanku tak seburuk itu! Selama ini, kau kira aku tidak berusaha untuk menebus segalanya? Kenapa karma datang terlalu banyak? Memangnya, hanya aku yang salah di sini?”
“Tentu. Anda telah membangkang perintah dari Langit. Tentu saja, mereka tidak akan memberikan hukuman yang sedikit. Belum lagi, dosa yang telah anda lakukan ketika berada di era anda dahulu. Bukankah wajar, bila Langit terus menambahkan hukuman?”
Akhirnya, Gray kembali terdiam. “Dua... kosong” canda Raven, usai berhasil membuat Gray kalah debat dalam dua putaran percakapan sekaligus. Dan kali ini, Gray tak sanggup mengumpat. Atau bahkan, mencari-cari alasan untuk memperkuat alibinya.
“Ya, aku memang... mahluk paling brengsek di dunia ini” ungkap Gray mengakui. “Benar. Dan karena perbuatan anda, semua mahluk di dunia ini harus menanggungnya pula. Aduh, merepotkan saja...” keluh Raven, seperti tak punya rasa takut ketika berhadapan dengan Gray. Padahal, dulu dia sangat takut pada Gray.
Mungkin, Carine memang telah mengubah segalanya. Tak hanya rasa percaya diri pada Raven. Tapi juga, dengan pola pikir yang dimiliki Gray.
“Jadi, apa yang hendak kau katakan tadi? Tidak mungkin kan, Carine tiba-tiba membebaskanmu tanpa alasan?” tanya Gray mengalihkan ke topik yang lebih serius. Kali ini, dia terlihat berpikir keras, mungkin sedang berusaha menebak rencana Carine. “Nona... tak akan kembali. Jadi kali ini, anda harus berjuang sendirian dengan saya. Bukankah, sudah biasa hal yang seperti ini? Selama ini saya selalu mengawasi si penyihir hitam yang di maksud. Dia berusaha mengumpulkan tujuh permata untuk menguasai dunia manusia. Tapi, mereka lebih dahulu merebut Permata Perak. Tujuannya, tentu, untuk menghancurkan dunia iblis. Dan ketika dunia iblis hancur, mereka yang memiliki hubungan erat ataupun keluarga di dunia manusia, tidak akan bisa melindungi. Dan dunia manusia pun, akan jatuh ke tangan penyihir ini. Oh ya, penyihir ini juga punya bala tentara serta pengikut yang lumayan banyak, lho, yang mulia!” terang Raven panjang lebar.
Akan tetapi, bukan itu yang sedang berada di pikiran Gray. Bukan itu, yang menjadi fokus utamanya saat ini. Wajahnya seperti, terlihat salah dengar tentang sesuatu yang dibahas oleh Raven barusan.
“Kau bilang... Nonamu kenapa?” tanyanya mengulang. “Nona tak akan kembali” jawab Raven jelas. “Apa?” tanya Gray lagi. Dia berusaha meyakinkan, bahwa pendengarannya sedang malfungsi. “Nona tidak akan kembali, yang mulia. Sebab itu, saya yang akan menemani anda untuk melawan penyihir itu” jelas Raven sejelas-jelasnya.
Mendadak, tubuh Gray terasa lemas. Dia langsung terjatuh ke lantai ruangannya. Tanpa sebab yang jelas, kepalanya terasa berputar-putar.
“Yang mulia!”
__ADS_1
Teriakan Raven yang sekencang sound system, tak dapat menembus kesadaran Gray. Pria itu terjatuh dan langsung tak sadarkan diri. Semuanya terlalu gelap untuk Gray. Meski dia tahu, dia masih baik-baik saja.