produk gagal

produk gagal
Si Pemanah


__ADS_3

“Komandan!!!” teriak salah satu anggota tim Beta. Tubuhnya, telah tertelan oleh tentakel yang tumbuh berlipat-lipat kali. “Sialan!” umpat Gray kesal. Dia kesal pada iblis ini. Dia juga kesal pada anggota tim Beta yang tak mau mendengar perintahnya.


“Komandan, apa yang kita lakukan?” tanya anggota tim Beta lainnya yang selamat. “Kita harus menemukan titik pusat energinya. Iblis itu hanya menelannya, kita masih punya waktu untuk menemukan titik energi” jelas Gray. “Bagaimana jika... kita tidak sempat menemukannya? Seperti yang anda lihat, tentakelnya... benar-benar menutup tubuh aslinya” tanya anggota tim Beta lagi. Dia terlihat ragu.


Gray mempersiapkan langkahnya. “Kalau belum tahu, jangan menyimpulkan yang tidak-tidak” ucapnya sembari memperhitungkan langkah. Anggota tim Beta yang tersisa, tampak menunggu aba-aba.


“Buat perisai ilusi... untukku dan iblis itu” perintah Gray. “Apa? Tidak, Komandan. Meninggalkan anda di dalam sana, tanpa tahu titik energi yang pasti, akan membuat anda dalam bahaya. Biar saya saja yang masuk. Dia adalah anggota saya. Apapun yang terjadi, saya akan bertanggung jawab” tegas ketua tim Beta. “Turuti saja perintahku! Kita tidak punya waktu!!” amuk Gray.


Semua orang tampak bingung. Langkah yang diambil Gray terlalu berisiko. Mereka juga tidak mau Gray berada dalam bahaya, meski mereka adalah Pemburu Kematian yang diberikan skill untuk bertahan hidup dengan sangat baik.


“Buat perisai ilusi, sekarang!” teriak Gray. Seketika, seluruh anggota tim Beta tampak bersiap. Mereka mengumpulkan tenaga untuk membuat sebuah sihir khusus disebut, Perisai Ilusi.


Ketika perisai itu di lepaskan, sihirnya mampu melindungi seluruh kota. Kecuali, si iblis. Iblis tersebut akan masuk ke dalam dimensi lain. Dimensi tersebut berupa ruang hampa yang menyerupai tempat yang dia tempati sebelumnya. Tak hanya iblis, tapi juga orang yang meminta untuk dikecualikan.


Gray, tentunya.


Dia memutuskan untuk mengalahkan iblis tersebut seorang diri. Meski masih enggak tahu, di mana letak titik dari energi si iblis, Gray tetap nekat untuk minta di kecualikan dari perisai ilusi. Dengan begitu, dia yang akan menelan bahaya sendirian.


Akan tetapi, sebelum tim Beta benar-benar mengumpulkan tenaga untuk membuat perisai, sebuah anak panah melesat kuat ke arah Gray. Parahnya, anak panah tersebut sempat mengenai pipi kiri Gray. Hingga di wajah pria itu, muncul goresan agak panjang.


Dan ya, berdarah.


Tim Beta segera mencari si pelaku. Tapi mungkin, mereka tidak akan butuh lama untuk mencarinya. Sebab, pelakunya sudah melompat dari atas sebuah gedung dan melesat ke arah sang iblis.


Pelaku tersebut segera menyerang induknya si iblis gurita. Dari atas awan, dia meluncurkan sebuah anak panah lagi. Seketika, terbentuklah sebuah amukan angin.


Dan di tengah-tengah angin itu, terlihat sebuah cahaya merah. Cahaya tersebutlah yang dinamakan, titik pusat energi. Jika itu segera di hancurkan maka, anggota tim Beta yang tertelan tadi, masih bisa di selamatkan.


Dengan mudahnya, si pemanah tadi menghancurkan titik energi. Yang harusnya, menjadi tugas Gray untuk menghancurkannya. Gesitnya si pemanah, sampai membuat seluruh anggota tim Beta terpana.


Iblis itu, hancur begitu saja. Abunya, kembali beterbangan ke langit. Dan dengan waktu yang sekilat itu, pusat kota kembali tenang.

__ADS_1


“Sudah ku bilang, kau tidak akan bisa melakukannya tanpaku...” ucap si pemanah. Gray yang sudah menyadari siapa pemanah itu hingga dia harus repot-repot merasakan kesal. Bahkan, dia terlihat berkacak pinggang.


Dengan langkah anggun, si pemanah turun ke tanah, usai tadi masih melayang di langit. Pemanah tersebut berjalan ke arah Gray. Tampak, ekspresi kagum tak menghilang dari wajah anggota tim Beta.


“Kalau sudah tahu kenyataannya... Berhentilah menyembunyikan radar atau apapun dariku!” amuknya kesal. “Cih, berapa kali ku bilang? Bersikap sok itu, sangatlah dilarang... Carine...” balas Gray santai. Karena si pemanah itu adalah Carine, maka tentu saja Gray terlihat dongkol.


Baru saja, Carine mengambil sorotan orang-orang dengan caranya yang keren. Harusnya, Graylah yang bertanggung jawab atas kematian iblis tersebut. Bukannya, Carine.


Tapi, apalah artinya sorotan bagi Carine. Wanita itu, langsung pergi secepat kilat, ketika menyadari ada yang tak beres dengan radar. Firasatnya berkata, Gray sedang kewalahan dengan serangan iblis yang muncul. Apalagi, serangan tersebut berada di pusat kota.


Tanpa ragu, Carine langsung menuju ke sana. Dan benar saja, Carine melihat tentakel yang membuat salah satu anggota tim Gray tercekik. Bahkan, dia tertelan.


Dengan panahnya, Carine segera menyerang induk iblis tersebut. Sebab, jika hanya terfokus pada partikel iblis, hal itu tidak akan pernah mengubah apapun. Karena sifat dari si partikel yang bisa membelah diri, tentu partikel akan semakin bertambah. Bukan malah berkurang.


Hanya dengan partikel iblis yang bisa berubah menjadi gurita raksasa saja, sudah memakan korban, tentu hal itu harus ditangani dengan cepat. Sebelum partikel berubah menjadi sosok lain yang lebih membahayakan.


“Kau baik-baik saja?” tanya Gray pada salah satu anggota tim Beta yang berhasil diselamatkan. “Saya baik-baik saja, Komandan! Terima kasih, telah menolong saya yang lemah ini...” ucap anggota tim Beta tersebut. Dia terlihat membungkuk dengan sangat dalam, karena telah gagal melindungi kota.


Pusat kota telah aman. Kini, orang-orang sudah kembali beraktivitas dengan tenang.


Gray dan Carine, tampak melangkah bersama menyusuri jalanan di pusat kota. Mereka harus naik bus dulu untuk menuju kastil. Bisa saja sih, mereka menggunakan kekuatan mereka untuk berteleportasi ke kastil secara langsung.


Namun, para penduduk di dunia manusia ini masih merasa sangat tabu dengan hal tersebut. Untuk meminimalisir keramaian, Gray memutuskan untuk menjadi orang normal pada umumnya.


“Berada di dunia yang tidak sefrekuensi dengan diri sendiri, memang tidak nyaman. Jadi, seperti inilah kurang lebihnya perasaan Reine...” kata Gray di sela-sela perjalanan mereka menuju tempat pemberhentian bus. “Ada benarnya. Mungkin, Reine agak tidak nyaman saat tinggal di dunia para iblis. Tapi, ketika di dunia ini tanpa kekuatan... tidak menutup kemungkinan orang akan lebih terkena bahaya yang lebih besar” tanggap Carine. Gray mengangguk.


Mendadak dengan tindakan cepat, Gray langsung berhenti melangkah dan berbalik ke arah Carine. Gray menatap intens ke arah Carine, hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Bertatapan lagi.


Deja vu.


“Itulah yang kutakutkan. Jadi, jangan lagi bertanya-tanya atau berpikir buruk tentang alasan, mengapa aku tidak menunjukkan radar padamu” ujar Gray kemudian. “Ta... Tapi, aku berbeda dengan lainnya! Aku memiliki kekuatan yang lebih besar dan tentu, aku bisa menjaga diriku sendiri” elak Carine agak terbata-bata. “Siapa bilang, kau lemah? Kau kuat. Bahkan, aku memberimu separuh dari kekuatanku. Tapi, saat seorang suami merasa cemas, hingga melarang untuk melakukan sesuatu yang berbahaya... itu... adalah hal yang wajar, bukan?” tanggap Gray diikuti senyum khasnya yang terasa hangat.

__ADS_1


Lagi-lagi, Carine tak bisa berkata-kata. Lidahnya kelu. Bibirnya pun, turut membeku.


Jadi, apakah ini bisa dinamakan...


Berbaikan?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


......................


Bonus


Gray Nicholas Émeric Bouthil


__ADS_1


__ADS_2