produk gagal

produk gagal
Cinta Pertama?


__ADS_3

Reine kehilangan kata-katanya. Dia tak tahu harus bagaimana. Selama ini dia pikir, ayahnya telah meninggalkan dia dan ibunya begitu saja.


Jujur, Reine sangat membenci ayahnya. Pria itu, selalu saja meninggalkan masalah dalam setiap tempatnya bekerja. Dan satu-satunya alasan, mengapa dirinya setuju untuk bekerja di Underwall, bukan untuk menggantikan ayahnya mendadak tak ada kabar. Melainkan, ingin menyelesaikan masalah yang dibuat oleh sang ayah.


Mendengar kenyataan bahwa, sang ayah juga meninggalkan misinya begitu saja, Reine berusaha untuk memperbaiki permasalahan tersebut. Dia tidak ingin, permasalahan ayahnya akan menimbulkan kesalahan yang lebih besar lagi di lain hari. Seperti yang sebelum-sebelumnya.


Sebab itu, Reine berusaha menjadi kuat untuk menggantikan posisi ayahnya di Underwall. Apalagi, Marc masih membayar penuh gaji ayah Reine, meski tiba-tiba hilang tanpa jejak. Karena hal itu pula, Reine merasa tidak enak dan harus bertanggung jawab.


Kini, setelah beberapa tahun menghilang, kabar ayahnya mendadak kembali muncul. Marc bilang, ayah Reine berada di sebuah tempat yang agak jauh dari Underwall. Kabarnya, keadaan ayah Reine juga memburuk.


Pria tua tersebut, terkena sebuah penyakit dan harus tetap berbaring di tempat tidur. Hari ini, Marc mengantar Reine untuk melihat ayahnya. Dia juga ingin mengetahui keadaan ayah Reine secara langsung, agar dapat menjawab alasan, mengapa pria itu menghilang di tengah misi.


“Mereka bilang, dia tinggal di sebuah Desa terpencil yang dinamakan, Desa Kuno. Desa itu berada dalam Hutan Terlarang. Keadaannya memburuk, saat kami berhasil menemukannya. Sebab itu, aku harus segera membawamu ke sana. Kepala desa di sana bilang, ayahmu sudah tidak bisa bergerak untuk duduk ataupun berdiri dari tempat tidurnya” jelas Marc. Saat itu, dia sedang menyetir mobil pribadinya. Reine hanya mendengar, tanpa menjawab.


Di dunia iblis ini, memang masih banyak desa-desa primitif yang berada di pedalaman hutan. Mereka tak ingin mengenal kota modern para iblis zaman kini dan hanya berpegang pada prinsip lama mereka. Sebagian, memang sudah ada yang maju dan bertransmigrasi ke kota. Salah satunya, Desa Kuno.


Mereka tidak dapat meninggalkan ajaran leluhur mereka dan tetap menjunjung tinggi warisan tersebut. Berbeda dari klan kebanyakan, masyarakat di desa tersebut semuanya adalah manusia. Bukan siluman atau mahluk jadi-jadian, akibat hukuman dari Pemburu Kematian.


Masyarakat di desa itu, memiliki kekuatan dasar yang tidak semua orang memilikinya. Lebih jelasnya begini, ketika seorang iblis pengisap darah mendapatkan hukuman dari para Pemburu Kematian, kekuatan mereka akan hilang, bersama dengan hilangnya raga mereka.


Berbeda dengan masyarakat di Desa Kuno. Mereka adalah manusia yang dibekali oleh kekuatan dari dalam diri mereka sendiri. Jika kekuatan tersebut di asah dan kemudian, akan menjadi petaka di dunia, maka Pemburu Kematian akan menghukum mereka. Dengan cara, menyerap kekuatan mereka dengan sebuah permata dan mengasingkannya ke dunia manusia.


Namun, hal itu jarang terjadi. Karena, masyarakat di Desa Kuno, tidak sering keluar dari desa mereka. Di dalam sana, mereka hidup dengan damai dan tentram satu sama lain. Perekonomian mereka hanya mengandalkan kemampuan bercocok tanam dan memancing ikan. Mereka akan menjajarkan dagangan di sebuah pasar tradisional di mulut Hutan Terlarang.


Selain itu, mereka dikenal dapat menyembuhkan penyakit. Mereka juga membuat beberapa ramuan dan juga, meramal nasib. Ramuan yang mereka jual, biasa dipesan oleh para petinggi klan yang menginginkan keseimbangan tubuh mereka. Karena bagi beberapa klan, keseimbangan dipercaya sebagai kekuatan utama dalam tubuh, agar kemampuan mereka dapat mencapai level atas.


“Ibu Robin berasal dari desa ini. Itulah sebabnya, dia pandai mengobati seseorang” lanjut Marc. “Berarti, Robin yang memberimu kabar, jika ayahku berada di sini?” tebak Reine. “Ayahmu tiba-tiba muncul, ketika Robin sedang mengunjungi desa. Dia juga terkejut. Tanpa pikir panjang, dia langsung menghubungiku dan memberitahuku untuk cepat datang ke Desa Kuno” ungkap Marc detail.


Memakan waktu yang agak lama, akhirnya mereka sampai. Akses jalan menuju Desa Kuno, memang agak sulit dan menyeramkan. Jalannya tidak bisa dilewati oleh mobil modern, seperti milik Marc. Karena mereka benar-benar primitif, mereka tidak membutuhkan kendaraan untuk berpindah tempat. Mereka hanya mengandalkan gerobak, tandu, kereta kuda dan berjalan kaki.


Bahkan sebenarnya, Reine belum benar-benar sampai di desa yang dituju. Mobil hanya bisa membawa mereka di depan pintu masuk hutan. Selebihnya, Marc telah menyewa kereta kuda yang siap di sana.

__ADS_1


Reine dibuat takjub. Tak hanya oleh keindahan hutan saja, akan tetapi juga kereta kuda. Dia enggak berhenti mengelus jendela kereta kudanya. Marc tersenyum melihat sikap lucu yang dibuat Reine.


“Serius, kamu tidak pernah naik kereta kuda?” celetuk Marc mengejutkan. “Hah? Oh, ya. Ini... baru pertama kali” tanggap Reine agak tergagap. “Memangnya, di dunia manusia tidak ada kereta kuda?” tanya Marc penasaran. “Tentu, ada. Kalau kudanya saja, ada. Tapi ini... sudah tidak ada. Wajar saja, semua serba modern” jelas Reine. Dia tampak mengelus kursinya ketika mengatakan, “Tapi ini...”.


“Underwall memang sudah modern, tapi bagiku, ini bukan pengalaman yang pertama kali”


“Kau sudah hidup beratus-ratus tahun, bukan? Jadi, tidak kaget kalau ini bukan pertama kalinya bagimu, menaiki kereta kuda”


“Tentu saja, tidak. Kamu kira, aku bisa hidup abadi? Karangan dari mana itu? Tentu saja, aku pernah mati. Tapi, prosesnya tidak seperti manusia biasa. Ketika aku mulai menua, aku akan melalui sebuah proses peralihan. Dalam proses itu, rasanya sangat menyakitkan. Sama seperti ketika manusia kehilangan ajal mereka, aku pun merasakan itu. Leherku terasa tercekik dan kemudian, semuanya menjadi kabur. Setelah itu, aku kembali menjadi bayi dan hidup hingga kini. Aku akan benar-benar musnah, ketika dunia ini tidak membutuhkanku lagi. Dan ketika langit memerintahkan para Pemburu Kematian untuk segera menjemput”


“Kesimpulannya, aku sedang berpacaran dengan kakek tua saat ini? Kau... pedofil, ya?”


“Aih! Tidak! Tentu saja, tidak! Aku bukan kakek tua! Kan tadi juga sudah ku bilang, aku juga menemui proses kematian. Hanya saja, aku tidak dikubur atau apapun”


“Mengelupas, seperti...?”


“Aku tidak mengelupas, Miss Dallaire. Aku iblis pengisap darah, bukan binatang” tegas Marc agak sebal. Melihat Marc yang kesal begitu, Reine mendadak tertawa senang. Akhirnya, dia bisa membuat Marc yang selalu serius itu, menjadi kesal dan bahkan, marah padanya.


“Oke, oke, baiklah. Sekarang, aku ingin menanyakan hal lain, Tuan Deval” ujar Reine menyudahi candaannya. Bukannya kembali menatap Reine, Marc tetap fokus ke arah luar ruangan. Sepertinya, dia benar-benar marah dan tak mengampuni Reine untuk sementara waktu.


“Aku serius...” rengek Reine. “Tolong, jangan menanyakan hal yang aneh dan konyol, Miss Dallaire” pinta Marc agak jual mahal. “Ku bilang, aku serius” ulang Reine.


Mendengar jawaban yang penuh dengan kesungguhan itu, Marc akhirnya mengalah. Dia menatap ke arah Reine kembali. Reine tampak menatap Marc dengan ekspresi menegangkan.


“Berapa kali kau dibangunkan oleh dunia ini?”


“Berkali-kali. Mungkin, ini yang keempat. Jika dihitung total, umurku mungkin... 300 tahun? Tapi sekali lagi ku garis bawahi, aku bukan kakek tua dan bukan seorang pedofil”


“Dengan umur yang begitu panjang, berapa kali kau... jatuh cinta pada seseorang?”


Pertanyaan Reine membuat Marc terdiam lebih dulu. Harusnya sejak awal, dia tahu kemana topik ini akan berlanjut. Dia harus menghela nafas sejenak, sebelum menjawab.

__ADS_1


“Ada satu wanita yang pernah ku cintai. Tapi seharusnya, bukan ini yang kita bahas. Ku kira, masih banyak sekali topik lain yang harus kita bahas. Masa laluku, hanyalah diliputi oleh peperangan, Rei. Bahkan, sebelum Vosre memecah dunia. Tidak ada hal yang menarik” kata Marc mencoba mengalihkan. “Aku juga ingin tahu, bagaimana masa lalumu. Ini adalah bagian dari caraku, untuk mengenalmu lebih jauh. Kau tipe orang yang sangat tertutup, hingga aku tak bisa menebak apapun. Jadi, apakah dia... cinta pertamamu?” balas Reine ngotot. “Dan karena itulah, perpecahan antara klanku dengan klan milik Arthur... akhirnya terjadi” ungkap Marc diikuti wajah sedihnya.


“Kalian... memperebutkan wanita yang sama?”


“Arthur tak bisa mendapatkannya. Wanita itu, menyukaiku. Dan sayangnya... aku terlambat menyadarinya”


“Aku masih tidak mengerti. Jika kau terlambat menyadarinya, itu berarti... hubunganmu gagal, bukan? Lalu, kenapa klanmu bisa berperang dengan klan Arthur, jika kalian berdua sama-sama tidak bisa mendapatkan wanita itu?”


“Aku terlalu tertutup dan cuek. Bahkan, dingin pada semua orang. Hanya Arthur teman baikku, dari semua klan iblis pengisap darah. Karena sikap burukku, aku tak pernah membuka hati pada wanita. Hingga akhirnya, dia ada di antara kami. Dia selalu memberiku perhatian lebih, tapi aku memang pria yang bodoh. Aku tak pernah menganggap itu adalah sebuah perhatian yang mengarah ke jalan lain. Cinta, maksudnya. Aku dulu sangat tidak peduli akan hal itu”


“Lalu, apa yang terjadi pada wanita itu?”


“Dia di ambil oleh Pemburu Kematian, usai insiden di malam itu. Perang besar terjadi antara klanku dengan klan wanita itu. Jika saja aku setuju untuk menikah dengannya, maka perang akan batal. Namun, sekali lagi aku adalah orang yang bodoh. Aku menolak. Dan perang besar pun, terjadi. Bahkan, klan Arthur turut membela klannya. Meski klan kami memenangkan perang dan berhasil menduduki peringkat klan bangsawan tertinggi di antara lainnya, hatiku tetap gelisah. Wanita itu... karena ulahku, dia menjadi seorang pembunuh. Wanita yang tadinya lemah lembut dan baik hati itu... menjadi berubah 180 derajat, akibat dari sikap burukku. Jika saja... jika saja aku tidak menolak perasaannya, atau mungkin, tidak membuatnya kecewa... dia pasti akan mati dengan hormat. Tanpa harus di jemput paksa oleh Pemburu Kematian”


“Itu berarti... dia... telah di musnahkan oleh senjata para pemburu. Mungkinkah itu?”


“Abu Kematian, ya. Dia hancur di hadapanku. Sebelum raganya melayang ke langit, dia bersumpah akan membalasku. Dia mengutuk, aku tidak akan pernah dicintai dan akan selalu sendiri di setiap langkahku”


Reine menghela nafas panjang. “Sudah ku bilang, lebih baik kita membahas hal yang lain” ucap Marc tak enak. “Aku tidak masalah. Ku bilang, ini adalah bagian dari caraku untuk mengenalmu” kata Reine menenangkan.


Mendadak, Marc memegang kedua tangan Reine. Kemudian, mencium telapak tangannya dengan lembut. “Harusnya, aku tidak membuka diri. Harusnya, aku menebus segala kesalahanku di masa lalu dengan tidak berhubungan dengan siapapun” ungkap Marc. “Kau terlalu memaksakan diri. Kau tidak berhak untuk...” “Sayangnya, hal itu tidak bisa kulakukan di hadapanmu. Meski harus disiksa oleh kutukan itu pun, aku tidak akan menyerah. Perasaanku, tidak bisa bertahan dan terus mendorongku untuk menjadikanmu sebagai milikku” sela Marc buru-buru.


Reine terdiam, dia ingin mendengar segala ungkapan perasaan dari bibir Marc. Lebih dan lebih lagi. “Kamu memang bukan pandangan pertamaku, seperti halnya wanita di masa laluku. Tapi, kamu... adalah cinta pertama dan ku yakin, akan menjadi yang terakhir. Aku tidak akan pernah melepaskanmu sedetik pun, Rein...” janji Marc bersungguh-sungguh.


“Benarkah?” goda Reine diikuti senyum meragukan. Marc memeluknya dengan erat. “Aku bersumpah. Tidak sedetik pun..." bisiknya pelan. Dan sekali lagi, kedua mata mereka saling menatap satu sama lain.


Atmosfer hutan yang menawan, angin sejuk yang berhembus lewat jendela kereta kuda dan perasaan yang begitu mendebarkan sedang menggelora di tubuh mereka. Tak lama saling melemparkan senyuman hangat, Marc kembali mencium lembut bibir itu.


Bibir yang selalu membuatnya bahagia, ketika sebuah senyuman muncul di sana. Bibir menggemaskan yang selalu membuat Marc terbuai, ketika bergerak mengeluarkan kata-kata. Bibir semanis buah ceri, milik Reine Dallaire.


Wanita itu...

__ADS_1


Meski bukan yang pertama, dia selalu menarik hati. Hanya dengan bibirnya... wanita itu, berhasil membuat Marc kembali jatuh dalam sebuah padang bunga yang indah. Setiap detik, menit, hari dan bulan. Waktu seakan terhenti sejenak, kala Marc berada bersamanya.


__ADS_2