produk gagal

produk gagal
Tekad


__ADS_3

Punggung Max semakin terdesak. Namun, wanita yang berada di hadapannya ini, masih tak menyerah juga. Harus ada salah satu dari mereka, yang mengakhirinya. Jika tidak, waktu dalam dimensi dunia para iblis akan terus terhenti.


Perselisihan antar Pemburu Kematian, selalu mengubah tatanan di sekitarnya. Sebab itu, untuk mencegah kehancuran lebih lanjut, langit memberikan sebuah aturan ketat pada setiap Pemburu Kematian. Akan tetapi, hanya mereka berdua yang selalu melanggar aturannya. Di setiap kali mereka telah bereinkarnasi.


“Kau sudah dengar, bukan? Para... iblis tingkat 3 yang berusaha menghancurkan portal dua dunia?” kata Max berusaha mengalihkan topik, agar Carine mau melepaskannya. “Bukankah karena itu, anda tiba-tiba mengirim Lady Dia kemari? Ibuku, sekarang... dia berinkarnasi menjadi Lady Dia, seorang staf hotel. Bukannya, anda lah yang membuat ingatan masa lalunya terbangun kembali?” tanggap Carine kesal. “Keadaan darurat, aku bisa melakukan apapun” ujar Max membela diri.


“Anda sudah gila?! Jangan libatkan orang lain! Perkumpulan para iblis tingkat 3 yang sedang mengembalikan 5 iblis legendaris... tidak sebanding dengan kekacauan yang anda buat!”


“Ini masalah serius, Carine. Untuk apa aku mengingkari janjiku untuk tidak mengganggu kehidupanmu lagi? Lagi pula, anak penyihir yang tubuhnya kau kenakan ini... dia tak akan bertahan lama lagi. Meski aku, tetap turun tangan untuk melindunginya”


“Aku tidak peduli. Selama aku berada di tubuhnya, dia akan selamat”


“Carine, langit membutuhkanmu! Semua bukan demi aku, ataupun yang lain. Ini demi dirimu juga. Jika dunia ini runtuh, para iblis akan menguasai dunia para manusia. Kau mau, semua akan menjadi lebih ribet lagi?”

__ADS_1


Carine melepaskan cengkeraman tangannya. Dia melangkah agak mundur. Sementara Max, pria itu tampak mengelus bagian tubuhnya yang terasa nyeri, usai mendapatkan serangan dari Carine.


“Kau tahu, aku mungkin akan dengan mudahnya mengurus iblis-iblis tak tahu diri itu. Tapi, kekuatanku terbatas, jika tidak digabungkan dengan milikmu. Mereka pasti akan segera pulih kembali. Sebab, saat ini mereka sudah berhasil menemukan 4 permata, tempat para iblis legendaris kita bekukan waktu itu. Waktu semakin mepet, Carine. Anak yang kau pinjam tubuhnya... tidak memiliki kekuatan yang mumpuni. Dia selalu menempatkan dirinya sendiri ke dalam jurang penuh bahaya, akibat dari keingintahuannya yang besar. Risiko sangat buruk. Kalau di biarkan, beberapa minggu lagi, mereka akan mengusai Underwall. Tepat dalam titik itu... kehancuran sudah ada di depan mata” terang Max panjang. Carine terlihat menunduk. Dia juga lebih pendiam dari biasanya. Masalah semakin runyam.


“Aku... tidak ingin bertarung bersama denganmu lagi, yang mulia. Bukan berputus asa, tapi... aku hanya ingin menjadi manusia yang normal. Kontrakku denganmu... telah habis beberapa abad yang lalu. Kini, aku tidak ingin lagi berkontrak demi kepentingan yang lain. Di tahun ini, aku ingin mensyukuri diriku sebagai Reine Dallaire, meski nantinya... tubuh ini tak akan bertahan lama” ungkap Carine jujur. Max mengela nafas panjang. Kesalahan fatalnya, membuat Carine tak lagi percaya pada apapun. Termasuk, pada Max sendiri.


“Baiklah, apa boleh buat? Itu keputusanmu. Aku menghormatinya. Mulai sekarang, aku tidak akan lagi mengganggu ketenteramanmu. Aku akan menjaga semuanya, dengan segala caraku. Aku tidak akan mengusikmu lagi. Hiduplah sebagai Reine, seperti yang kau mau. Untuk berjaga-jaga, aku tidak akan menarik kekuatanku yang ada di dalam tubuhmu lagi” ucap Max berusaha memahami. “Aku akan mencoba untuk melindungi permata perak, agar tak jatuh ke tangan para iblis. Jika permata ini di letakkan ke tengah 5 permata lain, para iblis legendaris akan bangkit. Hanya itu, yang bisa ku lakukan sebagai manusia biasa, yang mulia. Ku harap, kau tidak lagi membangunkanku. Terlebih bertindak ekstrem dengan mengisap darahku menggunakan kekuatan iblis pengisap darah. Jujur, itu menjijikkan. Walau kau tereinkarnasi sebagai iblis pengisap darah, tolong... jangan melakukannya pada tubuhku. Gigimu membuat bahuku gatal” balas Carine mengeluh.


Nostalgia.


Alunan musik yang samar-samar terdengar di telinga mereka, membuat dunia seakan kembali ke masa itu. Masa-masa di mana mereka sama-sama tertawa bahagia.


“Semoga kehidupanmu menyenangkan, Carine” ucap Max tulus. “Terima kasih banyak, yang mulia. Aku beruntung, bisa bertemu dengan seseorang sepertimu di dunia ini” ujar Carine tak kalah tulus. “Berhati-hatilah dengan Robin. Motifnya sedang kucurigai. Aku akan menghilang selama beberapa hari untuk melacak iblis-iblis tak tahu diri itu. Selama aku pergi, Reine mungkin akan segera mengetahui rahasia Marc. Ku lihat, perkembangan romansa mereka benar-benar sedang panas-panasnya. Sampai nanti” pamit Max.

__ADS_1


Carine mengangguk paham. “Akan kuingat, pesan-pesan Anda. Harap berhati-hati, yang mulia...” tutupnya. Tak lama kemudian, Max telah lenyap bagai angin, usai berbalik sambil menyibakkan jas hitamnya yang panjang. Khas yang paling menyebalkan dari Max dan selalu diingat Carine.


Wanita tersebut hanya geleng-geleng kepala. Dia buru-buru masuk ke dalam toilet Marc lagi. Menatap kaca dekat wastafel, Carine terlihat berpikir keras.


“Bukankah ini mudah? Merasakan perasaan Marc yang membuatmu selalu berdebar... bukankah itu sudah lebih dari cukup? Tapi kenapa, kau juga lemah terhadap Max? Padahal, aku tidak pernah sekalipun mengingat hal-hal yang kau ingat, ketika menatap Max di beberapa situasi yang pas untuk bernostalgia” ujar Carine, dia seperti sedang menceramahi Reine. “Dengar, ini adalah kehidupanmu. Kenapa kau berada di dunia para iblis, itu bukan karena aku. Karena kau adalah salah satu manusia yang istimewa, maka sudah seharusnya kau berada di sini. Jadi, tolong lakukan semua hal yang kau inginkan, tanpa harus membawa ingatan masa lalumu. Sayang, fokuslah pada Marc dan misi menjadi kuat. Sebab, hari ke depan akan menjadi semakin menakutkan. Pergi pada Marc dan minta dia untuk selalu berada di dekatmu” lanjutnya. Carine menarik nafas berat. “Lupakan Maximilien. Tolong, lupakan dia. Pria itu... sudah berkali-kali ada di kehidupanmu. Dan sayangnya, tak ada hal baik yang terjadi. Aku... benci padanya” ungkap Carine.


Usai mengatakan hal tersebut, Carine tampak menepuk lembut bahu kanannya. Tak lama, Reine kembali tersadar dan menguasai tubuhnya. Dia menghela nafas panjang. Entah mengapa, air matanya mendadak keluar.


Reine berusaha menyembunyikan kesedihan anehnya. Dia buru-buru menghentikan air mata, sebelum matanya menjadi bengkak. Kemudian, Reine segera keluar dari toilet.


Di luar, wajah Marc akhirnya lega. Sedari tadi, dia cemas dengan keadaan Reine. Wanita itu, menghabiskan setengah jam lebih hanya untuk sekedar menggunakan toilet.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Marc buru-buru. Pria itu sampai menunggu di depan pintu, saking cemasnya. “Aku berada di dekatmu, tentu semuanya akan baik-baik saja” jawab Reine diikuti senyum lembutnya. Marc mengangguk menyetujui. Dalam hati dia bertekad, bagaimana pun keadaannya, dia akan selalu melindungi Reine.

__ADS_1


__ADS_2