produk gagal

produk gagal
Tumpangan Kilat


__ADS_3

Pagi yang baru. Reine membuka jendela kamarnya dengan hati yang terasa lebih baik. Walaupun, dia masih agak bingung dengan kejadian yang menimpanya, beberapa hari lalu.


Dan mungkin, hari ini adalah hari yang tepat untuk mencari tahu. Kegundahannya sejak lama, usai insiden serangan dari Tobie yang membuatnya malas mengingat. Sebab, dari sana dia menyadari sesuatu.


Rupanya, kekuatan yang dia miliki, tak dapat melindunginya secara maksimal.


Reine menghela nafas panjang. Dia menatap gelisah ke arah pemandangan kota di sekitar Underwall. Ya, semuanya memang terlihat sangat indah.


Namun, tetap saja dia merindukan dunianya. Belum lagi perasaan kacau, akan kehilangan Lady Dia. Sebenarnya, kematian wanita yang amat sangat di hormatinya tersebut-lah, yang membuat Reine makin galau.


“Lady Dia, semoga anda tenang di sana. Semoga... anda... bahagia” ucap Reine pelan. Kadang, air matanya terasa tak mau tertahan lagi. Seakan, membuat hidupnya semakin berat dari hari ke hari.


Dan pertanyaan demi pertanyaan tentang, “mengapa anda meninggalkanku?” selalu terngiang di telinganya. Walaupun begitu, dia harus tetap berdiri tegak. Dia harus melindungi Permata Perak.


Meski belum pasti, namun dia telah siap. Jika kemungkinan, akan ada peperangan yang bakal bergejolak di sekitarnya lagi. Kali ini, dia harus menjadi pelindung, bukan hanya sosok lemah yang hanya mengharapkan perlindungan.


“Semangatlah, Rein!” teriaknya kencang. Bahkan burung-burung yang berada di sekitar jendelanya pun, harus dibuat kaget hingga bulu mereka berjatuhan. Benar-benar, merepotkan sekali pagi-pagi...


Ketika tak sengaja menatap ke bawah, Reine melihat sosok yang tak asing tengah melangkah keluar dari gerbang hotel. “Hah? Luc? Dia... mau kemana? Kenapa buru-buru begitu?” tanya Reine mulai penasaran. Tak lama, di belakang Luc tampak sosok lain juga tengah melangkah mengikutinya.


“Robin juga? Kira-kira mereka mau pergi kemana ya?” tanya Reine yang lagi-lagi berkata pada dirinya sendiri. Reine mengerutkan kening, saat melihat Robin berusaha mencegah langkah Luc. Namun sepertinya, Luc tak mau dengar dan terus berlalu pergi.


Karena diliputi rasa penasaran yang amat sangat tinggi, akhirnya Reine memberanikan diri. Dia tiba-tiba bertekad untuk mencari tahu tentang kejadian yang terjadi. Reine benar-benar penasaran hingga berlari begitu saja.


Ketika sudah berada di luar, Reine cukup kesulitan mencari jejak mereka berdua. Namun, setelah terus berusaha untuk mencari, akhirnya Reine menemukan mereka. Reine melihat Luc masuk ke dalam sebuah mobil. Kemudian, di susul Robin yang juga mengendarai mobilnya dan mengejar laju mobil Luc.

__ADS_1


Reine buru-buru mencegat sebuah taksi, akan tetapi sebuah burung berukuran raksasa mendadak muncul dari belakang tubuhnya. Burung tersebut bak taksi kilat yang berterbangan di atas langit, mengejar mobil Luc dan Robin, tanpa sepengetahuan orang-orang. Seperti sebuah ayunan tongkat sihir, sekejap mata Reine telah berhasil menyeimbangkan lajunya dengan Luc maupun Robin.


Saat kepalanya menembus awan-awan, Reine baru saja menyadari. “Hah?! Kau siapa?! Aih, tentu saja seekor burung. Lagian, dia mana bisa bicara? Tapi... raksasa! Kenapa bisa ada burung raksasa seperti ini?!” teriaknya heboh. “Tenanglah, Nona. Kalau kau terlalu banyak bergerak, aku tidak bisa menyelamatkanmu kalau terjatuh dari atas sini!” ancam sebuah suara.


“Huahh!!”


Reine kembali berteriak, ketika menyadari burung yang ditumpanginya tersebut yang berbicara padanya. “Ka... bu, bukankah kau hanya seekor burung? Kenapa kau... bisa berbicara?!” tanya Reine masih tak dapat mengendalikan ketakutannya. “Ini dunia para iblis, bukan?” jawab burung raksasa itu.


Reine tersentak, seketika dia tersadar. Benar, ini adalah dunia iblis. Dunia yang tidak masuk akal bagi manusia normal. Namun, masuk akal bagi para iblis. Segala kekuatan apapun, semuanya masuk akal bagi mereka, batin Reine. “Kemana kau akan membawaku pergi?” tanya Reine penuh curiga.


“Bukankah kau mau mengejar dua iblis pengisap darah itu?” jawab si burung raksasa. “Memangnya, kau siapa? Kenapa kau sampai membantuku begini?” desak Reine. “Hhhh... anggap saja aku adalah teman yang mulia... Eh, maksudku, Maximilien” kata si burung raksasa.


“Kau temannya Maximilien?! Sungguh? Kenapa aku tidak pernah tahu, ya?” tanya Reine pada dirinya sendiri. “Raven” ucap si burung raksasa secara mendadak. “Hah? Apa?” tanggap Reine tak mengerti. “Namaku...” jelas si burung raksasa tersebut.


Belum lagi saat melihat Reine yang tampak seperti kebingungan dan terburu-buru. Tanpa pikir panjang, Raven pun langsung berlari hingga dirinya bertransformasi menjadi seekor elang raksasa. Tanpa ba bi bu juga, Raven segera menyambar tubuh Reine hingga wanita tersebut otomatis duduk di punggung elangnya.


Kecepatan terbang Raven meningkat, seiring laju mobil yang ditumpangi Luc maupun Robin. Bahkan saat ini, mereka berdua terlihat seperti sedang balapan di sirkuit, saking ngebutnya. Dan Raven pun, tak keberatan akan hal itu.


Dengan lihainya, Raven menembus awan dan angin sejuk yang berhembus kencang. Reine sampai dibuat takjub oleh kemampuan Raven. Menurutnya, inilah terbang yang sesungguhnya. Benar-benar menantang dan nyaman.


Berbeda ketika salah satu dari keempat iblis pengisap darah di Underwall itu, membuatnya terbang ke langit. Sungguh, saat itu adalah jam-jam yang tak enak. Mereka terbang, layaknya tengah dikejar oleh sesuatu.


“Kau tidak bilang pada Max, bukan? Kalau... aku sedang mengejar mereka berdua?” tanya Reine, ketika teringat. “Dia tidak tahu. Meski dia tahu, dia tidak akan mempermasalahkannya” tanggap Raven. “Kenapa?” tanya Reine lagi. “Karena... kau berada di tangan yang tepat. Aku pasti bisa melindungimu dengan sangat baik. Kekuatanku... enggak sama dengan mereka. Jadi, kau tidak perlu khawatir” jelas Raven.


“Memangnya, kau tahu tujuanku kemana?”

__ADS_1


“Kau mencurigai dua iblis itu, kan?”


“Tidak, sih... aku cuman... merasa aneh saja”


“Itu namanya curiga, sayang. Tenang saja, kebetulan aku juga merasakan hal yang sama denganmu kok”


“Maksudmu... kau juga curiga dengan mereka?”


“Enggak merekanya, sih. Cuman... lebih tepatnya ke tujuan dari mereka berdua”


“Jadi, kau sudah tahu mereka akan pergi kemana?”


Seketika, bibir Raven pun terdiam. Awalnya, dia tak ingin Reine tahu. Namun, dia tidak bisa menyangkal ataupun menutupinya lagi.


Sudah kuduga, reinkarnasi dari Nona... pastilah memiliki pemikiran yang sama, meski enggak sebaik Nona. Anak ini... mungkin sudah memiiki rasa keingintahuan yang tinggi semenjak berada di sini. Tentu saja, itu bukanlah hal yang aneh. Dasarnya, dia memang berasal dari dunia manusia biasa. Manusia normal... yang menduduki bekas wilayah masyarakat Abcaestter, batin Raven. Artinya, saat ini dia sedang membantu seorang manusia biasa, yang dulunya telah mengambil tempat tinggalnya. Bukankah harusnya, dia merasa kesal?


Namun...


Dia adalah reinkarnasi dari Nona. Dia juga yang membawa Permata Perak. Aku tidak mungkin, membawanya ke tempat yang dituju oleh kedua iblis pengisap itu. Aku... harus melindunginya. Bukan demi dia, tapi demi Nona. Aku tidak ingin, Nona menghilang dari dunia ini, pikir Raven cukup rumit. Dia memang sudah menebak, kemana kedua iblis pengisap darah itu pergi. Sebab itu, dia memilih untuk memutar ke arah lain.


Apa yang dia lakukan adalah murni untuk keselamatan seseorang. Wanita yang selama ini selalu menghormati keberadaannya. Wanita yang selalu menyayanginya dengan tulus, meski dia memiliki lebih dari satu rupa.


Carine, Nonanya.


"Raven, kenapa kau berbalik?"

__ADS_1


__ADS_2