
“Tidak mungkin...” ucap Robin tercengang. Marc terdiam. Namun, otaknya kembali memutarkan setiap memori. Dia paham betul, Maximilien adalah iblis pengisap darah. Sama seperti dirinya. Dan hal itu, tak pernah berubah.
Marc tahu betul, bagaimana seorang Maximilien. Marc merasa, tak ada yang berubah dari sahabatnya itu. Sebab, dia dan Max telah bersama sejak lama. Mereka memiliki umur yang amat sangat panjang, sebagai seorang penjaga yang sah dari Underwall.
“Aku tahu mengapa sahabat lamamu itu, mendadak menghilang. Tapi... dari pada aku yang menjelaskan, nanti kau malah enggak fokus. Sekarang, lupakan pikiran itu dan fokus. Merunduk!” ungkap Raven yang mendadak berteriak. Rupanya, serangan iblis tidak ada henti-hentinya. Perjalanan menuju ke perpustakaan untuk menjemput Reine pun, harus mendapat sedikit halangan.
“Ku pikir, mau siapa pun. Mau itu Max atau Komandan, aku benar-benar tidak peduli untuk saat ini. Underwall, lebih penting dari pada apapun. Tapi, terima kasih sudah memberi tahu” tanggap Marc. “Raven. Dia bilang, namanya diberikan secara khusus oleh Pimpinan Pemburu Kematian” sahut Robin. Marc menatap ke arah Robin dengan ekspresi agak kaget.
“Ceritanya panjang dan agak menyebalkan” ujar Raven enggan. “Meski begitu, dia adalah orang yang baik, bukan?” kata Marc. Raven hanya menanggapi dengan helaan nafas panjang. Dengan kecepatan penuh, Raven menerjang setiap halangan yang ada di hadapannya.
Walau agak kacau dan terguncang di bangku penumpang, Raven sepertinya tak peduli. Yah, selama penumpangnya tak jatuh atau menghilang dari punggungnya. Dia hanya terlalu fokus, karena takut pada ancaman Gray.
Gray benar-benar sangat jahat.
“Aku akan berjaga di depan. Kalian cepat masuk ke perpustakaan dan jemput Reine. Kita tak punya waktu. Underwall, mungkin akan segera hancur” perintah Raven. Marc dan Robin buru-buru masuk ke dalam perpustakaan. Tugas mereka masih panjang.
“Rein!” panggil Marc dan Robin bersamaan. Bahkan, mereka membuka pintu perpustakaan bersamaan. “Jangan mendekat!” seru Reine dari dalam sana. Kaget bukan main, ternyata langkah Robin maupun Marc masih kalah cepat. Mereka, terlambat datang.
Luc, telah berada di sana. Duduk sambil membaca sebuah buku. Sedangkan, dua orang iblis tampak memegang erat bahu Reine. Wanita itu terjebak. Punggungnya, tertahan dengan rak buku yang ada di belakang.
“Benar, jangan mendekat. Atau kalian... akan berubah menjadi abu” ancam Luc sembari menutup bacaannya. Dia tampak berdiri dengan menghunuskan pedang berlumur Abu Kematian ke arah Robin dan Marc. “Aku baru ingat, kalian juga sama-sama iblis. Jadi tentu saja, Abu Kematian bisa membuat kalian hancur seketika” lanjutnya.
__ADS_1
Robin tampak marah. Dia benar-benar tak percaya, sebagai penjaga Underwall, Luc mampu dirasuki begitu saja oleh para iblis. “Coba saja, kalau kau bisa” balasnya balik. Saat ini, hanya keselamatan Reine yang terpenting. Dia tak peduli, bakal jadi abu atau apapun.
Tak ragu-ragu, Luc berlari menyerang ke arah Marc. Namun, Robin tak tinggal diam. Dia segera menangkis serangan dari Luc dengan pedangnya. “Bebaskan Reine. Dia adalah yang terpenting” bisik Robin ke arah Marc yang ada di belakangnya. “Kita akan melindunginya sama-sama, Rob” jawab Marc sembari mengeluarkan senjata khasnya, sebuah tombak.
Marc segera menghunuskan tombaknya ke arah Luc. Kejadian tersebut, benar-benar hanya sepersekian detik. Dan hampir saja, Luc terkena tombak yang telah berlumur abu itu. Wajar, karena pekerjaan Marc adalah seorang Pemburu, maka seluruh senjatanya telah dilumuri Abu Kematian. Saat ini, Marc tengah berhadapan dengan iblis tingkat atas yang sedang mengancamnya dengan kekuatan yang sama.
Abu Kematian.
Alih-alih hanya menyerang Luc, Robin mencari kesempatan untuk membebaskan Reine. Luc yang masih fokus dengan jurus menghindar dari tombak milik Marc, kesempatan kecil digunakan oleh Robin semaksimal mungkin. Dia menyerang ke arah iblis yang menjerat kebebasan Reine.
Robin melemparkan pedangnya ke arah dua iblis penjaga. Akan tetapi, pedang Robin dengan segera meluncur kembali ke arah si pemilik. Untungnya, Robin berhasil menghindari serangan dari pedangnya sendiri.
“Kau tidak akan bisa melawan kami. Karena, setiap serangan yang kau keluarkan, semuanya akan kembali padamu lagi. Sayang sekali...” ucap salah satu iblis tersebut menyombong. Dan satu lainnya tampak tertawa puas. Di beri tahu begitu, Robin segera memutar otak.
Setiap iblis, selalu memiliki kekuatan khusus yang kuat. Sama seperti kami. Meski begitu, di antara kekuatan hebat itu, pasti ada sebuah kelemahan yang bisa ditembus. Katakanlah, aku mungkin jago terbang, tapi aku tak pandai mengaturnya. Sebab itu, aku selalu gagal menyerang target ketika sedang terbang, pikir Robin. Dia tampak berkonsentrasi penuh. Sembari terus menyerang dan berlindung dari serangannya yang selalu berbalik, Robin memikirkan beberapa rencana.
Saat terpikirkan sebuah ide, Robin malah lengah. Pisau kecil yang tadi dia lemparkan, langsung berbalik. Malangnya, Robin tak sempat menghindarinya. Energinya pun, makin melemah. Dia terjatuh.
“Tidak!” pekik Reine. Dia segera merentangkan tangannya ke depan. Seketika, sebuah perisai berbentuk gelembung, melindungi Robin dari serangan. Menyadari hal itu, Robin terkejut dan juga, sedikit lega. Sebab, nyawanya lagi-lagi terselamatkan.
“Kau baik-baik saja?” tanya Reine cemas. “Terima kasih” ucap Robin sambil kembali bangkit perlahan. “Rasakan ini, bodoh!” teriak kedua iblis tersebut. Mereka marah, karena Robin tak berhasil ditumbangkan. Mereka menyerang Robin, kali ini tidak dengan kekuatan pembalik.
__ADS_1
“Awas!” pekik Reine panik. Meski bahunya tak lagi di cekal oleh para iblis, tubuhnya masih tak bisa bergerak. Mungkin, dia telah terkena pengaruh sihir khusus dari penyihir hitam, yang telah di ajarkan pada para iblis pengikutnya.
Tersadar akan teriakan Reine, Robin spontan berlari ke arah cermin dengan panjang seukuran dirinya, yang tak jauh di samping kiri. Dia berlindung ke belakang cermin dengan harapan, rencananya akan berhasil. Serangan tersebut benar-benar dahsyat, karena berasal dari kekuatan dua iblis yang telah dikumpulkan sekaligus.
Saat serangan meluncur, Robin telah berada di belakang cermin. Dengan hitungan detik, cermin tersebut seakan membalikkan serangan iblis. Mereka, lenyap termakan oleh kekuatan mereka sendiri. Dan Robin, berhasil lolos.
Reine tampak menghela nafas lega. Robin buru-buru melepaskan Reine. "Kau hebat!" puji Reine bangga. "Sekuat apapun kita, pasti tetap memiliki kekurangan, bukan?" ucap Robin diikuti senyum khasnya. Reine tampak mengangguk setuju.
Sayangnya, Robin lupa akan satu hal. Sebuah serangan, tepat mengenai bahu kanan Robin. Pria yang dikenal dengan senyuman hangatnya itu pun, harus terkulai di hadapan Reine.
Robin tak sadarkan diri. Dan Luc, orang yang bertanggung jawab atas itu. Dia melemparkan pedang berlumur abunya ke arah Robin, alih-alih pada Marc yang sedari tadi selalu lihai menghindar.
Marc menoleh ke arah Robin. Melihat rekannya tak sadarkan diri, dia menjadi marah. Padahal, selama ini dia adalah orang yang paling tenang. Dia selalu menunggu momen yang tepat untuk menyerang.
Sayang, Marc harus kehilangan predikat tersebut kali ini. Sebab, Robin telah tumbang mendahuluinya. Dengan membabi buta, Marc menyerang Luc. Benar-benar brutal hingga Luc agak kualahan. Namun, pria yang kini malah berkhianat itu, sepertinya sangat puas karena berhasil membuat Marc murka.
“Demi Langit, aku tidak akan mengampunimu!” seru Marc tegas. “Sebuah kehormatan bisa bertarung dengan Pemburu Kematian yang lemah, sepertimu” balas Luc diikuti seringainya yang merendahkan. Pertarungan ini, dimulai dengan amat sangat sengit.
Sedangkan tak jauh dari sana, Reine berusaha melepaskan sihir yang membuatnya tercekat. “Siapapun, kumohon... tolong lepaskan aku...” pinta Reine. Dia harus melindungi Robin, yang tak sadarkan diri di hadapannya.
Tolong...
__ADS_1