
Bruak!!
Srukkk!
“Robin!” seru Reine kaget hingga setengah berjingkat. Kurang lebih, segitu kerasnya benturan yang diterima oleh Robin. Usai para iblis dan siluman yang berasal dari dalam gua, menendangnya dengan keras hingga keluar dari gua.
Robin dalam keadaan masih tersungkur ke tanah dengan posisi terlentang. Mendengar suara Reine, energi Robin seakan langsung bangkit kembali. Dengan cepat, Robin mencari ke asal suara.
Tak lama, dia berhasil menemukan keberadaan Reine. Robin terkejut, Reine benar-benar ada di sana. Bersembunyi di balik pepohonan, yang tak jauh dari mulut gua.
Situasi yang tak memungkinkan saat ini. Di tambah lagi dengan keberadaan Reine, Robin yakin ini akan menjadi bencana lain. Dia buru-buru memberikan sebuah kode, agar Reine pergi dari sana.
Hanya dengan sedikit gelengan kepala, Robin berusaha membuat Reine pergi. Namun, dia melupakan pertarungannya dengan para iblis. Dia juga lupa bahwa, Luc merupakan iblis pengisap darah yang memiliki kekuatan lebih besar darinya.
Lagi-lagi, Robin harus terhempas bagai debu tak bersisa ke arah yang lebih jauh. Sementara Reine, hanya dapat berteriak dalam kebisuan. Usai Raven, menutup mulutnya dengan erat.
“Kitha harush menholonghnya, Rav...” pinta Reine mulai tak tega. Bicaranya menjadi tak karuan, akibat masih berada di bawah perlindungan ketat tangan Raven. “Jangan ikut campur” ucapnya pelan. “Rav!” seru Reine sembari menatap ke arahnya dengan tajam.
Seketika, bak ada sebuah petir yang menyambar di kepala Raven. Sebuah suara yang sangat amat dikenalnya. Suara yang selama ini selalu memperhatikannya dengan lembut.
“Nona...” ujar Raven terperanjat. Tanpa perintah, dia pun langsung berlari condong ke depan. Bertransformasi menjadi serigala hutan berukuran raksasa, Raven berhasil meluluh lantahkan para iblis yang hendak menyerang Robin lagi.
Hari ini, kekuatan Raven menjadi 10 kali lipat lebih ganas dari biasanya. Reine yang baru mengenal Raven pun, sampai kaget dibuatnya. Ternyata, inilah kekuatan Raven yang selalu dia banggakan.
Setelah sempat jatuh ke tanah akibat serangan dari Raven, Luc kembali bangkit. Dia berlari, langsung terbang dan menukik ke arah Raven. Cakarnya yang otomatis memanjang, Luc hempaskan ke arah tangan Raven.
__ADS_1
Raven sedikit terhuyung, mundur agak jauh. Namun, serangan itu bukanlah apa-apa baginya. Raven pun kembali menerjang ke arah Luc. Kali ini, dia bertransformasi menjadi seekor naga raksasa.
Transformasi yang hanya memakan seper sekian detik itu, cukup untuk membuat para iblis mulai panik. Apalagi kali ini, lawan mereka adalah seekor naga yang amat sangat besar. Lengkap dengan api yang siap tersembur dari mulutnya.
Tidak memakan waktu lama, Raven segera menyerang para iblis, termasuk Luc dengan skill yang telah ditebak. Semburan api panas keluar dari mulut Raven. Dia membakar habis seluruh iblis yang ada di sana.
Tapi sepertinya, Luc berhasil menghindar. Dia terbang menjauh dari naga yang mengamuk. Lengannya sedikit terbakar, akibat pertempuran tersebut.
Memang, bukan iblis dari Pvalka jika tak punya tipu muslihat. Diam-diam, salah satu dari para siluman menyadari keberadaan Reine. Seketika, radar pendeteksi Permata Perak pun, seakan muncul dengan otomatis.
Siluman berkaki burung tersebut langsung terbang ke arah Reine. Dia membawa Reine dalam kedua cengkeraman kaki burungnya. Siluman itu terbang tinggi, seolah mengejek sang naga.
“Rein!!!” pekik Robin keras. Dengan kekuatan penuh, Robin terbang ke arah siluman yang membawa Reine. Dia berusaha melepaskan cengkeraman yang membuat Reine tak bisa bernafas.
Robin menyerang kepala siluman berkaki burung dengan cakar tajamnya. Mereka bertarung di udara. Terlihat cukup kewalahan, para siluman lain berusaha membantu.
Sayang, Raven segera menghentikan mereka semua. Lagi-lagi dengan semburan api. Di tambah, hantaman dari ekornya yang keras.
Namun, mungkin itu bukanlah ide yang baik untuk saat ini. Sebab, akibat terlalu sibuk melakukan penyerangan, baik itu Robin ataupun Raven tak menyadari. Reine mendadak terlepas dari cengkeraman siluman berkaki burung. Di ketinggian yang amat sangat jauh dari tanah.
Rupanya, siluman tersebut agak lengah, usai mendapatkan serangan dari Robin. Di titik itu, Reine merasa dirinya pasti akan tewas. Dia hanya dapat memejamkan kedua matanya. Walau tak ada harapan, dia tetap berusaha mengeluarkan perisai pelindungnya.
Ketika dia jatuh, Permata tidak akan keluar dari tubuhnya. Dia tak ingin Permata yang berada di dalam tubuhnya tersebut, harus pecah ataupun hancur. Dia memiliki sebuah tanggung jawab besar atas hal tersebut.
Perisai memang berfungsi. Akan tetapi, kepalanya hampir menyentuh tanah. Dengan kecepatan sekejap mata, tubuh Reine terasa mengambang dan terbawa ke arah lain.
__ADS_1
Reine juga merasa, tubuhnya telah ditangkap oleh seseorang. Saat Reine membuka mata dan mencoba untuk memastikan situasi, kejutan lain muncul. Reine mendapati Luc telah menangkap tubuhnya.
“Oh?!” seru Reine cukup kaget. Dia hanya tak menyangka, keadaan seperti ini akan terjadi. Luc menyelamatkan Reine yang hendak jatuh. Dia seperti menjadi Luc yang seperti biasa. Luc yang dikenal semua orang.
Meski beberapa menit yang lalu, dia sempat menyerang Robin tanpa belas kasih. “Kau... baik-baik saja?” tanya Reine mendadak menyeletuk begitu saja. Ekspresinya semakin tajam. Dia terlihat bagai, seorang penjahat yang sempurna.
Sembari menurunkan Reine ke tanah, Luc menegaskan dengan alis mengerut,
“Jangan salah paham. Ada Permata yang kami perlukan, di dalam tubuhmu. Jadi, jangan berharap yang baru saja ku lakukan adalah untuk dirimu”
“Marchand, apa yang kau lakukan?! Dia hanyalah penjaga Permata Perak. Jika dia mati saat ini juga, Permata Perak pasti akan turut hancur. Bukankah, itu yang selama ini kita tunggu?!” amuk salah satu iblis yang tadinya, tumbang akibat serangan dari Raven. “Sesuai dugaan, kalian benar-benar bodoh!” teriak Luc tak kalah marah. “Apa yang membuatmu begitu angkuh?! Dasar, kurang ajar!” balas iblis tadi.
Yah, mereka malah bertengkar satu sama lain. Melihat celah ini, Robin segera menarik mundur Reine dari sisi Luc. Raven pun, segera berlari ke arah sisi Robin dan bertransformasi kembali menjadi seekor gagak.
Kali ini, tentu ukuran gagaknya sangat besar. Raven juga melentangkan sayapnya, menutupi tubuh Reine. Robin pun, juga mencondongkan tubuhnya di depan Reine. Mereka bak sebuah tim pelindung Reine yang kompak.
“Meski se-inci pun, kalian tak akan bisa menyentuhnya” ucap Robin tajam. “Benarkah? Tak masalah, karena bukan saat ini kami membutuhkan Permata itu. Kalau waktunya sudah tiba, kalian akan terkejut saat melihatnya telah tergeletak tanpa nyawa” balas Luc menggertak. “Teruslah bermimpi, Marchand!” tegas Robin.
Beralih dari Robin yang berapi-api, ekspresi Raven justru sebaliknya. Dia menyuguhkan ekspresi mengganggu. Menyunggingkan senyuman mengejek ke arah Luc yang serius.
“Berengsek! Jaga sikapmu, siluman rendah!” teriak iblis yang tadi sempat berdebat dengan Luc. “Silu? Apa? Siluman rendahan? Hmm, sekarang kau boleh mengatakan itu dengan lantang. Sampai bertemu di “lain waktu” yang kau bahas tadi. Di saat itu terjadi, aku benar-benar akan membuatmu menelan lidahmu hidup-hidup” balas Raven. Tanpa berkata lagi, Raven segera menyuruh Reine untuk naik ke punggungnya.
Sebelum Reine benar-benar pergi, dia menyempatkan diri untuk menoleh ke arah Luc. Dia kehilangan seseorang. Kini, sepertinya dia tidak akan pernah bertemu dengan Luc lagi.
Perasaan berat, membuat hati Reine gusar kala meninggalkannya. Namun, yang terpenting bagi Reine saat ini bukanlah hal itu. Sekarang, dia harus berusaha keras menjaga Permatanya. Sebab, iblis mulai bergerilya untuk mencelakai Permatanya.
__ADS_1