
~~ Marc POV
Rapat bersama hari ini melelahkan. Para tetua itu, membuatku hampir saja hilang akal dan mengamuk di sana. Bisa-bisanya mereka ingin memanfaatkanmu.
Belum lagi soal pelatihan pertamamu. Robin juga! Dia keras kepala sekali agar aku menyuruhmu pergi latihan. Sudah dibilang, kamu akan menjadi mangsa para iblis kalau dibiarkan bebas. Aku mengerti, kamu juga butuh kebebasan.
Tapi...
Kita tidak tahu, semua orang mudah menjadi musuh. Apalagi, dengan keadaan, kamu memiliki permata perak di dalam tubuhmu. Bahkan hari ini, aku hampir saja kecolongan. Kalau saja tidak ku beri kamu mantra malam itu, entah akan jadi seperti apa keadaannya.
Aku ini... jadi selalu memperhatikanmu. Setiap detik, menit dan jam, kamu harus kupastikan dalam keadaan aman. Selain janjiku pada pak tua itu, sudah kewajibanku untuk melindungi manusia seperti kamu.
Namun, kalau terlalu banyak memberi perhatian itu biasanya, akan terjadi sebuah hal lain yang lebih besar. Kalau terlalu mengawasi begini, juga bakal jadi salah paham nantinya. Tapi kalau di biarkan sedikit saja, kamu akan berada dalam bahaya lagi.
Merepotkan.
Dan juga, menyenangkan. Kedua hal berbeda tersebut, bisa-bisanya bercampur menjadi satu? Tunggu, berhenti berpikir! Seseorang bilang, jangan berpikir sambil jalan. Nanti, bakal sial.
Jadi, kuputuskan untuk melangkah menuju lobby. Malam ini, aku akan minum segelas anggur di tempat biasa. Akan kupikirkan semuanya di sana.
Kupercepat langkahku, ketika lift masih terbuka. Aku masuk ke dalam sana dan menekan tombol 0. Lantai dasar lobby hotel. Kalau kemalaman, aku tidak akan bisa bangun tepat waktu. Akan ada rapat tambahan di pagi hari.
Ketika lift sampai di tujuan, aku agak kaget. Di lobby, ada dirimu sedang berdiri di sana. Tak jauh, dari lift yang membawaku turun. Tapi, ada hal lain yang membuatku terkejut dua kali.
Mereka semua, berkumpul di sana dan sedang bercengkerama santai. Mereka dengan luesnya, bisa ngobrol bersamamu. Apa ya kira-kira... yang mereka bicarakan? Aku jadi penasaran.
__ADS_1
Saat langkahku akan beranjak menghampiri mereka, hatiku menghentikannya. Hatiku berkata, walaupun kau berada di sana hal apa yang akan kau bicarakan? Bagaimana kalau topik pembicaraanmu terlalu membosankan? Sementara itu, mereka tidak bisa segera menghentikan, karena posisi yang sedang kau duduki.
Benar. Itu agak masuk akal. Jadi, kuurungkan niatku untuk menghampiri mereka. Meski rasanya, kakiku ingin bergerak ke sana. Marc, pikirkan anggur favoritmu dan bergegas. Kau tidak punya banyak waktu.
Seperti orang asing yang keluar dari hotel, aku melangkah penuh percaya diri. Oh, ya, kuberi tahu kalian. Meski di bawah tanah bangunan ini, terdapat sebuah penjara yang dinamakan Underwall, tetap saja... hal itu tidak merubah kenyataan.
Kalau bangunan ini, merupakan sebuah hotel yang dihuni oleh para iblis. Namanya pun, masih sama. Golden Luxury Hotel. Hanya letaknya saja yang tak terlihat oleh manusia biasa.
Jadi, biar kujelaskan juga denahnya. Hotel, ada di lantai atas. Dan penjara, ada di area paling bawah. Ruang bawah tanah. Di sana, juga sudah tersedia ruangan untuk eksekusi. Dan pengadilan yang menilai, semuanya juga beranggotakan para iblis dari darah bangsawan. Sepertiku.
Begitulah caraku untuk mengalihkan perhatian. Aku harus fokus, alih-alih ingin bergabung bersama mereka. Aku tidak ingin merusak suasana yang baik, berubah menjadi canggung.
Aku terus berbicara soal kelebihan hotel ini dan itu. Tanpa kusadari, kamu rupanya telah mengetahui kemunculanku. Dengan suara keras hingga membuatku hampir tersandung, kamu berkata,
Kamu berseru sambil menunjuk ke arahku. Bahkan, kamu menyebutku diikuti awalan, ‘Tuan’. Hh, harus kubilang berapa kali, agar kamu mau memanggilku tanpa sebutan di depan? Mau tidak mau, langkahku terhenti. Berpura-pura terkejut, aku menatap ke arah mereka.
“Ada yang bisa kubantu, Miss Dallaire?” tanyaku sok formal. Tampak, Luc, Max dan Robin menunduk memberiku hormat. Hampir saja aku tersedak ludah sendiri, ketika kamu berlari menghampiriku.
“Tolong bilang, ya. Aku harus menghindari mereka. Aku tidak ingin suasananya makin kacau. Please...” pintamu setengah berbisik. Kalau mendengar suaramu yang begitu, aku jadi tidak bisa menahannya. Detak jantungku ini, rasanya sudah hilang kendali.
Agar bisa menutupinya, ku condongkan tubuhku ke arah wajahmu. Kamu memang lebih pendek, tapi kenyataan itu menjadi anugerah buatku. Kamu jadi makin kelihatan cantik dan imut.
Kini, aku bisa merasakan tanganmu menyentuh lenganku. Dengan wajah yang memelas begitu, kamu ingin aku segera menyetujui sesuatu. Sesuatu yang tidak aku tahu, apa itu.
Ku tatap wajah mereka bertiga. Ku coba untuk menyinkronkan kalimatku dengan seruanmu tadi. “Jadi, sudah jelas bukan, jawaban dari Miss Dallaire? Biar aku, yang menemaninya. Kalian semua, bisa istirahat. Kebetulan, aku juga sedang ingin membeli makan malam di luar” kataku tegas.
__ADS_1
Aku bisa melihat ekspresi-ekspresi kecewa dari wajah Robin dan Max. Bahkan, aku sempat mendengar Maximilien sedang menggerutu. “Dasar, modus. Mengambil kesempatan dalam kesempitan...” keluhnya.
Dasar, tidak sopan. Kalau saja kamu tidak ada di sini, sudah kulempar dia ke Underwall sekali lagi. Tak lama setelah kekecewaanku pada Max, Luc tampak memberiku hormat.
“Harap berhati-hati, Tuan Deval...” ucap Luc dengan sopan. Tuh. Hanya dia. Hanya dia seorang, yang berlaku sangat sopan padaku. Dari awal pun, dia selalu bersikap begini. Aku bangga padamu, Luc Clovis Robiquet. Aku bangga padamu.
Meninggalkan mereka, tanganmu masih memegang erat lenganku. Tanganmu terasa hangat. Rasanya seperti, tak ingin melepaskannya.
“Oh, maaf...” sesalmu sambil buru-buru melepaskan tangan dari lenganku. Rupanya, kamu sudah menyadarinya ya? Baiklah, aku mengerti.
“Jadi, kamu punya rekomendasi kedai yang enak? Kamu hanya perlu memberitahuku dan aku akan pergi ke sana” ucapmu dengan bibir kecilmu yang menggemaskan. “Siapa bilang, kamu boleh pergi begitu saja? Jadi, gunanya kamu memilihku dan ingin aku menemanimu tadi, apa?” tanyaku berpura-pura kesal. “Tadi, aku tidak ingin mereka bertengkar tentang sesuatu yang sepele. Mereka bertengkar, tentang siapa yang akan mengantarku keluar. Padahal, aku baik-baik saja!” jelasmu mendetail.
“Jadi intinya, kamu hanya menjadikanku alasan? Kamu membenciku, sampai aku tak boleh menemanimu?”
“Bukan. Bukan begitu. Kau pasti punya jadwal yang padat. Dan lagi pula, kau juga pernah bilang. Ke mana pun aku pergi, kau pasti akan tahu situasiku. Kau juga akan melindungiku, sebelum iblis menyerang”
“Memang, sih”
“Karena itu, biarkan aku pergi sendiri. Aku tidak ingin merepotkanmu, hanya karena mengantarku pergi makan. Mana ada, seorang Direktur yang mengantarkan pegawainya?”
Segera setelah kamu selesai berbicara, aku kembali mencondongkan tubuhku ke arahmu. “Bagaimana kalau aku yang mau? Lagi pula, mengawasi dari jarak jauh itu merepotkan. Kalau dekat begini kan, jadi mudah?” balasku cepat. Hal itu, membuatmu agak sedikit terpojok. Terlihat, kamu yang tak bisa menjawab apapun. Apa aku terlalu memaksa, ya?
“Dan lagi... Sudah kubilang berapa kali? Aku bukan Direkturmu. Kamu juga bukan pegawaiku. Jadi...” kataku terhenti. Kamu makin terkejut, ketika kubisikkan sesuatu di telingamu. Tubuhmu, mendadak tak terkontrol dan agak mundur sedikit. Karena itu, sengaja ku tempatkan lenganku di dekat punggungmu agar kamu, tidak tiba-tiba jatuh.
“Lihatlah aku sebagai, Marc Wilfrid Deval. Seorang pria yang kamu kenal... di tempat kerja”
__ADS_1