
"Kita bertemu lagi, Carine. Apa kabar?” sapa Max tampak santai, meski berada di jarak yang cukup jauh dengan tempat Reine berada. “Suatu kehormatan bagiku, The Great. Sayang sekali, kau harus memanggilku di tempat seperti ini. Kenapa? Apakah dunia ini... Berjalan semakin sulit, hingga kau membutuhkan bantuan dariku?” balas Reine dengan senyum khas dan tatapan mata yang tajam.
Max tampak membalas senyuman Carine dengan senyum yang tajam. Lirikannya, bak sedang berhadapan dengan musuh terbesar dalam hidupnya. “Memainkan tubuh orang seenaknya, enggak baik tahu... Ku pikir, aku sudah mengajarkannya padamu” ucapnya terdengar menyudutkan. Namun, Carine hanya kembali menyunggingkan senyumnya. Kali ini, terlihat angkuh.
“Memang, anda sudah mengajarkan banyak hal padaku, The Great. Sayangnya, aku bukanlah orang yang mudah. Apalagi, harus menuruti keputusan anda, agar aku kembali ke gerbang kematian. Maaf saja, kalau yang itu, aku tidak bisa” kata Carine terdengar santai, meski penuh penekanan. Max, seakan tak dapat mengendalikan diri. Tubuhnya terasa kaku. Telapak tangannya, tiba-tiba mengepal, akibat perkataan Carine.
“Sudah ku bilang, enyalah dan jangan pernah kembali!!”
~~ Kembali ke Blood Party
Arthur? Jadi, nama iblis yang Max katakan itu... Arthur? Memang, aku bisa merasakan kalau darahku jadi mendidih. Tapi, kenapa para iblis lain tidak bisa menyadari penampilannya? Dia begitu... Mudah ditebak, pikir Reine.
“Tetap di belakangku, Rein. Jangan pernah meninggalkan lift” perintah Luc tegas. Reine tampak mengangguk menurut. “Jadi, Arthur, sampai mana pembicaraan kita tadi?” ujar Luc kembali berbicara ke arah pria yang ada di hadapannya tersebut.
“Luc? Apa kabar? Ku kira, kita tidak akan bertemu di sini. Kau lihat? Bagaimana dengan penampilanku hari ini? Luar biasa, bukan?”
“Kau tidak datang kemari, hanya untuk mendengar celotehanku memuji penampilanmu, bukan?”
“Ohh... Luc, saudara satu klanku, tolong, jangan sebegitu serius. Meski kita berasal dari jenis klan berbeda, kita tetaplah seorang iblis pengisap darah. Blood Party adalah ajang untuk sebuah keakraban antar saudara se-klan, bukan?”
__ADS_1
“Kita memang satu klan, tapi apa yang kau inginkan... Bukanlah apa yang ku inginkan pula. So... Bisa kita perjelas? Kita berbeda. Berbeda, Arthur”
Mendengar Luc berkata demikian, Arthur mendadak melakukan serangan ke arah Luc. Arthur terbang dengan cepat dan mengarahkan serangan cakarnya ke arah Luc. Dan sudah seperti yang telah di duga, Luc berhasil mengelak.
Luc berteleport ke arah belakang Arthur. Ketika Arthur berbalik dan berusaha melemparkan pukulan, Luc kembali menghilang. Hal itu terus terulang hingga Arthur merasa, Luc tak serius dan dia telah dipermainkan.
“Kau meremehkanku?! Kau adalah iblis yang berasal dari kasta terendah dalam klan. Bahkan level klanku, lebih tinggi darimu. Kalau saja Deval tidak mengangkat derajat keluargamu, saat ini kau pasti masih mengais-ngais darah dari para domba milik klan tinggi. Dasar, iblis sombong...” ungkap Arthur merendahkan. Luc tak bisa membalas. Dia kehabisan kata-kata, akibat sindiran yang menjemukan, namun memang kenyataan. Dia tak dapat membela dirinya.
Saat Luc lengah, Arthur dengan mudah menyerangnya. Kemudian, tentu saja, Arthur berhasil melukai Reine. Kala hal itu terjadi, perisai maupun kekuatan Reine, seakan terhenti. Kalau sudah begitu, Reine hanya bisa...
“Bagaimana bisa, kau menyuruhku untuk mengatasinya sendirian, Maximilien!!!!!! Marc, tolong aku!!”
Tiba-tiba
Bruakkk!
Arthur sudah tergeletak di lantai hotel yang dingin. Tak lama, setelah Reine berteriak sambil menutup kedua matanya. Saat melihat Arthur terpelanting jauh, Luc spontan menatap ke arah seseorang. Usai itu, dia buru-buru bangkit.
“Anda tiba, Tuan Deval. Maaf, atas ketidak-becusan saya dalam mengurus hal ini” sesal Luc sembari menundukkan kepalanya. “Sudah ku bilang, jangan lengah hanya karena hal sepele, Luc. Apa yang telah dikatakan Arthur, sudah tak berlaku lagi padamu. Jadi, dongakkan kepalamu ke atas dan jangan sampai menundukkannya lagi. Klanmu, memiliki integritas tinggi di hadapan yang lain, termasuk klannya!” kata Marc menegaskan. Pria itu, yang membuat Arthur kehilangan kesempatan untuk mengambil permata perak dari Reine. Padahal, tinggal selangkah lagi dia mendapatkannya.
__ADS_1
Marc melangkah ke arah Reine yang masih memejamkan kedua matanya. Entah sejak kapan, Reine bersimpuh di samping dinding lift. Tentu, dengan raut wajah yang agak ketakutan.
Marc berjongkok di hadapan Reine. Seperti sedang bermain petak umpet, Marc menggoda Reine dengan memiringkan kepalanya. “Aku menemukanmu... Sekarang, giliran kamu yang jaga” ucapnya lembut.
Reine segera membuka mata. Seketika, dia telah di sambut dengan senyum tipis yang cuek, khas dari seorang Marc Deval. “Kamu berteriak keras sekali... Telingaku sampai mau pecah. Padahal, dari tadi aku sudah mendengar suara minta tolong padamu. Sayangnya, aku tidak bisa menemukanmu dengan segera, karena darahmu tak terdeteksi. Maaf, aku agak terlambat” lanjutnya.
Reine menghela nafas panjang. Refleks, dia menjatuhkan kepalanya ke arah bahu Marc. “Terima kasih, kau sudah datang...” ucap Reine lirih. Marc berusaha mengendalikan fokusnya, setelah agak sedikit terkejut tadi. “Sudah ku bilang, di mana pun kau berada, aku akan selalu melindungimu” balas Marc.
Ya, ya, dia berbeda. Dia buka Max. Dia adalah Marc Deval! Tentu saja, dia akan melindungiku! Tentu saja, dia akan selalu melakukannya untukku. Dia, orang yang paling mengerti tentangku. Awalnya ku kira, Robin adalah orang yang istimewa bagiku. Namun, semua iblis pasti sama. Mereka baik, karena menginginkan sesuatu dariku. Aku harusnya percaya pada firasatku sejak awal. Karena dia selalu memberiku peringatan akan Robin. Tapi, Max juga salah satu orang payah yang enggak bisa dibaikin! Dengan gampangnya, dia menyuruhku untuk bertahan sendirian. Di situasi yang tak kukenal seperti ini, batin Reine.
Marc membawa Reine ke arah tempat lain, guna menenangkan diri. Dia meminta bantuan Luc untuk memberi Arthur hukuman. Iblis seperti Arthur, harus di kurung dalam sel sebelum membuat keonaran di tempat lain.
Sepeninggal Marc dan Reine, Luc segera mengurus Arthur, seperti yang diperintahkan. Akan tetapi, belum sempat melakukannya, langkah Luc harus terhenti oleh seseorang yang lain. Luc menyadari, ada orang yang sedari tadi mengawasi dari luar jendela.
Ketika menengok ke arah luar jendela dengan cepat, Luc mendapati Max sedang terbang dan terhenti di dekat jendela. “Apa yang kau lakukan di sana?” tanya Luc setengah kaget. Meski tak membuka jendela pun, Max tetap dapat mendengar Luc sedang berbicara. Bagi iblis pengisap darah seperti mereka, indra pendengar dua kali lebih peka dari manusia normal.
Max tak menjawab. Luc menyadari, ada sedikit hal yang berbeda pada penampilan seorang Maximilien. Iblis dengan julukan, “penggoda tampan yang tak dapat mengalihkan pikiranmu” tersebut kelihatan serius. Tatapannya tajam dan siap menghabisi siapa pun.
“Tinggalkan dia di sana” perintahnya tegas. “Apa? Tapi, Marc menyuruhku untuk...” “Tinggalkan!” potong Max agak berteriak. Tak mau terlibat perdebatan sengit dengan Max yang mendadak aneh, Luc segera mengiyakan. “Oh, baiklah. Ku serahkan semuanya padamu. Jangan lupa, laporkan hal ini pada Marc” pintanya, sebelum buru-buru pergi.
__ADS_1
Usai itu, hanya ada Arthur dan Max. Entah, apa yang akan Max lakukan pada iblis yang hendak mengancam nyawa Reine tersebut. Pastinya, Luc sayup-sayup mendengar suara teriakan dahsyat dari mulut Arthur.