produk gagal

produk gagal
Salah Orang?


__ADS_3

“Siapa... Kau? Kenapa kau... Mirip sekali dengan Reine?” tanya Luc terperanjat. “Well, ada hal yang disebut dengan... Privasi, bukan?” jawab Carine mengambang. Rupanya, Carine harus kembali muncul.


Mengingat, Reine sedang tak sadarkan diri tadi. Karena itu, dia memutuskan untuk ikut campur sedikit. Dan ternyata, mempercayai firasat buruknya akan hari ini, ada benarnya.


Luc terkejut, ketika memeriksa tubuh Reine yang mendadak hilang dari tempatnya. Dia memeriksa, masih dengan posisi tengkurap di tanah. Menyadari kejanggalan itu, Carine buru-buru tersenyum.


“Oh, ya, gadis itu sedang ada bersamaku. Tenang saja. Dia... sedang ku pulihkan kembali” terang Carine. Entah harus percaya atau tidak, Luc tiba-tiba yakin kalau perkataan Carine adalah kebenarannya. Carine pun, berusaha untuk tersenyum ramah nan meyakinkan.


Sayangnya, dia agak melupakan perseteruan antara Tobie dan Caroline. Hingga Carine, tak menyadari jika Tobie, telah menyerang Caroline lagi hingga wanita tersebut, kembali bersimpuh ke tanah, tak berdaya. Dengan cepat pula, Tobie telah berdiri di belakang Carine.


Dengan waktu bak kedipan mata, Tobie menerjang Carine. Dia kembali bertransformasi menjadi serigala, kala Carine lengah. Tobie sangat percaya diri, siasatnya akan berhasil lagi.


Akan tetapi, Tobie sama sekali tidak mengetahui tentang latar belakang lawannya saat ini. Dengan berani dan sok, Tobie menerjang Carine dengan keempat cakarnya. Di tempatnya, Carine hanya berdiri. Dia tak melakukan apapun, selain menatap ke arah Tobie yang berada di atas kepalanya.


“Enyahlah!” teriak Tobie, seakan menantang. Carine segera merentangkan tangan kirinya ke atas, usai memperhitungkan langkah yang dilalui Tobie untuk menyakitinya. Seketika, perisai telah membuat Tobie terjatuh untuk yang kedua kali.


Bedanya, kali ini kekuatan milik Carine berefek bak seribu kali lipat. Namun, Tobie tetap tak menyerah. Dia mengincar tangan Carine, sebagai taktik serangan barunya.


“Keluarkan seluruh kekuatan yang kau miliki, manusia rendahan!!” teriak Tobie sembari berlari menerjang. “Manusia rendahan, kau bilang? Dasar, siluman kurang ajar...” balas Carine dengan tenangnya. Dia tampak meraba saku dalam celananya.


“Bingo!” sorak Carine. Dia kegirangan, ketika menemukan sebuah pisau kecil milik Reine, yang diberikan oleh Adrien semasa kecil. Carine segera melemparkan pisau itu, sebelum Tobie tiba di hadapannya.

__ADS_1


Sayangnya, tangan Carine yang tengah memegang pisau itu, kini malah di hiasi sebuah gelang besi berukuran sedang, yang dihiasi dengan tali dari benang wol di sisinya. “Nah, lho kok?” ucap Carine terkejut. Dia kembali menggunakan perisainya, untuk menghentikan Tobie.


Carine tampak celingukan, mencari muara dari benang wol tersebut berasal. Ketika kedua matanya tiba di jendela gudang, Carine menyadari kedatangan seseorang. “Yang mulia?” ucapnya agak terperangah. “Ca, Carine? Sudah kuduga, kau akan muncul lagi! Kau tidak akan berhasil. Hentikan saja, dari pada nantinya akan ada resiko yang lebih besar. Dasar, anak nakal! Kau tidak pernah menurut!” omel seorang pria yang tadi, sempat bersembunyi di balik jendela.


“Daripada anda terus mengomel tak jelas begitu, lebih baik segera bawa siluman itu bersama anda” pinta Carine malas bertele-tele. “Aku? Membawa siluman? Tidak. Tugasku, bukan membawanya. Tapi, Caroline!” kata Max, ya, kalau sedang dalam mode sebagai, Great Savior si pimpinan Pemburu Kematian, dia biasa di panggil, Gray. Dan dia, memang agak menyebalkan. Yah..


“Kau, Caroline dari klan nomor satu siluman serigala! Waktumu di dunia ini, telah habis. Sekarang, cepatlah berdiri dan ikuti aku” perintah Gray ke arah Caroline dengan cepat. Wanita tersebut, tampak kebingungan usai mendengarnya. Sementara Carine, terlihat mengerutkan keningnya. Dari ekspresi yang dia gambarkan sudah tertebak. Hanya satu ekspresi yang sangat mendominasi, kesal.


“Aku tidak akan menyerahkannya. Caroline... masih memiliki tanggung jawab besar di dunia ini” sergah Carine. “Aku tidak membutuhkan saran darimu, The Bride” jawab Gray meremehkan. “Ini perintah, bukan saran, yang mulia!” tegas Carine lebih memperjelas.


Sekarang, giliran Gray yang terlihat kesal. Tidak, dia tidak hanya kesal. Dia, marah. Marah besar. Tanpa sungkan, dia menunjuk wajah Carine dengan telunjuknya. “Jangan memberiku perintah. Aku bukan bawahanmu!” ujarnya meledak. “Cih!” balas Carine sembari memutar bola matanya dengan sinis.


“The Bride of Great Savior! Kau dihukum! Kau telah meremehkan seorang Great Savior dengan menggunakan pangkatmu! Sesuai dengan...”


“Kau benar-benar akan dihukum! Sekarang, kau memotong perkataanku. Sungguh, tidak sopan! Jika kau terus menerus tidak menuruti aturan yang kubuat, aku tidak akan segan untuk menghukummu dengan dua kali lipat hukuman! Teruskan saja, kalau kau masih mau tinggal dalam tubuh anak itu!”


“Seorang Great Savior, tidak diperbolehkan untuk mengancam Pemburu lain! Anda tahu, dia adalah siluman yang memiliki segudang tindakan kriminal! Anda, masih tidak mau membawanya juga?”


Gray tampak melangkah mendekat ke arah Carine. Dia membisikkan sesuatu. “Hentikan omong kosongmu dan segera pergi selamatkan Luc. Kalau kau terus berteriak begitu, lama-lama mereka semua akan tahu siapa kita” ucap Gray menekankan. “Aku tidak akan menyerahkannya” balas Carine tak kalah menekan.


Gray menghela nafas panjang. “Dia... tidak tampak dalam buku besar, Carine” bisiknya sabar. “Apakah dengan tidak adanya itu, aku tidak bisa menangkapnya? Menitipkannya pada anda, agar dia bisa dengan cepat di kirim ke langit?” kata Carine dengan suara agak lantang.

__ADS_1


Sementara Luc dan Caroline, hanya bisa terheran-heran mendengar pertengkaran mereka berdua. Bak, pasangan suami-istri yang tidak pernah akur. Seolah, sedang mendebatkan siapa yang paling boros dalam menggunakan uang.


“Saya, tetap menahannya” tegas Carine sekali lagi. “Kau... benar-benar sangat rumit” tanggap Gray kehabisan kata-katanya. “Saya, tetap akan menahannya” ulang Carine lagi. Kali ini, Gray tak bisa mengatakan apapun lagi.


“Maximilien...?” panggil Luc tiba-tiba. Dia agak syok, saat melihat kedatangan rekannya dengan sangat tak terduga itu. Mendengar namanya di sebut, Max baru menyadari jika Luc berada di sana. Harusnya, dia tidak memanggil Reine dengan nama Carine dan mengoceh tak karuan di hadapan Luc.


“Kau, Petugas Underwall, kan? Kenapa malah tidur-tiduran di situ?” jawab Gray, seakan Luc telah salah mengiranya. “Kau... Maximilien, kan? Kau teman kami!” seru Luc tak percaya. “Sepertinya, kau... salah orang. Tapi, orang yang kau sebut namanya tadi... dia tidak lebih tampan dariku, bukan?” jawab Gray acak. Dia berpura-pura tidak mengenal Luc, agar privasinya tetap terjaga.


Carine menatap Gray dengan risih. Bahkan, dia sempat memutar bola matanya. Rupanya, Gray terlalu nekat menyebut dirinya lebih tampan dari yang lain. Hhh...


“Tapi, kau kan...?” tanya Luc sambil agak berpikir. “Petugas Underwall, mengapa kau tidak segera membawa buron 3799? Bukankah, itu tugasmu?” jawab Gray mengalihkan. Namun, seperti yang kau lihat, Luc sama sekali tidak bisa bangkit kembali. Dia terluka, parah. Dan sayangnya, kemampuan untuk segera memulihkan diri dari luka, tidak mungkin bisa secepat itu terealisasikan.


Sementara yang lain sedang ribut, Tobie segera mengambil langkah cepat untuk kabur, usai melihat kedatangan Pemburu Kematian di sana. Jika dia tidak segera lari, kemungkinan besar dia akan ditangkap. Dan tentu, dikembalikan menjadi abu.


“Tobie!” teriak Carine. Tobie, benar-benar kabur rupanya. Dia berlari secepat kilat, menggunakan kemampuan serigalanya. “Siluman brengsek! Bikin repot saja” gerutu Gray. Padahal, masalahnya dengan Caroline masih belum beres. Kini, dia harus menangani buron Underwall yang kabur tersebut, akibat Luc, si petugasnya tidak bisa mengejar dengan alasan terluka sangat parah. Dan juga, efek dari desakan Carine yang setelah berteriak tadi, wanita tersebut langsung menatap tajam ke arahnya.


Apa boleh buat?


“Ya, The Bride. Kali ini, aku akan menuruti permintaanmu. Aku sudah seperti pelayan saja...” keluh Gray bersiap untuk berteleport. Bagi seorang Pemburu Kematian tingkat atas sepertinya, tak ada hal yang sulit ketika bertemu dengan seorang iblis atau pun siluman yang nekat. Apalagi, hanya untuk sekedar mengejar dan menangkapnya. Mudah.


“Tidak, tunggu. Kali ini, biar Caroline yang mengejarnya. Bukankah, kau menginginkan hal ini, Caroline sayang?” kata Carine beralih ke arah Caroline, setelah sempat menghentikan langkah Gray. Caroline yang tadi telah kehabisan banyak energi, rupanya masih belum menyerah. Dia kembali bangkit, usai Carine tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


“Aku... yang akan mengakhiri Tobie”


__ADS_2