
“Kamu baik-baik saja? Tidak perlu takut. Ayo, ikuti aku” pinta Reine sembari mengulurkan tangannya ke arah seorang bocah berusia lima tahun. Bocah itu, tengah berjongkok, tepat di hadapannya. Dengan menjabat tangan Reine agak ragu, bocah tersebut akhirnya mengikuti Reine.
Sayangnya, siluman yang katanya, berasal dari Barat tersebut sudah lebih dulu mengepung Reine. Jumlah yang banyak. Serta, tubuh yang berukuran cukup tinggi-besar, Reine mungkin akan kalah.
Sebab itu, Marc telah bersiap untuk menyerang dari sisi yang berlawanan. Namun, para siluman tersebut sepertinya masih ingin berbincang. Sebelum mereka, menghabisi Reine beserta bocah tadi dalam sekali lahap.
“Manusia, rupanya... Bagaimana bisa, kau sampai di tempat ini? Tersesat, ya? Atau, tak sengaja melewati portal?” goda siluman itu. Wajah Reine, terlihat sama sekali tidak takut. Dia tampak menghadapi siluman tersebut, bahkan melihat wajah sang siluman.
Jadi, ini yang dinamakan siluman dari Barat? Kenapa bentuknya... seperti, setengah banteng begitu? Katanya, mereka berbahaya, pikir Reine dalam hati.
“Anu, aku memang melewati portal, sih. Tapi, aku sama sekali tidak tersesat” jawab Reine terdengar tenang. Mendengar jawaban Reine, para siluman tersebut tertawa keras. Kenyataan ini, membuat amarah Marc semakin terkumpul.
Marc tampak buru-buru melangkah ke arah para siluman. Akan tetapi, para siluman tersebut sudah lebih dahulu menyerang Reine. Salah satu dari mereka, terlihat mengambil paksa si bocah yang berada di dekat Reine. Maksud hati, ingin memakan si bocah lebih dulu.
Namun, tubuh Reine seketika membentuk sebuah perisai berwarna emas. Perisai itu, membuat para siluman terpental hingga melepaskan si bocah dari cengkeraman tangan mereka. Perisai juga, menyelimuti tubuhnya dan tubuh bocah tadi dengan sangat sempurna.
Akibat dari munculnya perisai, langkah Marc seketika agak mundur. Tak lama setelah itu, mendadak, Catatan Kematian muncul di hadapannya. Tanda bahwa, tugasnya telah datang.
Marc mengambil sebuah buku yang melayang di udara tersebut. Ketika buku berada di kedua tangannya, buku tersebut terbuka dengan sendirinya. Buku itu, membalik halaman demi halaman dengan kilat.
Sampailah di suatu halaman kosong, yang kemudian muncul sebuah gambar. Buku berwarna coklat tampak usang itu, menunjukkan pada Marc sebuah tugas. Tugas untuk, memusnahkan para siluman dari Barat yang telah menemui ujung kehidupan mereka.
__ADS_1
Dengan langkahnya yang penuh ketegasan, Marc membawa buku di salah satu tangannya. Dia menghadapi para siluman tersebut dengan sebelah tangan yang kosong. “Mundur, Tuan Deval! Terlalu berbahaya!” teriak Reine khawatir.
Terlambat. Langkah Marc sudah dekat. Para siluman, pun berbalik ke arahnya untuk memastikan. “Hah? Iblis penghisap darah? Sungguh? Kau bercanda? Kekuatanmu, tak akan bisa menandingi kekuatan kami!” tanggap salah satu dari siluman itu, dengan angkuhnya.
Tak membalas dengan ucapan apapun, Marc berhenti melangkah dan berdiri di hadapan mereka. “5139, 5526, 5589, 5592, 5931. Terakhir, 5080... Wah, kau yang terlama rupanya” ujarnya, setelah kembali membuka sebuah halaman dalam bukunya. “Ada apa dengan orang bodoh ini? Hei, meluculah dengan hal yang lebih baik! Lelucon macam apa itu?” kata salah satu siluman tadi. Tak lama, mereka terdengar tertawa.
Reine pun, juga tak mengerti apa maksud dari Marc. Dia hanya dapat melihat pria tersebut kembali melanjutkan perkataannya. “Jaga sikapmu, 5080! Hari ini, tanggal 22 Juni, akibat dari mencelakai seorang manusia dan seorang iblis anak-anak, kalian akan mendapatkan serangan tak terduga. Dari serangan tersebut, tubuh kalian akan kembali menghadap Sang Langit. Bersiaplah, untuk menuju akhirat!” tegas Marc.
“Duh, takut nih!!” canda salah satu siluman. Dari tadi, dia yang selalu bereaksi. Setelahnya, pasti yang lainnya akan tertawa terbahak-bahak. Dia seperti, ketua geng dari siluman lainnya.
5080? Itu nama atau apa? Dan kenapa Marc bisa mendapatkan buku kuno seperti itu? Sebenarnya, siapa Marc dan kenapa dia berlagak seperti...
Reine berusaha bangkit. Satu-satunya yang di cemaskannya hanyalah, si bocah dan tentu, Marc juga. Sebab pria itu, mendadak mengeluarkan pulpen dan merubahnya menjadi sebuah tongkat. Padahal, pulpen itu berasal dari dalam saku jasnya. Dengan secepat kilat, mengapa bisa berubah menjadi sebuah tongkat?
“Ku bilang, bersiaplah... Brengsek!” seru Marc penuh dengan kemarahan. Tak lama, terdengar suara petir menyambar-nyambar. Dengan tongkat tersebut di sebelah kanan dan sebuah buku tangan kiri. Marc, melangkah dengan penuh perhitungan.
Marc melemparkan tongkatnya ke arah siluman berkode 5080. Seketika, tongkat kembali berubah. Bersama kecepatan yang terbang bagai angin, tongkat hitam tersebut melaju, berubah menjadi sebuah tombak dan menusuk 5080 hingga darahnya muncrat ke mana-mana.
Tak hanya itu. Reine seperti sedang terkena serangan jantung, tombak tersebut juga mengenai seluruh siluman yang tersisa. Tombaknya bergerak, sesuai dengan urutan kode nomor yang disebutkan oleh Marc di awal.
Kekuatan Marc, benar-benar hebat. Padahal, dia hanya melemparkan tongkat itu dengan satu tangannya, pikir Reine dalam hati.
__ADS_1
“Iblis, sialan!!!!!” teriak 5080, diikuti tangisan siluman lainnya. Mereka semua, berubah menjadi abu dan terhempas oleh angin. Abu mereka, terbang ke arah langit yang gelap, akibat tertutup awan mendung. “Aih, benar-benar siluman tidak sopan. Bagaimana bisa, sebelum musnah, dia justru menggunakan waktu untuk mengumpatku? Dasar...” keluh Marc sembari memasukkan kembali tongkat ke dalam saku.
Ajaibnya, semuanya kembali seperti semula. Bahkan, bukunya juga ikut lenyap. Dan tongkat pun, kembali menjadi pulpen. Langit, berubah kembali normal. Lalu lalang para iblis yang tadinya terhenti bak, membeku dalam waktu, seakan kembali tanpa merasakan ancaman apapun.
Bahkan, Marc juga.
Dia melangkah menghampiri Reine dengan senyumnya yang ramah dan terasa... penuh misteri. Reine hanya berdiri sambil menatap ke arahnya yang terus melangkah. Marc begitu tegas dan berkarisma.
“Jadi... kamu baik-baik saja kan, Rei?” tanya Marc dengan nada suara yang khas. Lembut dan terdengar agak berat. Meski sama-sama memiliki suara yang berat dengan Luc, nada suara Marc terasa berbeda. Memang tak sedalam milik Luc. Namun saat mendengarnya, Reine seolah dibuat berada di dunia yang lain.
Dunia yang penuh misteri dan tantangan. Dunia yang agak kelam, karena kesepian. Dunia yang memancarkan aura ketegasan dan penuh perhatian.
Dunia milik Marc.
Dari situ, Reine mulai berpikir. Di tempatnya berdiri, sejenak Reine merasa beruntung. Beruntung, karena Marc mampu menyelamatkan segalanya. Bocah itu, tempat ini serta, dirinya.
Akan tetapi, sebuah perasaan lain juga turut tercampur di dalam hatinya. Ketika melihat Marc dengan senyum seirit itu, dia merasakan sesuatu yang lain. Berbeda.
Marc berbeda. Dia berbeda dengan iblis yang lain. Auranya... berbeda dengan Robin. Atau Max. Dan bahkan, Luc. Jadi, siapakah kamu sebenarnya, Marc? Aku sama sekali tidak bisa membaca dirimu, batin Reine penuh dengan kebingungan.
Namun, Marc tetaplah Marc. Pria yang penuh dengan rahasia itu, terlihat masih memamerkan senyumnya yang tipis. Bahkan untuk dikatakan dia sedang tersenyum, rasanya mungkin... Tidak? Tapi dia, sedang tersenyum. Dan melalui senyum itu, Marc meninggalkan berbagai pertanyaan yang mendalam.
__ADS_1