
“Max, cepat hancurkan pintunya!” seruku tak sabar. “Tidak bisa! Aku tidak bisa melakukannya!” teriak Max putus asa. “Kamu bisa melakukannya! Gunakan seluruh kekuatanmu” pintaku memohon, sekali lagi.
“Max, hancurkan!!!!”
Bruak!!
Suara tersebut muncul, ketika aku dipaksa keluar dari pikiran Max. Entah, apa yang akan terjadi selanjutnya. Di hati kecilku yang paling dalam, aku memohon, suara itu berasal dari Max yang berhasil menghancurkan pintunya.
Karena terlempar dari tubuh Max, aku terjatuh ke belakang. Namun, Robin melindungiku lebih dulu hingga kepalaku, tak sempat terbentur lantai kayu ruangan Marc. Aku tidak mengerti, tiba-tiba saja dia sudah berada di belakangku.
Mungkin saat terlempar, perisai yang tadi membuatnya tak bisa bergerak, ikut hancur. Karena itu, dia bisa kembali meraihku. Aku, aman dalam lindungan kedua tangannya.
Luc memegangi kedua bahu Max. Pria itu, tampak ikut terjatuh ke lantai, usai aku terpental. Luc membantunya duduk di sofa yang ada di ruangan itu, agar lebih nyaman. Situasi yang benar-benar kacau.
“Kamu baik-baik saja, Reine?” tanya Robin untuk pertama kalinya, usai dari tadi dia terus memanggilku dengan sebutan, Miss. Aku hanya bisa menjawab dengan anggukan. Meski aku mencoba untuk menjelaskan situasinya, dia tidak akan mempercayainya. Jadi, lebih baik aku mengurungkan niat.
Marc tampak menatapku dengan sorot mata normalnya. Dia kembali duduk di kursi besarnya. Meski agak menakutkan, tatapannya terasa melembut lagi. Apakah dengan adanya kejadian ini, dia bisa mempercayaiku?
Belum tentu. Sampai Max menunjukkan perubahannya, dia tidak akan percaya pada perkataanku. Direktur Deval adalah tipe pria semacam itu. Jadi, kita harus menunggu. Ya, kan?
Beberapa menit kemudian, Max tampak tersadar. Di menit-menit sebelumnya, tak ada pembicaraan dari mulut kami. Seolah, semuanya sedang tenggelam dalam pikiran masing-masing.
“Apa yang terjadi padamu, Max?” tanya Luc, menjadi yang pertama kalinya berbicara dalam ruangan tersebut. “Seseorang... mencoba mengendalikanku. Kepalaku, sakit...” jawabnya berakhir mengeluh. Max tampak memegangi kepalanya.
“Siapa? Siapa yang melakukannya?” tanya Robin, usai membantuku berdiri. “Suara wanita. Seseorang yang mengendalikanku...” jawab Max pelan. Sialan! Aku membantumu, bodoh!!!!
Seketika, pandangan Marc langsung mengarah ke arahku. Sepertinya kali ini, aku bakal beneran di potong hidup-hidup. Dasar, iblis penggoda sialan! Harusnya, kau bilang dong kalau diserang iblis dari klan lain! Bodoh!!!!
“Semuanya, tinggalkan ruangan ini segera. Miss Dallaire, aku perlu bicara denganmu. Jadi, tetaplah berada di sini” perintah Marc. Kayaknya, benar deh. Bentar lagi, hidupku bakal selesai.
__ADS_1
Luc membawa Max keluar dari ruangan Marc. Akan tetapi, Robin terlihat tetap berdiri di tempatnya. “Aku akan berbicara dengan Miss Dallaire, empat mata. Kau boleh pergi, Rob” pinta Marc. “Biar aku saja. Karena dia pegawai yang kau inginkan, biar aku saja yang menangani ini” tolak Robin.
Kedua mata Marc kembali menajam. Kali ini, Robin musuhnya. Entah, apa yang terjadi dengan dua orang pria ini. Yang jelas, mereka pasti punya tujuan masing-masing. Mengingat, Robin membahas kekuatan yang kumiliki saat berhasil lolos dari maut, yang berasal dari dua iblis pengisap darah berbeda.
“Aku tidak akan membunuhnya, Rob. Aku harus membicarakan hal lain dengannya. Termasuk, perekrutan itu. Jadi, percayalah padaku” terang Marc. Robin bersikeras berada di sana. “Aku akan mengawasi. Jadi, biarkan aku tinggal” ujarnya kemudian. Marc terdengar menghela nafas panjang.
“Kau boleh membunuhku, jika kau mendengar Miss Dallaire berteriak meminta tolong. Tolong, tunggu di depan” kata Marc. Robin menatap ke arahku. Dia mendadak memegangi kedua bahuku dan tersenyum tipis. “Berteriaklah sekencang mungkin, jika dia mencoba untuk membuatmu celaka” pesan Robin.
Mungkin, dia hanya perhatian? Karena dia yang selalu merawatku saat masih sering pingsan, tingkat kekhawatirannya berubah menjadi lebih besar. Meski begitu, harus aku sendiri yang menangani Marc.
“Aku baik-baik saja. Lakukan saja perintahnya. Seperti katamu, aku akan berteriak. Kalau benar-benar dibutuhkan...” ujarku menenangkan. Robin mengangguk mengerti. Dengan langkah agak berat, dia meninggalkan kami berdua.
Sepeninggal Robin, Marc mempersilakanku untuk duduk di kursi yang menghadap ke arahnya. “Sejak kapan, kamu menjadi seakrab itu dengan Robin? Tinggal di sini... sepertinya, membuatmu cepat merasa nyaman” kata Marc membuka percakapan.
Aku tidak mengerti, apa yang sedang dia bicarakan. Tapi, perkataannya yang barusan... benar-benar menyakitiku. Secara tidak langsung aku merasa, dia sedang mengejek.
“Nyaman? Menurutmu, tinggal di sarang musuh adalah hal yang perlu dibanggakan? Dan apakah aku... tidak boleh mengakrabkan diri dengannya? Sebelum pergi berperang, bukan hal yang dilarang jika, menggali latar belakang musuh terlebih dahulu” tanggapku terdengar ketus. Biar saja. Hatiku terlanjur sakit sih. Sudah digigit segitu parahnya sampai enggak sadar tiga hari, terus di tuduh sebagai iblis terkutuk lagi!
“Aku... tidak bermaksud seperti yang sedang kau pikirkan. Tapi, pikiranmu... dari tadi terus menganggukku. Pikiranmu lari kemana-mana”
“Memangnya, kau bisa baca pikiran?”
“Salah satu kekuatan terbaikku adalah itu. Robin yang bisa menyembuhkan, Luc sekuat besi dan Max...”
“Penggoda yang buruk!”
Mendengarku menyela perkataannya, Marc terlihat agak kaget. “Atas namanya, aku memohon maaf. Aku yakin, dia dalam pengaruh iblis lain saat menyerangmu” sesal Marc kemudian. “Apa? Tidak. Dia tidak sedang berada dalam pengaruh iblis lain, ketika menghisap darahku sampai mau habis” tolakku tak setuju.
Tunggu, apa katanya? Berarti, dia percaya? Bagus! Habisi dia, Reine!
__ADS_1
“Dan secara tidak langsung, kau percaya kalau temanmu telah dikendalikan oleh iblis lainnya? Terlebih, iblis itu adalah iblis terkutuk” serangku. Marc lagi-lagi kehilangan kata-katanya. “Anda, berhutang nyawa padaku, Tuan Deval. Sampai kapanpun, aku tidak akan menganggap hal ini sebuah kasus yang biasa. Temanmu, membuatku hampir mati dengan kesadaran penuhnya” ucapku melanjutkan.
Marc tampak menopang dagunya, dengan menyatukan kedua telapak tangan. “Aku tahu, maaf saja tidak cukup. Karena itu, aku menawarimu untuk bergabung dengan hotel kami” katanya. “Bergabung? Apa yang kudapatkan dari itu? Malah menambah bahaya saja, kalau bergabung. Dan lagi... Bukankah, aku sudah menjadi bagian dari hotel ini? Aku bekerja di hotel ini, Direktur Deval. Anda... tidak mendadak mengeluarkanku, bukan?” jawabku agak menyebalkan.
“Kamu pasti sudah bisa menebak. Mengapa hotel ini, memiliki filter dan juga... sebuah sel di bagian bawah tanah?” ucapnya. Kenapa? Kau juga memiliki misi lain, selain memanfaatkanku? Setelah tahu kekuatanku mengusir iblis berselendang merah, kau tertarik padaku dan mengirim Max untuk menguji coba sekali lagi, bukan?
Dan sekarang, apa? Kau sengaja, membuatku berada dalam bahaya sekali lagi untuk menguji coba hal lain? Meski enggan, aku menjawab,
“Kenapa, memangnya?”
“Kami memiliki misi untuk menumpas seluruh iblis pengisap darah dari klan lain, yang akan membahayakan manusia. Karena itu, filter dibuat untuk memindai setiap perbuatan buruk para tamu iblis yang datang”
“Oh... begitu... Misi yang bagus”
“Seperti Max tadi, mereka yang memiliki catatan kriminal, akan dikirim ke sel bawah tanah. Per-harinya, mereka akan dimusnahkan menggunakan pistol yang telah dilumuri Abu Kematian”
“Hm. Abu Kematian, ya? Rumornya, itu milik para Pemburu Kematian. Ya, ya...” responku kentara sekali kalau malas. Sudah, tidak perlu basa-basi. Cukup katakan, aku membutuhkan kekuatanmu. Sebab itu, aku mengirim Max untuk mengecek, seberapa kuatnya dirimu. Agar kami, bisa menjadikanmu sebuah perisai yang sempurna saat mengambil alih dunia.
Ya, kan? Iblis sepertimu, pasti punya tujuan besar. Sampai di titik tertinggi ini, kau berusaha membangun image baik agar disegani oleh klan iblis lainnya. Dan dengan begitu, klanmu bisa mengambil alih klan yang lain. Kuat dan bertambah kuat.
Hanya itu, yang bisa dilakukan oleh iblis sepertimu. Ibuku bilang, kekuatan adalah hal utama bagi iblis. Dan darah kami, para penyihir, akan membantumu di titik tertinggi itu.
“Ayahmu, terlibat dalam hal ini. Karena itu, aku ingin kamu melanjutkan tugasnya” ungkap Marc. “Oh, benarkah?” balasku jadi makin bosan. “Ya, ayahmu, Miss Reine...” ulang Marc.
Ayah...
Ayahmu, Miss Reine.
Ayahmu.
__ADS_1
Ayahku?
Ayahku?!!!!