
Tak ada pilihan lain, selain melindungi Reine saat ini. Mungkin, Marc bisa sedikit maklum padanya ketika mendapati situasi gawat ini. Jadi, Luc buru-buru berlari menyelamatkan Reine dari para iblis tersebut.
Tampak, Lady Dia juga mengikuti langkah Luc yang tergesa-gesa. Dia harus menjadi saksi dari kembalinya ingatan Luc. Entah, apa yang ingatan apa yang berusaha Lady Dia bangun untuk Luc.
Reine sudah semakin di bawa menjauh dari tempatnya semula. Meski dia berulang kali mencoba untuk melepaskan diri dari cengkeraman mereka, tetap gagal. Usahanya sia-sia.
Sebab, bukan hanya dicengkeram terlalu erat. Saat ini, Reine juga sedang tidak berada di tanah. Kok bisa begitu? Ya, karena sekarang ini, Reine sedang melayang di atas. Dia dibawa oleh dua orang dari klan elang dengan cara...
Terbang.
Reine berteriak meminta bantuan pada Luc, sudah seperti orang bodoh saja. Padahal, dia tahu jika Luc tidak bisa mendengarnya. Luc kan, sedang berada jauh di bawah sana. Jadi, Reine hanya sendiri. Mendadak, perkataan Max tempo hari terngiang di telinga,
Baiklah, kami akan melakukannya. Mulai sekarang, kami tidak akan mengkhawatirkanmu lagi. Jika sesuatu terjadi, kami hanya akan mengawasimu. Akan ku pastikan itu terjadi pada kami semua, agar kamu juga bisa melihat seberapa kuat dirimu yang sebenarnya. Bagaimana? Itukan, maumu?
Reine menggigit bibir bawahnya. Dia menyadari, menjadi sendiri kadang bukan pilihan yang baik. Namun, merepotkan beberapa orang hanya untuk masalah kecil, juga bukan hal yang baik. Karena itu, dia akan lebih dulu berusaha untuk melepaskan dirinya dengan kekuatan yang dia punya.
~~
“Luc, tetap awasi Lady Dia. Sebisa mungkin, kau harus langsung menangkapnya. Kemudian, kurung dia dalam sel. Kalau begitu, Rob, tolong jaga Underwall. Tenanglah, aku akan segera tiba. Majulah terlebih dahulu” perintah Marc yang terdengar dari alat komunikasi yang berada di jam tangan masing-masing. Termasuk, milik Luc. Mendengar hal tersebut, Luc benar-benar merasa terbantu.
Luc memacu kecepatan berlarinya. Dalam hitungan ketiga, Luc mulai menggunakan kemampuan terbang ala iblisnya. Kalau di data berdasarkan kemampuan terbang yang baik, Max mendapatkan peringkat pertama dari ketiganya. Namun, Luc juga tak kalah baik.
Memang, dari setiap iblis, baik itu Marc, Robin, Max hingga Luc, semua memiliki kemampuan yang lebih baik di setiap bidang. Robin yang menonjol di bidang pengetahuannya. Luc sebenarnya lebih menonjol di bidang pertahanan. Dan terakhir, Marc yang memiliki kemampuan khusus untuk mengutuk ataupun menyembuhkan seseorang. Belum lagi, kekuatan yang berasal dari tongkatnya, sebagai salah seorang dari Pemburu Kematian.
Luc berhasil mengejar Reine ke tempat para klan elang. Di sana, Reine tampak sudah diikat di atas sebuah kuali berukuran besar. Di bawah kuali, api dari tungku telah dihidupkan. Reine, bak telah siap untuk di rebus bersama dengan beberapa tanaman lain.
__ADS_1
Sebelum menyelamatkan Reine dari hal tersebut, dia harus lebih dulu membaca situasi. Dan sepertinya, Reine juga dalam keadaan tak sadarkan diri. Para iblis dari klan tersebut, rupanya lebih dulu menyiksa Reine hingga babak belur.
“Auh, menyebalkan sekali. Mereka menaruhnya di atas kuali, bukan? Sudah kuduga, hal ini pasti akan terjadi” bisik Max yang rupanya, baru saja tiba. Luc tampak terkejut hingga menoleh ke arah Max yang tepat, berada di belakangnya. "Kau?! Kenapa kau ada di sini? Bukankah, Tuan Deval yang akan pergi kemari?" tanggapnya. "Memangnya, tidak boleh? Menyelamatkan Honey-ku dari bahaya? Sepertinya, mereka akan menjadikan Honey-ku sebuah ramuan. Mengingat, dia memiliki permata perak di dalam darahnya. Marc, tidak akan tiba tepat waktu. Jadi, ku ambil alih saja lah" lanjutnya bernada ceria, khas dari seorang Maximilien.
“Kalau begitu, kita harus cepat. Akan ku alihkan perhatian dua iblis itu. Sekalian, kumusnahkan saja mereka. Kebetulan, mereka adalah buron Pemburu Kematian. Lalu, kau selamatkan Reine dari kuali yang menyala. Waktu kita tidak banyak” perintah Max. Pria tersebut terlihat sudah bersiap untuk masuk. Akan tetapi, sebuah tangan mencekal lengannya.
Max terkejut ketika lengannya ditarik oleh Luc. “Kau tidak mau menyelamatkan Reine?” tanya Max dengan setengah bercanda. “Tidak. Kau saja yang menyelamatkannya. Biar aku, yang menarik perhatian mereka” jawab Luc mengejutkan. “Kau... kenapa? Para iblis itu adalah tanggung jawabku, Luc Marchand. Tugasmu, hanyalah melindungi Honey-ku” paksa Max.
“Ada Lady Dia di sana. Marc menyuruhku untuk menangkapnya, ketika ada kesempatan. Ini adalah rencananya, Max. Jika aku datang untuk menyelamatkan Reine, maka semuanya akan berhasil. Jadi, Maximilien, pergilah. Tolong, lindungi dia” pinta Luc agak memohon. Max terlihat mengerutkan keningnya. Namun, dia mencoba untuk mengertikan Luc. “Kau harus menjelaskan detailnya nanti, setelah ini selesai” ucap Max tegas.
Luc hanya memberi anggukan kecil. Kemudian, dia segera pergi untuk mengalihkan perhatian kedua iblis dari klan elang. Sementara Max, dia tampak melangkah masuk lewat jalan lain. Dia diam-diam naik ke atas tangga kayu yang berada di dalam, untuk menarik Reine dari atas.
Lady Dia satu-satunya orang yang menunggu momentum ini. Pikirnya, setelah kedua iblis dari klan elang berhasil di kalahkan, Luc akan segera menyelamatkan Reine. “Dan ketika hal itu terjadi, kau pasti akan mengingat segalanya. Akan kupastikan, kau akan mengingat segala perbuatan burukmu pada Carine, The Great Savior...” ucap Lady Dia bersemangat.
Duar!
Duar!
Duar!
Kepulan asap, memenuhi seluruh bangunan berukuran besar itu. Bangunan bekas gudang tersebut, tampak semakin suram. Luc lebih dulu bersiaga di depan, kalau-kalau, ada musuh lain yang mungkin saja telah berhasil mencelakai Max ataupun Reine terlebih dahulu.
Namun, wajah marah Max membuat semua orang yang berada di sana, tampak ketakutan. Bahkan Luc pun, langsung menunduk ketika sosok Maximilien terlihat muncul dari balik kepulan asap. Dia benar-benar akan menjadi sangat serius, ketika sedang marah.
Di bahu kanannya, ada Reine yang sudah berbaring di sana. Masih tak sadarkan diri. Max menggendong Reine, di sela-sela tangan kirinya memegang sebuah pistol.
__ADS_1
Meski takut, Lady Dia tampak kecewa akibat keberadaan Max yang rupanya, telah lebih dulu menyelamatkan Reine. Padahal, dia sangat berharap Luc yang menyelamatkan Reine. Dia terlihat menunduk penuh dengan kekesalan.
“Iblis terkutuk! Perbuatan kalian, benar-benar tidak bisa di maafkan. Lady Dia, bukankah kau mengenal Reine dengan baik, selama ini? Kenapa kau tegas sekali membuat Reine menjadi seperti ini? Di mana hari nuranimu, sebagai seorang manusia?! Perbuatanmu, sangat terkutuk seperti halnya para iblis. Langit, tidak akan pernah memaafkanmu” ucap Max tegas. Lady Dia malah tersenyum, walau merasa agak takut. “Aku tidak peduli lagi dengan langit. Asalkan, Reine berada di tempat yang lebih baik, hukuman apapun akan kuterima dengan lapang dada!” balasnya berani.
Mendengar perkataan Lady Dia, Max semakin murka. Dia terlihat mengacungkan pistol ke arah Lady Dia. Dan sepertinya, Lady Dia tampak telah siap. Dia memejamkan kedua matanya, ketika Max menarik pelatuk.
Luc terkejut menyadari hal ini. Dia tak habis pikir, Max akan begitu marah hingga menembak Lady Dia, seorang manusia biasa dengan menggunakan pistol berlumur Abu Kematian. Hal yang sangat dilarang oleh seluruh iblis pembela kebenaran, maupun Pemburu Kematian sekalipun.
Sebab, ajal manusia biasa, ditentukan oleh Malaikat Maut. Meski memiliki tugas yang sama, Pemburu Kematian dan Malaikat Maut, memiliki aturan dan batas penting. Salah satunya, tidak ikut campur dalam menangani target masing-masing. Jika dilanggar, ada konsekuensi besar yang akan muncul di sana.
Cegah orang itu! Dia akan berurusan dengan Pengadilan Langit, jika kau tidak segera! Seret iblis ke arah pistol, perintah seseorang yang memenuhi kepala Luc. Tanpa pikir panjang, Luc segera menarik salah satu iblis dari klan elang. Dia mengarahkannya, tepat ke target Max, Lady Dia. Dia melindungi Lady Dia, dengan menggunakan iblis tersebut.
Ketika peluru meluncur, Lady Dia selamat. Menyadari hal itu, Max terkejut dan semakin marah. “Kenapa kau melindunginya, Luc Marchand?!” teriak Max kencang. Suaranya, sampai memenuhi seluruh sudut bangunan itu.
“Ya, kenapa kau melindunginya?!” seru Luc tak kalah keras. Dia sedang bingung dengan dirinya sendiri. Lady Dia membelalak, menatap ke arah Luc saat menyadari dirinya tak terluka. Luc terlihat memegangi kepalanya dengan kedua tangan. “Siapa kau?! Kenapa kau membuat tubuhku bergerak sendiri? Bukan, bukan ini yang kumau!” lanjut Luc semakin putus asa.
Lady Dia, menyadari sesuatu. Dia tampak tersenyum, ketika melihat keadaan Luc yang kebingungan. Lady Dia segera menarik diri dari sana. Diam-diam, dia berlari keluar dari bangunan.
Tangkap dia! Wanita itu, harus berada dalam pengawasan kita. Cepat!
Luc segera berlari ke arah Lady Dia. Namun, iblis yang tersisa masih ingin berduel dengannya.
Tak ada waktu, cepat! Tarik iblis itu ke arah Max, perintah sebuah suara dari pikiran Max.
Lagi-lagi, Luc menurutinya. Luc mengelak serangan dari iblis tersebut. Dia berlari secepat kilat, terbang dan menyambar leher si iblis dari klan elang.
__ADS_1
Luc melemparkannya ke arah Max. Dan seperti telah di rencanakan, Max dengan refleks langsung menembak iblis itu. Iblis tersebut terlihat hancur, berubah menjadi abu, terbang dan menghilang ke arah langit.