
Pria yang dipanggil Max tersebut, menghampiriku. Dia tampak melangkah lebih dekat dengan kecepatan kaki yang tak normal. Walau begitu, aku tak berusaha menghindar seperti perintah dari Robin ataupun yang lain.
Aku akan menghadapi Max sendirian. Melakukan hal yang tidak sempat kulakukan, saat aku menyadari keadaan seseorang di dalam dirinya. Dia orang yang kuat, karena itu, aku harus melindunginya. Kata ibu, aku harus melindungi orang seperti dia, jika tidak ingin kejahatan semakin bertambah.
Ketika Max mulai melakukan langkah pertamanya, ku sentuh kening Max dengan cepat. Aku tidak boleh kehilangan kesempatan. Max mencoba melepaskan tanganku. Kekuatannya benar-benar hampir membuatku menyerah. Aku akan mengirim jiwaku ke dalam pikirannya.
Kala matanya bertemu dengan mataku, bukan lagi aura ‘ingin menyakiti seseorang’ yang muncul. Dia ingin bebas. Dia juga kesulitan, karena tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Karena sorot mata itu, aku tidak boleh melepaskannya. Dengan beberapa kata yang diajarkan oleh ibu, aku mencoba untuk masuk ke dalam pikirannya.
“Miss Reine, apa yang kamu lakukan? Lindungi dirimu!” teriak Marc. Dia berlari ke arah Max, mencoba menghalangi Max dariku, sekali lagi. “Tetaplah di sana, Direktur!” balasku tegas. Dia tidak boleh ikut campur, dalam proses ini. Jika memaksa turut campur, dia akan terluka.
Mendengar jawaban yang keluar dari mulutku, Marc mendadak berhenti melangkah. “Apa maksudmu? Dia akan menghisap darahmu lagi. Jika itu sampai terjadi untuk yang kedua kalinya, nyawamu akan benar-benar tidak selamat. Jadi, tolong hentikan Miss Dallaire...” jelasnya memohon. “Miss Reine!” panggil Robin menimpali. Dia bersusah payah, menghancurkan perisai yang dibuat oleh Max.
Sayangnya, aku harus menggeleng. Keselamatan Max lebih penting. “Jangan mendekat! Dia membuat perisai, untuk melindungi diri kalian! Tetaplah di sana! Aku akan menyelesaikan ini” pekikku menenangkan. “Miss Dallaire, kau gila?! Dia bisa mencelakaimu!” seru Luc, si pria besar itu. Lagi-lagi, dia berlagak menyebalkan. Kata-katanya selalu membuatku kesal.
Tapi, aku harus bersabar. Aku tidak boleh terpengaruh olehnya. Sedikitpun saja, tidak boleh. Jadi, aku memutuskan untuk fokus. Menutup kedua mataku dan hanya beralih pada Max.
Aku mengucapkan mantra, yang diajarkan oleh ibu. Agar bisa memanggil jiwanya, aku harus menemukan lubang. Sebuah lubang yang menjadi tempat keluar-masuk jiwa aslinya.
Ada! Di sana! Rupanya, dia terluka di bagian punggung. Astaga, lukanya besar sekali. Seperti, luka bekas cakaran. Apakah iblis terkutuk yang melukainya, seorang dari klan siluman?
Kata ibu, luka yang disebabkan oleh iblis terkutuk memang tidak terlihat oleh iblis lainnya. Hanya manusia dengan darah sihir, bisa melihat serta menutup luka itu. Syukurlah, aku bisa melakukan keduanya. Aku akan membangunkan jiwanya kembali. Kira-kira di mana kau berada, Max?
Aku, sedang berada dalam tubuhnya. Aku menduga, saat ini diriku sedang menelusuri memori otaknya. Banyak sekali ruang di sini. Jadi, aku berjalan, mencari di setiap ruang di dalam sana. Aku terus mencari dan mencari. Ke mana jiwanya sedang bersembunyi.
Tak lama usai menyusuri bilik demi bilik, aku menemukan sebuah ruangan yang gelap. Sebuah ruangan, yang berada jauh dari ruangan lain. Aku mencoba untuk masuk.
Terkunci.
__ADS_1
Aku berusaha membukanya, namun terkunci. Pintunya tertutup sangat rapat. Tak ada jalan ataupun celah yang bisa kugunakan untuk melihat ke dalam. Namun, aku tidak boleh menyerah.
Celingukan, ku cari celah manapun agar bisa menembus ke dalam. Tak ada. Tak ada yang bisa kulakukan. Mondar-mandir, kubayangkan beberapa cara untuk memaksa masuk.
Tiba-tiba, terdengar suara dari dalam ruangan tersebut. Buru-buru, kudekatkan telingaku ke pintu. Ku dengarkan suara yang lamat-lamat, mulai menjadi jelas.
Tangisan.
Max, menangis? Apa dia ketakutan, karena tidak bisa menghentikan dirinya sendiri? Padahal, saat menghisap darahku malam itu, aku yakin dia masih sadar. Aku sangat yakin, dia belum terpengaruh oleh iblis terkutuknya.
Apakah setelah menghisap darahku, dia jadi bertemu dengan iblis terkutuk? Kalau benar, pasti iblis itu ingin mengambil darahku dari perut Max. Mereka terlibat pertengkaran hebat dan berakhir, terluka.
Kalau begitu, jangan-jangan... dia menggunakan luka tersebut untuk melacak keberadaanku. Benar! Itu bisa saja terjadi.
Tidak!
Kalau begitu, aku harus cepat. Aku harus menyelamatkan jiwa Max, sebelum iblis terkutuk itu berhasil menyadari keberadaanku di sini. Max, cepatlah buka pintunya. Aku harus bergegas!!
Namun, tidak ada jawaban. “Tuan Max? Anda ada di dalam, bukan?” kataku lagi. Kali ini, aku tidak mendengar suara tangisan. Mungkin, dia mendengarku.
“Siapa di sana?” balasnya dari dalam. Bagus, dia akhirnya merespon! Aku harus memilih kalimat yang tepat, agar dia mempercayai perkataanku.
“Kamu baik-baik saja?” tanyaku dengan dialog yang lebih akrab. “Bagaimana bisa kau sampai di tempat ini? Kau ini... apa?” jawabnya bingung. “Tentu saja bisa, karena aku... merindukanmu” ucapku berhati-hati.
“Merindukanku? Memangnya, kita pernah bertemu?”
“Tentu, kita pernah bertemu. Kamu mungkin tidak akan percaya, tapi aku... selalu ada di dekatmu. Saat waktunya tiba, aku akan muncul”
__ADS_1
“Apa kau yang dinamakan... kekuatan lain yang muncul dari dalam diriku?”
“Hm. Bisa dikatakan begitu. Jadi, apakah kamu... butuh bantuan?”
Hening.
Tak ada jawaban darinya. Aku berharap, tak salah bicara. Aku berharap, ucapanku barusan tidak malah menyakiti perasaannya.
“Bagaimana caranya?” tanggap Max dari dalam. “Pertama, buka pintunya” balasku cepat. “Aku tidak bisa membukanya. Dia... telah menguncinya terlalu erat. Aku bahkan, tidak bisa mengendalikan diriku. Aku tidak tahu, apa yang telah kulakukan di luar sana” jelasnya terdengar frustrasi.
Aku mencoba melembut. “Karena itu, kamu harus menghancurkannya” pintaku pelan. “Apa? Apa yang harus kuhancurkan? Dari mana aku harus memulai? Pintunya... aku tidak bisa melihat di mana pintu yang kau maksud” ujarnya kebingungan. Ah, ternyata itu masalahnya. Dia bukannya tidak bisa keluar dari sana. Dia hanya tidak tahu, posisi pintu yang ku maksud.
Sepertinya, iblis terkutuk dari klan siluman serigala tersebut, telah membutakan kekuatan batin Max. Aku tahu, setiap iblis pengisap darah memiliki kekuatan batin yang kuat. Penciuman mereka tajam dan bisa mendeteksi musuh dari jauh.
Iblis terkutuk dari klan siluman serigala, hanyalah satu-satunya iblis yang bisa membutakan itu. Iblis terkutuk, biasanya memiliki kekuatan berbeda yang istimewa dari iblis biasa. Karena itu, aku harus mematahkan kekuatan pembutaannya. Setelah itu, Max akan mengetahui keberadaan pintu.
Tapi, di mana letaknya? Ibu bilang, kalau tidak berbentuk batu ya... berbentuk senar tipis. Itu dia! Senarnya, berada di atas pintu. Rupanya, garis butanya benar-benar dekat denganku. Kenapa tidak terpikir?
Aku buru-buru menghancurkan senar tipis tersebut, dengan menggunakan pisau keramat milik keluargaku. Ke manapun langkahku berada, aku tidak pernah melepas pisau itu. Karena selain bisa melindungiku dari para iblis yang gila, pisau itu juga bisa digunakan untuk hal lain. Terutama, misi penyelamatan saat ini. Meski misi ini, bukanlah yang pertama.
Senarnya putus. “Sekarang, apakah kamu bisa melihat pintunya?” tanyaku setengah berteriak. “Di mana? Oh, itu. Aku melihatnya! Apa yang selanjutnya kulakukan?” jawabnya bernada penuh harap. “Hancurkan itu!” pintaku.
Namun, satu rintangan yang tidak kuinginkan, terjadi. Iblis yang sedang mengambil alih tubuh Max, rupanya sudah menyadari keberadaanku. Jika dia menyerang, aku akan terpental keluar dari tubuh Max.
Dan aku, tak pernah bisa menyelamatkan jiwanya. Mungkin, pertahanan iblis itu berubah menjadi lebih kuat. Akan sulit, untuk menembusnya untuk kedua kali.
Cepat. Kita hanya butuh cepat. “Kamu harus menghancurkan pintunya!” pintaku buru-buru. “Dengan apa? Aku tidak bisa melakukannya dengan tangan kosong!” serunya bingung. Aku kembali menatap ke arah senar yang tadi ku hancurkan.
__ADS_1
Kalau dugaanku benar, iblis terkutuk tersebut pasti akan memantauku lewat lubang senar berada. Kemudian, dia akan melakukan penyerangan dari sana. Tidak! Max, kau pasti bisa melakukannya!
“Kita tidak punya waktu!”