
“Sejak kapan kamu belajar tentang tradisi para iblis pengisap darah? Kamu seperti, bukan orang yang sama...” tanyanya agak syok. “Kau tahu, aku adalah pembaca yang cepat. Kutu buku yang selalu penasaran. Dan kaulah, yang menjadikanku seperti itu. Ya, kan?” jawab Carine tak hilang akal. Dia mengakhirinya dengan senyum manis, bak sedang mengalihkan.
Marc terdiam sejenak. Namun tak lama setelah itu, dia tampak mengacak rambut Carine. “Ya, akulah yang menjadikanmu seperti itu. Maaf, bukankah itu membosankan? Harusnya, aku tidak menjadikanmu seperti itu” tanggapnya.
Selamat, Carine lolos.
Marc tampak melangkah kembali ke kursinya, usai tadi sempat terus berdiri di dekat pintu. Tak lupa, dia juga menarik tangan Carine menuju ke sana. Kemudian, entah bagaimana bisa, Marc membuatnya duduk di kursi kerja.
Saat ini, Carine bagai menguasai ruangan milik Marc. Pria itu tampak menegakkan kedua tangan, berpegangan pada kursi kerjanya. Kini, wajahnya terlihat mendekat ke arah wajah Carine. Tak ada lagi, ruang ataupun celah yang membatasi keduanya.
Jika ini adalah Reine, dia mungkin sudah kebakaran jenggot. Atau mungkin, sedekit demi sedikit agak perlahan menjauh? Reine memang, bukanlah seseorang yang bisa diandalkan untuk situasi yang seperti demikian. Sama seperti, Carine ketika pertama kali bertemu dengan Gray.
Jujur saja, Marc maupun Gray, bagi Carine mereka terlihat sama. Walau tipe wajah Marc lebih lembut, di banding Gray yang agak tajam. Namun, ada yang membuat mereka sangat mirip.
Selalu tampak menggoda.
Meski hanya mengandalkan senyuman yang khas, mereka selalu berhasil membuat para wanita bertekuk lutut. Tidak adil, bukan? Mengapa para pria selalu tak pernah gagal membuat para wanita terpesona. Meski hanya dengan tatapan yang bagi mereka, normal.
Namun, Carine bukanlah tipe wanita yang selalu menerima. Dia tidak suka berada di bawah. Carine adalah sebuah evolusi dari Reine. Maka dari itu, dia tidak akan kalah.
Bukannya menjauh ataupun berusaha menghindari tatapan Marc, Carine seakan menikmati setiap detik dari momen tersebut. Dia menatap kedua mata Marc dengan tatapan lembut. Perlahan, agak mendetail dan mulai terasa tajam.
Jika Marc mirip dengan Gray, maka dia mungkin akan melakukan hal yang lebih mempesona lagi. Kalau bisa dihitung menggunakan level, Marc masih berada di level dua. Kau tahu, para pria pasti akan berubah menjadi lebih menggila, apalagi ketika dia berhasil mendapatkan wanita yang dia incar sejak lama.
Dengan catatan, pria yang bukan bertipe penggoda. Kita sedang berbicara tentang pria yang tulus dan penuh dengan kesungguhan dari awal. Jadi, tolong catat!
Dalam detik ketiga, Marc memiringkan kepalanya ke arah kanan. Dia benar-benar sedang menggoda Carine, tepat seperti yang selalu Gray lakukan dahulu. Kalau Marc memiringkan kepalanya ke arah yang sebaliknya, maka Carine sedang bernostalgia sekarang.
Dan tentu, harus sesuai dengan dugaan. Marc dengan perlahan dan gayanya yang seksi, tampak memiringkan kepalanya ke arah sebaliknya. Gayanya yang seksi di sini, mulut agak mengaga, tatapan yang intens dan nafas yang terdengar berantakan.
“Jadi, game apa yang kira-kira sedang kita mainkan saat ini?” celetuk Carine sembari menaikkan salah satu alisnya. Dia juga terlihat bersedekap. “Kira-kira, apa ya?” balas Marc tak mengalah. “Ku rasa, kau benar-benar merindukanku, setelah hanya beberapa hari saja tidak bertemu” tebak Carine.
Marc kali ini tersenyum, meski bukan senyum manis yang sedang kau harapkan. Lebih tepatnya, menyengir? Dia benar-benar tidak ingin mengalah dengan segera mengalihkan tatapan mautnya tersebut.
__ADS_1
“Oh, Tuan Deval... aku hanya pergi bertugas selama beberapa hari. Di tambah, hari pemulihanku. Ku rasa, itu tak sampai sebulan. Bahkan, tiga minggu pun, jauh” protes Carine. Marc menggeleng pelan, tanda bahwa dia tak setuju. Carine hanya bisa memutar bola mata. Dia tak habis pikir dengan sikap manja dari seorang Marc Deval itu.
“Segera jujur saja, Tuan Deval. Apa... yang... kau... inginkan?” tanya Carine setengah mengeja. Marc berusaha mempertahankan gayanya. Dia hanya menjawab dengan sebuah kode menggunakan kepalanya. Terlihat, kepalanya sedikit bergerak ke depan. Pria tersebut sedang mengincar sesuatu dari Carine. Sesuatu yang belum disentuhnya selama beberapa hari ke belakang.
Bibir ceri.
“Kau akan menyesalinya...” ucap Carine jujur. Tentu, meski wajahnya adalah Reine, tentu hal itu tak akan bisa membuatnya menjadi Reine. Dia juga tidak bisa melakukan hal yang tak pernah dilakukannya, kecuali hanya dengan Gray.
Cukup menyedihkan, bukan? Ya, mau bagaimana lagi? Carine harus patuh terhadap kontrak yang dia pilih, usai peperangan itu. Detalinya? Mungkin, dia akan menceritakannya sesegera mungkin.
“Sebelum itu, Tuan Deval. Ada hal penting yang harus ku sampaikan” tanggap Carine mengalihkan. “Kamu... tidak berusaha menghentikanku, kan?” tanya Marc menyadari langkah Carine. “Aku cenderung tidak bisa menikmati romansa, ketika ada sesuatu yang mengganjal” tegas Carine serius.
Marc menghela nafas kecewa. Tentu, harusnya dia memenangkan ronde ini. Sayangnya, dia harus mengalah. Kata ‘mengalah’, harusnya hanya cocok dengan Gray, bukan? Tapi sepertinya, Marc juga harus dilabeli kata itu, untuk sementara ini. Selama Carine masih menguasai dunia.
“Apa hal penting itu? Harus benar-benar penting, ya? Kalau sampai tak lebih penting dari pada hal yang akan ku lakukan, kamu harus mau menerima dua kali hukuman”
“Tentu, aku tidak keberatan”
“Wow, wow, kau terlalu bersemangat, Tuan Deval...”
“Menyangkut dirimu, aku tidak boleh terus lesu. Selama berhari-hari, aku selalu mondar-mandir ke ruang kesehatan. Tapi ternyata, ketika kamu sadar, kamu malah tidak ada di sana. Orang bilang, kamu sudah kembali ke kamarmu. Saat aku pergi ke sana, Maximilien bilang, kamu harus beristirahat lagi. Jadi, kapan aku harus...?”
“Anda sedang merajuk, Tuan Deval. Semua, pasti ada waktunya. Tenang, kau pasti... akan memiliki waktu yang tepat untuk itu. Jadi, bolehkah aku membahas sesuatu yang lebih penting dari pada, menerima perlakuan romantismu itu padaku? Yang ini, tidak boleh ditunda”
“Hhhh, baiklah. Katakan, apa?”
Carine menatap serius ke arah Marc. Kini, dia sudah tak lagi duduk di kursi Marc. Carine beralih ke kursi yang ada di hadapan Marc. Jadi, Direktur Deval itu, bisa kembali duduk di kursi dan menguasai ruangannya lagi.
“Arthur Archeneux” kata Carine memulai. “Dia, iblis yang hampir saja membuatmu terluka” tanggap Marc. “Ya, dia. Selnya, tepat berada di sebelah sel seorang wanita yang sangat ku hormati dan sayangi” lanjut Carine. “Lady Dia, Claudia Harlett, selnya tepat berada di sebelah Arthur. Apa yang membuatmu terganggu?” tanya Marc penasaran.
Marc bersiap untuk mendengar kelanjutan kalimat Carine. Dia bahkan, menyempatkan diri untuk memperbaiki posisi duduknya. “Lady Dia mendengar, tentang tujuh permata legendaris... dari mulut Arthur” ungkap Carine.
Marc mengerutkan kening sembari membalas,
__ADS_1
“Apa yang dia dengar?”
“Apakah dengan mengetahui hal itu, kau akan memindahkan selnya?”
“Kenapa kita harus memindahkan selnya?”
“Sebab, aku memang harus jujur padamu tentang ini di awal. Maaf, tapi, aku sering sekali mengunjungi Lady Dia”
“Aku tahu, hal itu akan terjadi. Lalu?”
“Lalu, mungkin, Arthur mengetahuinya. Dia tahu, akan hubungan baikku dengan Lady Dia. Jadi, dia mungkin akan membuatnya sebagai umpan”
“Caranya?”
“Menyakiti wanita itu. Arthur akan menyakiti Lady Dia, untuk membuatku menyerah akan permata ini”
“Kenapa kau yakin?”
“Karena mereka... telah memiliki dua dari tujuh permata legendaris”
“Siapa? Siapa mereka... yang kamu bicarakan?”
“Para penyihir hitam”
Marc terdiam, meski kepalanya terlihat menggeleng pelan. Heran dan bingung, perasaan yang dirasakan oleh kepalanya. “Tapi keberadaan para penyihir hitam itu... sudah tidak ada lagi di dunia ini, Rein. Mereka telah dimusnahkan...” ucapnya, seolah tak ingin menenangkan Carine. “Jadi, kau butuh sebuah bukti? Bagaimana dengan reinkarnasi?” tanya Carine mendesak. “Jika ada, pasti Kupu-kupu akan...” “Kupu-kupu akan segera datang. Dia akan datang dan memberimu petunjuk bahwa, mereka telah terenkarnasi” potong Carine.
Marc tampak mengerutkan kening. “Kamu tidak bisa membuat Kupu-kupu datang, secepat yang kamu mau. Setahuku, dia memang tanda dari sebuah kejadian besar yang akan terjadi pada dunia ini. Seperti, perang Vosre kala itu. Tapi, untuk penyihir hitam... ku kira, itu bukan sebuah ancaman yang nyata” ujarnya. “Apakah kau akan meuunggu kematiannya?” tegas Carine. “Lady Dia? Arthur tidak akan berbuat terlalu jauh, Rein. Dan lagi pula, Underwall memiliki tingkat keamanan yang baik di setiap selnya” debat Marc tak setuju.
“Ini adalah pertanyaan seandainya. Seandainya, jika Kupu-kupu pelindung telah memberikan tanda, apa yang akan kau lakukan?” tanya Carine beralih topik. “Tentu, aku akan mencari tahu tentang hal itu” jawab Marc. “Bagaimana kalau kau terlambat?” tanya Carine lagi.
Marc kembali mengerutkan kening. “Kenapa terlambat? Tunggu, kamu ini... siapa sih, sebenarnya? Kenapa kamu berlagak seperti, seseorang yang berbeda?” tanyanya pusing. “Lady Dia memberitahuku tentang segalanya, Marc. Buku, referensi dari setiap kejadian yang Lady Dia katakan adalah sama. Dan bukankah, buku-buku itu... datangnya dari dirimu? Jadi, dari mana kau mendapatkan buku-buku itu? Kalau bukan... dari seorang Pemburu Kematian. Marc, apakah kau adalah salah satu dari mereka?” tebak Carine terlihat syok.
Lidah Marc Deval terasa kelu.
__ADS_1