produk gagal

produk gagal
Tidak Hadir


__ADS_3

“Jadi, yang kau maksud membantunya itu... ini?” ucap Luc, sebagai tanda sapaan. Dia terlihat bersandar di sebuah dinding. Dari arah berlawanan, Reine tampak melangkah ke arahnya. “Apa?” balas Reine agak enggan. Luc tampak bersedekap sembari berdiri tegak.


“Kau mengundang seluruh karyawan wanita yang bekerja di sini, ke dalam Blood Party, bukan?”


“Apa salahnya? Toh, mereka juga bukan siluman, kan?”


“Asal kau tahu saja, Blood Party itu... tidak dihadiri oleh sembarang orang. Memang, kau boleh berdansa dengan siapa saja. Namun, status dari klan yang diundang juga menjadi perhatian nomor satu”


Reine tampak mengerutkan keningnya. “Bagaimana dengan para tamu di hotel? Mereka juga diperbolehkan untuk hadir, kan?” tanyanya masih kurang paham. “Ini Private, Miss Dallaire. Jadi, hanya orang-orang tertentu yang...” “Jadi, penghargaan itu, pada akhirnya diberikan pada mereka yang memiliki klan berstrata tinggi dong?” potong Reine.


Luc menghela nafas, agak kesal usai ucapannya di sela begitu saja. “Kadang, aku bertanya-tanya... di mana pikiran Reine berada” keluh Luc. “Kalau begitu, enggak ada artinya, dong? Kenapa kita harus mendapat pengakuan dari yang berstatus tinggi? Toh, hotel kita tidak hanya ditempati para bangsawan itu, kan? Bukankah, iblis penghisap darah memiliki banyak klan? Jadi, di antara klan itu, hanya ada beberapa klan yang bakal di undang? Karena klan sisanya, merupakan klan yang tak berstatus tinggi, gitu? Wah, itu namanya enggak adil” ujar Reine menyampaikan pemikirannya.


“Begitulah, Rei. Awalnya, klanku hanyalah klan jelata. Kalau Tuan Deval tidak memberi klanku tanda bangsawan, saat ini mungkin... aku tidak akan pernah bertemu denganmu. Ku anggap, keadilan tak pernah ada dalam masalah status para klan” tanggap Luc mendadak menunduk. Sepertinya, pendapat Reine terlalu mengena hingga membuatnya agak mengingat masa lalu. “Padahal, bukan hanya klan bangsawan yang menginap di sini...” ungkap Reine kecewa.


Melihat Reine tampak lesu, Luc buru-buru menepuk bahunya untuk memberi sedikit semangat. “Percuma saja. Kalau begitu, aku tidak akan bisa membantu Marc...” ujar Reine. “Alih-alih mencari seseorang, kenapa tidak kau saja yang membantunya memenangkan penghargaan itu?” cetus Luc mendadak. “Aku? Hah?! Tidak, lah!” tolak Reine cepat.


Reine menggelengkan kepalanya sembari berlalu meninggalkan Luc. “Lho, kenapa? Bukankah itu akan semakin bagus?” tanya Luc mencoba mengejar langkah Reine. “Itu ide buruk, Luc! Aku tidak akan melakukannya” jawab Reine masih menolak.


Tiba-tiba, Luc menahan lengan Reine. “Kau... tidak bisa berdansa, bukan?” tebaknya penuh percaya diri. Reine terlihat membuang muka. Dia ingin mengabaikan pertanyaan Luc. “Kau tidak bisa, ya?” desak Luc. Bukannya memberi jawaban, Reine hanya menatap Luc dengan tatapan berpikirnya.


~~

__ADS_1


“Kita perlu menaikkan status keamanan, bukan?” tanya Marc membuka percakapan. Saat ini, dia sedang berada di balkon ruangan kerja Max. “Tentu, kau harus. Akan ada banyak orang yang hadir. Meski berasal dari kalangan bangsawan, bukankah kita harus semakin waspada? Mereka lebih cerdik. Apalagi, tahanan 4865. Kau sudah dengar, bukan?” jawab Max menanggapi. Pria itu, tengah asyik bersantai ria, duduk di sofa sambil meminum secangkir kopi.


Marc tampak mengganguk, sebagai balasan. “Mungkin, mereka akan mencari celah untuk masuk ke dalam sel. Akan kutempatkan beberapa orang di sana. Jumlahnya, harus kutambahkan lebih dari biasanya” ucap Marc kemudian. “Hm, benar. Lebih bagus lagi, kalau kau menyuruh mereka bergerak diam-diam. Itu, akan menjadi kejutan yang sangat indah buat mereka” kata Max menyetujui.


Max menyeruput kopinya lagi. “Reine... berusaha dengan keras, ya? Kenapa kau tidak membuatnya menjadi pasanganmu saja, sih?” tanya Max mengalihkan topik. “Aku berniat untuk tidak mengikutsertakan Rein” ungkap Marc mengejutkan. Max sampai melotot, saking kagetnya.


“Kau yakin?! Wah, sayang sekali...”


“Mau bagaimana lagi? Aku hanya mencari aman. Untuk sementara waktu, sampai dia siap dengan segalanya, baru akan kupersilahkan dia ikut keluar”


“Hmm... dia sudah setuju dengan hal ini?”


“Harus. Karena ini perintah, jadi sudah kusuruh dia untuk berjanji”


Luc membawa Reine ke sebuah ruangan. Setelah tadi, dia menyimpulkan kalau Reine sebenarnya, tidak bisa berdansa. Sebab itu, Reine menolak untuk membantu Marc menjadi pasangan dansanya.


Kala pintu terbuka, usai Luc mengetuk beberapa kali, seorang pria tampak muncul dari baliknya. “Luc? Oh, Rein? Kamu ada di sini juga, rupanya. Apa yang membawamu kemari?” sapa pria itu bernada lembut. Suaranya, selalu terasa hangat.


“Rob, tolong kau bantu orang ini. Dia benar-benar... payah” pinta Luc mendadak. “Hah? Apa? Bantuan seperti apa, yang harus kuberikan?” tanya Robin, pria dengan suara lembut nan hangat yang khas. Bahkan saat wajahnya terlihat kebingungan, pria itu tepat tampan. Bukan hanya tampan. Tapi, sangat.


“Berdansa. Dia akan membantu Marc untuk memenangkan penghargaan itu” jelas Luc. “Wah? Benarkah? Bagus! Jadi, kita tidak perlu repot lagi untuk memenangkannya. Kali ini, kita pasti sukses” kata Robin bersemangat. “Tapi, aku...” sergah Reine ragu. “Ya?” jawab Robin telah siap untuk mendengar.

__ADS_1


Reine menatap ke arah Robin dengan ekspresi agak takut. Lebih tepatnya, ekspresi yang tak ingin membuat Robin kecewa? Robin terus ingin mendengarnya berbicara. Meski Luc, agak sedikit kesal karena Reine terus membuang waktu dan tak berterus terang secara langsung.


“Aku tidak hadir dalam Blood Party” ungkap Reine lesu. “Apa?!” teriak Luc dan Robin bersamaan. “Maaf...” sesal Reine pelan. Kedua pria itu, tentu saja harus syok. Dan kurasa, tak perlu lagi mereka mencari tahu tentang alasannya. Tentu, itu semua adalah langkah untuk melindungi Reine dari bahaya.


Bukan hanya karena sekedar, Blood Party yang bakal dihuni para iblis yang siap menghisap darah manusia. Akan tetapi, mereka para iblis yang berusaha mengincar permata perak sejak lama. Sebab itu, Reine mungkin akan berada dalam bahaya besar karena diliputi oleh beberapa iblis yang mengincarnya sejak lama.


Reine tahu, keputusan itu telah mengecewakan banyak orang. Setidaknya, dirinya sendiri saja juga kecewa. Namun, perjanjian antara dirinya dan juga Marc, tak bisa diganggu gugat. Karena sudah sepakat, tidak akan ikut dalam Blood Party, keberadaan Reine juga harus disembunyikna. Bahkan mulai saat ini, dia harus tinggal di kamar Marc untuk sementara waktu. Dan hnya kamar Marc yang memiliki tingkat keamanan tinggi.


“Kau terlihat kecewa, Nona. Tidak diperbolehkan ikut, ya?” goda Max yang tak sengaja berpapasan dengan Reine di lorong hotel. “Hm, tidak masalah. Keputusan Marc memang benar. Lagian, banyak sekali pekerjaan yang harus ku selesaikan” tanggap Reine berusaha ceria. “Oh? Pekerjaan? Contohnya?” tanya Max makin menggodanya.


“Yah pastinya, mengurus segala keperluan tamu di hotel. Pekerjaanku, baik di Luxury ataupun di Underwall, tetap sama saja. Perbedaannya, aku juga harus melakukan beberapa eksekusi di sel”


“Ohh, Miss Dallaire sangat sibuk sekali ya... Mau kubantu?”


“Tidak, terima kasih. Yang ada, kau malah merusuh bukan membantu”


“Separah itukah, aku? Bukankah, aku pelindung favoritmu?”


“Cih!” umpat Reine makin kesal dengan tingkat kepercayaan diri Max yang selalu tak memudar. Berhasil membuat Reine sebal, tentu merupakan hal yang sangat memuaskan. Kemanapun Reine melangkah, Max tampak terus mengikutinya.


“Berhentilah menggangguku. Aku mau mengecek para tamu” pinta Reine sabar. “Oh? Membosankan sekali... Padahal, aku hendak mengajakmu ke sebuah tempat, lho!” kata Max berusaha membuat Reine penasaran. “Aku sibuk, Max. Kau bisa cari orang lain untuk digoda” ucap Reine sambil terus melangkah.

__ADS_1


“Sepertinya, aku menemukan sesuatu soal... Lady Dia...”


Reine mendadak menoleh kembali ke arah Max. Tanpa berkata apapun, Reine buru-buru menghampiri Max. Sebelum Reine mengatakan sesuatu, Max pun lebih dulu menariknya ke suatu tempat.


__ADS_2