
“Kau bilang, kau selalu mengawasiku? Lalu, kenapa kau malah tidak tahu wajahku yang sekarang?” canda Reine terdengar kesal. “Aku memang mengawasimu, Rei. Sungguh...” tanggap Adrien mendadak tegang. “Sepertinya, aku yang harus takut. Harusnya, aku yang pergi meninggalkanmu” ucap Reine mendadak. “Ke, kenapa?” tanya Adrien tergagap.
“Karena kau akan melupakanku. Melupakan semua kenangan yang kita buat bersama ibu”
“Aku tidak akan pernah melakukan itu”
“Kau melakukannya. Bahkan, kau sudah melakukannya sekarang. Kau yang berusaha melupakanku, ayah. Bukan aku yang berusaha melupakanmu”
Adrien terdiam, kehilangan kata-katanya. “Tapi, terima kasih sudah mengawasiku. Walaupun, kau menggunakan pria-pria pengisap darah di Underwall untuk melakukannya. Kau sengaja, bukan? Menghilang tanpa sebab, agar mereka mencariku? Supaya aku, seolah bisa menggantikan peranmu di Underwall” lanjut Reine ke topik yang lain. Ayahnya masih terdiam. “Aku memang bisa, tapi... kau salah. Aku... tidak ingin berada di sini. Aku ingin menjadi manusia biasa, seperti pada umumnya. Manusia normal” ungkap Reine.
Adrien terlihat kaget. Untuk pertama kalinya, dia mendengar Reine berbicara banyak padanya. Bahkan, mengungkapkan perasaannya. Padahal sebelum itu, dia mengira Reine tidak akan pernah mau berbicara dengannya lagi. Sebab itu, dia memilih untuk kabur, ketika Reine berada di sini untuk mengunjunginya.
“Kenapa kau diam?” tanya Reine kesal. “Aku malu. Aku tidak tahu harus berbicara apa. Aku... malu padamu” jawab Adrien pada akhirnya. “Karena kau mengira, aku tidak akan pernah mengakuimu? Membencimu? Dan bahkan, tidak ingin menemuimu? Ya! Beberapa jam yang lalu, aku memang seperti itu. Aku memang berniat untuk begitu. Tapi... seseorang mengatakan padaku, untuk tetap menemuimu. Jika tidak, aku tidak akan bisa membalaskan dendamku padamu. Dia bilang, menemuimu adalah pembalasan dendam yang paling keji di seluruh dunia. Jadi, kuputuskan untuk menemuimu” kata Reine blak-blakan. Adrien tampak tersenyum kecil.
“Dia benar. Kau sudah melakukannya dengan baik”
__ADS_1
“Apanya?”
“Pembalasan dendam terkeji di seluruh dunia”
“Oh, benarkah? Karena kau mengakuinya, maka apa yang ku lakukan bukanlah hal yang sia-sia”
“Maafkan aku, meski maaf tidak akan mungkin bisa menyelesaikan semuanya”
Reine menghela nafas panjang. “Dan harusnya... aku mengatakan segala ungkapan perasaanku tadi... bukan pada seorang pengembara. Benar, kan?” sambung Adrien. “Kau tidak perlu mengatakannya lagi. Aku sudah mengerti maksudmu. Si pengembara... sudah menjelaskannya dengan baik padaku. Dia bilang, aku tidak boleh untuk marah. Karena dia, sudah memarahimu” ujar Reine diikuti senyum tipisnya. Ayahnya tampak mengangguk pelan.
“Terima kasih, sudah mau menemuiku. Semoga kau...selalu diliputi kebahagiaan. Karena ketika ku berikan nama itu untukmu, aku... merasa sangat bahagia. Memilikimu di antara kami adalah hal yang paling membahagiakan di seluruh dunia. Terlepas dari, caraku untuk melindungimu itu salah. Dan egoku agar membuatmu menjadi orang yang lebih baik tanpaku, itu juga salah...” ungkap Adrien mengakui. “Tapi, masa lalu yang sudah terjadi ku harap, kau tidak akan pernah melupakannya. Begitu pula denganku. Jangan pernah merasa, aku meninggalkanmu dan akan melupakannya. Tidak, Rei. Aku... tidak akan pernah melupakanmu, meski aku memilih untuk pergi dari kehidupan keluarga kita. Aku menyayangimu. Aku juga menyayangi ibumu” lanjut Adrien. Reine mendengarnya dengan seksama. Hal yang sangat pertama sekali di hidupnya. Mendengar ayahnya berbicara begitu panjang. Mencoba untuk menjelaskan kesalahannya dan meminta pengampunan atas itu.
“Hah? Jadi, kau tidak sedang... sekarat? Seperti, yang dikatakan orang-orang, bukan?”
“Tadinya, memang”
__ADS_1
“Lalu? Kenapa mendadak berubah?”
“Karena, kau berada di sini. Sepertinya, semangat hidupku... berhasil kau bangunkan kembali. Maaf, Rei. Sepertinya, aku tidak bisa mati begitu saja. Padahal, kau sudah menunggu momen-momen itu”
“Yah, aku bukan seorang anak yang terlalu brengsek seperti itu. Tolong, jangan bangun image-ku menjadi bertambah buruk”
“Ohh, oke. Biar ku tebak, karena kau... sedang jatuh cinta dengan salah satu di antara keempatnya, bukan? Oh, atau kau sudah menjalin hubungan dengan salah satunya?” tebak Adrien agak pas. Reine mendadak menundukkan kepala. Dia tidak tahu lagi harus menjawab apa. “Tunggu, kau... tidak mungkin, kan? Kau... bimbang dengan keempatnya, meski kau sudah menerima salah satu darinya? Rei, itu dilarang! Kau... harus memilih satu! Ayah dulu, tidak pernah melakukan hal buruk seperti itu. Kau harus memilih, Nak. Karena hidup ini adalah pilihan” kata Adrien memberikan ceramahnya.
“Yah, kau memperburuk suasana. Perkataanmu memang benar, tapi... kita tidak akan tahu akhir dari cerita yang akan menunggu kita. Memang, aku memiliki hubungan dengan salah satunya, tapi... semuanya akan berubah di saat waktunya tepat. Takdir dari langit, kau tahu? Seperti halnya kau, yang tadinya sekarat berubah menjadi sehat” tanggap Reine. “Aku akan mendukungmu, selama itu baik untukmu. Aku tidak bisa doakan yang lain, tapi aku akan terus mendoakan jika itu yang membuatmu bahagia” balas Adrien. “Aku juga” jawab Reine diikuti senyum khasnya.
Tanpa pelukan atau tindakan kasih sayang lainnya, begitulah pembicaraan itu berakhir. Kepala Desa akhirnya datang bersama dengan para tabib. Sementara Robin, terlihat berada di sana juga. Dia tersenyum, ketika melihat Reine berhasil melaluinya dengan mudah. Sebab, dia juga percaya Reine akan melakukannya dengan sangat baik.
Hingga terpancar, sebuah senyum lega yang menghiasi wajah Adrien, kala para tabib mengembalikannya lagi ke Balai Pengobatan. Dalam hati, Robin juga sangat bahagia untuk itu. Walau tidak tahu pasti, apa yang mereka bicarakan, mungkin berita buruk yang dia sampaikan hingga membuat Reine pergi ke mari adalah hal yang paling membahagiakan, yang bisa dia lakukan untuk Reine.
“Aku tidak akan tanya detailnya” kata Robin, ketika dirinya berjalan bersama dengan Reine. “Aku juga tidak akan menjawab detailnya” balas Reine. “Oh, aku tahu. Kau sangat malu untuk melakukannya. Aku tidak masalah” ucap Robin. “Tapi, kau ingin tahu, bukan?” goda Reine. “Tidak, tidak akan” jawab Robin sembari menutup kedua telinganya dengan tangan.
__ADS_1
“Kau penasaran, bukan?” desak Reine semakin membuat Robin kesal. “Tidak!!” seru Robin sambil berlari menjauh dari Reine. Dan hal itu, terus berlanjut hingga setibanya mereka bertiga di depan Underwall. Dengan adanya kejadian tersebut, akhirnya hubungan Robin dan Reine kembali membaik.
Ku rasa, lagi-lagi Reine akan kembali kebingungan. Hidup memang pilihan, tapi memilih satu di antara empat hal yang membuatmu nyaman... itu agak, sulit.