produk gagal

produk gagal
Balas Dendam?


__ADS_3

“Anak itu... Terluka” ungkap Carine sembari menunduk. “Seberapa parah” tanya Gray lagi. Dia semakin penasaran, saat Carine tak langsung mengatakan yang sebenarnya.


“Parah hingga dia harus ku pulihkan lebih dahulu”


“Bagaimana kau akan menghadapi yang lain? Mereka pasti, akan segera menyadarinya kalau kau... adalah Carine. Bukan anak itu”


“Sejatinya, anak itu adalah diriku, yang mulia. Meski aku atau dia yang berada di tubuh ini, semua akan tetap sama”


“Dia lebih polos”


“Ku pikir, sifat itu terdampak dari diriku yang dulu”


“Di era Kaiion, kau bukannya polos. Tapi, manja”


“Di era hidup bersamamu, aku adalah wanita yang polos. Tak jauh beda dengan Reine. Kau pasti, merasakannya”


Gray tampak menunduk. Dia baru menyadari akan sesuatu. “Karenanya, saat bersama anak itu aku selalu merasa... Bernostalgia?” ujarnya. “Sudah ku bilang, dia adalah sifat yang berasal dari diriku. Baik itu nantinya itu, Reine atau ada Reine dan Reine yang lain, semua itu tetaplah aku. Dengan sifat yang berasal dari masa lalu” jelas Carine.


Gray mengangguk paham. “Sebab itu, aku tidak bisa melepaskan pandanganku padanya” ucap Gray. “Yah, karena sifat yang sedang dimainkan Reine adalah awal pertemuan kita, yang mulia. Anda, tidak akan pernah bisa berpaling, karena sifat itu... yang membuat anda merasa kesal, sedih, bahagia dan juga... Bersalah” tanggap Carine. Saat dia berkata, “bersalah”, dia terlihat menatap ke arah Gray. Dengan tatapan yang terasa begitu dalam.


Gray tak mengatakan apapun, mungkin dia terlalu larut dalam pikiran kacaunya. Tentang, masa lalu dan tindakan buruknya selama tinggal bersama dengan Carine. Di era yang jauh, jauh sebelum Perang Vosre terjadi. Dan juga, sebelum Klan Deval menguasai dunia iblis ini.


“Tapi, aku lebih penasaran tentang sesuatu yang lain” celetuk Carine memecah keheningan. “Apa?” tanggap Gray sembari meneguk segelas anggurnya. “Bagaimana Caroline bisa terhapus dari catatan buku kuno? Mereka tidak biasa, mengubah target para Pemburu Kematian begitu saja. Apalagi, menghilangkannya” tanya Carine serius.


“Aku pun, terkejut. Tapi, mereka mungkin lebih berpihak pada keberanian yang Caroline ambil”

__ADS_1


“Tentang... meluruskan citra ayahnya?”


“Lebih tepatnya, kebenaran yang terkubur”


“Luc bilang, ayah Caroline telah melecehkan salah satu anggota klan Tobie”


“Ayah Caroline dijebak, atas perbuatan menjijikkan yang tak pernah dia lakukan. Pak tua itu juga jujur, dia memang tidak bisa menolak seorang wanita, setelah ditinggal mati istrinya. Akan tetapi dia bersumpah, dia tak pernah melecehkan ataupun menggoda wanita tanpa dasar saling suka”


“Caroline bilang, ayahnya sakit setelah tuduhan itu”


“Kau benar, pak tua itu jatuh sakit. Tobie benar-benar siluman cerdik hingga membuatnya tak memiliki celah. Dia sempurna, meletakkan pak tua itu ke dalam naskah dramanya. Menggunakan wanita polos dari klannya dengan iming-iming uang, tentu siapa yang akan menolak? Namun, langit lebih tahu dari siapapun”


Carine mengangguk paham. “Sebab itu, langit menghapus Caroline dari buku, karena tidak berputus asa untuk mencari kebenarannya?” tebak Carine. Gray mengangguk. “Anak itu... gigih. Setelah berhasil menangkap 3799, dia menggiringnya kembali ke klannya. Tanpa rasa takut, dia mengumumkan di halaman besar klannya. Membawa Tobie dan menyuruh pria licik itu, agar mengakui perbuatannya” jelasnya. “Dan Tobie?” tanya Carine lagi.


“Tentu, penjahat mana yang mau mengakuinya? Tapi seperti yang ku katakan tadi, anak itu gigih. Akhirnya, Tobie mengakui perbuatannya. Termasuk, membunuh gadis dari klannya tersebut untuk menghilangkan bukti” lanjut Gray. “Dan sebelum siluman lain menghabisinya, kau...?” tanya Carine, berusaha membuat Gray meneruskan perkataannya dengan penjelasan lain. “Aku mengisapnya dengan kartu dan membuatnya terkurung di sana. Kemudian, ku bakar kartu itu, usai ku kirimkan ke langit” jawab Gray, memenuhi pertanyaan Carine.


“Kau hebat” puji Carine refleks. Gray tersenyum. Dia tampak mendekat ke arah telinga kanan Carine. “Tetap saja, tidak sehebat dirimu...” bisiknya pelan. Carine cukup terkejut, dengan jarak yang sedekat itu. Bahkan selama bertahun-tahun, Gray tak pernah berjalan mendekat ke arahnya, membisikkan sesuatu hingga mencium keningnya dengan lembut.


Pertama kalinya, dalam sejarah. Ku harap, ini bukanlah sebuah pengalihan untuk memastikan sesuatu, pikir Carine positif.


Namun, kita memang tidak boleh menyepelekan kata hati. Benar saja, apa yang mencoba Carine alihkan, dari pikiran yang negatif menjadi positif, justru malah dipatahkan kembali oleh Gray. Pria itu, mendekati Carine, memberikan tindakan menggetarkan hati, kemudian menjentikkan jarinya tepat di kening Carine.


Rasanya sakit sekali hingga kening Carine terlihat memerah seketika. “Apa yang kau lakukan?!” teriak Carine, seolah berusaha tetap sopan tak ada gunanya. “Kau... Kenapa kau tidak kembali? Anak itu... Kenapa anak itu tidak muncul?” tanya Gray makin membuat Carine kesal.


“Ini tubuhku! Dan anak itu, ada dalam pengawasanku. Kenapa kau berusaha untuk memanggilnya? Kau jatuh cinta padanya?”

__ADS_1


“Kau cemburu padanya?”


“Pertanyaan macam apa yang kau katakan?! Aku serius! Dia sedang dalam pengawasanku, yang mulia. Anak itu tidak baik-baik saja. Dan saat ini, aku mencoba untuk memulihkannya kembali. Jadi, tolong jangan halangi usahaku dengan cara murahan seperti itu!”


“Kau bisa mengatakannya, tanpa berteriak...”


“Ku kira itulah alasan, mengapa anda membuat sebuah ruang pribadi di sini!”


“Kau berteriak lagi, Carine”


“Aku tidak peduli!” seru Carine, bak amarah telah memenuhi otaknya. “Kita bisa membicarakan ini baik-baik. Dan jujur saja, aku lebih nyaman berbicara dengan anak itu yang kau bilang, ‘sifatmu dari era ketika tinggal bersamaku’ dari pada berbicara denganmu di era ini” ungkap Gray. Carine menatapnya dengan kedua mata yang berubah merah. Dia sudah lelah, ketika berusaha fokus pada wajah Gray.


“Karena anda... telah melakukan kesalahan terbesar di era itu. Dan hingga saat ini, anda tidak bisa menerimanya dengan mencari kenyamanan dari anak itu. Reine, anak itu memang diriku dari masa lalu. Dan jika anda menggunakannya sebagai, penebusan untuk kesalahan anda, itu adalah tindakan yang salah. Sayalah yang sebenarnya terluka di sini, yang mulia. Dan sampai kapanpun, anda tidak akan pernah bisa menebusnya” ucap Carine panjang. Kedua tangan Gray bergetar. Baru kali ini, mereka bertemu. Setelah tahun berganti tahun hingga melalui berbagai era.


Sayangnya, luka tetaplah luka. Tak ada yang dapat mengobati perasaan terluka itu, tanpa adanya sebuah permintaan maaf. Minimal, penyesalan yang penuh dengan ketulusan.


“Aku akan menghubungimu, kalau anak itu sudah baik-baik saja. Akan ku pastikan, kau... adalah orang pertama yang mengetahuinya” janji Carine. Dia tampak melangkah ke arah pintu. “Kau tahu, aku tidak pernah bermaksud seperti itu” kata Gray, mencoba untuk meluruskan. “Oh, mungkin memang itu. Mungkin... Marc, Robin atau Luc. Di antara mereka, pasti ada mantan pacarku di era Kaiion yang bereinkarnasi. Sebab itu, aku selalu merasa nyaman dia antara mereka” ucap Carine sebelum benar-benar meninggalkan ruangan pribadi Gray.


“Ku harap, salah satu dari mereka bertiga” komentar Gray. “Ketiganya pun, juga boleh. Minimal, aku bisa menuliskan mereka dalam daftar mantanku yang ke-51?” lanjut Carine. “Oh? Berapa mantan yang akan kau koleksi?” canda Gray. “Karena pertanyaan serius, akan ku jawab dengan serius. Seratus mantan pacar” balas Carine diikuti senyum manis, agak tajam.


“Carine! Sampai kapanpun, pasanganmu tetaplah aku!” teriak Gray. Akan tetapi, Carine hanya angkat bahu cuek sembari berlalu. Dia ingin bebas, memanfaatkan kehidupan dengan baik. Carine benar-benar tak peduli, dengan masa lalu, Pemburu Kematian dan juga...


Gray.


Akankah ini menjadi, sebuah pembalasan dendam? Entahlah.

__ADS_1


__ADS_2