produk gagal

produk gagal
Tiga Pria


__ADS_3

Hari ini, hari pertama bagi Carine bekerja sebagai, pegawai Underwall. Meski dirinya seorang Pemburu Kematian, yah... itu bukan sebuah rahasia lagi sekarang. Ya, karena dia memang seorang Pemburu Kematian. Begitu pula dengan Gray. Malah, Gray adalah pemimpin mereka.


Jadi, kita kembali pada hari pertama Carine bekerja. Jujur saja, Pemburu Kematian tak pernah singgah sekalipun di Underwall. Sebab bagi mereka, Underwall dan aturan yang berlaku untuk para Pemburu, benar-benar berbeda.


Underwall adalah tempat penghukuman. Sementara tugas dari Pemburu Kematian, tak memberi para penjahat hukuman, akan tetapi, sebuah putusan. Underwall, mungkin memberi hak untuk mentoleran. Namun bagi Pemburu, di mata mereka, apapun bentuk kejahatannya, tak ada toleransi satu celah pun. Musnah, tetaplah musnah.


Karena itu, menurut para Pemburu, Underwall adalah tempat menyebalkan bagi mereka. Di mana keadilan, masih berpihak pada para penjahat, meski di dalam sana mereka juga diberikan penghukuman. Pemusnahan, jauh lebih baik bagi para Pemburu.


“So, jangan kesal di hari pertamamu bekerja. Karena anak yang kau sayangi itu, memegang penuh kendali sel-sel Underwall” sapa Gray, yang mendadak muncul entah dari mana. Tiba-tiba saja dia sudah melangkah di sebelah Carine. Seolah, mereka sedang masuk kerja bersama. Yah, padahal, rumah Carine ada di lantai 4, di salah satu kamar suite.


“Kau muncul lagi, tuan Geiger” balas Carine masih mengingat marga lama Gray, Maximilien Geiger. “Sure, aku akan selalu berada di sebelahmu” ucap Gray sok. “Sembari mengawasi?” tebak Carine pas. Dengan anggukan kecil, Gray tampak menyeruput americano paginya.


“Semoga aku tak mengacau” kata Carine mencoba bernada menyenangkan. “Aku akan mendampingimu. Jadi, tenang saja. Aku akan mencoba untuk membuatmu tak melakukan apapun pada para tahanan, agar kau tak harus membuka privasi kita di dalam sana” ujar Gray bangga. “Permisi Pak Geiger, saya bukan orang yang idiot hingga harus membuka ID-ku sebagai, seorang Pemburu Kematian. Aku bisa mengatasinya” tolak Carine agak sebal.


“Hm, ya, ya, kuharap aku bisa mengandalkanmu” goda Gray. “Auh!” gerutu Carine kesal. Tak beberapa lama, usai percakapan tak jelas tersebut, Carine telah di sambut oleh seorang pria dengan sorot mata hangat. Tak lupa, senyum menenangkan hati yang khas dari seorang iblis bernama, Robin.


“Pagi, Rei” sapa Robin seperti biasa. “Oh, hai Rob, selamat pagi. Kamu terlihat sangat sempurna pagi ini. Bagaimana? Tidurmu nyenyak?” balas Carine diikuti senyumnya. Mendengar jawaban Carine, kau bisa lihat kedua pipi lembut milik pria itu, tampak memerah. Dia kaget? Tentu, seorang Reine tak pernah membalas sapaannya dengan begitu atraktif.


Kadang, memang Reine membalasnya begitu. Tapi untuk kesan yang ditinggalkan Carine, lebih terasa berdampak dari pada Reine. Dengan sigap, tentu, Gray menyenggol pelan siku Carine. Sedetik yang lalu, dia hampir menumpahkan americano paginya.


“Oh, tentu. Bagaimana denganmu?” tanya Robin membalas. “Hmm, begitulah...” jawab Carine terlihat agak lesu. Mereka bertiga pun, melangkah bersama-sama. Carine tampak berjalan di samping Robin.

__ADS_1


Ya, ku bilang, mereka bertiga. Aku tak melupakan siapapun kok. Tapi bagi Gray, dia bak obat nyamuk bakar yang berjalan di belakang keduanya. Ku rasa, bukankah memang begitu tugas seorang monitor?


“Meski begitu, sapalah aku dengan sepatah kata kek. Agar aku merasa, keberadaanku tak perlu lagi di ragukan. Aku di sini, lho!” dengus Gray kesal. Robin merasa tak enak secara tiba-tiba. Dia buru-buru menoleh ke arah Gray dan menyapanya pula.


“Pagi, Max. Ku kira, kau bukan tipe orang yang bakal membalas sapaan. Aku terkejut, saat kau bilang, ingin di sapa juga. Padahal, kau sering menolak melakukannya. Maaf, aku tidak tahu...” sesal Robin. Menatap wajah baru yang super baik dan lemah lembut di kehidupannya itu, Carine merasa puas. Hidup memang, tak boleh di sia-siakan.


Astaga, masih pagi. Kenapa aku merasa, iblis pengisap darah lebih sempurna dari Pemburu Kematian? Auh, dasar! Pikiran apa ini? Aku tidak gila, kan? Yaa, tak masalah. Karena akhirnya, aku bisa menikmati keindahan dari wajah yang rupawan itu, selain wajah milik Gray si yang mulia menyebalkan pemanas hati, batin Carine kegirangan.


“Dia hanya merajuk, tidak usah pikirkan” tanggap Carine. Gray tampak melotot ke arah Carine, ketika dirinya mendengar jawaban yang tak seharusnya keluar dari mulut Carine. “Kau mau mempersulit keadaan? Jangan menarik perhatian dengan membalas perkataanku sekarang. Atau kau... mau privasimu akan terungkap. Di sini?” tegas Carine, meski berbisik.


Tadi, mendadak, Gray menyalip dirinya dan langsung melangkah di sampingnya. Mungkin, hendak memberi peringatan? Sayangnya pagi ini, Carine lebih garang. Gray harus mengalah lagi. Ya.


Robin masih merasa tak enak, namun Carine berusaha menenangkannya. Mereka berjalan menuju ruangan Marc, melewati koridor. Di sana, mereka bertemu dengan Luc.


Oh, ya, mengapa harus ke ruangan Marc dulu? Ya, karena mereka staf khusus, maka mereka wajib menghadap Marc tiap pagi. Rapat, tentunya. Sebelum bekerja, mereka harus membahas jadwal Underwall hari ini.


Mulai dari, memeriksa jadwal tahanan yang akan menerima hukuman, kesiapan sel untuk buron yang berhasil di tangkap, mendisiplinkan para tahanan untuk melakukan beberapa kegiatan, agar ketika mereka bebas, mereka tak lagi mengulangi perbuatan mereka.


Singkatnya, refleksi diri bahwa, masih ada hal baik yang mereka lalukan di luar sana. Selain, menyiksa diri dengan melakukan dosa besar. Dan semua kegiatan baik tersebut di harapkan, dapat menjadi bekal di kehidupan pasca bebas.


Kira-kira, itulah yang harus dilakukan para staf khusus Underwall. Intinya, sama seperti apel pagi sih. Persis yang dilakukan Luc untuk para penjaga Underwall. Baik itu yang bertugas di Hotel, maupun di dalam sel.

__ADS_1


“Pagi, Marchand. Mau mendisiplinkan mereka?” sapa Gray akrab. “Jangan sok dekat. Terakhir kali kau mengatakan hal sejenis seperti itu, kita selalu berujung di skors, akibat kebiasaanmu yang selalu membuatku melayangkan kepalan tangan” jawab Luc bernada pedas. “Wow, wow, wow, aku hanya menyapamu. Kenapa kau langsung naik darah, begitu? Aku tidak akan membuatmu kesal, berujung di skors oleh Marc, Marchand. Aku hanya mencoba untuk... menyapamu” jelas Gray.


Luc refleks mendekat ke arah wajah Gray. Dia menatap Gray dengan tatapan tajam. Seakan, Luc hendak mengunyah habis kepala Gray.


“Jangan seolah-seolah merasa tak terjadi apapun, Maximilien. Kau menghilang tanpa ada pemberitahuan. Berminggu-minggu. Dan kau bilang, kau hanya ingin menyapa? Sesantai itu? Kau tahu, betapa kesulitannya kami saat berusaha menghandle pekerjaanmu. Hingga... hal yang tidak kusuka, akhirnya terjadi”


“Oh, wow, maafkan aku. Kau mencemaskanku, bukan? Maaf, aku tidak seharusnya pergi tanpa pamit. Tapi, keadaan saat itu benar-benar sulit untukku”


“Bagaimanapun keadaannya, bukankah kita selalu saling terbuka untuk membahas segalanya?”


“Oh, maaf, Marchand. Untuk yang ini, aku tidak bisa mengatakannya. Dan Marc, sudah maklum akan hal itu”


“Kalau begitu, pastikan, hal itu tidak akan terulang lagi. Jujur saja, aku muak menemui sebuah insiden yang tak ku sukai”


“Aku mencoba untuk memahaminya. Agar aku tak mengulang kesalahan yang sama, beritahu aku, insiden apa yang selalu kau khawatirkan?”


Sesaat ketika adu mulut masih memanas, Luc menyempatkan diri menatap ke arah Carine. Wanita itu, yang kini tampak kebingungan. Carine berusaha berekspresi seakan, “apa yang kamu takutkan?”


“Aku hanya tidak ingin, kau berada dalam bahaya sekali lagi. Aku berusaha untuk tidak meremehkan kekuatanmu, tapi insiden dua hari yang lalu... membuatku tak bisa bernafas dengan baik, saat melihatmu tersiksa. Maaf, aku tak bisa melindungimu, Rei...” sesal Luc panjang. Dengan wajahnya yang garang itu, dia terlihat ingin menampakkan sebuah ketulusan. Situasi menjadi hening.


Entah, apa yang dilihat oleh Carine benar atau salah, dia melihat, ekspresi Robin yang gelisah, tentu, Gray yang cemburu dan Luc, yang merasa dia pria yang mengambil alih suasana hati Carine pagi ini. Yang bisa dikatakan Carine hari ini,

__ADS_1


Waw, kedua pria ini... rupanya, memiliki perasaan yang sama terhadapku. Mereka berusaha... melindungiku. Karena apa? Sama-sama... jatuh cinta padaku? Astaga, Reine Dallaire kau sangat hebat, hingga mengguncang tiga orang pria sekaligus. Marc, Robin dan Luc. Jadi, kalau boleh ku teruskan... Aku tidak akan menyia-nyiakan hal ini, sayangku... Hingga kau pulih, aku akan mencoba sebaik mungkin. Demi, kehidupanmu, aku harus menyaring semuanya. Tentu, kecuali si yang mulia tua bangka itu. Aku hanya berharap, dia bisa mengurangi kecerobohannya. Yah...


__ADS_2