produk gagal

produk gagal
Kekecewaan


__ADS_3

Reine terbangun dengan kepala yang terasa masih berat. Suara serta sentuhan seseorang yang terjaga untuknya malam itu, masih terbayang di pikirannya. Dia selalu berusaha untuk menebak-nebak. Suara siapakah yang membuatnya damai, sepanjang malam yang rumit itu?


Ketika Reine tengah melangkah ke arah tempat latihan, keberadaan Robin mengejutkannya. Mereka tak sengaja berpapasan di lorong hotel, jalan menuju tempat latihan Reine. Melihat Reine sudah tak jauh dari pandangannya, Robin tampak tersenyum cerah.


“Tidurmu nyenyak, Rein?” sapanya terdengar hangat. “Sangat nyenyak, di banding waktu tidurku yang lain. Aku sangat berterima kasih, berkatmu dan yang lain, aku mendapatkan kehidupan yang lebih baik” tanggap Reine diikuti senyum kecilnya. “Tentu, kamu harus mendapatkan kehidupan yang layak. Kamu berjasa untuk kami. Tak hanya kami, kamu melindungi Underwall, Rein...” balas Robin.


“Yah, meski harus sedikit... mencemaskan nyawa?”


“Maafkan aku, Rein. Kami akan mengurusnya, agar kamu... tak terlalu mengemban tugas yang diluar kemampuanmu”


“Oh, astaga... kau memang benar-benar tidak bisa bercanda, Rob. Aku tidak keberatan. Untuk Underwall, aku akan mengerahkan seluruh tenagaku. Bahkan untukmu dan yang lain, aku juga sangat tidak keberatan untuk melindungi segalanya”


“Kamu terlalu baik, Rein. Kamu mau pergi latihan?”


Reine tampak mengangguk. “Hmm, tapi sebelum itu... Marc mungkin harus mengganggumu sebentar. Dia berpesan padaku, untuk menyuruhmu pergi ke ruangannya pagi ini” pinta Robin mendadak. “Oh? Benarkah? Aku baru saja mendengar” ujar Reine agak bingung. “Aku lupa mengatakannya padamu kemarin malam. Sebab, kamu terlihat... terlalu lelah. Jadi, ku putuskan untuk mengatakannya pagi ini. Dan ternyata, ini terlalu mendadak. Maaf...” sesal Robin menjelaskan.


Reine menggeleng pelan. “Tidak masalah, Rob. Terima kasih sudah mencemaskanku. Kau juga pergi ke ruangannya?” tanyanya kemudian. “Sayangnya, tidak. Aku harus pergi ke ruang pertemuan bersama dengan Luc dan Maximilien. Setelah itu, kamu mungkin juga akan berada di sana. So, sampai nanti” terang Robin sembari berlalu, mendahului langkah Reine.


“Aku? Ke ruang pertemuan? Untuk apa kira-kira, ya?” gumam Reine kembali bingung. Namun, detik jarum jam membuat Reine harus bergegas. Marc, bukanlah pria yang suka menunggu ataupun menerima alasan keterlambatannya. Kadang, Marc terlihat baik. Tapi, jangan lupakan penilaian Reine yang mengatakan bahwa pria itu, cukup menakutkan.


Tok!


Tok!


Tok!

__ADS_1


Selembut mungkin, Reine mengetuk pintu agar Marc tak terganggu. Sampai Marc menjawab, “masuk”, Reine tetap berdiri di depan pintu. Tak lama, usai menunggu beberapa detik. Biasanya, Marc bakal lama sekali menjawab. Mungkin, sedang menangani banyak pekerjaan. Dia super sibuk.


“Pagi, Tuan Deval” sapa Reine mendadak formal. Sepertinya, suasana ruangan Marc di pagi hari, membuatnya agak... terbawa. Tak ada jawaban. Hanya suara gesekan kertas yang dibolak-balik berulang kali, menghiasi situasi ruangan Marc.


Reine berubah gugup. Dia tak menyela atau melakukan gerakan apapun yang membuat bising, hingga mengganggu konsentrasi Marc di meja kerjanya. Reine juga bisa melihat tumpukan dokumen itu, mulai menjelma bagai gunung di atas meja Marc.


“Seseorang memberitahumu untuk pergi kemari?” tanya Marc tiba-tiba. Hal itu, membuat Reine kaget hingga tak dapat berkata-kata sejenak. Dia harus menelan ludah untuk beberapa saat, mengambil nafas dan baru bisa menjawab. Saking kagetnya.


"Oh, ya. Robin memberitahuku. Kalau kau...” jawab Reine tak meneruskan, karena dia tahu Marc tampak buru-buru mengangguk. Tanda, dia hanya punya waktu sebentar untuk percakapan ini dan mungkin, tak lebih penting dari pada kertasnya.


Seratus persen yakin. Reine menyadari, dia bahkan tak dapat membuat fokus Marc teralihkan dari kertas. Dia sedang sangat sibuk hingga tak memperdulikan Reine seperti biasa. Atau mungkinkah dia sedang...


Marah?


Marah atas apa yang terjadi pada Underwall tempo hari?


Reine tampak mengerutkan keningnya. “Maksudmu, pergi ke mana?” jawab Reine balik bertanya. “Miss Dallaire, bukankah sudah ku katakan sebelumnya? Jawablah pertanyaan itu dengan jelas dan singkat. Pergi ke mana? Tentu saja, Underwall. Ke mana lagi? Jelaskan. Kenapa kau harus pergi ke sana?” ulang Marc memperjelas. Perkataannya mulai bernada tak menyenangkan.


“Tentu, untuk menyakinkan firasatku, bahwa aku telah salah. Dan para iblis itu, tidak akan mungkin pergi ke sana. Dan ternyata, firasatku agak benar”


“Firasat, ataukah... hal yang lain?”


“Aku melindungi Underwall, Tuan Deval. Bukan untuk hal yang lain. Karena itulah, aku pergi ke sana”


“Bahkan, ada tombol darurat di setiap pintu. Mengapa... kau harus pergi ke sana sendirian? Menghadapi semua kekacauan yang ada. Seperti, semuanya telah kau rencanakan sebelumnya”

__ADS_1


“Aku mengerti, ada tombol itu. Dan salah satu kesalahan terbesarku adalah tidak menekannya, meski tahu kekacauan akan membuat Underwall hancur. Tapi, apa maksud anda... “semuanya telah kau rencanakan sebelumnya” aku... tidak salah dengar, bukan?”


Marc tampak melangkah mendekat ke arah Reine, usai jawaban tersebut keluar dari mulut wanita tersebut. Marc mendekatkan wajahnya ke arah telinga Reine. “Sekali lagi, Miss Dallaire, aku hanya butuh jawaban yang jelas dan singkat” bisiknya tak bersahabat. Reine tak habis pikir dengan perubahan sikap Marc yang begitu jelas.


“Semenjak kau berada di sini, Underwall selalu kehilangan keamanannya. Bukankah itu, mencurigakan? Tepatnya setelah, kau pindah kemari” tanya Marc masih berbisik. Bahkan hembusan nafasnya, terasa menggelitik di bahu Reine. “Maaf, Tuan Deval. Saya tidak bisa menjawab kecurigaan anda. Karena saya bisa berada di sini, tak lain akibat dari perintah anda. Jadi, jika anda mencurigai saya, harusnya... dari awal, anda tidak perlu memberiku tempat di sini. Juga, anda harus ingat. Teman anda, membuat saya berakhir di sini pula” ucapnya agak kesal.


Marc terlihat melangkah agak mundur. “Aku hanya bertanya, Miss Dallaire. Kenapa kau terlihat kesal?” balasnya makin menyebalkan. “Saya sedang menjawab, Tuan. Tidak sedang kesal. Jika anda memanggil saya di pagi hari yang hangat, hanya untuk curiga, saya menyalahkannya. Sebab, saya berada di sel Underwall kala itu, murni hanya untuk melindungi Underwall. Tugas dan tanggung jawab yang anda berikan untuk saya, sebagai seseorang manusia yang memiliki kekuatan lebih. Andalah yang menilai kemampuan saya...” jelas Reine mencoba tenang.


Marc terdiam, larut dalam pemikirannya. Berusaha mencari tanggapan yang tepat untuk Reine. “Kupikir, penilaianku harus segera di koreksi dalam beberapa bagian” ujarnya beberapa detik setelah keheningan mulai merasuk.


“Tuan Deval!” seru Reine merasa tak adil. Marc yang selama ini percaya padanya. Memberinya kekuatan untuk tetap melangkah, mendorongnya maju, terlihat peduli dan membuatnya memecahkan masalah kekuatannya. Setelah dia berusaha untuk membalas kebaikannya dengan melindungi sel Underwall, Reine malah dicurigai. Semuanya seperti sedang berbalik menjadi peluru yang siap menghantamnya.


“Saya kira, anda akan bangga karena akhirnya, saya berhasil memunculkan kekuatan itu. Semuanya berkat anda. Saya sangat merasa senang dan terhormat, ketika mengalahkan para iblis itu...” kata Reine terhenti sejenak. Dia menatap ke arah Marc yang masih berdiri di hadapannya. “Sayangnya, anda tidak sejalan dengan pemikiran saya. Jujur, saya sangat kecewa, Tuan Deval. Saya kira... saya kira, anda akan senang seperti, yang lainnya lakukan. Tapi rupanya, saya terlalu berharap lebih. Bahkan, sangat, sangat lebih pada anda. Saya mengerti” ungkapnya melanjutkan.


“Sekarang mungkin, apapun yang akan saya katakan, itu tidak akan bisa memperbaiki rasa curiga anda terhadap saya. Setelah mendengar ini, saya tidak tahu harus berbuat apa. Karena itu, tolong beri saya perintah secepatnya. Saya, permisi...” tegas Reine, sebelum dia melangkah keluar dari ruangan Marc. Reine pikir, perkataan Robin soal bergabung di ruang pertemuan akan segera terjadi. Namun rupanya, salah besar.


Karena tak ada yang harus dia lakukan. Dan tak ada tempat lain yang harus dia tuju. Jadi, hanya tempat rahasia yang bisa dia kunjungi. Meski tempat itu, selalu mengingatkannya pada Marc, mungkin hal itu bisa membantu.


Membantunya mencari sebuah jawaban. Mengapa Marc berubah begitu cepat. Meski dirinya, telah menunjukkan perubahan besar yang bisa Marc manfaatkan. Dan salah satu hal yang membuatnya semakin kesal adalah...


Jawaban Marc, tentang pria yang terjaga untuknya setelah hari penyerangan sel.


“Sebelum itu, saya memiliki satu pertanyaan. Satu saja. Tidak yang lain setelah itu. Di malam setelah penyerangan sel Underwall, ada seseorang yang tetap terjaga di dekatku. Suara dan tangannya... tak asing bagiku. Apakah itu anda, Tuan?” tanya Reine sebelum pergi dari ruangan Marc tadi. “Jawaban apa yang kau harapkan akan keluar dari mulutku?” balas Marc, seolah menolak menjawab. “Ya atau tidak?” desak Reine.


“Hal itu, bukan sesuatu yang penting untuk di bahas, Miss Dallaire. Meski pria itu adalah aku, apa yang akan berubah? Aku, tetap akan mengawasimu. Berada di belakangmu, bukan di sampingmu. Jadi, ingatlah. Kau berada di sini, bukan untuk jatuh cinta pada pria romantis yang mendadak muncul”

__ADS_1


Bisikan Marc kala itu, membuat Reine tersadar. Marc, bukanlah pria yang baik dan tulus, seperti Robin. Dia hanya seorang bangsawan yang terhormat dan...


Penuh dengan tipu daya.


__ADS_2