
Gudang Penampungan Losenyx sebelum kedatangan Max_
Reine telah memperhitungkan. Beberapa detik setelah ini, Tobie pasti akan melakukan serangan. “Dengan cakar kirinya, dia akan menebas ke arah lawan, seakan-akan dia benar-benar menyerang. Ketika lawan terlalu fokus, dia akan menyerang dengan cakar bagian kanan” gumam Reine. “Aku tidak tahu, karakternya. Namun karena membaca hasil medis dari para korbannya, mereka selalu mendapatkan luka yang sama. Tergores kecil di bagian kiri. Dan kemudian, ada goresan besar di sebelah kanan. Ku simpulkan, dia pasti akan selalu menggunakan cakar kanannya. Sebab, cakar kiri pernah mendapatkan luka dari korban pertamanya. Korbannya, berusaha mengelak. Dan akhirnya, hal itu malah mengenai cakar kiri Tobie hingga tak dapat digunakan seperti normalnya. Karma” lanjutnya.
“Jangan berbisik sendiri, Nona dari Underwall. Aku tidak bisa mendengar pesan terakhirmu!” kata Tobie yang berakhir marah. “Mulut, mulutku. Kenapa kau mengatur mulut orang lain?!” balas Reine tak kalah keras. Tobie tampak tertawa keras, saat mendengar perkataan dari Reine barusan. Dia cukup kaget.
“Wah... Kau tidak tahu, ya... sedang berhadapan dengan siapa?”
“Kenapa aku harus tahu? Kau, orang asing yang tidak sengaja lewat, bukan? Lagi pula, aku meminta bantuanmu untuk mengantarku ke stasiun”
“Mobil, mobilku. Kenapa kau harus mengatur kemana aku pergi?! Kalau aku mau berhenti di sini, apa yang akan kau lakukan? Hah?!”
“Mencari tumpangan lain, lah! Ngapain juga aku harus berada di sini? Dengan tangan dan kaki terikat, pula!”
Mendengar Reine yang terus membalas perkataannya, Tobie terlihat sangat kesal. Dia melangkah ke arah tempat Reine di ikat. Mendadak, Tobie menarik rambut Reine segenggam tangan.
“Tutup mulutmu, brengsek! Jika kau terus saja mengoceh, aku akan membunuhmu sekarang juga!” ancam Tobie. “Lah, memangnya, apa hubungannya dengan bunuh-bunuh? Tadi, aku kan cuman mau minta tolong antarkan” jawab Reine tak takut. Caroline yang ada di dekatnya, agak waspada dengan situasi itu. Kalau-kalau, Tobie akan menghabisi Reine secara langsung.
Tak hanya Caroline yang khawatir. Luc, yang sedari tadi menunggu aba-aba dari Reine, pun dibuat panik. Dia hanya berharap dari balik pintu gudang, agar Reine bisa berhenti bicara ngawur dan memikirkan kondisinya sendiri.
Tobie semakin menarik rambut Reine kasar. “Lepaskan dia!” perintah Caroline dengan energinya yang semakin menipis. “Diam kau, sialan!” balas Tobie sembari menerjangkan tendangan ke arah Caroline. Namun, tendangan tersebut rupanya malah meleset.
__ADS_1
“Kau lihat ke mana? Aku di sini, siluman brengsek!” ejek Caroline. Tobie semakin murka, ketika Caroline mengejeknya begitu. Tak sanggup menahan amarah yang menyulut-nyulut, Tobie pun menyerang Caroline dengan cakar kirinya.
Sayang sekali, Caroline masih bisa mengelak. Wanita itu, menghindari serangan Tobie hanya dengan memiringkan kepala sejenak. Dan taktik yang selalu di tunggu Reine, akhirnya pun tiba.
Tobie menggunakan cakar kanannya untuk menyerang Caroline dari arah lain. “Kau kira kau lebih pintar dariku?” balas Tobie mengejek. Akan tetapi, Reine dengan sigap merentangkan kedua tangannya ke depan. Tepat, ke arah samping Tobie yang hendak menerjang Caroline dengan cakarnya.
Seketika, pancaran cahaya putih pekat, menyilaukan pandangan Tobie. Reine berhasil mengelak cakar Tobie, menggunakan kemampuan perisainya. Akibat dari serangan tak terduga dari Reine, Tobie pun ambruk ke tanah.
“Sekarang!” teriak Reine. Dari arah pintu masuk gudang, Luc berlari, berteleport dan memberikan pukulan tangan kanannya, yang terasa seperti besi menghantam. Tak dapat dipungkiri Tobie pun, terjatuh hingga terdorong ke sudut gudang yang lain.
Luc terus memberinya pukulan demi pukulan, kala Reine berusaha melepaskan tali yang menjerat anggota geraknya. Tak lupa, dia juga menyelamatkan Caroline dan membantu wanita itu berbaring ke dinding, yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Namun, seseorang memukul kepala Reine dengan sebuah benda tumpul. Karena serangan yang terlalu mendadak, Reine terjatuh ke tanah. Dia tak sadarkan diri.
“Menjauhlah dari sana, iblis pengisap darah! Tobie semakin kuat ketika mendapatkan serangan. Dia akan berubah menjadi serigala, saat tubuh manusianya telah kehabisan energi. Dan itu berarti, tubuh Tobie kini telah diambil alih sepenuhnya oleh si serigala. Kalau begitu, hanya ada satu cara agar aku bisa mengalahkannya” ujar Caroline berbicara ke arah Luc. Pria itu, tak bisa bergerak, akibat serangan yang melukai kaki serta punggungnya. “Tidak ada pilihan lain. Aku harus bertransformasi juga menjadi serigala. Dan dengan begitu, aku bisa melindungi semuanya” sambung Caroline.
Tobie, tampak mengamati situasi. Dengan kemampuan serigalanya, dia mampu menganalisis lawan yang memiliki energi paling sedikit. Dan setelah itu, dia akan langsung menerjangnya.
“Tidak! Jika kau bertransformasi dengan energi yang lemah seperti itu... kau tidak akan bisa mengalahkannya. Malahan, kau akan mati ditangannya!” sergah Luc. “Tidak ada cara lain! Aku harus bisa menyelesaikan kekacauan ini, sebelum... korban semakin bertambah!” tegas Caroline bertekad bulat. “Dia! Wanita yang sedang tergeletak di sebelahmu itu... telah berusaha semampunya untuk melindungi dirimu! Dialah yang dengan sembrononya, mendatangi mobil Tobie dan beralasan untuk meminta pertolongan. Wanita itu... bersikeras untuk melindungimu, meski harus melanggar aturan Underwall!” seru Luc. Dia berusaha untuk bangkit kembali.
Caroline terkejut mendengarnya. “Tapi, dia hanya... seorang manusia biasa” ucapnya kemudian. “Jangan remehkan dia. Karena dia adalah... gadisku yang paling tangguh!” kata Luc dengan bangganya. Dia, bersiap untuk menghadapi Tobie lagi. Ya, meski dengan luka yang separah itu.
__ADS_1
“Kembalilah ke tempatmu berasal, 3799!!!” teriak Luc sambil berlari menyerang Tobie, yang berada di hadapannya. Dan Tobie pun, rupanya telah siap untuk menerima serangan Luc. Dengan cepat, Luc menggunakan skill teleportnya. Berpindah untuk menghindari berbagai serangan dari Tobie, dengan waktu yang sangat singkat.
Luc terus menggunakan taktik tersebut, hingga Tobie terkena pukulan darinya. Namun, bukan Tobie yang terluka oleh pukulan itu. Dia, masih sempat membalas Luc dengan cakarnya, bak mata pedang.
Luc kembali terjatuh. Punggungnya bersimbah darah. “Iblis pengisap darah! Bertahanlah, aku akan membantumu!” seru Caroline. Dia juga berusaha bangkit, walau dengan tubuh sempoyongan. “Tidak! Hentikan! Aku... akan menyelesaikan ini... sendirian. Sudah menjadi tugasku... untuk... melindungi... Dunia ini...” kata Luc sembari kembali berdiri tegak.
Tobie tersenyum dengan bangga, ketika melihat Luc bersikeras bangkit. Meski dengan keadaan tak mampu. Dia memperhitungkan, Luc akan tumbang hanya dengan sekali tebas.
Tak perlu waktu lama, Tobie segera melancarkan aksi penutupannya. Ketika hendak mendaratkan cakarnya ke arah Luc, tampak serigala berbulu putih menerjangnya dari belakang. Tobie, terjembab ke tanah.
“Tidak!!” teriak Luc syok, ketika melihat serigala berbulu putih itu. Caroline, telah bertransformasi. Dialah, serigala yang telah membuat Tobie terjungkir ke tanah.
Satu ter-jangan lagi, Caroline dapat melumpuhkan Tobie. Ketika dia mulai bergerak, Tobie mendadak bangkit kembali. Mereka sama-sama menerjang. “Berhenti!!” perintah Luc, yang sudah tahu bahwa taktik Caroline ini, malah membawa petaka bagi wanita itu.
Sebelum tabrakan antara dua siluman tersebut benar-benar terjadi, waktu seakan berhenti sejenak. Mungkin, bagi kedua siluman itu, mereka tak merasakan apapun. Namun Luc, rupanya merasakan waktu yang begitu ajaib tersebut.
Kupu-kupu tampak keluar dari tubuh Reine. Dia, masih belum sadar, akibat kerasnya pukulan dari Tobie. Tepat pada waktu itu, Tobie masih setengah bertransformasi menjadi serigala.
Memang, bagi para siluman, waktu untuk bertransformasi, akan memberikan tambahan kekuatan bagi tubuh manusianya. Dan ketika berubah seutuhnya, kekuatan akan menjadi lebih besar. Singkatnya, nasib buruk menimpa Reine karena mendapat serangan, ketika Tobie sedang mengalami masa peralihan pada tubuhnya. Hingga kekuatan yang Tobie miliki, tidak stabil dan dengan mudah mengalahkan Reine.
Kupu-kupu itu, kini mengelilingi kedua siluman yang sedang bertarung satu sama lain. Entah apa yang terjadi, waktu kembali berdetak. Luc dengan heran, melihat kedua siluman serigala, telah terjebab ke tanah di tempatnya masing-masing. Baik itu Caroline, maupun Tobie.
__ADS_1
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, kedua siluman tersebut telah berubah kembali menjadi manusia. Serta, hal yang membuat Luc makin tak dapat bicara dalam posisinya yang masih tergeletak di tanah adalah... Ketika dia melihat sosok lain dengan wajah yang sama dengan Reine, telah berdiri tak jauh darinya.
“Kau... Siapa?”