produk gagal

produk gagal
Perisai Reine


__ADS_3

Reine berlari mengikuti langkah Luc yang semakin cepat. Luc terburu-buru melangkah ke arah lift yang masih terbuka. Tak lama, Reine juga masuk ke dalam lift tersebut.


“Apa yang terjadi?” tanya Reine panik, usai melihat Luc menekan tombol ‘bawah tanah’. Artinya, mereka akan menghadapi iblis yang di kurung di sana, sekali lagi. Meski agak takut kejadian dalam latihan pertamanya akan kembali terulang, Reine tetap siap.


Ketika lift tiba di ruang bawah tanah, kaki Reine seolah bergerak sendiri. Seperti tanpa takut, dia melangkah ke arah kekacauan. Ya, Underwall benar-benar kacau. Banyak sekali penjaga Underwall yang terpental hingga ke dekat lift.


Reine menoleh ke arah Luc yang telah berdiri di belakangnya. “Jadi, inikah situasi gawatnya?” tanyanya kemudian. Luc mengangguk, melangkah tenang mendahului Reine. “Kode gawat telah di bunyikan sejak tadi. Seorang tahanan, lolos dari sel. Entah siapa yang membuatnya lolos. Yang jelas, Robin sedang mengejar tahanan itu. Sebelum tahanan itu kabur, dia menyempatkan diri dengan membuka seluruh pintu sel Underwall” jelas Luc detail.


Reine mengepalkan kedua tangannya. Dia marah, atas perbuatan orang yang tak bertanggung jawab itu. Sebelum menjadi petaka yang lain, Reine segera membantu Luc untuk menertibkan tahanan yang lain.


Luc memberi Reine sebuah pistol. Di dalam pistol tersebut, terdapat peluru berisi bius. Jika dia berhasil menembak seluruh tahanan dengan bius tersebut, akan lebih mudah memasukkan mereka kembali ke sel.


“Tapi yang kau katakan, tidak semudah yang diperkirakan. Para iblis ini... tak mau diam dan terus melakukan serangan. Aku hanya manusia biasa, bagaimana bisa aku menembak mereka?! Aku tidak bisa!!!” seru Reine kesal. Luc menatap ke arahnya. Dia hendak mengatakan beberapa kata.


Namun, Reine mendadak berteriak keras sambil merentangkan kedua tangannya ke depan. Luc melihat, pistol bius telah terjatuh tepat di kaki Reine. Melihat adanya manusia seperti Reine, para iblis segera mendekat dan menyerang Reine. Luc berlari hendak monolognya.


Akan tetapi, kedua telapak tangan Reine tiba-tiba mengeluarkan cahaya putih pekat. Luc dan penjaga Underwall, dibuat silau karenanya. Cahaya tersebut, muncul beberapa detik setelah teriakan Reine selesai.


Ketika membuka matanya, Luc kaget bukan main melihat seluruh iblis yang sempat kacau tadi, malah tergeletak tak berdaya di lantai Underwall. Luc mengerutkan kening. Tak lama, dia menatap ke arah Reine.


Wanita itu baik-baik saja. Tapi, dia masih menutup kedua matanya. Bahkan kedua tangannya pun, juga masih terentang seperti tadi.


Reine yang melakukannya? Reine mengeluarkan perisai, saat rasa takutnya mencapai batas wajar. Ketika berteriak, sumber kekuatannya akan muncul. Dia benar-benar, sesuatu... Karena itu, Tuan Deval bersikeras membuatnya bergabung, pikir Luc.

__ADS_1


Luc mendekat ke arah Reine. Dia menepuk kedua pipi Reine dengan pelan. “Kau tidak ketiduran, kan?” tanyanya. Kedua mata Reine langsung terbuka, ketika Luc menyadarkannya. “Bagaimana dengan para iblis?” balas Reine balik bertanya.


Luc menunjuk dengan menggerakkan kepalanya ke arah para iblis yang dimaksud Reine. “Huah! Kok, mereka sudah bergeletakan gitu?! Wah! Luc, kau hebat sekali bisa langsung menangani mereka semua. Hebat!” puji Reine girang. “Jangan berusaha melucu! Kau meremehkanku, kan?” dengus Luc malah marah.


“Apa maksudmu, sih?” tanya Reine makin bingung. “Pura-pura bodoh, lagi! Kau membuat situasiku jadi makin buruk!” amuk Luc menjadi. Reine masih tak mengerti. Dia menatap Luc dengan mengerutkan kening.


“Apa sih? Kenapa kau marah? Aku kan benaran enggak ngerti!” tanya Reine ngegas. “Kau!” teriak Luc kesal. “Luc, berhenti...” sergah seseorang.


Seketika, baik Luc maupun Reine tampak menatap ke arah asal suara. “Robin!” seru Reine kaget, karena kedatangan Robin yang terlalu tiba-tiba. “Rein, kamu baik-baik saja?” balasnya diikuti senyum khas.


Robin tampak melangkah mendekat ke arah Reine. “Tentu, aku baik-baik saja. Luc melindungiku dengan sangat baik” jawab Reine. “Jangan memujiku dengan wajah bodohmu itu! Menyebalkan sekali. Oh ya, bagaimana dengan tahanannya?” seru Luc yang berakhir mengalihkan pembicaraan ke arah Robin.


“Marc sedang mengurusnya. Tahanan itu... cukup menguras tenaga. Tanpa bantuan Max, aku mungkin tidak bisa menangkapnya” terang Robin. “Syukurlah...” ucap Reine lega. “Wanita ini...” gerutu Luc kembali sebal.


Sebelum Reine dan Luc bertengkar lagi, Robin segera membawa Reine ke ruangannya. Akan lebih kacau lagi, kalau kemarahan Reine mendadak bangkit. Robin tampak menanting tangan Reine dan melangkah ke arah lift.


“Tuan Deval...” ucap Luc sembari menunduk memberi hormat. Wajah Marc terlihat cemas. “Tuan, Robin berkata, tahanan yang kabur telah ditangkap dan sedang berada di bawah kewenangan anda. Benarkah, itu?” tanya Luc sopan. Marc masih celingukan, seperti memeriksa sesuatu. “Ya, aku sudah mengurusnya. Fokus saja pada yang di sini” jawab Marc memberi perintah.


“Tuan?” panggil Luc tampak bingung. Dia ikut celingukan, memastikan apa yang sedang dicari pimpinannya. “Tuan?” panggil Luc sekali lagi, usai tak menemukan petunjuk apapun.


“Ada yang bisa kubantu? Sepertinya, anda dari tadi sedang mencari-cari sesuatu” tawar Luc. “Oh, tidak. Aku hanya khawatir pada... Hm, tidak jadi. Kalau begitu, aku kembali ke ruangan. Setelah ini, Max akan membantumu membereskan Underwall. Aku harus pergi ke pertemuan mendadak lima menit lagi” jawab Marc. Dia seperti, sedang menahan sesuatu agar tak terucap dari mulutnya.


Marc hendak melangkah masuk ke arah lift yang terbuka. Langkahnya terhenti, ketika Luc mengatakan sesuatu. Sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, Luc berucap,

__ADS_1


“Jika anda mengkhawatirkan Rei, dia sedang berada di ruangan Robin. Tadi, Robin membawanya ke sana. Mungkin, dia berusaha menjelaskan perisai yang tadi, Reine keluarkan dari kedua tangannya. Wanita itu... masih menganggap dirinya manusia biasa”


“Ah, begitukah? Baguslah. Biar Robin yang mengatasi hal itu”


“Sungguh? Kalau aku jadi anda, lebih baik aku saja”


“Hah? Apa maksudmu?”


“Lebih baik, aku saja yang menjelaskannya. Dari pada membuat diriku tersiksa, karena terus mengkhawatirkannya”


“Tidak masalah. Lebih baik, Robin saja. Aku ini, tidak pandai berkata-kata”


“Tuan Deval!” seru Luc tak terima, karena Marc terlalu merendahkan diri seperti itu. Namun, Marc malah tersenyum cerah. “Tidak apa-apa, Luc. Kenyataan itu, memang benar. Jadi, aku akan muncul ketika Reine membutuhkanku. Lagi pula, bukankah kau bilang, aku tidak boleh terlalu dekat dengannya? Rahasiaku, bisa ketahuan nanti...” jelas Marc.


Luc mengangguk pelan. Dia tampak menunduk lemas. “Semoga hari anda menyenangkan, Tuan Deval...” pesan Luc. “Terima kasih. Ku serahkan padamu, ya?” balas Marc yang kemudian, menghilang dari balik lift.


Luc menghela nafas panjang. “Kalau saja, Tuan Deval tak terus mengurung diri...” keluhnya agak kesal. “Tentu saja itu tidak mungkin. Sebagai seorang pemimpin dari klan bangsawan Deval, dia harus menerima tanggung jawab besar sejak dia dinobatkan” celetuk seseorang dari belakang Luc. “Kau benar... Dia memiliki tanggung jawab itu” tanggap Luc.


“Suatu hari, dia mungkin akan berubah dengan adanya Reine...” lanjut orang tersebut. “Huah?!” teriak Luc kaget, saat berbalik, dia menemukan Max telah berdiri di sana. “Kapan kau tiba?!” amuknya bertambah kesal. “Kau lengah, Tuan Marchand...” ucap Max bernada ejekan.


Luc segera melemparkan sebuah tongkat ke arah Max. Dia terlalu kesal dengan Reine, sampai melampiaskannya pada Max. “Kau juga, bukankah kau harus sedikit demi sedikit mengurangi pertikaian konyolmu dengan My Honey? Duuh, kalau kau begitu terus, bisa-bisa kau juga jatuh hati padanya! Nambah pesaing, kan jadinya?” kata Max sambil menangkap tongkat dari Luc dengan cekatan.


“Apanya yang My Honey? Dia bukan Honey-mu! Dan lagi pula, siapa juga yang bakal naksir dengan wanita kikuk seperti dia?! Menyebalkan sekali!!!” teriak Luc. “Kita tidak akan tahu, bukan? Suatu saat, ketika itu muncul... hatimu akan meledak bagai balon di udara. Mendebarkan sekali~” ucap Max. “Dasar, kau hanya playboy cap kaleng. Ngapain aku mendengarkanmu? Cih! Kembali bekerja!” perintah Luc.

__ADS_1


Max tersenyum. “Baik, Pak Marchand...” balasnya penuh hormat. Luc tampak bekerja keras memindahkan para iblis yang masih bergeletakan tersebut ke tempatnya masing-masing. Sementara Max, dia tampak menyempatkan diri menatap ke arah langit-langit Underwall.


Suatu saat nanti, jika itu benar-benar terjadi... Apa yang akan kami lakukan, ya? Semoga saja, kami semua bisa bertahan hingga saat itu, batin Max.


__ADS_2