produk gagal

produk gagal
Bertemu


__ADS_3

Semakin langkah itu mendekat, Adrien semakin mundur. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan kursi rodanya. Namun, wanita itu tetap konsisten terhadap langkahnya. Dia berjalan lurus ke arah tepat, Adrien berada.


“Ja... Jangan mendekat!” perintah Adrien agak terbata-bata. Akan tetapi, yang namanya keras kepala, mungkin sudah merasuk ke dalam kebiasaan wanita itu. Dia terus berjalan hingga Adrien merasa terdesak.


Ketika jarak keduanya hanya menyisakan beberapa jengkal saja, wanita tersebut berhenti melangkah. Satu tangannya berada di dalam saku. Sementara yang satunya lagi, terlihat melambaikan tangan ke arahnya.


Menyapa.


Wanita tersebut menyapa ke arah Adrien. “Boleh aku duduk di sini?” tanyanya. “Si, siapa kau? Kenapa kau bisa ada di sini?” balas Adrien balik bertanya. “Oh, aku hanyalah seorang pengembara. Saat datang di desa ini untuk melepas penat, aku menemukan bukit ini. Suasananya yang nyaman, membuatku sedikit bernostalgia” terang si wanita.


“Kau... pengembara rupanya. Makanya, aku tidak pernah melihat wajahmu”


“Tentu, aku baru saja tiba. Biasanya, aku tidak tertarik dengan apapun. Tapi desa ini... benar-benar ingin membuatku tinggal”


“Aku sudah mengenal desa ini bertahun-tahun. Orangnya ramah, saling tolong menolong dan selalu melindungi sesama”


“Berapa lama, Tuan sudah tinggal di sini? Dari wajah Tuan sepertinya... Sudah lama sekali, bukan?”


Adrien tersenyum sembari mengangguk pelan. “Aku sudah berada di sini, ketika pertama kali datang dari tempat yang jauh. Tempat ini... Adalah kenangan yang sangat indah bagiku” jelas Adrien dengan senangnya. Si wanita tadi tampak mendengarkannya dengan seksama. Sesekali, dia terlihat mengangguk.


“Di sini juga... Tempatku bertemu dengannya” kenang Adrien melanjutkan. Wanita tadi tampak kaget. “Ooh, kekasih Tuan?” tebaknya. “Istriku...” jawabnya membenarkan. “Oooh, istri Tuan, toh. Apa dia juga... berada di sini?” tanya wanita itu sembari celingukan ke kanan dan kiri. Dia mencari sosok istri dari tuan tersebut.


Adrien malah tertawa pelan. “Dia sudah tidak ada di sini lagi. Kenapa kau mencarinya?” tanyanya terlihat tenang. “Kemana perginya istri Tuan? Dia... Pindah rumah? Apakah kalian... Jangan-jangan... Bercerai?” ujar wanita itu sambil menepuk mulutnya, usai terlalu kelewatan dalam menduga-duga.


“Tidak. Istriku... sudah meninggal” tanggapnya bernada datar. Meski tersenyum berusaha menghibur diri, Adrien tetap tak bisa menyembunyikan kesedihannya. “Melihat tenangnya Tuan, ku rasa, istri Tuan meninggal dalam keadaan yang bahagia, ya? Meninggal dalam pelukan Tuan. Benar, kan?” tebak wanita itu dengan percaya diri.


Adrien terlihat menunduk. Rupanya, kesedihan sudah tak dapat dia kontrol lagi. “Kalau begitu nyatanya, pasti aku sudah tidak akan kembali lagi ke desa ini” ungkapnya sedih. “Hah? Kenapa? Apakah itu berarti... Istri Tuan tidak meninggal dengan baik?”

__ADS_1


“Dia meninggal, di saat yang tidak tepat. Ketika aku masih memiliki kesalahan besar yang ku perbuat padanya. Ini adalah karmaku. Ku rasa, dia meninggalkanku agar aku bisa tersadar”


“Tapi, rupanya?”


“Aku semakin buruk”


“Kenapa Tuan berpikiran seperti itu? Bukankah, kematian istri Tuan, harusnya akan membuat Tuan berusaha lebih baik lagi? Agar dia merasa bangga atas pencapaian Tuan, meski hanya mengawasi dari atas sana”


“Sebab itu, orang-orang selalu memanggilku, si Bodoh. Aku meninggalkan dia, demi alasan yang tak masuk akal. Melindunginya? Hah?! Benar-benar pecundang!”


Wanita itu tampak mengerutkan keningnya. “Tunggu sebentar, Tuan... Ku kira, Tuan sangat mencintai istri Tuan. Lantas, mengapa Tuan tega meninggalkannya?” tanyanya bingung. “Dia... melahirkan seorang anak. Dan anak itu... Diwarisi oleh sebuah benda yang di keramatkan oleh dunia ini. Permata Perak. Kau pasti tahu, bukan?” terang Adrien.


Wanita tersebut sedang berpikir sejenak. Dia terdiam, agak lama usai berusaha memahami perkataan Adrien. “Tuan meninggalkan istri Tuan, karena dia telah melahirkan seorang anak perempuan yang darahnya, mengalir sebuah kekuatan dari Permata Perak? Kenapa? Bukankah, dia akan menjadi penyelamat dunia? Poin terpenting, dari seluruh kehidupan di negeri ini. Kenapa?” tanyanya lagi. Dia tak habis pikir dengan alasan yang dibuat oleh Adrien.


“Karena suatu hari nanti, anak itu pasti akan mati! Dia akan meninggalkan kami, demi dunia ini! Sementara kami... Hanyalah orang tua yang tidak bisa melakukan apapun. Kami tidak bisa membawanya ke mana pun. Meski, banyak sekali cara agar anak itu, tidak mati demi dunia ini. Persetan, dengan dunia terkutuk ini!”


“Aku tidak membencinya. Namun, dia yang telah membuat istriku hidup tidak tenang. Setiap hari, dia selalu tersiksa. Kapan anaknya akan diambil, demi dunia ini? Kapan dia akan menyerahkannya? Istriku hidup dengan berhati-hati. Dia selalu membuat anak itu bahagia, meski hanya sedetik saja. Kenapa? Toh, ketika dia di pergi nanti, dia pasti akan melupakan segalanya. Orang bilang, anak dengan darah istimewa, ingatan masa lalunya akan diambil, ketika melindungi dunia”


“Karena itukah, anda meninggalkannya”


“Aku tidak ingin, semua kebahagiaan yang telah kami lalui bersama dengan anak itu, akan dibalas dengan kalimat, “siapa kau?” dan “aku tidak mengingatmu”. Namun rupanya, istriku berbeda dengan jalan yang ku ambil. Aku merencanakan untuk meninggalkan anak itu di desa ini, setelah itu kami kembali ke dunia manusia. Sayangnya, istriku memilih untuk tetap tinggal. Dan dia... Meninggalkanku untuk selamanya, sebagai balasan atas semua sikap pecundangku”


Adrien tak sanggup berkata-kata lagi. Dalam hatinya, hanya ada segudang penyesalan dan berbagai alasan untuk menenangkan dirinya. Akan tetapi tiba-tiba, wanita itu bangkit dari tempat duduknya.


“Kalau seperti itu kisahmu, sepertinya kau tidak bakal di maafkan, sih... Sampai kapanpun. Kau meninggalkan mereka, demi sebuah ke-tidak pastian. Kenapa ku bilang tidak pasti? Sebab, apakah kau yakin, anak itu akan melupakanmu suatu saat nanti? Anda adalah ayahnya, jika anda memperlakukannya dengan baik, menyayanginya dan selalu memperhatikannya, aku yakin. Aku berani taruhan, anak itu tidak akan pernah melupakannya, meski hari itu adalah hari kematiannya”


“Kenapa kau sangat yakin? Seakan-akan, kau bisa mengalahkan para dewa”

__ADS_1


“Aku berteman dekat, dengan salah satunya. Lagi pula, dari mana asal rumor itu? Jika dunia ini dalam keadaan damai, bukankah anak itu akan tetap bertahan? Kenapa gegabah sekali, meninggalkannya begitu saja? Dasar!”


“Dan yang lebih mengkhawatirkan saat ini, anak itu... Sedang berada di sini sekarang”


Wanita tersebut tampak mengerutkan keningnya. “Kenapa itu menjadi hal yang mengkhawatirkan? Anda... tidak sedang malu, bukan? Karena anda meninggalkannya begitu saja, sekarang anak itu malah datang. Melihat dari wajah anda, anda sedang sakit ya? Dia datang, untuk menjenguk? Benarkan? Wah... Dia anak yang berhati besar. Hebat. Anak siapa itu?” tebaknya, bak cenayang. “Kenapa kau bisa tahu semuanya? Dan lagi, tentu saja, itu anakku! Bersikap baik dan berhati besar. Hal yang selalu ku katakan padanya, setiap hari” tanggap Adrien bangga.


“Ngomong-ngomong, sudah berapa lama anda meninggalkannya?”


“Sejak dia berumur lima tahun”


“Apa?! Anda adalah orang tua paling tidak tahu diri di seluruh dunia!”


“A, apa? Beraninya anak ini... Si, siapa bilang, aku meninggalkannya begitu saja? Hah?! Justru, aku brengsek, karena telah meninggalkan istriku bersama anak itu. Tapi kalau anak itu... Setiap hari, setiap jam, setiap menit dan setiap detik... Aku selalu mengawasinya. Meski, aku berada di tempat yang jauh. Dan syukurlah, terakhir, dia berada di tempat yang aman. Walau prosesnya... agak membuatku cemas”


“Maksud anda di Underwall?! Underwall adalah tempat yang aman? Dia seorang wanita, Tuan!”


“Aku mengenal mereka! Ada dua Pemburu Kematian, meski ada dua iblis pengisap darah di sana. Tapi, aku yakin, dia akan terlindungi oleh keempatnya. Oh, ya, dari tadi, kau selalu menebak semuanya dengan benar. Apakah kau kebetulan... seorang peramal yang hebat, seperti yang diramalkan banyak orang?”


Adrien terkejut, saat melihat wanita itu malah tertawa. “Kau meremehkanku?” tanyanya waspada. “Aku memang peramal. Katakanlah begitu. Tapi sayangnya, kekuatanku hanya bisa meramal kehidupanmu saja” ungkap wanita tersebut. Adrien mengerutkan keningnya. “Kenapa bisa begitu?” tanyanya bingung.


Wanita itu tampak berbalik. Dia melangkah mulai menjauh dari Adrien. “Anda... tidak ingin menemui anak itu?” tanyanya tanpa berbalik, meski langkahnya terhenti. “Tentu, akan ku temui dia, meski mungkin... dia akan menolak. Konsekuensi yang harus ku terima. Lagi pula, waktuku...” “Anda selalu saja berbicara tentang ketidak-pastian. Selagi hidup, tolong jangan pernah hilang harapan. Demi dia, bukankah anda harus bertahan? Sebab, hanya anda yang dia miliki. Dan hanya dia, yang anda miliki” potong wanita tersebut.


Adrien mengangguk. “Kau benar. Demi dia, aku akan bertahan. Pengembara, entah kenapa... Aku sangat nyaman saat berbicara denganmu. Seperti... Seperti apa ya?” ucapnya sembari berpikir. “Seperti berbicara dengan seseorang yang anda kenal lama? Seseorang yang datang dari masa lalu anda?” tebak wanita tersebut. “Kau benar-benar cenayang yang hebat!” puji Adrien puas.


“Kalau begitu, biarkan aku menyapa anda dengan benar” kata wanita tersebut mendadak. Dia bahkan, tak berbalik sama sekali, sejak tadi. “Menyapa dengan benar? Bukankah, kau sudah melakukannya tadi? Tapi jika itu yang kau inginkan, silakan...” tanggap Adrien tak keberatan.


Wanita tersebut perlahan berbalik kembali. Dengan jarak yang agak jauh, dia tersenyum. “Sepertinya, kau akan baik-baik saja di sini. Semoga, kau masih mengingatku” ucapnya. Adrien mengerutkan keningnya dengan ekspresi bingung.

__ADS_1


“Halo, ayah. Kabarmu baik, bukan? Sudah lama tidak bertemu ya? Aku... Reine. Anak itu” sapa wanita yang tak lain adalah Reine tersebut. Dan seperti yang sudah di duga, Adrien terkejut hingga hampir saja jatuh dari kursi rodanya. “Rei... Kamu...” jawabnya terbata.


__ADS_2