produk gagal

produk gagal
Serangan di Pusat Kota


__ADS_3

Ternyata, tidak bisa. Orang ini, sepertinya sudah tahu kelemahan terbesarku. Mau direinkarnasi berapa kalipun, kalau aku masih tetap berurusan dengan orang yang namanya Gray Nicholas Émeric Bouthillier, semua akan sia-sia. Aku tetap langsung luluh, saat dia bertindak seperti ini, batin Carine.


Hanya cukup dipuaskan dengan kalimat,


“Maafkan aku, harusnya aku tidak memperlakukanmu seperti itu”


Carine tak bisa berkata-kata lagi. Jangankan membalaskan dendam saat bertemu dengan Gray lagi. Hanya dengan menatap mata orang itu saja, dia sudah tak mampu. Payah sekali.


“Nona... Kupu-kupu...”


“Aku ada di mana saat ini?!”


Carine tersentak, usai mendengar ucapan seseorang barusan. Sedari tadi, dia melamunkan hal yang rumit. Carine segera menatap ke arah asal suara. Betapa terkejutnya Carine, ketika dia menyadari seseorang telah bangun dari ranjang pemulihan.


“Marc? Kau sudah bangun?!” pekik Carine agak syok. Marc adalah orang terakhir yang baru saja dirawat dalam ruang perawatan. Carine kira, dia akan menjadi orang terakhir yang pulih kembali.


Namun, perkiraan itu kini telah terbantahkan. Carine buru-buru memeriksa keadaan Marc. Dia juga memastikan, luka yang diterima Marc telah sedikit demi sedikit pulih.


Carine hanya menggelengkan kepala, setelah mengetahui keadaan Marc. Pria itu, benar-benar sudah sembuh. Yah, meski belum bisa dinyatakan sembuh total, karena masih agak lemah.


“Sebenarnya, ini ada di mana?” tanya Marc lagi. Sepertinya, orang itu benar-benar penasaran. “Hmm, aku tidak bisa bilang detailnya, sih. Nanti kalau kau sudah sembuh benar, pasti semuanya akan terjawab. Untuk saat ini, kau masih lemah. Jadi, beristirahatlah di sini dulu. Para tabib akan mengawasi” jelas Carine panjang.


Dan benar saja, setelah Carine berkata demikian, Marc akhirnya tertidur kembali. Pria itu memang masih belum bisa bergerak terlalu banyak. Bisa dikatakan, luka yang diterimanya benar-benar parah. Sehingga, kemampuannya untuk memulihkan diri, masih belum bisa dia gunakan.


Melihat Marc yang begitu damai dalam tidurnya, Carine merasa tidak tega. Dengan lembut, Carine mengelus rambut Marc. “Maaf ya, aku tidak bisa menepati janji. Harusnya, aku bisa membantumu. Minimal... mempertahankan Reine... Maafkan aku” sesalnya kemudian.

__ADS_1


“Nona...” panggil Raven dari pintu masuk ruangan. Carine segera menoleh ke arah Raven. “Yang mulia, memanggil anda. Dia sudah menunggu di ruangannya” lanjut Raven. Tanpa berkata-kata, Carine hanya mengangguk pelan.


Sekali lagi, dia menatap ke arah Marc. “Rav, tolong terus pantau dia. Hm, tidak, pantau juga yang lainnya. Bagaimana pun juga, anak-anak ini harus selamat” perintah Carine. “Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Nona” balas Raven bersungguh-sungguh.


Usai menepuk bahu Raven dengan lembut, Carine segera melangkah ke tempat Gray berada. Sudah berhari-hari, Carine tinggal di kastil milik Gray ini. Tak hanya sekedar tinggal, di sana dia sedang mengawasi keadaan Marc dan yang lain.


Juga, turut membasmi para iblis dan siluman yang ditinggalkan oleh Penyihir hitam. Jangan lupakan itu. Tiap hari, Carine terus berurusan dengan mereka yang selalu muncul. Di berbagai kota maupun desa. Kemunculan mereka pun, tak dapat ditebak.


“Hanya dengan sebuah radar yang dimiliki oleh Gray, kita baru bisa mengetahui kemunculan mereka” ujar Carine, mengoceh dengan dirinya sendiri di sepanjang perjalanan. “Tapi, yang jadi masalahnya adalah... Gray tidak mau membagi radar itu denganku?! Kekanak-kanakan, bukan? Menyebalkan sekali! Harusnya, dia tidak seegois itu, hingga hanya memberiku perintah! Carine, tolong kau atasi yang di sana ya? Atasi yang di situ, ya? Carine, jangan lupa di sana! Carine! Carine! Duh!!” omelnya makin kesal. Meski sedang berjalan, Carine masih bisa memukul-mukul angin lewat di depannya, yang sama sekali tak bersalah.


“Sekarang, mau apa dia memanggilku ke ruangannya? Hah?!” ujar Carine sembari berbelok. Dari sini, ruangan Gray sudah terlihat. Tak beberapa lama, dia telah tiba.


Ketuk sekali, tak ada jawaban.


Dua kali.


“Orang ini enggak sedang tidur, kan?” tanya Carine mulai merasa kesal. Tanpa ba-bi-bu lagi, Carine segera membuka pintu ruangan tersebut. Dia jadi makin kesal, saat mengetahui isi ruangan.


“Kosong melompong?!” seru Carine tak habis pikir. “Katanya tadi memanggilku, kenapa sekarang dia malah tidak ada di tempat sih?!” dengus Carine. Dia melangkah seenak jiwa, melihat-lihat ke sekeliling.


Ruangan itu berukuran sangat besar. Ada sebuah sofa, tak jauh dari pintu masuk. Sebuah meja kaca pula.


Agak mengambil beberapa langkah dari sana, ada sebuah kursi milik Gray. Kursi pribadi dengan bahan bagus, berukuran besar yang nyaman. Di depan kursi, ada sebuah meja yang terbuat dari kayu berkualitas terbaik.


Namun, Carine lebih tertarik dengan sebuah hiasan dinding. Hiasan tersebut hanyalah sebuah peta. Karena gambar dari sebuah peta di zaman kuno Abcaestter, Carine malah semakin tertarik untuk melihat dari dekat. Dia berjalan ke arah belakang kursi, tempat hiasan itu di gantungkan.

__ADS_1


Saat tak sengaja menyentuh hiasannya, tiba-tiba saja hiasan tersebut malah jatuh. “Oh, wah, kenapa bisa jatuh sih? Padahal, aku cuman menyentuhnya pelan. Bisa dimarahi, nih” kata Carine sambil buru-buru mengambil hiasan yang jatuh. Niatnya, Carine ingin mengembalikan hiasan itu seperti semula.


Akan tetapi, jatuhnya hiasan tersebut menjadi jawaban dari kekesalan Carine selama ini. Jawaban yang harusnya, dia dengan dari Gray secara langsung. Dengan adanya kejadian ini, Carine mungkin tak lagi membutuhkan jawaban apapun dari Gray.


“Ternyata, di sini kau rupanya... Radar...” ucap Carine. Beberapa detik kemudian, dia tersenyum cerah. Kali ini, dia benar-benar bangga dengan apa yang telah ditemukannya.


Dengan langkah cepat, Carine mengamati radar tersebut. Lagi- lagi, ada hal yang selalu saja menarik perhatian Carine. “Lho, bukannya ini... Pusat kota? Kenapa warnanya... jadi merah-merah begini?” ujarnya berpikir.


~~


“Tim Beta, alihkan perhatiannya. Aku aku mencoba untuk menyerang dari belakang!” perintah Gray. Saat ini, pusat kota sedang di serang. Banyak sekali gedung-gedung yang runtuh, akibat serangan dari para iblis yang mendadak muncul dari bawah tanah.


Seluruh pasukan, sudah di turunkan. Mengingat, banyaknya penduduk yang masih kocar-kacir di sekitar tempat kejadian. Tim Alpha pun, turut diturunkan.


Iblis yang menyerang kali ini, cukup tangguh. Dia bisa membelah diri menjadi beberapa bagian, meski telah di hancurkan. Namun, fokus Gray bukanlah itu saja.


Iblis tersebut rupanya bisa menyerap energi manusia, cukup dengan partikel kecil yang telah dihancurkan oleh Gray tadi. Partikel tersebut juga bisa berubah menjadi iblis lain. Sehingga, Tim Beta sudah tidak dapat bergerak. Akibat tercekik oleh partikel iblis, yang kini telah berubah menjadi seekor gurita raksasa.


“Komandan! Jangan kemari! Saya akan mengatasinya!” teriak salah satu anggota Tim Beta. Mereka benar-benar kewalahan dengan tentakel gurita yang semakin membuat sesak, tapi tetap terus berjuang. “Bertahanlah, aku akan membebaskanmu!” balas Gray. Segera, dia melangkah ke arah anggota Tim Beta yang sedang kesulitan.


Akan tetapi, karena anggota tersebut sudah semakin henti nafas, akibat cengkeraman tentakel, anggota itu langsung mengerahkan pedangnya. Dia segera memotong tentakel tersebut.


“Hentikan!” teriak Gray sembari berlari. Bukannya  patuh, anggota itu malah terus berusaha memotong tentakel dengan pedangnya. “Jangan potong tentakelnya!!!” pekik Gray.


Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur. Jangankan bisa lepas dari tentakel yang telah terpotong, tentakel tersebut malah tumbuh kembali. Dan tentu, kekuatannya bertambah dua kali lipat menjadi lebih kuat.

__ADS_1


“Komandan!!!!”


__ADS_2