produk gagal

produk gagal
Desa Kuno


__ADS_3

“Kita sudah sampai, Tuan. Ini adalah gapura utama menuju Desa Kuno” ucap Kusir sembari membukakan pintu untuk Marc dan Reine. “Oh, ya. Terima kasih” balas Marc yang kemudian segera turun dari kereta kuda. Tak lupa, dia membantu Reine yang juga sedang melangkah turun.


“Semoga langit melindungi kita” kata si Kusir. Pria paruh baya tersebut tampak menurunkan topinya sejenak, sebagai salam hormat. “Semoga langit melindungi kita” jawab Marc turut menunduk memberi hormat.


Reine yang tak tahu apa-apa, hanya ikut menundukkan kepala turut memberi hormat. Ketika Marc dan dirinya berbalik untuk meneruskan langkah, Marc sedikit memberi penjelasan pada Reine. “Yang tadi, salam khusus dari para penduduk desa kuno. Meski mereka tinggal di tempat terpencil dan tak mau mempelajari zaman yang lebih modern, penduduk di sana masih sangat mempercayai ajaran mereka. Terutama, tentang adanya langit yang selalu mengawasi semua perbuatan yang mereka lakukan” terang Marc.


Reine mengangguk mengerti. “Rupanya, mereka penduduk yang taat” tanggapnya. Marc mengangguk setuju dengan ucapan Reine barusan. Desa Kuno memang dikenal sebagai desa yang baik. Selain taat, penduduknya juga ramah dan sopan. Mereka menjaga satu sama lain, saling membantu dan bergotong royong dengan sesamanya.


“Marc!” panggil Robin agak histeris, ketika melihat kedatangan Marc. Pria itu, masih berada di Desa Kuno ternyata. Dia belum pulang juga, setelah memberi kabar mengenai ayah Reine.


Ketika Robin menyadari keberadaan Reine, dia perlahan mundur. Bertemu dengan Reine secepat ini, membuatnya agak tak siap. Mengingat, apa yang telah dilakukannya beberapa minggu yang lalu, membuat Reine selalu menarik diri.


“Rein, kamu... juga ada di sini rupanya. Ku kira, kau tidak mengajaknya kemari untuk melihat ayahnya secara langsung, Marc” kata Robin beralih ke arah Marc. “Ku pikir, situasinya tidak bagus, saat aku menerima surat darimu. Jadi, ku putuskan untuk membawanya turut serta” ujar Marc menjelaskan, usai sejenak menghela nafas.


Robin mengangguk lesu. “Tuan Berger... sedang dalam kondisi yang tidak baik. Persis seperti, yang ku tuliskan pada suratnya” ungkapnya. “Kalau begitu, di mana dia berada? Bisa kita langsung melihat keadaannya?” tanya Marc agak terburu-buru. Dia tampak khawatir dengan kondisi ayah Reine.


Robin mengangguk. Tak lama, dia segera melangkah ke tempat ayah Reine sedang di rawat. Sementara Marc dan Reine, tampak mengikuti langkah Robin. Reine terlihat lebih pendiam dari sebelumnya, ketika masih berada dalam kereta kuda.

__ADS_1


Kurang dari beberapa menit saja, dia akan segera bertemu dengan ayahnya. Pria yang telah meninggalkan dirinya dan sang ibu, bertahun-tahun lamanya. Mulai dari Reine menginjak umur sepuluh tahun hingga hari ini.


Pernah Reine bertemu dengan ayahnya, kala itu dia sudah berumur 18 tahun. Tepat di hari kematian ibunya. Akan tetapi, Reine tidak bertemu langsung atau pun berhadapan. Reine hanya sekilas melihat wajah ayahnya, yang tak jauh dari balik pepohonan. Kemudian, Reine tak pernah melihatnya lagi.


Sebelum mendaftarkan diri ke Luxury Hotel, Reine mendapatkan kabar kalau ayahnya bekerja di hotel mewah tersebut. Sebab itu, Reine langsung mendaftarkan diri di sana, usai melihat profil hotel yang aman dari para iblis. Sayangnya, dia tak menemukan sang ayah di sana.


Adrien Berger, nama ayah Reine. Dikenal sebagai pemburu para iblis yang hanya mengandalkan belati. Dia bukan dari klan siluman, iblis atau pun seorang Pemburu Kematian. Dia hanyalah manusia biasa, yang berhasil melewati portal antara dunia manusia dengan dunia para iblis.


Setelah melewati portal, dia bertemu dengan ibu Reine, Sara Dallaire. Berkat latihan Sara, Adrien menjadi manusia yang kuat dan dapat mengalahkan para iblis yang mengganggu. Karena dia ingin melindungi dunia manusia, Adrien kembali ke sana.


Lima tahun setelahnya, Perang Vosre merebak. Para klan saling membunuh, membabi buta dan menghancurkan tempat tinggal mereka sendiri. Para penyihir, yang dulunya telah berjasa membuat ruang hampa untuk tempat tinggal para iblis pun, satu per satu mulai di musnahkan. Para iblis menganggap, penyihir adalah penghalang bagi mereka.


Para iblis ingin menguasai dunia dengan membunuh yang paling lemah. Perang Vosre, menjadikan klan pengisap darah, Deval, menjadi penguasa dunia para iblis. Karena masih ada beberapa klan dari iblis yang tidak terima, mereka masih mencoba untuk mengalahkan klan Deval.


Karena terus terjadi pembataian masal, Adrien membawa Sara kembali ke dunia manusia. Di dunia tersebut, mereka akhirnya bisa hidup dengan tenang dan damai kembali. Sebab, dunia manusia memiliki perisai ketat yang dibangun oleh para Pemburu Kematian, agar iblis tidak masuk ke dalam sana.


Kembali ke Reine. Awalnya, nama belakang Reine bukanlah Dallaire, melainkan Berger, karena mengikuti garis keturunan sang ayah. Namun, karena Sara ingin melupakan Adrien, usai pria itu menghilang tak ada kabar, Sara pun mengganti nama belakang Reine menjadi nama keluarganya. Reine Dallaire.

__ADS_1


Reine melihat sebuah rumah yang di atasnya terdapat sebuah cerobong yang mengeluarkan kepulan asap hitam. Asap itu, tampak naik ke atas langit yang cerah. Reine juga melihat, di sekeliling tempatnya melangkah, banyak sekali orang yang sedang berdagang. Kebetulan, jalan yang Reine lewati itu adalah sebuah pasar para penduduk Desa Kuno. Benar-benar atmosfer yang menenangkan, seperti sedang pulang ke kampung halaman.


Tak lama setelah melangkah, Robin akhirnya berhenti di depan sebuah rumah bercerobong asap lainnya. Kalau di kira-kira, rumah yang pintunya sedang Robin ketuk itu, ukurannya lebih besar dari pada rumah-rumah lainnya. Rumah itu seperti, rumah seseorang yang penting.


“Oh, Robin, kau rupanya” sapa seseorang, ketika pintu rumah terbuka. “Tuan, mereka... sudah datang” jawab Robin. “Oh, benarkah?” tanggap orang itu. Reine tidak tahu siapa orang yang sedang berbicara tersebut, karena orang itu terus berada di balik pintu. Yang pasti, itu bukanlah suara ayahnya.


Akhirnya, Reine berhenti penasaran. Sang pemilik rumah, muncul dari balik pintunya. “Salam, Tuan Deval. Anda sudah jauh-jauh datang kemari. Selamat datang di Desa Kuno. Mari, silakan masuk” sapa si pemilik rumah tadi. Dia hanya seorang pria tua berumur kurang lebih 60 tahunan. Berkumis dan berjanggut lebat, agak botak dan ramah.


Senyum si pemilik rumah tak berhenti merekah hingga dia menatap ke arah Reine. “Nona Dallaire, ya?” tebaknya tenang. Reine mencoba untuk menundukkan kepala, sebagai tanda hormat. “Salam, Tuan Kepala Desa. Sebelumnya, kami mohon maaf telah datang tanpa memberi pesan. Kedatangan kami kemari, untuk melihat keadaan Tuan Adrien Berger. Rekan kami memberi kabar bahwa, Tuan Berger sedang dalam keadaan yang buruk. Jadi, saya memutuskan pergi kemari bersama dengan Reine, putri Tuan Berger. Seperti yang sudah anda ketahui...” jelas Marc detail. Ketika mengatakan hal itu, tatapan Marc hingga pengucapan kalimatnya, terdengar bijak dan penuh dengan kesopanan. Iblis dari klan bangsawan, jelas terlihat berbeda.


Rupanya, pria pemilik rumah itu adalah Kepala Desa. Dia, terlihat sudah mendengar bahwa Reine, akan berada di sana sekarang. Mungkin ayahnya, sudah banyak bercerita mengenai Reine pada Kepala Desa.


Tak lama setelah berbasa-basi sejenak, Kepala Desa mempersilakan para tamunya untuk masuk. Kepala Desa juga menyuguhkan beberapa hidangan untuk menjamu para tamunya. Akan tetapi, Marc bukanlah tipe pria yang senang mengulur-ulur waktu. Dia meminta pada Kepala Desa, agar di antarkan ke tempat Adrien berada.


Mendengar permintaan Marc yang tegas, Kepala Desa akhirnya mengantar mereka ke tempat Adrien tinggal. Rumahnya tak jauh. Hanya beberapa menit dari rumah si Kepala Desa. Tepatnya, di sebuah rumah sederhana yang di pintunya terpampang sebuah papan kayu,


“Balai Pengobatan Desa Kuno”

__ADS_1


__ADS_2