produk gagal

produk gagal
Hotel Para Iblis


__ADS_3

"Hai, Miss Dallaire. Bagaimana kabarmu? Keadaanmu saat ini, sudah jauh lebih baik, bukan? Aku... mengkhawatirkanmu” sapa Direktur Golden Luxury Hotel, Marc Wilfrid Deval yang akrab dipanggil, Marc. Reine syok, usai melihat wajah Direkturnya. Baru kali ini, dia melihat seseorang yang ‘lain’, tampak duduk di kursi milik direkturnya.


“Dia, Direktur Golden Luxury Hotel. Tempat anda bekerja. Benarkan, Miss Dallaire?” ujar Robin. “Tunggu...” ucap Reine pelan. Robin tampak mengerutkan kening, saat melihat Reine sedang celingukan. Seperti, mencari-cari sesuatu.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Robin. “Sapu. Aku butuh sapu” jawab Reine. Tanpa pikir panjang, Robin menatap ke arah Luc. Kemudian, Luc menatap Marc, menunggu persetujuan. “Carikan” pinta Marc.


Seketika, Luc langsung bergegas mencari sebuah sapu. Untungnya, di ruangan tersebut telah tersedia. Tepatnya, berada di balik rak buku milik Marc. Setelah ketemu, Luc segera memberikannya pada Reine.


“Hm. Terima kasih” ucap Reine diikuti senyum ramah. Luc mengangguk pelan, penuh dengan rasa hormat. Tanpa membuang waktu lagi, Reine segera menyerang Marc menggunakan sapu tersebut.


Baik Robin maupun Luc, keduanya kaget bukan main. Akan tetapi, Reine seolah tak peduli dengan keterkejutan mereka. Dia tetap memukul Marc dengan sapu.


“Pergi! Pergi, kau iblis menyebalkan! Pergi dan kembalikan Pak Deval seperti semula!!” pekik Reine mengerahkan seluruh tenaganya. Dia berkaca dari Lady Dia. Ketika wanita berselendang merah kemarin datang, Lady Dia hanya menggunakan sapu untuk mengusirnya. Mungkin, yang ini bisa diusir juga.


Sebab setahu Reine, Direkturnya merupakan seorang pria dengan kisaran usia 50-an. Begitu melihat wajah Marc, wajar jika Reine dibuat syok. Dia pikir, Marc sedang menyamar dan menyerang hotel dengan melenyapkan para staf. Akibat dari kesalahpahaman tersebut, dia berani mengerahkan kekuatannya untuk memukul Marc dengan sapu.


Robin segera menghentikannya. Akan tetapi, Luc sudah buru-buru mengacungkan pistol ke arah Reine. Menyadari adanya pistol, Reine tampak mengangkat tangan. Wajahnya berubah panik dan ketakutan.


“Mundur! Simpan senjatamu, Luc!” perintah Robin menenangkan. Namun, Luc yang keras kepala, tetap mengacungkan pistol. Tindakan Reine yang dengan beraninya, memukul Marc menggunakan sapu adalah hal yang bisa dikatakan sebagai ancaman oleh Luc. Karena tugasnya, selain menjadi asisten, Luc juga merupakan pengawal Marc.

__ADS_1


“Simpan senjatamu! Kau membuat Miss Dallaire ketakutan!” seru Robin. “Dia mencoba membunuh Tuan Deval!” teriak Luc tegas. “Dia tidak akan mati... hanya dengan sebuah gagang sapu, Luc Clovis Robiquet! Jangan remehkan Direkturmu!” balas Robin tak kalah ngotot sampai harus menyebut nama Luc, selengkap-lengkapnya.


Tak ingin masalah makin besar, Marc mencoba mencairkan suasana. “Luc, turunkan senjatamu...” pintanya. “Tuan!” seru Luc bersikeras. Namun, Marc tampak menggeleng pelan.


Luc menatap ke arah Reine. Wanita itu, terlihat melindungi diri dengan bertiarap sembari menutupi kedua telinganya. Reine cukup ketakutan, melihat pistol tersebut. Meski Luc, belum benar-benar menyentuh pelatuknya.


Dengan berat hati, Luc menurunkan pistolnya. Marc mengerti tentang apa yang dipikirkan oleh Luc. Akan tetapi, melindunginya di waktu yang tidak tepat seperti sekarang ini, merupakan hal yang salah. Reine juga harus tahu, tentang segala sesuatu yang selama ini menjadi rahasia hotel.


“Maafkan aku, Miss Dallaire. Luc sudah membuatmu takut. Padahal harusnya, apa yang kamu lakukan barusan itu... sudah sewajarnya kamu lakukan” sesal Marc sambil menunduk penuh hormat. “Tuan, apa yang anda...?” tanya Luc tak habis pikir hingga dia, kehilangan kata-katanya. Mau tak mau, Luc pun ikut menunduk. Tak lama, Robin juga tampak menunduk hormat.


Sebaliknya, Reine malah terlihat mengerutkan kening. Dia makin heran, dengan apa yang terjadi di hadapannya saat ini. “Maaf? Untuk apa? Lebih baik, jelaskan saja apa yang terjadi. Itu sudah lebih dari cukup” ucap Reine.


Marc menatap ke arah Reine kembali. “Pertama, ada baiknya kalau aku menjelaskan tentang orang yang menempati posisi ini. Anda, juga sangat penasaran bukan? Ke mana pria paruh baya yang biasa berada di kursi ini...” ujarnya memulai. Reine mengangguk bersemangat.


Mengetahui kebenaran tersebut, Reine rasanya mau pingsan. Bagaimana bisa... Pria tampan bernama Marc yang ada di hadapannya itu, sebenarnya merupakan Direktur 50 tahunan. “Kau pria tua itu?! Sumpah, jujur saja... Aku kecewa” tanggap Reine terucap begitu saja.


Kali ini, Marc tampak tertawa pelan. “Bukan. Aku belum selesai bicara. Maksudku, aku memperkerjakan dia untuk menjadi pimpinan di sana” ucapnya melanjutkan yang tadi. Selama menjelaskan, Marc tak tahan melihat ekspresi Reine yang selalu tampak kaget. Karena itu, Marc sedikit tidak fokus hingga salah bicara. Oke, kita anggap, itu wajar. Ya.


Reine mengangguk mengerti, usai mendengar penjelasan Marc barusan. Hatinya, tak jadi kecewa. Dia beralih menuju pertanyaan selanjutnya.

__ADS_1


“Lalu, maksudnya kata, ‘di sana’ itu apa?”


“Di sana. Ah, ya... Jadi, hotel ini awalnya, merupakan penginapan bagi para iblis pengisap darah lain. Seiring berjalannya waktu, banyak iblis yang menjadi tak tahu aturan. Mereka menggunakan penginapan sebagai alat, untuk memuaskan hasrat mereka menghisap darah manusia. Kamu pasti ingat, sejarah kelam dari hotel-hotel berbintang. Termasuk, hotel ini”


“Di dalam hotel ini, pernah ditemukan beberapa mayat tersimpan di beberapa kamar VIP. Karena sejarah itu, hotel harus kehilangan popularitas selama beberapa tahun”


“Benar. Setelah hotel jatuh ke tanganku, aku merubahnya menjadi hotel khusus manusia. Namun jika kamu iblis, kamu pasti bisa melihat. Ada sebuah lorong, yang memisahkan antara hotel untuk manusia dan hotel untuk para iblis”


“Lorong? Oh, maksud anda, lorong yang menuju ke arah pintu belakang hotel?”


“Benar. Di sana, ada semacam portal. Kalau kamu iblis, kamu akan melihat portal itu. Dan itu, pintu belakang hotel milik para iblis. Sementara pintu masuknya, sama dengan pintu masuk para tamu manusia lainnya”


Reine mengerutkan keningnya. “Terus, bukankah itu akan sama saja jatuhnya? Bagaimana kalau para tamu bercampur?” tanyanya masih agak bingung. “Tidak akan, karena portal itulah yang menjadi filternya. Ketika pintu dibuka, portal akan secara otomatis memindai. Di mana harusnya para tamu menginap. Di tempat manusia atau di tempat para iblis” jawab Robin turut menjelaskan.


“Jadi sebenarnya, apa yang anda inginkan dari itu semua? Tentu, tidak hanya karena alasan bisnis, bukan? Anda pasti, memiliki niat yang lain” tebak Reine. Seketika, Robin dan Marc tampak saling bertatapan. Tak lama, Marc tersenyum ke arah Reine.


“Sudah kuduga, kamu memang orang yang tepat” ucap Marc. “Maksudnya?” tanya Reine tak paham. “Kami sudah lama ingin merekrut pegawai dari manusia yang kuat seperti anda, Miss Dallaire. Bagaimana kalau anda... bergabung dengan hotel kami?” tawar Marc sembari mengulurkan tangannya.


Reine lagi-lagi tampak mengerutkan kening. “Bergabung dengan hotel anda?” tanyanya tak habis pikir. Marc tampak mengangguk. Reine terdiam. Dia tak menjawab. Sepertinya, masih berpikir sejenak.

__ADS_1


Tak lama, Reine akhirnya selesai berpikir. Dia menatap ke arah Marc. Tatapannya serius. Kemudian dia bertanya,


“Konsekuensi apa yang harus ku lalui, jika aku bergabung dengan hotel anda?”


__ADS_2