produk gagal

produk gagal
Ungkapan Mendadak


__ADS_3

Lagi-lagi, Gray mengomelinya tanpa henti. Carine mendengarkannya, bak angin lewat. “Kau dengar, aku?!” tegas Gray, mengintimidasi agar Carine menganggap setiap perkataanya tak main-main.


“Baiklah, baik, anggap saja itu sebuah peringatan. Dan sekarang, aku akan menaati segala ucapanmu. Tapi, ya,,, kalau sedang dalam keadaan gawat saja” tanggap Carine santai. “Carine!” teriak Gray kesal, usai merasa dipermainkan. Carine bersedekap, dia tetap terlihat tak peduli.


“Yang mulia, hanya ada dua pilihan saat ini. Mendengar atau tetap terus berbicara” balas Carine. “Apa maksudmu?” tanya Gray mulai tertarik. Carine tersenyum puas, setelah melihat tanggapan dari Gray. “Soal penyihir hitam. Anda sudah tahu belum, kalau penyihir itu berasal dari klan pengisap darah?” ucap Carine memulai pembicaraan menariknya.


Gray yang kini giliran bersedekap. Dia bersandar dengan santai di tempat duduknya. “Bagaimana kau bisa menebak hal yang seperti itu, dengan begitu mudahnya?” kata Gray balik bertanya.


“Rupanya, anda juga masih belum tahu. Siluman banteng raksasa yang tadi, sudah pernah dimusnahkan oleh Marc. Lalu, jika tidak ada hubungannya dengan Penyihir hitam... tidak mungkin, kan dia bisa muncul dan menyerang kota? Seperti yang sudah kita duga, sebelum dimusnahkan, Penyihir hitam lebih dulu meluncurkan sihirnya, Dan... terjadilah kemunculan monster di mana-mana”


“Lalu, bagaiman kau akan mengaitkan itu pada klan pengisap darah?”


“Simpel saja. Sebelum Penyihir hitam muncul, nyawa Reine bolak-balik terancam. Memang, saat itu tidak ada bukti yang mengarah ke mereka. Namun, ada satu hal yang membuat semuanya terlihat vulgar. Di saat Arthur begitu ngototnya, menyerang Reine meski di dalam Underwall sekalipun. Bukankah itu, serangan yang amat sangat berani?”


“Memang, itu patut dicurigai. Tapi, untuk mencurigai klan Archeneux sebagai dalang di balik terbentuknya Penyihir hitam kembali... bukankah cukup mengejutkan?”


“Bagaimana bila... kita beralih untuk membicarakan klan lain? Misalnya, klan Deval?”


“Aku menitipkan Marc di salah satu wanita di klan Deval, karena aku percaya klan tersebut bisa diandalkan. Jika kau mencurigai mereka, itu berarti sama saja mengecapku sebagai, seorang yang tak mampu”


“Kalau kubilang, oknum tertentu?”


“Berhentilah membuat asumsi yang tidak masuk akal, Carine...” ujar Gray enggan berdebat kembali. Dia terlihat bangun dari tempat duduknya. Gray melangkah ke arah rak bukunya, sebagai tanda pengalihan. Agar Carine, tak meneruskan perdebatan ini.

__ADS_1


“Aku sangat menghormati setiap keputusan yang anda buat, Yang mulia” kata Carine mendadak memuji. “Jangan memulai hal itu lagi, Carine...” pinta Gray memohon. Dia sudah tahu, akan sikap Carine. Ketika wanita tersebut mulai tiba-tiba memujinya, artinya peperangan akan segera dimulai.


Perang pendapat.


Dia masih belum puas. Jujur saja, Carine masih ingin berbicara lebih banyak. Dia tidak hanya ingin di dengar. Tidak ditanggapi pun, tak masalah buatnya.


“Yang mulia, bagaimana dengan klan Geiger?” tanya Carine memulai perdebatan lagi. “Kita sudah membahasnya” tanggap Gray sembari fokus membaca pada bukunya. Carine menggeleng pelan. “Marchand?” ucapnya lagi. Kali ini, bernada lembut seperti sedang merayu.


Gray menggeleng tegas. “Baiklah, Dimont!” seru Carine heboh. “Tidak! Dari seluruh klan yang kau sebutkan... semuanya tidak pernah memiliki penduduk yang serakah! Kecuali, satu... yang kau sebutkan di awal” ungkap Gray tak sengaja membocorkan.


Carine menatap Gray dengan tatapan penuh misteri. “Sebenarnya, kau sudah tahu dari awal, bukan?” tanyanya menyusul. Gray tak menjawab. Dia bahkan, tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari arah buku.


“Baiklah, dari klan Deval... memang ada sesuatu yang tersembunyi, sih. Itulah mengapa, Lady Dia berusaha mati-matian. Dia menghalangi Reine, agar tak terjebak dengan klan Deval. Sebab, dia sudah tahu kalau ada seseorang dalam klan Deval yang... agak sedikit tidak beres. Pertanyaannya... siapakah itu?!” lanjut Carine dengan ceria. “Aku sudah mengurusnya” jawab Gray akhirnya. “Jadi, anda kecolongan ya?” tebak Carine lagi-lagi dengan senyumnya yang amat sangat ceria.


Gray hanya meliriknya dengan tatapan cuek. “Ouh, atau lebih tepatnya... terlambat? Kau sudah mengurusnya, tapi semua telah terjadi!” tebak Carine lagi. “Jangan ganggu aku, Carine...” pinta Gray khas, ketika dia merasa terpojok. Dan tentu, kesempatan ini membuat Carine semakin bersemangat.


“Kau mau mendengarnya? Ikuti aku, kalau kau mau” celetuk Gray, seperti telah diperhitungkan sebelumnya. Dia mengatakan hal tersebut, ketika Carine hendak keluar dari pintu ruangannya. “Hm? Apa yang barusan kau katakan?” goda Carine berpura-pura tak mendengar.


Tanpa basa-basi, Gray segera melemparkan buku yang di bacanya tadi. Seketika, buku tersebut terbang kembali ke tempat semula. Tepat, di dalam raknya sesuai dengan asalnya.


Gray berjalan cepat ke arah Carine. Dengan entengnya, dia menarik tangan Carine. Tanpa mengatakan apapun, tangan kirinya terlihat membentuk sebuah kode sihir.


Hanya dengan menggerakkan telapak tangan, sebuah portal mendadak muncul. “Oh? Yang mulia, apa itu? Ke mana... kita akan pergi?” tanya Carine kebingungan. Bukannya menjawab, Gray malah menarik tangan Carine dengan kasar.

__ADS_1


Tubuh Carine refleks semakin dekat dengan tubuh Gray. “Ikuti saja” perintah Gray sembari menatap tajam ke arah Carine. “Nariknya pelan-pelan, dong! Sakit, tahu!” protes Carine agak dongkol. “Makanya, jangan cari ribut! Berisik, tahu?” balas Gray tak kalah menyebalkan.


“Aku kan hanya ingin tahu!” seru Carine ngotot. “Duh, berisik!” jawab Gray. Maunya, Carine membalas dengan kalimat yang lebih pedas lagi. Namun sayangnya, tangan Carine lagi-lagi di tarik semakin kencang oleh Gray.


Gray memaksanya untuk masuk ke dalam portal. Mereka bersama-sama melangkah masuk ke dalam portal. Hanya beberapa detik saja, portal tersebut menghilang.


“Yang mulia, kita harus... Lho? Yang mulia?” panggil Raven yang baru saja masuk ke dalam ruangan Gray. Saat menyadari Gray tidak ada di tempat, dia agak kebingungan. Namun, kebingungan tersebut mendadak berubah menjadi kehebohan tersendiri. Tepatnya, setelah Raven tak sengaja mendapati topi milik Carine.


Topi yang sempat dikenakan Carine untuk mengantar Marc dan yang lain jalan-jalan tersebut, tampak tertinggal di meja kerja Gray. Raven tampak tersenyum-senyum salah tingkah. “Mereka... pasti sedang... aih!” gumamnya malu sembari menautkan telunjuk kanan dengan telunjuk kirinya. “Benar, kan?!” lanjutnya menggila.


~~


Portal itu membawa mereka kembali ke sebuah waktu tertentu. Waktu yang telah dikehendaki oleh Gray lebih dulu, tentunya. Meski portal bisa membawanya kembali ke waktu yang lampau, tetap saja mereka tidak bisa mengubah yang telah terjadi.


Di sana, Gray hanya akan menunjukkan sesuatu pada Carine. Mungkin, untuk sekedar membuat wanita tersebut berhenti berisik. Atau memang... Gray sudah mulai mengubah cara bersikapnya.


Mungkinkah, dia ingin... agak terbuka pada Carine?


Sepanjang perjalanan menuju ke tempat yang ingin Gray tunjukkan, Carine tak bisa melepas pandangannya ke arah pria tersebut. Mereka menaiki sebuah mobil khusus yang dipergunakan sebagai transportasi mereka, untuk mencapai ke tujuan yang diinginkan. Carine terus memandangi wajah Gray, bak tak pernah puas hanya dengan menatapnya sekali saja.


“Kau akan mati, kalau terus menatapku begitu” ucap Gray mengingatkan dengan setengah mengancam. Jujur saja, dia bilang begitu karena merasa tegang. Dia malu, hanya karena dipandang terlalu intens begitu oleh Carine.


“Aku sudah pernah, tapi bukan karena menatapmu begini. Waktu itu... apa ya?” tanggap Carine mencoba mengingat, bagaimana Gray memutuskan benang ikatan mereka. Hingga mengakibatkan, musnahnya Carine. “Aku kan sudah meminta maaf? Lagi pula, selama kau tidak ada... aku juga selalu memohon seperti orang gila pada Langit. Dan akhirnya, kau kembali, kan?” balas Gray tak mau kalah.

__ADS_1


“Memohon? Kenapa? Bukankah kau ingin, aku bebas dan tidak mengemban tugas yang terlalu memberatkan itu?” tanya Carine menusuk. “Kebohongan yang membuatku menjadi orang bodoh” jawab Gray. “Hm? Apa?” tanya Carine lagi. Dia bukannya pura-pura. Hanya saja, dia ingin memastikan sekali lagi. Kalau pendengarannya, tidak ada masalah.


“Aku mencintaimu, ku bilang”


__ADS_2