produk gagal

produk gagal
Blood Party


__ADS_3

Pagi ini, Underwall kembali memulai aktivitas. Para staff telah berada di tempat masing-masing. Usai mengakhiri briefing, mereka telah siap. Tak terkecuali, tiga staff utama Underwall, Robin, Max dan Luc.


Ketiga pria itu, terlihat berjalan ke arah lift. Mereka baru saja tiba di Underwall. Melihat dari cara berjalan mereka bertiga, tampaknya, akan ada pertemuan mendadak di pagi buta.


Tak hanya tergesa-gesa, mereka juga terlihat sangat bersemangat. Mungkin, karena ini kali pertama mereka akan membahas sebuah acara yang lebih besar. Sebuah acara yang selalu ditunggu-tunggu oleh para iblis penghisap darah.


“Blood Party. Kali ini, hotel kita akan menjadi hotel selanjutnya, yang ditunjuk sebagai tuan rumah. Itu sebabnya, aku mengumpulkan kalian semua di sini” ujar Marc membuka rapat. “Aku tidak kecewa, memilih bangun pagi hari ini. Blood Party, wuahhh” tanggap Max seperti biasa, selalu heboh ketika mendengar hal itu. “Kenapa? Kau sudah siapkan target, wanita mana saja yang bakal kau hisap di malam puncak nanti? Ku kira, kau pasti telah menyiapkannya. Tidak heran, kau menjadi peringkat pertama di setiap Blood Party” tebak Luc bernada menyebalkan.


“Tentu saja, peringkat pertama. Kepopulerannya sebagai, “pria tampanku dalam Blood Party” masih menjadi ikonik hingga sekarang” timpal Robin. Bukannya berbangga diri seperti biasa, Max malah hanya tertawa kecil. “Haaah, aku sudah pensiun sekarang. Yang jadi pertanyaan kali ini adalah... Direktur kita. Saat melihat hasil dari penilaian kemarin, dia mendapatkan peringkat akhir. Selama pesta berlangsung, dia hampir tidak pernah menyentuh wanita manapun. Kalian tahu? Bahkan, sudah yang ke sepuluh kali dalam seluruh acara!” balasnya. “Wihh!” seru Robin dan Luc hampir bersamaan. Mereka juga menatap ke arah Marc dengan tatapan tak percaya.


Marc menggaruk-garuk rambutnya yang tak gatal. “Aku hanya... sedang tidak mood saja” tanggapnya membela diri. “Di semua pesta?!” teriak Luc heboh. “Pelankan suaramu!” perintah Marc mendadak malu. “Tidak, jawablah dengan jujur. Kau... bukannya tidak mood di semua acara, bukan? Kau pasti... canggung?” tebak Robin agak berhati-hati.


“Ada hal lain yang ku khawatirkan saat itu...” jawab Marc bernada rendah. “Wah, kau benar-benar! Pesta, lho! Ini pesta! Kalau kau terlalu serius, gelar itu akan terus menempel padamu. Dan lagi, pasti akan memperburuk citra hotel ini” ujar Robin agak masuk akal. “Tidak hanya itu. Kali ini, kita kan yang menjadi tuan rumahnya? Kalau kebiasaan Marc tidak berubah, kita tidak akan mungkin mendapat penghargaan hotel ter-ramah” timpal Max serius.


Luc membelalak kaget. “Serius, ada penghargaan yang seperti itu?!” serunya kemudian. “Kau kira, aku bercanda? Tentu saja, ada!” balas Max tak kalah keras. Mendengar fakta tersebut, Luc mendadak termenung. Dia tenggelam dalam pikirannya.

__ADS_1


“Tidak bisa begini. Kalau kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan penghargaan itu, kita mungkin... akan kehilangan pelanggan VIP” kata Robin tegang. “Tuan-tuan, tolong, kembali fokus. Kita harus mengkhawatirkan hal lain saat ini. Jadi, tolong...” pinta Marc yang terucap sia-sia. Karena mereka bertiga, malah menatapnya dengan tatapan tajam. Bagai singa, yang hendak menerkamnya hidup-hidup. Marc hanya bisa menghela nafas dan mencoba untuk menerima.


~~


Pertemuan berjalan dengan baik. Bagi Marc, pertemuan tersebut memakan waktu yang panjang. Berbeda dari pertemuan biasanya.


Setelah pertemuan usai, Marc segera melangkah keluar dari ruangan. Biasanya, dia akan langsung kembali ke ruangannya. Namun kali ini, Marc tampak melangkah ke arah lain.


Dia memilih untuk pergi ke taman rahasia, hanya untuk sekedar menenangkan diri. Hari ini benar-benar membuatnya kesal, sekaligus stres. Rasanya, dipermasalahkan hanya gara-gara tidak pernah melirik wanita manapun saat pesta itu, agak... menyebalkan.


Marc menatap kembali ke arah pepohonan. “Bukannya tidak mau melibatkanmu. Aku berencana untuk membuatmu bergabung, setelah pertemuan dengan mereka bertiga. Soalnya, mereka memang agak rewel sih kalau membicarakan masalah, bersenang-senang” jelas Marc menyatakan maksudnya. “Wajar saja, mereka bingung. Menjadi tuan rumah sebuah pesta tahunan yang penting, memang bukanlah hal yang mudah. Apalagi, Direkturnya tidak pernah menyapa para tamu, di setiap pesta yang berlangsung. Bisa-bisa... enggak ada tamu yang bakal datang lho, Direktur” kata Reine memberi sedikit wejangan.


“Aku tahu, tapi itu bukan hal yang mudah untukku. Kamu bahkan, sudah ku beri tahu kemarin”


“Benar, sih. Tapi, bukannya aku juga sudah bilang? Padahal, masih kemarin ku katakan padamu. Jangan bilang, kau sudah lupa”

__ADS_1


“Tidak, aku masih mengingatnya. Bagaimana bisa, aku melupakan solusi yang bagus begitu? Kamu bilang, aku harus sesering mungkin membiasakan diri untuk mengadakan pertemuan seperti tadi pagi. Kalau sudah biasa, lambat laun pasti bisa berbaur dengan mereka”


“Hm, bagus, bagus. Kau bahkan mengingat semuanya. Dan malah, sudah langsung kau praktikkan. Terus, apalagi yang membuatmu menghela nafas sekeras itu di hari yang cerah begini?” tanya Reine tak habis pikir. “Mereka... bukannya menurut, tapi malah membantaiku habis-habisan...” keluh Marc. Reine tertawa pelan. “Masalah yang tidak pernah berbincang dengan wanita, kah?” tebaknya. “Mereka sudah memberi tahumu, ya?” jawab Marc lesu.


Reine kembali tertawa pelan, usai melihat wajah muram Marc. “Mereka memang berlebihan, sih. Awalnya, aku juga tidak percaya. Tapi kalau memang ada penghargaan yang begitu, bisa gawat sih” ujarnya. Marc mengangguk setuju. “Memang, tapi... kamu kan tahu, bagaimana melihatku ketika mencoba berbasa-basi dengan orang? Ini tak hanya berlaku untuk wanita saja, lho! Tapi, untuk semua orang yang berusaha mendekatiku. Aku memang payah...” keluh Marc lagi.


Reine tampak menghela nafas. Dia ikut stres merasakan persoalan Marc. “Aku akan membantumu. Apapun itu. Tapi masalahnya, aku tidak pernah berada di Blood Party itu. Jadi, aku tidak paham detailnya. Aku tidak bisa memberimu solusi sedikitpun” ungkap Reine. “Oh, ya, kamu kan... tidak pernah mengikuti acara yang seperti itu ya? Ini kali pertamamu, bukan?” tanggap Marc baru sadar. Reine menjawab dengan satu anggukan.


Kemudian, keduanya sama-sama terdiam. Marc yang berusaha mencari cara, agar bisa menggambarkan Blood Party pada Reine. Dan Reine, yang sedang mencari bayangan tentang pesta di tempatnya. Namun, tentu saja, bayangan Reine akan Blood Party, sama sekali berbeda dengan pemikiran yang ada di otak Marc.


“Akan kujelaskan dari sejarahnya dulu. Blood Party itu, sebuah acara berkumpulnya seluruh iblis penghisap darah, khusus dari kalangan bangsawan di negeri ini. Dalam acara itu, mereka akan berbincang, mencari rekan bisnis, makan-makan, darah berbentuk anggur dan juga...” terang Marc terhenti. Sebelum menjelaskan lebih lanjut, dia tampak menatap ke arah Reine. “Dan?” tanya Reine penasaran. “Dan juga, dansa. Hmm, pukul dini hari, para pasangan akan berdansa di tengah ball room. Pasangan yang paling mendapatkan sorotan, mereka akan memenangkan sebuah penghargaan. Dua tahun yang lalu, setahun yang lalu dan yang tahun kemarin, Max berhasil memenangkannya. Dengan pasangan wanita berbeda” lanjut Marc.


Reine mendadak tersentak. Mulutnya, sampai membentuk huruf, “O” besar saking takjubnya. “Sudah tidak diragukan lagi, Maximilien...benar-benar jagoannya. Terus, hadiahnya apa?” tanya Reine semakin penasaran. “Stok darah premium dari hewan kelas atas. Hewan yang dirawat secara hati-hati. Rasanya... gurih sekali. Dan di pesta itu, satu-satunya kesempatan bisa merasakan darah yang nikmat. Hanya sekali, dalam setahun! Hhh...” jawab Marc, disertai helaan nafas lagi di akhir perkataannya.


Kini, Reine sudah mendapatkan beberapa poin dalam pikirannya. Tiba-tiba, dia mendapat sebuah ide cemerlang yang entah, dari mana datangnya. “Apakah pasangannya harus sama-sama berasal dari klan iblis penghisap darah?” ujar Reine bertanya. “Tidak, bebas saja. Karena hadiahnya adalah stok darah, insting iblis mereka pasti bakal menguat. Jadi, untuk menghindari pertengkaran antar iblis penghisap darah, mereka membebaskan pasangannya” jelas Marc lebih detail. “Kau benr-benar... menginginkan stok darah itu, ya?” tanya Reine meyakinkan.

__ADS_1


“Stok yang bisa digunakan untuk setahun. Tentu saja, tidak ada orang yang menolaknya. Bukan hanya mementingkan diri sendiri, sih. Tapi dengan adanya darah itu, kita bisa sedikit membaginya ke iblis penghisap darah lainnya yang sedang menderita penyakit ganas. Dengan adanya darah itu, kita bisa sedikit memulihkan penyakit mereka. Dan setiap tahun, kemenangan kita selalu menjadi harapan bagi mereka. Karena itu... kalau aku tidak ikut berdansa, mungkin kami akan... kehilangan stok...” ungkap Marc terlihat kembali murung. “Aku mengerti. Aku akan membantumu” cetus Reine mendadak. “Apa? Ba... bagaimana caranya?” tanya Marc heran.


__ADS_2