
Ketika masih berusaha melepaskan diri dari pengaruh sihir, Reine malah dikejutkan dengan insiden besar lainnya. Marc mendadak jatuh ke lantai, usai mendapat serangan kilat dari sesosok pria bertudung hitam. Sosok tersebut muncul, entah dari mana.
Yang jelas, pria berpakaian hitam itu, membawa beberapa iblis dan siluman yang berkumpul di belakangnya. Bagai anak ayam yang patuh, mereka mengikuti setiap langkah sang pria bertudung. Langkahnya, semakin mendekat ke arah Reine.
“Reine Dallaire. Senang bertemu denganmu seperti ini, secara langsung. Aku sudah menunggu momen ini selama bertahun-tahun lamanya” sapa pria tersebut. Diikuti senyum tajam, pria tersebut berhasil membuat takut. Melihat dari penampilannya saja, semua orang mungkin bisa menduga-duga.
Penyihir Hitam.
Pria itu, akhirnya muncul juga. Setelah sekian lama, agak harus dipancing-pancing agar keluar dari persembunyian, ternyata dia terusik juga. Benar, kalian mungkin belum ku beri tahu satu hal tentang hal ini. Tujuan dari kedatangan Gray ke dunia baru dan meminta izin pada Langit untuk menggunakan tubuh Maximilien adalah membuat penyihir hitam menampakkan diri.
Selama ini pula, para Pemburu Kematian dibuat pusing dengan kelakukan mahluk sok satu ini. Selain menyombongkan diri, dapat mengalahkan Gray dengan kekuatan tangannya. Dia juga menge-klaim bahwa, dia bisa meruntuhkkan Langit.
Sungguh, tidak tahu diri. Laknat dan tak sadar. Padahal, dia hanyalah sosok manusia biasa yang dianugerahi dengan kekuatan luar biasa. Agar berguna bagi kebaikan.
Sayang sekali...
Penyihir hitam tampak mengangkat dagu Reine. Wanita tersebut baru saja menyadari, ternyata penyihir hitam memiliki wajah yang wajar. Bahkan, normal bukan seperti iblis atau siluman kebanyakan. Sebelumnya, Reine sempat mengira, penyihir hitam adalah sosok orang yang tua dan berpenampilan bak monster menakutkan.
“Kau mungkin menyesal, karena Langit telah memilihmu untuk melindungi permata perak” lanjut penyihir hitam bernada penuh tekanan. Tak lupa, pria tersebut tampak mencengkeram dagu Reine dengan begitu kencang. “Menyesal, bukan?” ucapnya sinis, bahkan terasa agak mencemooh.
“Apa maksudmu? Menjaga permata adalah tugas yang amat sangat mulia. Aku tak keberatan, meski harus mengorbankan segalanya” balas Reine tegas. Usai mendengar ucapan Reine, penyihir tersebut tertawa keras. Entah apa yang lucu. Mungkin baginya, pengorbanan untuk Langit hanya sebuah lelucon?
Penyihir itu terlihat beranjak ke arah lain. Kali ini, dia mendekati Marc yang masih tak sadarkan diri di lantai. “Berkorban? Meski, kau kehilangan... dia?” tanya penyihir hitam sembari menginjakkan kakinya ke atas punggung Marc.
Reine mulai kehilangan kesabaran. Padahal, tadi dia sedang berusaha membebaskan diri untuk menyelamatkan Robin. Kini, Marc yang dia harapkan dapat melindunginya pun, harus berada dalam keadaan yang sama dengan Robin. Dan parahnya, dia tak dapat membantu keduanya. Walau semarah apapun dia.
“Hentikan” perintah Reine. Dia juga tak kuat, terus menahan kemarahannya. “Berhenti? Kau menyuruhku untuk berhenti? Wah, padahal aku sudah menunggu momen ini...” keluh si penyihir hitam kesal. “Menunggu momen? Hanya untuk menganiaya orang? Kau sebut, dirimu waras?” balas Reine tak kalah dongkol.
__ADS_1
Penyihir hitam bak tertampar sebuah jangkar besar. Wajahnya, terlihat merah menyala. Hampir saja, dia menghabisi Reine saat itu juga. Namun, fokusnya beralih ketika tak sengaja menoleh ke arah Luc.
Kehadiran Luc di sana, membuatnya kembali senang. Dia juga terlihat melangkah ke arah Luc. “Luc Marchand. Aku sampai lupa akan kehadiranmu di sini. Padahal, kau adalah satu-satunya orang yang berjasa, atas penyerangan ini. Kau benar-benar... selalu bisa diandalkan. Klanmu, akan sangat bangga atas pencapaian yang telah kau lakukan” pujinya tak berhenti. Luc hanya diam dan menunduk penuh hormat. Dia tampak tegang, ketika atasannya memuji terlalu panjang.
Penyihir hitam tampak menepuk bahu Luc berkali-kali. Dia benar-benar sangat membanggakan kerja keras Luc. Reine sempat melirik sejenak. Dia juga tampak memperhatikan ekspresi bala tentara si penyihir.
Para iblis yang mengikuti penyihir tersebut, terlihat kesal. Bukan kesal. Lebih tepatnya, mereka iri. Cemburu? Ya, sebab kerja keras mereka seperti tak terlihat di mata si penyihir.
Konsekuensi, sih.
Kalau kau berguna baginya, dia pasti akan menggunakanmu. Bahkan, lebih ke memanfaatkanmu sampai habis. Kalau sudah selesai dan tak ada yang bisa diperah, kau mungkin bakal di buang. Lebih sakit lagi, digantikan dengan orang baru lain.
Diam-diam, Reine mulai bisa membuka sihir yang mengikat tubuhnya. Walau enggak terlihat, tetap terasa menyakitkan. Tubuh Reine seperti diikat oleh sebuah tali berukuran besar yang menyesakkan.
Entah dari mana asalnya kekuatan itu. Saat Reine mencoba menggerakkan kedua tangannya, perlahan tali yang terasa tadi, akhirnya sedikit demi sedikit bisa lepas. Begitu pula, dengan kakinya.
Mau itu suara yang mendadak meledak di pikirannya. Atau, mimpi yang berkisah dari sebuah masa lalu. Maupun, merasa deja vu dengan beberapa benda serta tempat di sekitarnya.
Selama itu menguntungkan Reine, dia akan tetap mempercayainya. Karena sibuk dengan Luc, Reine pelan-pelan memindahkan tubuh Robin ke tempat yang lebih aman. Dengan susah payah, dia menyeret tubuh Robin ke dekat rak buku yang sempat membuatnya terkekang tadi.
“Rob, bangunlah. Please, bertahanlah...” bisik Reine. Merasa ucapannya tak sampai, Reine berusaha menggoyah-goyahkan tubuh Robin. “Rob, ku mohon. Aku sendirian...” bisiknya lagi.
Akan tetapi, Robin masih tak kuat untuk menyadarkan dirinya sendiri. Luka yang begitu dalam, membuat kekuatan penyembuh yang ada dalam dirinya bekerja ekstra. Sampai semua luka tertutup, Robin mungkin tak akan bisa bangun.
Hanya Marc, yang tak dapat Reine raih. Pria yang dicintainya tersebut, berada tak jauh dari tempat si penyihir hitam. Perlahan, Reine berusaha mencari cara.
Secepat kilat, ide itu muncul. Apalagi, setelah melihat Raven sedang mengintip dari balik pintu perpustakaan yang masih utuh. Reine tampak memberi kode pada Raven.
__ADS_1
Reine menunjuk ke arah Marc yang tergeletak penuh darah. Harusnya, seorang Pemburu Kematian dibekali kekuatan yang tak seimbang dengan iblis lainnya. Wajarnya, Marc bisa dengan mudahnya menghandle Luc, para iblis maupun penyihir hitam itu sendiri.
Namun, Marc malah gagal. Dia tak berhasil melindungi dirinya sendiri. Apalagi, Reine. Dia tak bisa melaksanakan tugasnya.
Bukan.
Mungkin karena, kekuatan yang dimiliki oleh penyihir hitam telah berevolusi. Mahluk itu, sudah hidup berabad-abad di dunia ini. Baik itu di dunia manusia, maupun di dunia baru yang sekarang.
Meski berulang kali ditempatkan dalam sebuah guci dan dihancurkan, penyihir hitam tetap selalu ada di dunia. Takdirnya, bak memang selalu di munculkan. Bagai, rasa pahit di setiap manisnya hari-harimu.
Reine memerintahkan Raven untuk membuatnya naik ke atas punggung, saat dirinya telah berhasil mendapatkan Robin dan Marc. Dengan cepat, Raven menyetujui hal tersebut. Padahal, ini terjadi secepat kilat. Benar-benar rencana yang kilat.
Reine buru-buru membentangkan kedua tangannya ke depan. Seketika, sebuah perisai muncul. Kali ini, perisai tersebut bekerja seakan di lontarkan dari kedua telapak tangan Reine. Bagai sebuah peluru dalam pistol.
Seperti tornado instan, penyihir hitam, para iblis pengikutnya dan Luc pun, langsung terpental mundur. Hingga, tubuh mereka tertabrak ke dinding perpustakaan. Bahkan, menghancurkannya.
“Uh, pasti sakit...” seloroh Reine sempat melucu. “Oke, step satu berhasil. Sekarang, Rav!” panggil Reine, ketika berhasil membuat halangan di hilangkan. Dia juga berhasil membuat tubuh Marc dan Robin berdekatan. Tak lupa, dia memegangi baju keduanya.
Raven dengan cepat, berlari ke arah Reine. Bertransformasi menjadi seekor naga lagi. Dia menyambar Reine beserta dua pria yang sedang tak sadarkan diri, Robin dan Marc. Langkahnya, membuat para musuh tersentak tanpa bisa melawan.
Kelabakan. Mereka benar-benar kalah waktu. Dan juga, agak lengah. Lebih tepatnya, mereka terlalu meremehkan Reine.
Raven terbang bebas, membawa penumpangnya keluar dari Underwall. Saat menoleh kembali ke arah Underwall yang dia tinggalkan, Reine tampak berat. Kini, hotel dengan bangunan yang megah tersebut, perlahan runtuh ke tanah.
Semuanya, hancur lebur.
Tugas yang tidak bisa mereka penuhi adalah melindungi Underwall.
__ADS_1
Gagal.