produk gagal

produk gagal
Reuni yang... Hangat?


__ADS_3

Carine menatap tajam ke arah Gray. Namun rupa-rupanya, tak hanya Carine yang sedang serius dengan pertemuan ini. Gray pun, bak melihat musuh bebuyutan yang ada di depan mata.


“Kau kembali? Kau bilang, kau tidak akan kembali” sambut Gray agak ketus. “Bukankah kau masih membutuhkanku, yang mulia? Siapa lagi yang akan mengembalikan dunia baru, kalau aku tidak berada di sana? Bahkan, kau telah merencanakan semuanya. Kau tahu, aku akan kembali” balas Carine tak mau kalah. Gray tersenyum tipis, meski demikian sorot matanya tetap terasa dingin.


“Sebab itu, jangan pernah meminta Langit untuk membuatku menghilang... dari dunia ini” ucap Carine sembari melangkah melewati Gray begitu saja. Wanita itu berhasil membuat Gray kehilangan kata-katanya. Mulut Gray seolah tertutup rapat.


Seketika, memori otaknya kembali ke masa-masa itu lagi. Masa di mana, Gray amat sangat membencinya. Demi menyelamatkan sesuatu yang besar pula. Intinya, tak ada pilihan.


Gray menoleh ke arah Carine yang sedang melangkah masuk menuju kastil miliknya. “Siapa yang mengizinkanmu untuk masuk?!” serunya kesal. “Aku istrimu, bagaimana bisa aku tidak diizinkan? Dasar, pelit!” jawab Carine asal.


Walau begitu, Carine tetap melangkah masuk. Dia juga tak terlihat takut, meski Gray kesal. Karena dia tahu, Gray selalu mengalah dan tak pernah bisa mengalahkannya.


“Penyihir berengsek itu, benar-benar sudah meracuni dunia ini. Beberapa siluman bertenaga iblis akan terus menerus menghantui dunia ini” jelas Gray. Carine mengangguk mengerti. “Haaah, padahal aku sudah membuatnya hancur. Tapi ternyata, sihir milik penyihir itu masih aktif dan akan membahayakan dunia ini. Itu tidak boleh terjadi. Jika siluman bertenaga iblis terus-menerus datang menyerang, manusia biasa akan musnah” tanggapnya kemudian.


Gray tampak membukakan sebuah pintu besar dan tinggi untuk Carine. “Sebab itu, aku telah mengumpulkan beberapa prajurit untuk di tugaskan di seluruh wilayah di dunia manusia ini” ujar Gray. Tampak di balik pintu tersebut, telah berjajar baris demi baris manusia. Mereka adalah para Pemburu Kematian yang mengenakan seragam, bak sekumpulan tentara.


Menyadari keberadaan Carine, seluruh anggota Pemburu Kematian tampak memberinya hormat. “Selamat datang kembali, The Bride!” seru mereka semua kompak. Carine tersenyum senang, melihat kekompakan tersebut. “Semoga, kau memilih orang-orang yang tepat, yang mulia” bisik Carine ke arah Gray.


“Jangan mengejekku!” balas Gray berbisik. Carine tersenyum puas, usai berhasil menggoda Gray. “Mereka adalah para Pemburu Kematian yang terpilih. Di antara ribuan Pemburu Kematian, mereka telah melalui tahap penyaringan ketat untuk dapat menjadi bagian dari tim khusus kali ini. Rata-rata, mereka yang terpilih memiliki level kekuatan yang berada di atas standar” terang Gray sambil melangkah dari tim ujung kanan hingga kiri. Dia berjalan, di temani Carine yang berada di dekatnya.


“Ooh, kau benar-benar detail” puji Carine. Hanya dengan sepatah kata itu, Gray sudah menyengir puas. Dia benar-benar bangga, atas usaha yang telah di lakukannya.

__ADS_1


“Kali ini memang, penyihir itu berbeda. Meski dia telah muncul setiap beberapa abad sekali, dia... sudah benar-benar lebih kuat dibanding yang lama. Setiap kali dia muncul, kekuatannya selalu bertambah. Karena itu, kita sebagai Pemburu juga tidak boleh lengah dengan hal ini”


“Kau benar, yang mulia. Aku juga merasakan kekuatan baru itu. Walaupun singkat, kekuatannya terasa lebih kuat dibanding kekuatan lamanya”


“Para siluman bertenaga iblis yang muncul itu pun, juga memiliki kekuatan yang sama besarnya dengan para Pemburu biasa. Mereka yang memiliki kekuatan Pemburu rata-rata, seperti Marc, mungkin memang agak sulit mengalahkan siluman-siluman hasil dari Penyihir hitam ini”


“Maka dari itu, Marc harus kehilangan Reine. Demi melindungi Permata Perak. Sangat amat disayangkan, bukan?”


Gray tampak menunduk sedih. “Dia gadis yang baik. Aku berharap, Langit akan mereinkarnasinya kembali. Terlebih, dengan kekuatan yang lebih besar, dari pada kekuatan pelindung yang dimilikinya sebagai penjaga Permata” ucapnya. “Langit memang keterlaluan. Anak itu, sudah berusaha dengan keras” timpal Carine.


“Oh?” ujar Carine mendadak. Dia agak terkejut, saat tak sengaja menatap ke arah salah satu pria dalam barisan. Carine mendekati pria tersebut dengan langkah penuh keyakinan.


“Ah, dia adalah Kapten tim Gamma. Dia, Wilfrid Gavreau” jawab Gray menjelaskan. Tanpa aba-aba, Kapten tim Gamma, Wilfrid segera menunduk memberi hormat. “Suatu kehormatan, dapat bertemu secara langsung dengan anda... The Butterfly Goddess” sapa Wilfrid.


Namun, bukan tanah kosong rupanya. Wilfrid sedang berdiri di hadapan sebuah perisai biru yang agak transparan. Dia menatap ke arah siluman yang sedang berada di balik perisai.


“Berikan aku izin, Pak Gavreau!”


Carine terbangun, kala suara tersebut mendadak mengejutkannya. Dia kembali dihadapkan pada masa kini. “Carine?” panggil Gray mulai cemas. Sebab, dari tadi Carine hanya terdiam dengan kedua mata terbuka, tanpa berkedip.


“The Bride...” panggil Wilfrid turut memastikan. Tanpa menjawab, Carine malah membalasnya dengan senyum hangat. “Begitu rupanya. Karena itu, mengapa aku merasa kau sudah tidak asing lagi. Ku harap, kau dan yang lain dapat melaksanakan tugas dengan baik. Karena mulai saat ini, keselamatan dunia ada di tangan kalian” kata Carine tegas.

__ADS_1


“Kami akan melakukan yang terbaik” ucap Wilfrid sembari menunduk memberi hormat. Tak lama, seluruh pasukan tampak memberi hormat. “Kami akan melakukan yang terbaik!” seru mereka serempak.


Carine tersenyum senang. Setelah melambaikan tangan dengan ramah, Carine melangkah keluar dari markas milik para Pemburu yang terpilih tersebut. “Ini... benar-benar akan menjadi pertarungan yang amat sangat menyenangkan ya, yang mulia?” celetuk Carine di tengah perjalanan.


Sekarang, mereka berdua sedang menuju ruang pemulihan. Carine ingin melihat keadaan Luc, Robin dan juga Marc. Sudah sampai sejauh mana tubuh mereka membaik.


“Hm, karena itu kita butuh pasukan yang lebih banyak. Siluman-siluman itu akan terus berdatangan, entah kapan akan berakhir. Jadi, kita harus mempersiapkan segalanya. Tenaga dan bala bantuan juga” jelas Gray. Di mata Carine, saat Gray sedang berperan menjadi sosok pemimpin para Pemburu, dia sungguh terlihat sangat berbeda. Atmosfer di sekeliling Gray pun, akan berubah menjadi sangat berkesan.


Carine telah terbuai oleh pesona itu.


“Oh, tirai ruang pemulihan sudah terbuka! Artinya, mereka telah sedikit demi sedikit pulih” teriak Gray senang. Carine mendadak tersadar. Hampir saja, dia tersandung sebuah batu yang tak jauh dari sepatunya.


Memang, jalanan dari markas menuju ruang pemulihan masih berupa jalan setapak berhias berbatuan sedang. Kastil milik Gray memang masih dikelilingi oleh rerumputan. Dan itu, menjadi ciri khas tersendiri bagi kastil kunonya.


“Carine, kau baik-baik saja?” tanya Gray, usai tangannya dengan cepat memegangi bahu Carine. “A, aku... Heheh, ya...” tanggap Carine sedikit malu. “Dasar, kau masih saja ceroboh! Seperti anak kecil saja!” olok Gray.


Mendengar olokan Gray barusan, rasa malu Carine berubah amarah. “Aku hanya tersandung! Kenapa kau malah menghubungkannya dengan hal yang lain, sih?! Seperti anak kecil, katamu? Cih!” balasnya berani.


“Kau! Beraninya kau berkata tidak sopan gitu! Hah?!” amuk Gray dengan amarah ikut memuncak. “Kau itu yang tidak sopan! Aku sangat menghormatimu, tapi kau hampir tidak memujiku! Kau selalu mengolokku! Yang mulia, apaan?!” protes Carine. “Wah! Wah, kau makin kurang ajar ya! Sebentar lagi, kau akan menerima akibatnya Carine Anne-Marie Vaillancourt!” ancam Gray.


“Silakan saja! Aku sama sekali tidak takut!” tantang Carine. “Kau... benar-benar kelewatan!” ucap Gray. Dia melangkah mendekat ke arah Carine dan menyentil dahi wanita tersebut dengan keras.

__ADS_1


“Dasar...”


__ADS_2