produk gagal

produk gagal
Penyihir Hitam


__ADS_3

“Penyihir hitam. Kamu... pernah tahu tentangnya?” tanya Reine di sela-sela kegiatan makan paginya. Dia sedang berada di rumah Marc. Dan saat ini, keduanya sedang menyantap sarapan bersama.


“Aku tidak tahu pasti. Tapi yang jelas, aku pernah melihatnya saat dunia ini, sedang genting dengan perang Vosre” tanggap Marc, usai mengingat-ingat. “Rumor yang berhembus di luar Underwall bilang, Penyihir hitam adalah orang yang membuat kekacauan di dunia ini. Dan sekarang, dia akan kembali mengacaukannya” kata Reine melanjutkan. Marc tampak menghela nafas panjang. Dia juga menaruh kembali alat makannya di atas piring.


“Aku tidak tahu pasti, apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi yang jelas, ada seseorang yang telah membangunkan para pengkhianat dari Pvalka. Mereka juga ingin mengulang segala hal yang dulu, pernah terjadi”


“Penyihir hitam. Mungkin, dia adalah orang yang ada di balik para pengkhianat itu”


“Ketika aku bertemu dengan 'Penyihir hitam' yang rumor sebutkan, kurasa... dia bukanlah seseorang yang memiliki kemampuan seperti itu”


“Kamu melihat tampangnya?”


“Ya, bahkan... klanku mengenalnya”


“Hmmm, bagaimana... menurutmu?”


“Dia?”

__ADS_1


“Hm. Penyihir itu”


Marc tampak berusaha mengingat kembali, tentang kesan pertamanya terhadap si Penyihir hitam. Sosok yang di sebut-sebut menjadi biang dari masalah yang terjadi. Termasuk, membuat perkumpulan para iblis dan siluman yang kemudian, dia gunakan untuk menghancurkan tujuh permata. Termasuk, Permata perak yang menjadi kunci kehidupan di dunia baru ini.


“Dia hanyalah orang biasa. Dia bukan seorang iblis, tak memiliki hubungan dengan para siluman, maupun lainnya. Dia... hanya sesosok pria paruh baya yang berpakaian gelap. Tapi memang, dia adalah tipe orang yang pandai bicara” jelas Marc, ketika mengingat beberapa. “Pandai bicara? Artinya, dia tidak memiliki kemampuan sihir yang kalau membaca mantra, orang akan menurut padanya?” ulang Reine sembari mengerutkan kening. “Dia hanya bicara. Sekali bicara, beberapa orang merasa tergugah. Seperti, telah dibangunkan dari tidur panjang?” jawab Marc.


Reine masih mencerna perkataan Marc barusan. Dia ingin mengambil kesimpulan, tentang tujuan sebenarnya dari Penyihir hitam yang ramai dibicarakan orang. “Tapi, setelah kedatangannya... tak lama, perang Vosre bergejolak. Tak hanya di dunia ini saja. Namun, beberapa iblis juga dikirim untuk menghancurkan manusia. Orang-orang percaya, bahwa apa yang di alami oleh leluhur mereka ketika dunia terpecah belah... mungkin, sama dengan saat itu” tambah Marc.


“Benar. Ketika perang Vosre tiba, dunia manusia benar-benar kacau. Seperti, terkena air bah. Waktu itu, umurku masih terlalu muda. Jadi, aku hanya ingat perjuangan ibuku. Bagaimana dia sendirian, menghalau para iblis yang hendak memakan manusia normal. Waktu itu benar-benar... menakutkan” ujar Reine mengulang kembali memorinya yang sempat dia kubur dalam-dalam. Marc tampak menggenggam lembut tangan Reine. “Akan ku pastikan, perjuangan ibumu untuk melindungimu di perang Vosre dulu... tak akan sia-sia. Aku akan melindungimu sekuat tenaga” ucapnya menenangkan. Reine tampak tersenyum sembari menatap lembut Marc yang ada di hadapannya. Hari itu, sinar matahari terasa lebih hangat dari biasanya.


~~


“Kita harus mempersiapkan kemungkinan yang akan terjadi. Ancaman dari Luc, tidak bisa kita abaikan begitu saja” ujar Gray. “Kau benar. Dia mungkin, merencanakan siasat agar dapat menghancurkan Underwall. Melihat perbuatannya pada Robin, dia telah bersungguh-sungguh” timpal Marc. “Ya, meski aku sendiri masih tak menyangka dan tetap berpikir, dia tidak akan melakukannya. Tapi mungkin, sulit untuk mengatakan dia tidak serius...” tanggap Robin. Di wajahnya, tampak raut wajah kecewa.


“Semua juga berharap, dia tidak akan melakukan sampai sejauh ini, Rob. Tapi, bukankah kau juga sudah merasakannya?” tanya Gray ke arah Robin. “Ya. Aku mengerti rasanya. Efek dari hasutan penyihir hitam... memang luar biasa menusuk. Aku tak bisa membedakan, mana yang benar dan salah” terang Robin, ketika mengingat dirinya dulu. Saat dia tiba-tiba hampir membuat Reine celaka, sebelum Blood Party di mulai.


Usai mendengar Robin menyebut “Penyihir hitam”, Marc tampak mengerutkan keningnya. “Sebenarnya, aku sama sekali tidak percaya pada Penyihir itu. Aku berpikir, keberadaan Penyihir hitam yang disebut-sebut memiliki kekuatan hebat melebihi pimpinan tertinggi Pemburu Kematian... hanya omong kosong” ucap Marc tiba-tiba. Robin tampak tercengang menatap ke arahnya.

__ADS_1


“Sekarang gini... Di dunia ini, mana ada orang yang seperti itu? Pemburu Kematian saja, memiliki tugas untuk menjemput para iblis, siluman ataupun para penyihir. Mana ada penyihir yang kekuatannya menandingi kekuatan para Pemburu? Mustahil, bukan?” jelas Marc menjabarkan pemikirannya. “Tapi, kekuatan Penyihir itu sudah tidak diragukan lagi. Dia telah membuat dunia ini kacau” tanggap Robin ngotot. Namun meski demikian, Marc tetap tak setuju.


Dulu, ketika perang Vosre pecah, Marc memang percaya kekuatan Penyihir hitam memang terasa di atas rata-rata. Mengingat, dia adalah sosok pria paruh baya yang mengomando terjadinya bentrok antar iblis di dunia baru. Dia percaya, Penyihir hitam memang memiliki kemampuan yang hebat.


Akan tetapi, pemikiran Marc berubah seiring Langit memberinya keistimewaan dan tugas penting untuk menjadi salah satu bagian dari Pemburu Kematian. Hal itu terjadi, saat dirinya kembali dihidupkan setelah perang Vosre berakhir. Marc berpikir, kekuatan Penyihir hitam sesungguhnya, bukanlah apa-apa. Karena niat yang kuat dari para iblis yang berkhianat itulah, yang membuat semua tampak lebih kuat.


Sebagai informasi, Marc sebenarnya telah tewas ketika perang Vosre usai. Dia turut menjadi korban dari keganasan para iblis kala itu. Namun dengan pertimbangan dari Langit, Marc akhirnya bergabung menjadi bagian dari para pemburu.


Ketika semua bingung dengan pemikiran masing-masing, Gray malah tampak lebih pendiam dari lainnya. Marc tergoda untuk menanyakan tentang pendapat pria itu. “Bagaimana denganmu? Bukankah dulu kau pernah bilang, kalau sudah bertatap muka dengan Penyihir hitam?” tanyanya.


“Memang” jawab Gray sesantai itu. Dia bahkan, terlihat bersedekap cuek. “Lalu? Bagaimana menurutmu, jika dia menyerang dan menghancurkan Underwall dalam waktu dekat?” tanya Marc lagi. “Menghancurkan Underwall? Bisa saja. Maka dari itu, aku menyuruhmu untuk berjaga” ucap Gray.


Marc mengerutkan keningnya. “Tapi, ini bukan untuk mengantisipasi penyihir yang kalian bahas itu” lanjut Gray. “Jadi?” tanya Robin makin penasaran. Saat ini, Gray terlihat mengusap-usap telinganya.


Sembari memamerkan muka datar, Gray kembali melanjutkan,


“Luc. Hanya itu yang harus kalian antisipasi. Sebab, hanya Luc yang bisa masuk ke dalam tempat ini”

__ADS_1


Sejenak, Marc dan Robin tampak menoleh satu sama lain. “Hmm, karena dia... sudah mengetahui seluk beluk Underwall?” tebak Robin. Gray menggeleng. “Karena dia satu-satunya orang yang memiliki akses masuk ke dalam sini, selain para iblis yang berkomplot dengannya?” tebak Marc. Gray kembali menggeleng.


“Karena Langit, telah memilihnya sebagai penjaga Underwall”


__ADS_2