
Marc tampak mengangguk. “Sampai nanti” ucapnya. “Sudah mau pergi?” tanya Reine refleks. Marc lagi-lagi hanya tersenyum tipis. “Ada yang bisa kubantu?” tanya Marc, seolah menjawab kekhawatiran Reine yang susah diungkap.
“Seperti yang kau lihat. Mau berapa pun latihan yang ku ikuti, aku tetaplah seorang manusia biasa. Aku tidak bisa memunculkan kekuatanku...” keluh Reine. Dia terlihat menunduk. Wajahnya gelisah dan frustrasi.
Marc menepuk kedua bahu Reine dengan lembut. Mencondongkan tubuhnya ke arah wajah Reine, hingga menyisakan jarak hanya se-inci saja. “Bukankah sudah pernah ku katakan? Aku tidak peduli pada latihan, karena seberapa keras pun kamu berlatih, kalau yang di sini... masih tidak percaya pada kekuatan itu. Mau apa lagi?” ujarnya lembut sembari menunjuk ke arah tengah dada Reine.
“Aku percaya, tapi itu tetap sulit” tolak Reine. “Kalau begitu, kamu tidak akan menemuiku sekarang. Jika memang, kamu mempercayai kekuatanmu sendiri” jawab Marc pas, sampai tak dapat membuat Reine berkata-kata. Akhirnya, dia memilih untuk menghela nafas panjang dan mengangguk mengerti.
Reine menunduk sembari memikirkan kesulitannya. Marc tampak mengacak rambut Reine. “Sampai nanti” pamitnya kemudian. “Hati-hati dan... makasih” balas Reine.
Sepeninggal Marc, Reine melangkah menuju hamparan rumput yang berada di taman belakang hotel. Tempat rahasianya bersama Marc. Sembari menatap ke arah langit, Reine menghempaskan tubuhnya di atas rumput hijau tersebut.
“Marc memang luar biasa. Setelah mengatakan hal itu, semangatku jadi makin terbakar” ucap Reine takjub. Tak lama, dia tampak memegangi rambutnya. “Kenapa aku jadi merasa deja vu, ya... saat dia menyentuh rambutku tadi? Perasaanku seperti, sudah lama mengenalnya. Padahal, aku baru ketemu dia” kata Reine terlihat berpikir keras.
Tiba-tiba, suara alarm tanda bahaya berbunyi sangat nyaring. Refleks, Reine berdiri tegap setelah mendengar alarm tersebut. Tanpa pikir panjang, dia segera berlari ke arah asal bahaya. Underwall, kembali terancam masalah.
“Apa yang terjadi?” tanya Reine, ketika berpapasan dengan Robin. “Sepertinya, ada iblis yang mengacau di lobby utama. Max dan Luc, sudah berada di sana sekarang” jelas Robin. “Marc tidak ada di sini. Dia tadi pergi pagi-pagi setelah latihanku selesai” kata Reine.
Robin mengangguk. “Karena itu, kami akan menghandle-nya. Jadi, kamu tidak perlu khawatir. Sebaiknya, kamu tetap berada di ruangan Marc. Kami akan menyelesaikannya secepat mungkin” perintahnya kemudian. “Tapi aku...” “Cepat!” sela Robin agak berteriak. Dia tampak berlari meninggalkan Reine sendirian.
Saat ini, Reine berada di persimpangan jalan. Kalau belok ke kiri, ruangan Marc ada di sana. Seperti perintah Robin, dia harus pergi dan tinggal di sana sampai kekacauan berakhir.
Kalau dia belok ke kanan, lobby utama ada di sana. Tempat iblis yang sedang berusaha mengacaukan hotel. Kemungkinan, iblis itu akan mencelakai para tamu.
__ADS_1
Namun, dari dua hal tersebut Reine memikirkan sebuah hal yang berbeda. Dia mendadak teringat sesuatu. Dengan terburu-buru, Reine berlari ke arah lain. Tidak ke lobby atau pun ke ruangan Marc.
Reine melupakan lift. Dia berlari menggunakan anak tangga. Meski lelah, Reine tak menyerah. Dia terus berlari dan berlari.
Tak lama kemudian, akhirnya Reine tiba. Sebuah pintu besi dilengkapi kode akses, telah berada di hadapan Reine. Dengan penuh keyakinan, dia menempelkan sidik jarinya ke tempat kode akses berada.
“Selamat datang di Underwall, Miss Dallaire”
Usai itu, pintu tampak terbuka lebar.
“Bagus. Baiklah, ayo Reine!” serunya bersemangat. Ketika berada di dalam Underwall, situasi persis seperti yang dia duga. Gerombolan iblis, terlihat berusaha menghancurkan keamanan sel.
“Sudah kuduga. Kekacauan di lobby, hanyalah sebuah pengalihan” ujar Reine, kala menyaksikan kekacauan yang lebih parah di sel Underwall. Reine segera melangkah menuju tempat senjata. “Aku harus membereskan yang di sini. Aku akan memunculkan kekuatanku” tekad Reine kuat.
“Halo!” seru Reine keras. Suaranya, membuat seluruh iblis di sel Underwall terkejut. “Oh, aku terlalu berisik ya? Hai, semua!” lanjutnya lagi. Dia benar-benar berusaha seceria mungkin, agar ketakutannya cepat menghilang.
Melihat keberadaan Reine, para iblis malah tertawa. “Manusia? Sepertinya, kau tersesat! Kalau kau ingin pergi ke kamarmu, ada pintu di belakang dan kau akan sampai di sana. Pergi dari sini, sebelum kami menjadikanmu bubur ayam!” ucap salah satu iblis yang menyusup. “Bubur ayam? Heeeh, sayangnya, aku enggak suka bubur ayam. Aku sukanya... iblis panggang. Bagaimana?” tanggap Reine kesal. Habisnya, kekuatannya seperti sedang di remehkan.
“Kau punya nyali juga, rupanya. Habisi pengganggu itu!” teriak iblis tadi, memerintah kawanannya. “Walah, ku kira bakal kau sendiri yang menghabisiku. Kenapa harus nyuruh-nyuruh orang, sih? Sini, kalau berani!” balas Reine menantang. “Manusia sialan!” umpat iblis yang sama.
Tanpa berlama-lama lagi, iblis tersebut tampak terbang ke atas. Kemudian, menukik dengan tajam ke arah kepala Reine. Sebelum lebih dekat, Reine terlihat menganalisis sejenak. Dia menyipitkan kedua matanya untuk mengamati si iblis lebih detail lagi.
Iblis bertipe elang. Karakternya, hampir sama dengan iblis penghisap darah. Namun, cakar dan paruhnya lebih berbahaya dari serangan sayap milik iblis penghisap darah, batin Reine.
__ADS_1
“Max bilang, aku harus berhati-hati dan tetap tenang. Dengan menggunakan senjata berupa pistol, akan akurat bila menembak langsung ke sayapnya. Tapi, akan lebih baik jika langsung ke paruhnya. Untuk itu, aku harus tenang dan menunggu. Sayap adalah hal utama untuk mengecoh lawan” pikir Reine menimbang-nimbang triknya. Dan benar saja. Iblis tersebut memang terlihat menukik dan hendak menyerang Reine, namun dia hanyalah melakukan sebuah trik agar lawannya takut dan panik.
Reine tetap tenang. “Kenapa manusia? Kau ketakutan? Makanya, jangan menantang iblis! Kau pikir, kami akan bisa di kalahkan semudah itu? Hah?!” seru iblis tadi dengan penuh percaya diri. Iblis tersebut tampak berputar-putar di atas kepala Reine.
Ketika selesai berputar, iblis itu kembali di posisinya semula. Dengan kecepatan terbang yang lebih cepat dari yang tadi, iblis tersebut kembali menukik ke arah Reine. Sembari menyiapkan kuda-kudanya, Reine mengarahkan pistol ke targetnya.
Menghitung dalam hati, Reine berusaha menepatkan waktu dengan langkahnya untuk menyerang. Tepat pada hitungan ketiga, Reine menembakkan pelurunya. Bersamaan dengan serangan iblis tersebut, yang hendak mematuk wajah Reine.
Sayap iblis itu, terkena tembakan pistol Reine. Iblis tersebut jatuh ke lantai Underwall yang dingin. Tanpa belas kasih, Reine kembali menembakkan pelurunya. Dua buah peluru, berhasil dia sarangkan ke arah paruh dan sayap yang tersisa.
“Iblis yang dikurung dalam Underwall adalah iblis dengan catatan kriminal tertinggi. Tugas kami mengurung mereka, supaya mereka menyadari perbuatan yang telah dilakukan. Menyerang manusia biasa tanpa kekuatan, bukanlah sesuatu hal yang harus terus menerus di banggakan. Seperti kalian yang bebas. Manusia, juga ingin kebebasannya tidak dibatasi oleh apapun. Termasuk, kebebasan untuk hidup dengan damai di tengah-tengah kalian” ucap Reine memberi nasihat. “Ada pengadilan yang memutuskan. Mereka dengan adil, memberi hukuman pada yang keji. Untuk itu, jangan mengacaukan Underwall hanya untuk keinginan pribadi. Kalian kira dengan bertindak seperti ini, para iblis lain akan bangga? Tidak. Di dalam hotel ini, ada banyak sekali iblis lain yang juga menginginkan kedamaian. Namun sayang sekali, kedamaian itu harus kalian rusak dengan menyerang lobby utama kami. Jadi, tolong... tinggalkan tempat ini sekarang juga” lanjut Reine bernegosiasi. Masih banyak iblis yang menatapnya di pintu masing-masing sel.
Para iblis itu, ingin mengeluarkan tahanan yang merupakan keluarga mereka. Tadi, mereka bahkan, berusaha memecahkan pintu sel. Kini, mereka tampak lebih tenang dari pada yang tadi. Mereka terlihat mendengar perkataan Reine dengan seksama.
“Persetan dengan omong kosongmu! Mereka adalah keluarga kita! Mereka pantas mendapatkan apa yang menjadi hak mereka! Para bangsawan membunuh dan mengurung para iblis dari kelas rendahan, tapi tidak dengan kriminal dari kalangan atas! Pengadilan yang tak adil! Dan hidup rakyat jelata yang makin miskin! Jangan dengarkan dia! Manusia terkutuk! Bunuh dia, sekarang!!!” teriak iblis yang berhasil Reine kalahkan tadi. Meski dengan keadaan yang tak memungkinkan, iblis tersebut tetap berusaha memantik api lagi.
Dan sepertinya, perkataan iblis itu sangat memberikan dampak yang luar biasa. Para iblis yang tadi berusaha merusak pintu sel, kini berbalik menyerang Reine. “Rasakan akibatnya, manusia menjijikkan!!” seru iblis tadi dengan langkah terseok-seok.
Tawanya, menggelegar. Menghiasi sel bawah tanah Underwall yang terasa dingin. Dengan iblis sebanyak itu, mampukah Reine menyelesaikan segalanya?
Dalam keadaan terdesak, suara Marc kembali memenuhi relung pikiran Reine. “Percayalah pada kekuatanmu. Percaya” ucapan Marc. Reine menghirup nafas dalam-dalam.
Percaya.
__ADS_1
Percayalah pada hatimu, Reine...