produk gagal

produk gagal
Insiden Maximilien


__ADS_3

“Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?” sapa Carine. Marc tampak mengangguk pelan sembari bangkit dari tidurnya yang cukup panjang. “Kau masih berutang penjelasan padaku. Jangan lupakan itu” balas Marc malah mengingatkan.


Carine tertawa pelan. “Tentu saja, aku ingat. Tenang saja, aku pasti akan memberitahumu” ucapnya berjanji. “Bisakah kau langsung mengatakannya sekarang?” tanya Marc tak sabaran.


Carine tampak menghela nafas pelan. “Keadaanmu?” balasnya balik bertanya. “Keadaanku tidak penting. Sekarang yang paling penting adalah penjelasan yang kutunggu” desak Marc.


“Oke, oke, aku mengerti. Kalau begitu, ikuti aku” ujar Carine. Dia tampak melangkah keluar dari ruang perawatan. Marc segera mengejar langkah Carine. Tadinya, dia cukup terkejut karena Robin dan Luc, terlihat sudah tidak ada di tempat.


“Di mana teman-temanku?” tanya Marc di sela-sela perjalanan. “Sebentar lagi, kau juga akan bertemu dengan mereka” tanggap Carine. Dengan santainya, dia melangkah menyusuri padang rumput yang luas.


Sudah kubilang, kastil milik Gray memang dipenuhi dengan rerumputan, pohon-pohon yang rindang dan taman bunga yang mempesona. Marc bak, sedang bertualang di sebuah hutan belantara.


Carine dan Marc tiba di sebuah ruangan dengan pintu ganda yang tinggi. Pintu yang terbuat dari besi tersebut, terlihat sangat menakutkan. Bukan hanya karena ukurannya, namun juga bentuknya yang lumayan besar.


Tapi, ruangan ini bukanlah ruang kerja milik Gray yang biasa Carine kunjungi. Ruangan ini semacam, ruang perkumpulan. Biasanya, Gray akan menyusun strategi perang bersama dengan tim khususnya, di tempat ini.


Carine segera mengetuk pintu tersebut. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Carine pun melangkah masuk. Diikuti Marc, yang ada di belakangnya.


“Yang mulia, aku membawa Marc” ucap Carine. Gray tampak mengangguk paham. “Dia sudah pulih?” tanggapnya kemudian. Carine hanya menjawab dengan mengangkat bahunya. “Sepertinya, sudah. Sebab, dia yang ngotot ingin mendengar penjelasannya” sambung Carine.


Gray yang semula sedang duduk di kursi kerjanya, kini mulai beranjak mendekat ke arah Marc. Awalnya, Marc hanya menunduk penuh hormat. Usai Carine menyelipkan sebuah kata, ‘yang mulia’ di setiap pembicaraannya. Marc pikir, dia adalah pimpinan Pemburu Kematian, seperti yang telah di sebutkan.


Rumornya, memang tersebar dengan sangat jelas. Pimpinan Pemburu Kematian, dulunya merupakan mantan seorang Raja. Karena kehebatannya, Raja tersebut mendapatkan tugas khusus dari Langit untuk mencabut nyawa para iblis, siluman dan rakyat Abcaestter.


 

__ADS_1


Namun, ketika Marc menatap ke arah wajah Gray, dia tersentak. “Ma... Maximilien?!” pekiknya syok. Gray menatap ke arah Marc dengan tatapannya yang serius dan mulai menajam.


“Benar, aku adalah Maximilien. Sahabat karibmu, yang tewas mengenaskan akibat serangan mendadak dari seorang iblis dari klan Archeneux” ujar Gray menanggapi. “Tapi, dia adalah seorang iblis juga. Mengapa dia bisa mati begitu saja, ketika klan Archeneux membunuhnya?” tanya Marc tak habis pikir. Hingga saat ini, masih terbayang jelas kematian Maximilien. Walau, kejadian tersebut telah terjadi berpuluh-puluh tahun yang lalu.


“Seorang iblis pengisap darah merupakan satu-satunya iblis yang mendapatkan umur paling panjang. Bangsa kalian bisa hidup hingga 300 tahun lamanya” jelas Gray. Marc hendak protes lagi, sayangnya, Gray masih baru memulai penjelasannya. “Akan tetapi, kenyataan itu sama sekali tidak ada artinya untuk kalian. Bangsamu, malah menyalah gunakan keistimewaan itu, untuk mencari keuntungan masing-masing” tekan Gray bernada marah.


Sejenak, Marc tampak menunduk dipenuhi perasaan bersalah. Apa yang dikatakan oleh Gray, semuanya memanglah sebuah kenyataan yang terjadi. Bangsa iblis terbesar dan yang terhormat, ternyata memiliki catatan buruk di mata Langit.


“Semenjak kejahatan yang dilakukan oleh bangsamu semakin merajalela, hal itu membuat Langit memberikan sebuah keputusan. Bahwa iblis pengisap darah, sejatinya akan mati, apabila dunia sudah tidak membutuhkannya lagi...” kata Gray terhenti. Dia kembali menatap tajam ke arah Marc. “Kecuali, dirimu dan ketiga temanmu yang lain” lanjutnya.


Marc tampak terkejut. Dengan cepat, dia menatap ke arah Gray dengan ekspresi agak ketakutan. “Kau paham, mengapa hal itu terjadi? Tidakkah kau penasaran, mengapa kau diberikan pengecualian oleh Langit?” tegas Gray.


“Sa...ya tidak mengerti”


“Insiden itu, akan selalu menjadi kesalahan terbesar dalam kehidupan saya...”


“Benarkah, kau akan selalu mengingatnya? Lalu, mengapa kau seakan-akan tak peduli, saat Maximilien tiba-tiba muncul? Aku ragu, kau benar-benar mengingatnya. Atau hanya... berpura-pura mengingatnya”


“Saya mengingatnya! Saya akan selalu mengingat kesalahan yang membuat Maximilien tewas!”


“Kau... membunuhnya, Deval. Apakah kau ingat?” desak Gray bernada dingin. “Yang mulia, anda tidak boleh menekannya begitu keras. Dia masih belum sembuh benar. Tolong, mari kita bahas persoalan lainnya” pinta Carine. Dia tergugah untuk melindungi Marc, usai pria tersebut dipojokkan oleh Gray.


Lidah Marc terasa kelu, apabila mengingat insiden itu. Dia memang bukanlah orang yang membunuh Maximilien secara langsung. Akan tetapi, kematian Maximilien, berawal dari perkataannya.


“Yang mulia...” pinta Carine sembari mencoba untuk menenangkan Gray. Dia tampak mengelus lembut punggung Gray, agar emosi pria itu makin tak tersulut. Tidak salah memang, Langit mengirimkan Carine sebagai pendamping dan pengontrol emosi Gray.

__ADS_1


Perlahan, Gray mulai tenang. Dia terlihat melangkah ke arah tempat duduknya lagi. “Dan berterima kasihlah pada The Bride. Tanpanya, kau tidak akan pernah bisa diampuni oleh Langit. Dia bahkan, memberikan salah satu dari tujuh permata legendaris ke dalam tubuhmu. Sebab itu, kau tidak akan pernah bisa mati, sebelum kau bisa menebus segala dosa-dosamu” ucapnya. Tampaknya, Gray masih kesal ketika membahas tentang kematian Maximilien lagi.


Pasti, ada sesuatu yang besar di sana. Hingga Gray, tak dapat membendung emosinya. Dan tentu, cepat atau lambat, kita semua akan mengetahuinya.


Mendengar ucapan Gray barusan, Marc merasa seakan dirinya kehilangan energi yang besar. Rasanya, tubuh Marc tak bisa berdiri di tempat itu lagi dengan sempurna. Namun, rasa itu seketika menghilang, setelah Marc merasakan telapak tangan menyentuh dahinya.


“Yang mulia, dia demam lagi lho! Padahal, aku kan sudah berulang kali bilang. Jangan memarahinya! Selama ini, dia sudah merasakan hukuman yang sangat menyusahkan” protes Carine. “Kau selalu saja membelanya! Aku begini, itu semua demi kebaikannya! Berhenti memanjakannya terlalu berlebihan. Kau ini, selalu saja!” balas Gray kesal. Meski marah, dia tetap tak bisa semarah itu pada Carine. Dia memang lemah.


Tapi, pertengkaran kecil ini terasa seperti sesuatu yang lain. Marc merasa, ini adalah sebuah pertengkaran yang mirip, ketika ayah dan ibu sedang membahas anak-anaknya yang nakal. Marc merasa, dialah adalah anak yang nakal tersebut.


Tapi, itu tidak mungkin, bukan?


“Kalau dia masih sakit, suruh dia tidur di kamar atas. Lagian, kalau terus berada di ruang perawatan, dia bakal lama sembuhnya” omel Gray. “Rav, antarkan Marc ke kamarnya. Aku harus bicara empat mata dengan yang mulia” perintah Carine. Gray tampak acuh sembari bersedekap.


Raven, mendadak muncul dari balik pintu, usai mendapatkan perintah. Tanpa basa-basi, Raven segera menunjukkan jalan pada Marc. Meski masih sedikit bingung, Marc turut melangkah di belakang Raven.


Sebelum melangkah meninggalkan ruangan, Raven sempat memberikan sebuah kode pada Gray. Agar pria itu, tak melupakan pesannya. Gray harus bersikap baik pada Carine, untuk menebus kesalahannya di masa lalu.


Memang, itu adalah sebuah keharusan yang ku lakukan. Tapi... menyuruhku untuk tetap waspada pada Marc adalah hal yang tak berdasar! Bagaimana bisa, dia begitu gamblang menyatakan bahwa, Marc bisa saja merebutnya dariku. Cih! Mana ada aturan yang begitu? Pakai pengandaian, kalau Carine tiba-tiba memutuskan ikatan lagi! Meski sampai kapanpun, Carine tetap akan ditakdirkan denganku. Sebab dari awal, dia adalah bagian dari diriku yang tak terpisahkan. Makanya, meski seratus kali pun dia direinkarnasi, Carine... tetaplah menjadi bagian dari jiwaku. Dasar, naga sialan! Lagian, di mata Carine, Marc adalah anak yang berharga baginya, pikir Gray panjang.


Melihat Gray yang termenung, Carine mendadak penasaran. Dalam batin, dia mulai menebak-nebak ucapan yang bakal keluar dari mulut Gray. Kalau tidak omelan atau amarah. Bisa juga... sebuah tindakan yang tak terduga.


Seperti, yang sebelum-sebelumnya. Dan jika itu benar adanya, Carine akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia.


 

__ADS_1


__ADS_2