produk gagal

produk gagal
Pertikaian yang Tak Perlu


__ADS_3

“Kenapa kau juga... jadi ikutan aneh?” celetukku, saat Marc masih belum melepaskan pelukannya. Tak ada jawaban. Akan tetapi perlahan, Marc melepaskan tangannya.


“Aku hanya khawatir. Begitu pula dengan yang lain” jawabnya sambil melepaskanku. “Apakah pegawaimu yang lalu, ada yang tidak selamat saat menyelesaikan pelatihan pertama?” tebakku asal. Namun, Marc menggeleng. Dia tampak kembali duduk di tempatnya.


"Kamu adalah yang pertama” ungkapnya tampak jujur. Aku mengerutkan kening. Jadi, karena itu mereka semua bersikap begitu? Aku diperhatikan, bak tuan putri. Hhh... tapi tetap saja, perkataan Luc masih mengganggu pikiranku.


“Tapi Marc, kau tidak akan membunuh orang yang bertanggung jawab atas pelatihanku hari ini, kan? Aku baik-baik saja kok” tanyaku memastikan. “Luc, maksudmu? Kenapa aku harus membunuhnya?” balas Marc balik bertanya.


“Jujur saja, dia ketakutan” kataku mengatakan yang sebenarnya. Marc hanya tersenyum. “Akan kuurus dia. Pelatihan pertamamu, berhasil dengan baik. Meski ada sedikit masalah, aku akan mencoba untuk memperbaikinya. Untuk pelatihan keduamu, aku akan mengutus orang lain agar kamu lebih terlindungi lagi” ujarnya kemudian.


Aku hanya mengangguk. Usai pamit pada Marc, aku segera keluar dari ruangannya. Dia bilang, aku boleh kembali ke kamarku. Jadi, aku memutuskan untuk menjernihkan pikiran sejenak.


Tiba-tiba dipeluk begitu, membuat otakku jadi tak karuan. Ketika sampai di kamar, sesegera mungkin ku hempaskan tubuhku ke atas ranjang. Benar-benar nyaman.


Tapi, pikiranku kembali pada pelatihan tadi pagi. Pelatihan itu, terasa seperti bukan sebuah pelatihan normal. Apa karena itu, mereka semua mengkhawatirkanku?


Tiba-tiba, rasa kantuk menyerang mataku. Ya, pelatihan tadi sungguh melelahkan. Aku selamat, berkat pistol yang mereka berikan.


Tapi, aku benar-benar... mengantuk sekali...


~~ Author POV


“Barusan, sudah kami cek. Tidak ada dinding penghalang yang terbuka” lapor Robin. “Sudah kuduga. Pasti, ada orang yang sengaja menyusupkan klan Timur ke dalam Underwall. Rob, tolong kau periksa Hotel. Aku sedang mencurigai satu orang” pinta Marc. Dia tampak duduk dengan tegap, usai tadi sempat menopang dagu di atas meja.


“Aku mengerti. Dan... untuk Rei...” ujar Robin terhenti. Dia menatap ke arah Marc yang masih terlihat agak melamun. “Dia baik-baik saja. Persis seperti dugaanmu. Dia memiliki perisai yang akan secara otomatis, melindungi dirinya sendiri. Meski Rei, masih tidak sadar akan hal itu” lanjutnya.


“Dugaanku yang benar mengenai perisai, belum tentu bisa melindungi dirinya sendiri dengan sempurna. Apalagi, Rei juga belum tahu betul, tentang kekuatan yang dia miliki”

__ADS_1


“Jadi, kau akan tetap terus mengawasinya? Tanpa memberinya pelatihan?”


“Aku sudah menurutimu, tentang mengirimnya ke pelatihan. Dan kau sudah tahu sendiri hasil dari latihannya. Kau juga panik bukan, saat dia terluka akibat serangan dari Ludovic? Saat hal itu terjadi, apa kau ada di sana? Apa kau bisa melindunginya tepat waktu?”


“Walau aku tidak sempat melakukan apapun, usahanya cukup untuk menunjukkan pada kita. Dia bukan manusia biasa yang lemah, Marc. Lagi pula, masih ada Luc di sana. Luc tidak akan mungkin melepaskan Rei dalam bahaya, begitu saja”


“Tugasku... melindunginya, Robin. Aku berbeda denganmu” tolak Marc tak setuju. “Lalu, mau sampai kapan kau akan terus mengurungnya dalam sangkar? Dia bukan anak-anak lagi, Tuan Deval...” debat Robin masih ngotot. Marc tak menjawab. Dia tampak menatap ke arah jendela ruangannya yang tertutup.


Robin memutuskan untuk keluar dari ruangan Marc. Berdebat dengan pria itu, tak akan membuahkan hasil apapun. Dia mencoba mengerti, Marc berusaha yang terbaik untuk Rei. Tapi hatinya, tetap tak sanggup.


“Tuan Deval, pasti memiliki caranya sendiri... Kau harus mengertikan dia. Jangan lupakan kejadian dua tahun yang lalu. Saat itu, kita berhutang budi padanya, karena kesalahan yang kita lakukan” ujar Max menenangkan. Dia tampak bersedekap sambil bersandar di dinding. Sedari tadi, dia menunggu Robin keluar dari ruangan Marc. Dia tak tahan mendengar perdebatan antara Robin dan Marc.


Robin tak terkejut dengan kemunculan Max di hadapannya. Indra iblisnya, sudah merasakan kehadiran Max sejak tadi. Karena itu, Robin hanya melangkah mendahului Max begitu saja.


“Oh? Kau... masih marah ya? Wah, ngambek pasti” goda Max. “Tutup mulutmu atau ku robek sekarang juga!” ancam Robin sembari terus melangkah. Max mengikutinya dari belakang. “Beneran ngambek nih...” ujar Max.


“Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu dengan begitu mudahnya? Jangan ngawur!” amuk Robin sambil mencengkeram kerah baju Max. Sayangnya, Max hanya tersenyum diikuti angkat bahu cuek. “Dan beraninya kau memanggil Rein dengan sebutan, ‘Sayang’?” lanjut Robin masih marah.


“Hm? Kenapa memang? Dari awal, aku memang selalu memanggilnya begitu. Dan dia juga, sama sekali tidak keberatan. Kau saja yang sok! Memanggilnya apa? Rein? Cuma kau yang memanggilnya gitu! Jadi curiga, nih...” balas Max. Robin menghela nafas sejenak. Tak lama, dia berkata,


“Seperti yang Luc katakan. Kau memang, lama-lama makin menyebalkan. Harusnya waktu itu, ku kurung kau di Underwall lebih lama!” seru Robin. Dia tampak memiting kepala Max. Tak mau kalah, Max pun membalas Robin dengan pitingan yang lebih kuat. Mereka berkelahi, bak saudara yang tak pernah akur.


Setelah pergi ke Golden Luxury Hotel untuk memastikan sesuatu, Robin dan Max tak sengaja bertemu Reine. Wanita itu, terlihat keluar dari lift. Sepertinya, Reine hendak pergi ke suatu tempat. Dilihat dari terburu-burunya melangkah.


Robin lebih dulu melihat ke arah Max. Rupanya, Max juga melihat ke arahnya. Dalam hitungan detik, keduanya langsung adu cepat. Mereka berlari menemui Reine yang tinggal beberapa langkah lagi di depan.


“Rein!” panggil Robin. “Sayangku! Mau pergi ke mana malam-malam?” lanjut Max. “Eh? Oh, kalian rupanya. Aku hanya ingin... makan di luar sebentar” jawab Reine kelihatan kaget. Wajar, karena dia baru saja di datangi dua iblis yang sedang bertarung mendapatkannya.

__ADS_1


Mendengar mulut mereka saling bersahutan, baik Robin ataupun Max tampak saling menatap sinis. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Dah!” pamit Reine buru-buru. “Biar kutemani!” seru Robin dan Max bersamaan.


Reine tampak terkejut. Bahkan, dia agak berjingkat usai mendadak mendengar Robin dan Max berseru padanya. “Aku bisa pergi sendiri...” tanggap Reine. “Terlalu berbahaya!” sergah mereka kompak lagi.


“Kenapa kau mengikutiku?” protes Robin bersabar. “Kau yang mengikutiku. Dasar... tukang copy!” balas Max kesal. “Kau yang tukang copy! Sejak awal, aku memang ingin menemani Reine. Kalau dia pergi denganmu, aku yakin dia tidak akan selamat!” kata Robin ngotot. “Apa kau bilang?!” pekik Max makin kesal.


“Aduh, sudah. Aku bisa pergi sendiri, kok!” celetuk Reine ikutan kesal dengan pertikaian keduanya. “Biar aku saja, yang menemani Reine” ucap seseorang yang lain. Robin, Max dan bahkan Reine, tampak menoleh ke arah asal suara.


“Luc? Kau sudah baikan? Bagaimana keadaanmu? Padahal, ini mau kubelikan sesuatu...” sambut Reine. Pria itu, Luc tampak menggeleng pelan. “Terima kasih atas niat baikmu. Tapi sayang sekali, aku sudah kembali normal. Karena itu, aku akan mengantarmu malam ini” kata Luc. “Eh, tapi...” ujar Reine sembari melirik ke arah Robin dan Max.


“Kenapa?” tanya Luc kebingungan. Robin menghalangi tubuh Luc dengan punggungnya. Begitu pula dengan Max, yang berusaha menahan bahu kiri Luc dengan siku tangannya. “Sayangnya, kami juga akan pergi mengantar Reine...” kata Max bernada serius.


Luc mengerutkan keningnya. Dia sudah menyadari aura pertikaian antara Robin dan Max. “Kalau begitu, kita tanya saja pada Rei. Biar dia yang memilih di antara kita, siapa yang akan menemaninya makan malam” cetus Luc membuat peraturan. “Oke!” jawab Robin dan Max setuju.


“Jadi, Rein... Siapa yang kamu pilih untuk pergi bersamamu untuk makan malam bersama?” tanya Robin. Mendadak, ketegangan mengalir di sekitar Reine. Dia yang tadinya ingin, menghabiskan waktu sendiri untuk makan malam, harus berakhir seperti ini.


Luc yang menjadi pencetus idenya, tampak seperti sama sekali tidak peduli. Walaupun dalam hati, dia juga ikut tegang menunggu jawaban dari mulut Reine. Berbanding terbalik dengan Max, yang begitu percaya diri kalau dia akan terpilih lagi. Sebab, kemarin malam dialah yang menemani Reine.


“Bagaimana kalau kita makan sama-sama saja?” tawar Reine dengan opsi netral. “Ditolak! Jangan melenceng dari aturan!” seru Max tak setuju. “Tolong, pilih salah satu saja, Rein...” pinta Robin lembut. “Kenapa cuman begitu saja susah? Kau hanya perlu memilih, agar salah satu dari kami... bisa melindungimu dari bahaya saat kau makan nanti” omel Luc.


Kemudian, suasana kembali mencekam...


Reine memutar bola matanya. Tentu, dia kesal sekali dengan kejadian ini. Lebih baik mengeksekusi iblis, dari pada harus memilih di antara mereka bertiga. Please, ini cuman menemani makan saja kan? Sederhana, kok sebenarnya.


Tiba-tiba kemunculan orang lain menyita perhatian Reine. Orang yang baru saja keluar dari lift yang tak jauh dari tempatnya itu, membuat Reine mendapat secercah harapan. Jadi, tanpa berlama-lama dia akhirnya memutuskan.


“Aku ingin, dia yang menemaniku!”

__ADS_1


__ADS_2