
Langkah Gray mendadak terhenti, usai mendengar teriakan Carine. Dia berbalik ke arah wanita tersebut. “Apa?” tanyanya dengan ekspresi tak mengerti.
Sementara itu, Carine hanya bisa menghela nafasnya dengan keras. Kesalahan fatal. Harusnya, dia tak mengatakan itu pada Gray.
Mau mengalihkan pun, semua sudah terlanjur. Yang ada, Gray pasti akan terus mendesaknya. Atau malah, memarahinya karena tak konsekuen.
Belum sempat terpikir bagaimana caranya mengurungkan pembicaraan itu, Carine baru menyadari jika Gray sudah berdiri tepat di hadapannya. Tak lupa, dengan menunjukkan tatapan paling tajam di seluruh dunia. Ditambah, kerutan keningnya yang makin menjadi.
Dia... tidak sedang marah, kan?
Pikir Carine agak waspada. Dia akan benar-benar terkena masalah, jika Gray sedang marah. Carine mungkin, akan di marahi besar-besaran.
Tapi, selama ini dia sudah tak tahan. Sikap Gray yang membuatnya kesal itu, selalu tak pernah bisa berubah. Kesalahan yang di buat oleh Gray di masa lalu, belum bisa Carine hapus sepenuhnya.
“Apa maksudmu? Kenapa kau merasa, aku tak pernah menatap matamu? Kau menginginkan tatapanku, sekarang?” tawar Gray dengan berani. Nyali Carine yang sebenarnya, ingin membahas kesalahan Gray di masa lalu, mulai sedikit demi sedikit urung. “Kenapa kau diam? Katakan padaku, apa maumu, Carine? Apa yang kau inginkan dariku?” lanjut Gray langsung pada intinya.
Carine masih merangkai kata-kata yang tepat, sebagai balasan. Sayangnya, dia terlalu lambat. Sebab, Gray telah memulai langkah lebih dulu.
Pria itu mulai semakin dekat dengan Carine. Wajahnya, hanya berjarak satu inci dengan wajah Carine. Menyadari hal tersebut terjadi begitu cepat, Carine mendadak tak dapat berpikir jernih.
Perlahan, Carine memundurkan kepalanya, agar tak berbenturan dengan kepala Gray. Namun, bukan itu yang Gray inginkan. Dia tak kehilangan akal, untuk membuat Carine tetap dekat dengannya.
Gray memegangi kepala belakang Carine. Dan wanita itu, saat ini tidak dapat mengubah posisinya kembali. Carine hanya pasrah dan menerima konsekuensi yang dia timbulkan.
Gray menyandarkan keningnya ke arah kening Carine. Bahkan helaan nafas pelan dari pria tersebut, terasa dan terdengar jelas di telinga Carine. Jantung Carine, mendadak berdetak cepat.
“Maafkan aku...” bisik Gray lembut. Detak jantung Carine semakin tak karuan. Dia terkejut. Dan tanpa sadar, air matanya mengucur dengan derasnya. Seketika, memori akan masa lalu keduanya, kembali menghiasi ruang pikiran Carine.
~~
__ADS_1
Sekitar abad ke-15, Abcaestter masih dinamakan, Abcaestterland. Hal itu terjadi, akibat dunia yang semakin berkembang. Walaupun, saat itu Abcaestter masih memiliki keturunan bangsawan atau darah raja.
Namun, Abcaestter sudah tidak lagi di pimpin oleh seorang raja. Sebutannya mulai berganti menjadi, Duke. Ada empat wilayah yang berada di dalamnya. Abcaestter sendiri, sebagai nama Ibukotanya, Oxshawden, Astbrookwen dan juga, Trendale.
Pada abad ini, bisa dikatakan ada sedikit kemiripan antara Abcaestter di abad ke-7. Yakni, setiap wilayah dipimpin oleh seorang pemimpin. Mereka yang memimpin beberapa wilayah diberi gelar, Viscount.
Dan di sinilah kita berada. Tepat di perbatasan wilayah Oxshawden dengan Ibukota Abcaestter, yang masih dipenuhi hutan dan laut lepas. Meski abad demi abad telah berlangsung, tugas Gray sebagai Pemburu Kematian, masih belum berakhir.
Semenjak di tugaskan setelah kematiannya pada awal abad ke-11, Gray terus melanjutkan kehidupan. Dia paham betul, setiap perubahan yang terjadi pada manusia. Mulai dari yang licik, kejam hingga mulia sekalipun.
Sebab itu, dia kadang merasa sangat membenci manusia. Pada zaman itu, tentu semua manusia bisa menggunakan kekuatan mereka. Ya, di abad ke-15 ini, manusia masih dianugerahi kekuatan alamiah yang berasal dari dirinya masing-masing.
Walaupun dianugerahi kekuatan yang sangat hebat, masih ada pula manusia yang memiliki pola pikir dan niatan yang buruk. Dan manusia-manusia seperti demikian, disebutlah sebagai Iblis dan juga, Siluman. Hal itu, masih melekat hingga kini. Sebutan tersebut juga berasal dari abad ke-9, di mana wilayah dalam Abcaestter dipecah belah oleh penduduk Pvalka.
Di abad ke-15, Gray sudah ditemani oleh Carine. Wanita tersebut sangat memperhatikan Gray, hal yang biasa dilakukannya.
Carine juga memiliki buku kuno, sebagai Pemburu Kematian. Karena sebenarnya, Carine adalah seorang wanita yang dipilih Langit untuk menemani dan meringankan beban tugas Gray, selama menjadi pimpinan para Pemburu. Intinya, dia merupakan sosok yang penting untuk menunjang tugas Gray yang berat.
Seharusnya, cara kerjanya begitu.
Namun, Gray tampaknya menolak mentah-mentah bantuan tersebut. Selama hidup di dunia berabad-abad lamanya, Gray mulai terbiasa hidup sendiri. Dan lagi, Raven juga sudah membantunya sejak awal dia ditugaskan menjadi Pemburu Kematian.
Akan tetapi, persepsi Langit soal, ‘teman hidup’ Gray berbeda jauh. Keberadaan Carine adalah jawaban dari harapan Gray selama ini. Namun bagi Gray, Carine adalah halangan baginya.
Sebab, Carine seorang wanita.
Wanita.
“Bukan bermaksud merendahkan... Kau tahu, maksudku kan, Rav? Dia memang wanita. Dia kuat dan sangat baik. Tapi, bukan itu maksudku. Aku hanya... merasa tidak bisa bergerak bebas dengan adanya dia” curhat Gray. Kala itu, dia agak kehilangan kewarasan, usai menenggak beberapa botol anggur. “Yang mulia, sepertinya anda benar-benar mabuk. Bahasan anda jadi terdengar konyol. Sebelum Nona khawatir, mari kita pulang” pinta Raven dengan sabar.
__ADS_1
“Rav! Kurang ajar! Kau akan kupenggal, jika berani memotong pembicaraanku!” amuk Gray sembari meninju meja kedai yang dia tempati. Raven tampak kaget. Dia tak enak hati, pada pelanggan lain. Dan juga, pada si pemilik kedai yang ikutan kaget.
Pemilik kedai pun, langsung menoleh ke arah mereka berdua. “Yang mulia, kalau kau berisik... orang-orang akan marah. Jadi, ayo kita pulang saja” bisik Raven agak memohon. “Ku bilang, aku tidak mau pulang!” jawab Gray keras.
“Yang mulia, saya mohon...” pinta Raven. “Dengarkan dulu! Aku... hanya ingin mengatakan satu hal padamu” ucap Gray bersikeras. “Ya, setelah anda mengatakannya, kita harus segera pulang, ya?” tawar Raven. Seketika, wajah Gray mulai tenang kembali.
“Hmm, aku tidak jadi bilang”
“Hah? Lalu, apa yang anda inginkan?”
“Aku hanya ingin bertanya padamu. Singkat, kok”
“Katakan, yang mulia”
“Bagaimana... caranya membuat gadis itu menghilang?”
Sontak, Raven terkejut bukan main. Bola matanya sampai terlihat hampir keluar dari tempatnya. Tak lama kemudian, Raven terlihat mengerutkan kening.
“Gadis itu? Siapa... maksud anda?” tanya Raven memastikan. “Dia...” jawab Gray masih tak jelas. “Oh, Nona...” “Ya, benar. Gadis itu, Nonamu, Carine. Tumben, kau cepat mikirnya. Aku... ingin Carine menghilang dari dunia ini. Karena dia, sudah terlalu lama menghalangi tugasku” potong Gray.
Padahal, Raven bukan ingin menebak pertanyaan itu. Melainkan, dia sedang memanggil seseorang. Tentu, seseorang yang dia kenal dengan sangat baik.
Tak jauh dari tempat Raven, gadis tersebut tampak berdiri mematung. Dia terlihat syok, usai mendengar percakapan singkat itu.
“Nona, ini... tidak seperti yang anda dengar” ujar Raven mencoba menegaskan. Namun, yang membuat memori di dalam otak Raven akan terus mengingat hal tersebut adalah saat dirinya melihat senyum Carine yang tetap mengembang dengan sempurna.
“Yang mulia, sepertinya anda benar-benar sangat mabuk”
~~
__ADS_1