
“Padahal, kau sudah melakukan segala hal untuk melindungiku. Tapi, semakin ke sini, semuanya makin terasa sulit. Aku hanya... Sedikit takut” ungkap Reine. Tampak, Marc memegang kedua bahu Reine. Pria itu seakan, sedang berusaha menenangkan kekalutan Reine.
“Kamu tidak perlu takut. Seperti yang sudah ku katakan sebelum-sebelumnya, di mana pun kamu berada, aku akan selalu melindungimu” janji Marc. Reine mengangguk pelan. Marc menempelkan keningnya, tepat ke kening milik Reine. “Kamu percaya padaku?” lanjutnya. Tak lama kemudian, Reine kembali mengangguk.
Marc tersenyum. Nafasnya terembus, bak semilir angin di wajah Reine. Benar-benar menenangkan. Dia pandai melakukannya.
“Marc?” panggil Reine mendadak, dalam situasi yang begitu intens tersebut. “Ya?” jawab Marc selembut biasanya. “Toilet. Toiletnya... di sebelah mana, ya?” tanya Reine memecah suasana penuh roman. Marc tampak langsung menunjuk ke sebuah pintu.
“Keluar dari sini, ada pintu di sebelah kanan” kata Marc sembari berusaha menahan tawa. “Sorry...” sesal Reine polos. Ketika Reine melangkah keluar dari kamar tidur Marc, suara tawa kecil milik Marc terdengar di telinga hingga membuatnya malu. Sebab itu, dia buru-buru mempercepat langkahnya.
Usai keluar dari toilet, Reine agak tertarik dengan balkon “rumah” milik Marc. Dia tak bisa bayangkan, sebuah bangunan di atas bangunan lain. Bangunan yang tinggi. Reine pikir, Underwall adalah yang tertinggi. Namun rupanya, rumah Marc lebih tinggi dari Underwall.
Saat memandang gemerlap kota, tempat para iblis bernaung, seseorang tiba-tiba muncul di hadapan Reine. Tentu, Reine terkejut bukan main dengan kehadiran sosok itu. Apalagi, beterbangan di lantai atas Underwall.
Ngeri, bukan?
“Malammu menyenangkan, bukan?” sapa sosok itu dengan nada khas. Selalu menggoda dan membuat masalah semakin runyam di pikiran. “Maximilien? Apa yang kau lakukan di...?” tanya Reine terhenti, karena masih syok. Dia bahkan tak habis pikir, pria itu terbang ke lantai atas Underwall hanya untuk menemuinya.
Bukan Maximilien, jika dia tidak gila. Yah...
“Mencari udara segar, sepertimu” jawabnya santai. “Setinggi ini?!” seru Reine heran. “Sst! Marc bisa menemukan kita nanti” ucap Max sambil menempelkan telunjuk ke bibirnya. “Memangnya, kenapa? Toh, kau juga sedang mampir ke rumahnya, bukan? Yah walau... tanpa mengetuk pintu” tanggap Reine kembali normal.
Max hanya tersenyum. “Aku tidak mampir. Ku bilang, hanya mencari udara segar. Ya, kan?” ujarnya tak mau kalah. Reine buru-buru mengangguk, tanda dia malas berdebat.
“Kau terlihat... Bahagia, Honey. Ah, ya! Tidak, aku tidak boleh memanggilmu dengan sebutan itu. Karena, kau sudah menjadi milik orang”
__ADS_1
“Cih, kau pikir, meski belum milik orang, kau kira aku akan senang dengan panggilan itu?”
“Why not?”
“Norak, tahu enggak?! Ich!”
Max menghela nafas panjang. “Uh, padahal ku kira, aku adalah favoritnya Reine” keluhnya agak kecewa. “Semua favoritku!” dengus Reine berusaha adil. “Tapi, kau jadian dengan Marc tuh!” tanggap Max usil. Dia terlihat memegangi telinganya.
Speechless
Perkataan Max barusan, membuat Reine kehilangan kata-katanya. Berdebat dengan Max, sejak awal memang tak ada gunanya. Sebab itu, dia harus sesegera mungkin mencari topik baru.
“Bagaimana dengan Robin?” celetuk Reine memecah keheningan. “Masih dalam pengawasan” jawab Max. “Kita tidak akan tahu, dia berbahaya atau tidak, jika kita tidak melempar umpan untuk mengetahui kebenarannya” saran Reine.
Max mengangguk paham. “Aku tahu, tapi Robin... bukan tipe iblis yang mudah di tebak. Sebab itu, kita harus waspada. Karena hanya kau yang diintai, maka akan lebih mudah untuk mencari kebenarannya. Semua akan mengalir pada waktunya, Rein” jelas Max. Reine mengangguk mengerti akan penjelasan dari Max.
Topik yang membosankan. Selalu tentang Reine dan permatanya. Reine tahu betul, ada hal lain yang harus dia bicarakan dengan Max. Contohnya, mengapa dia mendadak kembali ke zaman lampau saat melihat Max di angle yang tak terduga.
Beberapa kali terjadi, namun Reine sengaja tak ingin membahasnya. Perasaannya pada Marc, lebih nyata ketimbang harus mengejar perasaan pada Max yang terasa semu. Dia seperti sedang, berada di dunia lain ketika bersama dengan Max. Kembali ke suatu tempat yang sama sekali tak Reine kenal.
“Sebenarnya, siapa kau ini?” tanya Reine membuat Max cukup kaget. “Kenapa? Sekarang, kau juga mencurigaiku, selain Robin?” balasnya balik bertanya. Reine buru-buru menggeleng. “Tidak, maksudku... Maaf, aku mungkin, sedang banyak pikiran. Di sini terlalu dingin. Aku juga sudah pergi terlalu lama. Marc akan mencariku. Aku masuk dulu, ya?” pamit Reine, menghindari pikiran anehnya.
“Menjadi seperti ini, bukankah kau... bahagia?” celetuk Max, sebelum Reine menghilang dari balik pintu kaca balkon. Reine kembali menoleh. Langkahnya, mendadak berhenti usai mendengar perkataan Max.
“Bahagia? Mungkin, ya. Setelah beberapa kali mendapatkan hal buruk, ku rasa aku agak... bahagia. Bukankah aku pantas mendapatkannya?” balas Reine. Max, bukannya segera mengangguk atau meninggalkan tempatnya. Pria itu jelas-jelas terlihat malah melangkah mendekati Reine. Usai perlahan turun ke lantai balkon.
__ADS_1
“Sungguh kau merasakan hal itu?”
Pertanyaan yang keluar dari mulut Max barusan, berhasil membuat Reine merasa terdesak. Entah kenapa, perasaan yang tak enak mulai menjalar ke seluruh aliran darahnya. Reine berusaha agak mundur.
Dan Max, tetap konsisten terhadap langkahnya. “A, Apa... yang kau lakukan?” tanya Reine terbata-bata. Sesaat, dia merasa takut. “Memastikan sesuatu” ucapnya bernada santai. Sebuah situasi yang sangat berbanding terbalik.
“Apa yang hendak kau pastikan?”
“Max?”
“Maximilien, kau...”
Tak hanya mendesaknya ke dinding rumah Marc, Reine juga merasa Max memegangi kedua bahunya dengan erat. Kedua matanya, tampak menatap Reine bak mata pisau yang telah terasah.
“Inikah kehidupan yang kau inginkan, setelah kau memutuskan untuk membangkang perintahku?”
Nada suara itu, memang terdengar pelan. Akan tetapi, tidak bagi telinga Reine. Dia merasa, ada beberapa penekanan di setiap kata demi kata yang terucap di mulut Max.
“Apa maksudmu? Membangkang?” ulang Reine pelan. Dia mengatakannya sambil setengah berpikir. Dan meski berulang kali memikirkannya, Reine tak mendapatkan sebuah jawaban.
“Tapi aku, tak pernah sekalipun melakukan hal yang kau tuduhkan. Aku...” “Carine Anne-Marie Vaillancourt” sela Max cepat. “Hah?” ucap Reine kebingungan.
Tak lama berada dalam situasi yang kacau, leher Max telah dicengkeram kuat oleh sepasang tangan yang tak asing. Bahkan, Max dibuat mundur hingga punggungnya, bertabrakan dengan beton fondasi balkon rumah Marc. Kini, situasi berbalik mencekam keduanya.
“Jangan mengacau, yang mulia. Aku, tidak akan pernah memaafkanmu, jika kehidupanku yang ini... berujung kegagalan” bisik Carine. Sosok itu kembali muncul, mengambil alih tubuh Reine. Dia bahkan tak segan, mendesak Max agar tetap merasa kesakitan dengan punggung seperti itu.
__ADS_1
Max menatapnya, seakan meminta belas kasih. Namun rupanya, kemarahan Carine seolah telah berada di puncaknya. “Jangan ikut campur dalam kehidupanku yang sekarang ini, yang mulia. Tolong, menyingkirlah dari gadis ini, sebelum aku... bertindak lebih jauh” bisiknya penuh ancaman.