produk gagal

produk gagal
Perintah dari Langit


__ADS_3

Sejenak termenung, tiba-tiba Carine dan Arthur telah kembali ke tempat semula. Mereka yang sempat menghilang, kini tiba dengan keadaan yang berseberangan. Arthur babak belur dan Carine yang masih bertahan, tanpa luka sekecil apapun.


Carine membawa Arthur layaknya seekor binatang. Dia hanya memegang kerah baju belakang Arthur dengan tangan kirinya. Gray yang menunggu, akhirnya bernafas lega. Sebab, Carine rupanya tak jadi membunuh Arthur.


“Maaf, menunggu lama” sapa Carine sembari menjatuhkan tubuh Arthur ke lantai sel, bak sebuah barang. “Apa yang kau lakukan? Sudah ku bilang, biar aku yang mengurusnya” omel Gray tampak kesal. Dia terlihat berkacak pinggang diikuti ekspresi mengerutnya.


“Aku hanya bermain-main dengannya. Lagi pula, kau lengah. Tadi, dia berhasil lolos dari sangkarmu, lho!” tanggap Carine makin membuat Gray kesal. “Jangan melakukan hal yang konyol. Aku tidak akan bertanggung jawab, kalau kau mendadak diberi hukuman!” ancam Gray. Rupanya, dia masih tak bisa menerima pendapat dari Malaikat Maut. Padahal, itu adalah hal yang sudah sangat jelas.


“Kembalilah ke hotel. Aku akan mengurusnya” perintah Gray. Tak membalas dengan kalimat apapun, Carine segera berbalik. Melihat gelagat Carine yang mencurigakan, Gray sudah bersiap.


Kalau Carine berani membunuh Arthur di hadapannya, maka Gray berhak untuk langsung memberinya hukuman. Biasanya, kekuatan Carine akan di segel oleh Gray untuk sementara waktu. Memiliki pangkat tertinggi dalam Pemburu Kematian, membuat Gray agak berbangga diri. Sebab, semua kekuatan yang dimiliki oleh para Pemburu, hanya dia yang bisa menyegelnya.


Gray masih berdiam di tempatnya, dengan tingkat siaga yang luar biasa. Belum sampai beberapa detik, langkah dari seseorang mulai bergerak. Sebuah serangan jitu yang cepat hingga membuat Gray agak kewalahan.


Rupanya, semua selalu tak seperti yang Gray pikirkan. Bukan Carine yang menyerang ataupun melakukan sebuah tindakan yang ceroboh. Melainkan, Arthur sendiri.


Meski babak belur dihabisi oleh Carine dalam ruang hampa yang dibuatnya, Arthur tetap tak menyerah. Para kriminal memang selalu berbeda. Dia tahu, karena itu dia menunggu gilirannya untuk memanfaatkan kelengahan musuhnya.


Namun, sekali lagi. Arthur salah target. Baik Carine maupun Gray, mereka bukanlah manusia biasa atau iblis lain yang berkekuatan rendah. Mereka adalah Pemburu Kematian.


Tentu dengan sekali libasan tangan kosong Gray, Arthur langsung terjungkal jauh. Tak mau membuat gaduh dalam sel, Carine segera mengambil sebuah tindakan. Dia mengucapkan beberapa mantra untuk membuat para tahanan tak sadarkan diri.

__ADS_1


“Protokol 922, yang mulia?” tanya Carine, usai dirinya menatap ke arah Gray yang bersiap mengenakan sarung tangan hitamnya. Carine masih menunggu di tempatnya. Tak lama setelah Gray selesai melakukan persiapan, akhirnya dia menjawab,


“Protokol 922, diizinkan”


Dengan riangnya, Carine tersenyum penuh kebahagiaan. Bak, menerima sebuah harta karun yang dinanti-nantikan olehnya. “Protokol 922, diaktifkan!” serunya makin girang.


Protokol 922, protokol khusus untuk mengunci seluruh akses luar yang akan mengganggu jalannya eksekusi. Ketika protokol tersebut diaktifkan, artinya, Pemburu Kematian sedang memberikan sebuah hukuman besar untuk salah satu iblis yang memiliki kasus kejahatan berulang.


“Akhirnya, anda mulai serius, yang mulia” ucap Carine bersemangat. “Aku melakukannya sesuai dengan perintah dari Langit, melalui buku kuno. Jika perintah hukuman Arthur tidak masuk ke dalam buku kuno, aku tidak akan pernah melakukan ini” kata Gray meluruskan. “Anda bilang, hukuman? Bukankah, Protokol 922 hanya untuk eksekusi?” ujar Carine mengoreksi.


Ketika sedang bekerja, Carine akan menggunakan kalimat-kalimat formal pada Gray. Lain halnya saat mereka sedang melakukan obrolan santai di luar pekerjaan. Mereka akan kembali dengan saling mengejek satu sama lain.


Di dalam urutan para Pemburu, jabatan Carine berada di bawah Gray. Walaupun kebanyakan Pemburu lain bilang, jabatan mereka setara. Namun tetap saja, Carine harus mematuhi perintah Gray.


“Kita lihat saja, apa yang akan terjadi” kata Gray, terlihat menyembunyikan sesuatu. “Woo, aku tidak pernah melihat anda bersemangat seperti ini...” puji Carine dengan sorakan gaduh. Kepercayaan diri Gray, langsung meningkat pesat!


Gray tampak bersedekap, berlagak sok keren. “Tentu saja, aku selalu bersemangat. Bukankah kau senang, akhirnya kejadian semacam ini kembali terjadi?” tanyanya diikuti senyuman angkuh. “Maksud anda... menghukum iblis seperti ini? Tentu, ini menyenangkan. Tapi tetap saja, pertarungan di alam bebas seperti era yang lalu... selalu ku nanti-nantikan. Wah, sebenarnya itu tidak boleh, kan? Kenapa aku terus memikirkan peperangan?” tanggap Carine buru-buru menghapus pikiran buruknya.


“Bukankah ini juga hal yang kau nanti-nantikan? Kerja sama kita, selalu tidak pernah gagal menjadi yang terbaik”


“Kapten, kau selalu saja memikirkan peringkat! Itu terlalu kuno, tahu! Lagi pula, siapa yang tidak akan percaya dengan sinergi terbaik tim kita?”

__ADS_1


“Tidak satu pun”


“Benar. Tidak satu pun yang memandang kita buruk, Kapten! Semua Pemburu juga tahu. Jadi...”


“Jadi?”


“Jadi, alih-alih kita hanya memberikan hukuman kecil pada bedebah satu itu. Kenapa kita tidak memberinya eksekusi saja?”


Usai mendengar hal tersebut, Gray terdiam sejenak. Akhirnya, dia menyadari sesuatu. Ada yang tidak beres dengan percakapan ini.


“Wahh, kau benar-benar...” ucap Gray, ketika mulai meyakini bahwa, kecurigaannya mulai benar. Gray tampak menghadap ke arah Carine sembari berkacak pinggang. “Wah... Kau tidak pernah berubah, Carine. Kau benar-benar masih sama, walaupun era demi era telah melaluimu” lanjutnya.


Carine tampak tersenyum bangga. “Apa? Kekuatanku? Tentu saja, kekuatan dan kecerdasanku tidak pernah berubah, Kapten. Meski, di makan zaman sekaligus!” balasnya. Namun tiba-tiba, Gray langsung menjitak kepalanya. “Sialan! Kau mencoba untuk memprovokasi ku, bukan? Kau berusaha untuk membuatku berubah pikiran dengan cara memujiku hingga langit ketujuh? Agar aku bisa meminta eksekusi pada Langit, kan?” tebak Gray tepat.


Sembari memegangi kepalanya yang menjadi korban, Carine sedikit demi sedikit terlihat mundur. “Aku... bukan itu maksudku! Apa yang ku katakan tentang anda adalah benar! Aku tulus memuji anda, Kapten. Tidak ada niatan sedikit pun untukku mencoba untuk melakukan provokasi” jelas Carine berusaha sekeras mungkin. “Terus, kenapa kau menjauh? Karena niatmu sudah ketahuan, anak nakal! Aku tahu itu. Dasar, anak kurang ajar! Sini, kau!” amuk Gray makin menjadi.


“Kapten, aku bersungguh-sungguh!” seru Carine yang masih berusaha menghindari Gray. “Kau semakin mundur, sialan! Kemarilah!” balas Gray tak kalah keras. “Tapi, dia adalah iblis yang keji, Kapten. Bahkan, anda melihat tindakannya selama ini! Di mana semua iblis berusaha yang terbaik untuk mengumpulkan kebaikan, iblis sialan ini... malah berusaha mengumpulkan keburukan! Bukankah eksekusi adalah hukuman yang setimpal?” kata Carine tetap ngotot.


Kesabaran Gray, mulai ada batasnya. Dia tampak menatap tajam ke arah Carine. Suasananya berubah menjadi semakin serius.


“Bagimu, memanglah tidak adil. Tapi bagi Langit, hukuman ini telah adil, Carine. Dan kau, harus mematuhi aturannya. Karena hukumannya, sudah di tentukan di dalam buku kuno. Jika kau berusaha melanggarnya, kau tahu konsekuensi yang akan terjadi” tegas Gray. Carine menunduk lesu. Dia kecewa, akan hukuman yang diberikan pada Arthur yang telah membunuh sang ibu. Di depan kedua matanya.

__ADS_1


“Aku sudah berusaha untuk melepaskannya. Persis seperti perkataanmu. Aku sudah berusaha berlapang dada, agar aku tidak terusik lagi oleh perbuatannya. Tapi, orang yang dia bunuh adalah ibuku... Dia hanya, seseorang yang ingin melindungi permata dan anak ini juga. Dia mengacaukan segalanya, meski dia tahu akan risiko yang diterima. Dia memberanikan dirinya pergi kemari, bukan untuk temu kangen dengan anaknya. Melainkan, menjalankan misinya untuk melindungi hal yang paling berharga. Dia seorang manusia, yang hanya ingin dunia iblis tetap damai. Dunia yang ditempati oleh iblis sialan itu! Tidakkah Langit miris, saat mendengarnya?!” teriak Carine kencang. Ketidak-adilan, telah menyakiti hatinya. Dia amat sangat kecewa dengan kenyataan yang ada.


“Langit selalu... melakukan yang terbaik untuk kita semua, Carine...” ucap Gray sembari menatap ke arah langit-langit sel Underwall. Carine tak menjawab. Baginya, percuma saja dia mengungkapkan perasaannya. Toh, kenyataan yang dia rasakan saat ini, tidak akan pernah berubah.


__ADS_2