
Ketika Gray membuka mata, dia telah di sambut oleh raut wajah khawatir dari seseorang yang tak asing. “Ca...rine?” panggil Gray dengan suara pelan. “Yang mulia, anda baik-baik saja?” jawab seseorang yang setelah diperiksa lagi, ternyata Raven.
“Kenapa aku terbaring di atas sofa?” tanggap Gray sembari refleks bangkit dari sofa miliknya. “Tadi, anda tak sadarkan diri. Jadi, saya bantu anda berbaring di sofa. Anda baik-baik saja?” balas Raven masih cemas. Gray hanya menjawab dengan sekali anggukan.
Gray mencoba untuk duduk perlahan. Kepalanya terasa masih berputar-putar. Raven membawakan secangkir teh hangat untuk Gray. Entah, bagaimana bisa si manusia jadi-jadian itu bisa membuat secangkir teh, dengan keadaan masih baru saja terbebas dari sebuah segel tidur untuk waktu yang lama.
Berbicara soal Raven, dia adalah Stellerian-Anima. Sebuah bangsa dari masa lalu yang berada di sebuah era di mana dunia masih berbentuk kerajaan. Bukan dunia para iblis, tentunya. Era tersebut bernama, Abcaestter.
Dulu, di era ketika Raven hidup untuk pertama kali, dia merupakan sosok manusia yang memiliki kekuatan sihir. Dia bisa bertransformasi menjadi beberapa binatang yang dia inginkan. Tentu, binatang yang dapat menolong dirinya ketika sedang terancam.
Kota Abcaestter dihuni oleh para penyihir. Mereka disebut, sebagai penduduk Stellerian. Anima sendiri adalah nama dari sebuah klan yang masyarakatnya, rata-rata dapat bertransformasi menjadi binatang. Dan Raven salah satu contoh dari klan itu.
Sayangnya, era Abcaestter turut berakhir, ketika para penyihir kehilangan kedudukannya. Hal itu ditandai dengan lahirnya manusia-manusia normal yang tidak memiliki kekuatan apapun. Dan kemudian, mereka menjadi semakin mendominasi hingga para penyihir menjadi sekumpulan yang minor.
Akhirnya, Abcaestter pun menghilang dari peredaran. Menurut Raven, penduduk Abcaestter yang tersisa, bukanlah menghilang. Melainkan, bersembunyi di sebuah tempat di dalam hutan yang tak terjamah oleh manusia biasa.
Penduduk Abcaestter yang dulunya dibagi menjadi beberapa klan, akhirnya berkumpul menjadi satu. Dan ketika dunia iblis di bentuk, mereka dialihkan ke sana. Itu pun merupakan hasil jerih payah Gray bersama dengan Carine. Dan bantuan serta harapan dari Raven pula. Kalau tidak, pasti penduduk Abcaestter akan mulai terganggu oleh keinginan manusia normal yang berusaha menjadikan mereka obyek untuk sebuah penelitian.
Padahal, awalnya mereka juga generasi dari penduduk Abcaestter. Namun, banyak manusia biasa yang enggan mengakuinya. Dan berdalih bahwa, kekuatan sihir dan sebagainya hanyalah sebuah ilusi dan fantasi belaka.
Akan tetapi, ketika tiba-tiba serangan iblis meraja lela, mereka baru mempercayainya. Mereka baru takut dan berusaha untuk mencari jalan keluar. Jadi, itulah sedikit pengertian dari asal usul Raven. Kalau kalian melihat sosoknya yang saat ini, dia... bukanlah seseorang yang menakutkan. Dia hanya pria muda yang tampan, seperti manusia lainnya.
__ADS_1
“Yang mulia, melihat apa yang terjadi saat saya membahas tentang Nona... jangan-jangan anda belum sempat memperbaiki hubungan, ya? Anda... menyepelekan Nona lagi rupanya” tebak Raven. “A, apa maksudmu?” tanya Gray berpura-pura bodoh. “Pantas, Nona memberitahuku untuk menemani anda. Saat kutanya, mengapa tidak Nona saja yang menemaninya? Nona langsung menjitak kepalaku” tanggap Raven yang akhirnya mengerti tentang permasalahan pasangan Pemburu Kematian itu.
“Ja...jangan berbicara sembarangan. Enggak heran, kau malah dijitak. Artinya, kau terlalu ikut campur, tahu!”
“Tidak, itu karena saya memaksanya agar terus bersama anda saja. Padahal, itu semua adalah tugasnya. Kenapa juga aku harus di jitak? Aku kan, benar?”
“Kenapa kau melakukan itu?!”
“Karena anda kan... pasangan yang bertugas untuk melindungi dunia ini. Pasangan yang serasi”
“Serasi pantatmu!”
Mendengar Raven berucap demikian, membuat batas kesabaran Gray menghilang. Dia segera bangkit dari sofa dan melompat ke arah Raven dengan kilat.
Gray memiting kepala Raven dengan erat. “Karena kau brengsek begitu, wajar saja kalau dia menjitak kepalamu! Dasar!” amuknya. “Yang mulia, saya bersalah! Maafkan saya, ampuni saya, yang mulia...” sesal Raven berusaha membebaskan kepalanya.
Tak lama kemudian, Gray akhirnya melepaskan kepala Raven. Dia tampak melangkah ke arah jendela ruangannya. Melihat beberapa gedung pencakar langit lain yang terlihat di sana, membuat Gray sedikit muram.
“Padahal, orang-orang sudah berusaha sebaik mungkin untuk membangun segalanya hingga tampak lebih baik. Kenapa ada beberapa orang yang malah, ingin menghancurkannya? Sebenarnya, di mana otak mereka berada?” tanya Gray mendadak. “Di kaki, mungkin. Kalau benar di kepala, mereka pasti manusia normal. Sayangnya di dunia ini, hanya dihuni oleh para iblis. Enggak heran, kalau mereka punya pemikiran yang nyeleneh” tanggap Raven. “Kau juga, salah satu dari iblis yang nyeleneh itu kan?” canda Gray.
Raven tampak berubah marah. “Saya bukan iblis, yang mulia! Saya adalah Stellerian!” serunya membela diri. “Ya, ya, ya...” balas Gray puas, usai menggoda Raven dengan leluconnya. “Jadi yang mulia, anda akan berjuang sendirian untuk melindungi dua dunia. Mampukah anda... melakukannya sendirian?” tanya Raven penuh dengan kecurigaan.
__ADS_1
Gray menghela nafas panjang. “Siap atau tidak, bukankah kita harus tetap maju demi semua?” jawabnya penuh keyakinan. Raven mengangguk paham.
“Jadi, sampai mana progres yang kau tahu tentang mereka?”
“Saya sudah mengawasi mereka beberapa bulan ini. Seperti yang saya dengar, mereka akan lebih dulu menghancurkan dunia iblis ini. Setelah hancur, mereka beralih ke dunia manusia. Dunia manusia adalah yang paling rentan. Wajar saja bila mereka menyerangnya”
“Tujuan mereka... hanya ingin menguasai dunia? Segitu sederhananya?”
“Mereka ingin memusnahkan seluruh manusia, agar mereka memiliki tempat di sana”
“Jangan-jangan... mereka ingin mengembalikan kedudukan seperti semula?”
“Maksud... anda?”
Gray berbalik menuju ke arah meja kerjanya. “Bukankah nenek moyangmu... juga awalnya berasal dari dunia yang saat ini di tempati oleh para manusia?” tanyanya. “Balas dendam? Maksud anda, ingin balas dendam atas perilaku yang pernah para manusia lakukan pada penduduk Abcaestter?!” jawab Raven.
Gray kini terlihat bersedekap. “Apapun langkah yang mereka lakukan, aku tidak peduli. Karena pada akhirnya, aku akan bisa menghentikan semuanya seperti sedang membalikkan tangan. Pertanyaanku hanya satu. Ketika mendengar hal itu menggema di markas mereka, bukankah... kau juga merasa ingin menjadi bagian dari mereka semua? Mengingat, kejahatan manusia yang telah membuat kalian terjebak di dunia yang mudah hancur ini” tanya Gray mengalihkan. Dia menatap tajam ke arah Raven. Rupanya, yang mulia mulai serius dengan bermain-main menggunakan nalarnya.
“Saya... hanya ingin mereka selamat” jawab Raven. “Siapa? Penduduk Abcaestter?” balas Gray mendesak. “Bukan, maksud saya... Semua orang. Baik untuk dunia manusia, maupun dunia ini” kata Raven.
“Hm? Mengejutkan sekali. Kenapa kau tidak berusaha untuk membalas juga? Bukankah, ide para penyihir itu terdengar baik? Balas dendam, akibat perbuatan keji hingga terusir dari kedamaian? Untuk apa kau berusaha menutupi kekesalanmu? Luapkan saja dan ambil tanahmu lagi. Aku... tidak akan menghalangi”
__ADS_1