produk gagal

produk gagal
Peduli


__ADS_3

"Pengawal melapor, pintu Underwall terkunci. Sepertinya, otomatis pintu sel berhasil di retas” ucap Luc. Saat ini, dia, Max dan Robin telah berhasil menghandle serangan di lobby. “Dilihat dari gaya bertarung iblis yang ada di sini, kurasa itu tak sebanding dengan kecerdasan mereka meretas pengaman sel. Hmm, kenapa aku merasa... ini hanya pengalihan ya? Dan kekacauan yang sebenarnya, mungkin sedang menyerang Underwall sekarang” kata Max. “Sialan!” umpat Robin sambil berlari ke arah sel, usai menyadari sesuatu.


Langkah Robin diikuti oleh Max dan Luc di belakangnya. “Di mana Rein?” tanya Luc kala dirinya mendadak ingat. “Dia ku perintahkan ke ruangan Marc tadi” jawab Robin. “Dan kau percaya, dia bakal menurutimu?!” tanya Max sedikit ngegas.


Max berlari lebih cepat menuju Underwall. “Amankan ruangan lain. Mereka mungkin, akan menggila di tempat lain. Reine, serahkan saja padaku” ujarnya. Luc dan Robin saling bertatapan. “Kau harusnya sedikit waspada. Rein itu... bukan wanita penurut” kata Luc, ketika dirinya menyadari maksud Max.


Robin menepuk keningnya pelan. “Harusnya, aku tak meninggalkan dia dengan begitu ceroboh. Bodohnya, aku...” keluhnya pada diri sendiri. “Dari pada mengeluh, lebih baik bergegas. Max pasti bisa menghandle Reine dan sel” tanggap Luc. Robin tampak mengangguk. Mereka tampak berlari dan berpencar, guna mempertahankan ruangan penting dari serangan.


Sementara itu, Reine...


Jumlah iblis sama sekali tak imbang, dengan situasi Reine saat ini. Akan tetapi, dia hanya bergantung pada satu hal. Yakni, percaya pada kekuatan yang berasal dari dirinya sendiri.


Aku bukan manusia biasa. Aku bukan manusia pada umumnya. Aku, Reine Dallaire. Ibuku seorang penyihir. Dan ayahku, pemburu para iblis. Aku percaya. Aku percaya pada kekuatanku, batin Reine penuh keyakinan.


“Manusia lemah!”


“Dasar, makhluk rendahan!”


“Enyahlah, manusia bodoh...”


“Kau hanya makhluk rendahan, mana bisa kau mengalahkan kami?”


Suara-suara yang selalu di dengar Reine kala bertemu dengan iblis di sepanjang hidupnya, mendadak terngiang kembali. Sudah banyak sekali, iblis yang merenggut orang-orang yang tak bersalah. Bahkan keluarganya pun, turut menjadi korban keganasan mereka.


Hidup di tengah-tengah para iblis dan siluman, memanglah tak mudah. Bergaul dengan mereka, hanya akan menambah luka. Namun, manusia yang hidup di sini, mereka semua tak memiliki pilihan lain. Selain...


Berdamai.


“Lihatlah, dia terjatuh ke tanah yang kotor! Jijik, ih. Astaga, menyebalkan sekali wajahnya”


“Matilah, penyihir terkutuk!”

__ADS_1


“Sialan, gadis gila ini. Bunuh dia”


Kedua mata Reine mendadak terbuka, ketika perkataan tersebut mulai turut terngiang di otaknya. Sebuah kejadian yang selalu ingin Reine kubur. Hal buruk yang menghancurkan masa SMA-nya.


“Oh, jadi ini... gadis kelas satu itu? Dia, gadis yang bisa menelak serangan iblis, ya? Kalau begitu, bagaimana kalau kita jadikan dia tameng? Pas ada iblis menyerang, tinggal lemparkan saja dia! Hahahahahah!!!”


Reine tampak mengepalkan kedua tangannya. “Serang dia! Habisi si pengganggu itu!” teriak iblis yang tadi, berhasil Reine tembak. Rupanya, iblis tersebut memanglah satu-satunya pelaku yang membuat situasi semakin kacau.


Jarak para iblis makin dekat. Reine berada dalam bahaya. Dia akan mati, jika terus berdiam diri dan tak melakukan apapun.


“Tak hanya kalian, manusia biasa pun juga sama-sama menyebalkan dan brengsek! Matilah, kalian semua!!!!!!” pekik Reine. Dia, berada di ambang batas kesabarannya. Kemarahannya tiba-tiba meledak. Sebuah cahaya menyilaukan, muncul dari telapak tangan Reine.


Kedua telapak tangannya, tampak terulur ke depan. Cahaya yang Reine keluarkan, berhasil mengalahkan seluruh iblis yang menyerangnya. Sekaligus. Mereka tampak rata dengan tanah.


Kekuatan Reine barusan, kuatnya bak milik kekuatan para Pemburu Kematian. Saking besarnya, Reine sampai dapat menyirnakan seluruh iblis yang menyerang. Melihat kekuatan yang begitu besar, para tahanan terlihat kaget. Mereka, memilih untuk diam di dalam sel masing-masing.


“Rein?!” panggil Max yang baru saja berhasil membuka paksa pintu depan sel. Ya, tadi pintunya memang mendadak terkunci dan tak bisa dibuka sama sekali. Dia berlari menghampiri tempat Reine berdiri.


Reine menatap Max yang sedang berlari ke arahnya. Tubuhnya mendadak melemah. Tatapannya mulai samar.


Dengan langkah secepat kilat, iblis tersebut melakukan serangan terakhir. Serangan itu, dia tujukan ke arah Reine yang melemah. Akan tetapi, Max tentu tak hanya berdiam diri.


Melihat iblis tersebut tampak terbang dan menukik dengan kekuatan terakhirnya, Max segera melepaskan sebilah pisau ke arah iblis tersebut. Bukan pisau biasa. Pisau itu, telah dilumuri oleh Abu Kematian.


Karena menyerang tanpa berpikir, iblis tersebut terkena pisau Max dan kembali menjadi abu. Akhirnya, pertarungan dalam sel Underwall pun, usai. Pertarungan itu, berhasil di menangkan hanya dengan kekuatan dari Reine seorang.


“Kau mendengarku? Rein? Rein?!” panggil Max agak panik. Reine tampak tak bergerak sama sekali, saat berada di pelukan Max. “Rein!” teriak Max lebih keras.


Tak lama, kedua mata Reine kembali terbuka. “Bagaimana dengan... para iblis...?” tanyanya bernada lemas. “Mereka semua telah sirna. Kau hebat sekali, Rein. Kau yang mengalahkan mereka semua. Kau berhasil menjaga Underwall. Kau hebat. Terima kasih. Tanpamu, Underwall pasti akan hancur di tangan mereka. Terima kasih...” ujar Max lega. Akhirnya, Reine kembali sadar setelah membuatnya sempat khawatir.


Reine mengangguk pelan. “Syukurlah, aku tepat waktu...” balas Reine pelan. Tiba-tiba, Max memeluk tubuh Reine dengan erat. “Bodoh, kenapa kau berlari kemari sendirian? Ada tombol darurat di dekat lift! Meski kau kuat, kau tetap tidak boleh menyerang sendirian!” omel Max, tepat di telinga Reine.

__ADS_1


Reine hanya terdiam dalam pelukan hangat Max. Rupanya, dia berpikir sebaliknya. Reine kira, sudah tak ada lagi orang yang peduli padanya. Namun ternyata, masih ada orang lain yang peduli, selain keluarganya.


Dan orang itu...


Adalah iblis.


“Rein!” panggil suara lain yang tak asing. Max membantu Reine berdiri, usai melepas pelukannya beberapa menit yang lalu. “Rob, bagaimana dengan lobby?” balas Reine sudah agak kuat, walau masih merasa lemas.


Robin tampak memeluk Reine dengan wajah lega. “Semuanya aman. Berkatmu, Rein. Terima kasih...” ucapnya lembut. Reine tersenyum lega, ketika mendengarnya.


Orang ini, juga. Salah satu orang yang paling peduli padanya, semenjak pertama kali bertemu. Seseorang yang sangat penting bagi Reine.


“Syukurlah, Reine. Dengan kejadian ini, kau mungkin akan semakin terbiasa. Tapi, untuk iblis sebanyak itu... kau berlebihan. Jangan menyelesaikannya sendiri, kalau kau tidak ingin membuat kami tambah susah! Dasar...” dengus Luc. Tadi, dia tampak berdiri di belakang Robin. Menunggu gilirannya untuk berbicara.


“Kenapa kau malah memarahinya?! Dia masih syok, tahu!” amuk Robin mendadak kesal. “Dia, sih! Harusnya, dia tak segegabah itu... menyerang semuanya sekaligus!” balas Luc ngotot. “Kau berteriak? Barusan kau berteriak padaku?!” tanggap Robin makin kesal.


“Haduh... Honey, sepertinya kita harus pindah ke klinik hotel sekarang. Kamu harus mendapat sedikit perawatan” kata Max sembari menanting tangan Reine. “Tapi, aku baik-baik saja” jawab Reine. “Kau masih mau bertahan di sini dan mendengar mereka adu mulut?” tawar Max. “Hm? Tidak. Baiklah, ayo ke klinik. Mereka benar-benar...” ujar Reine, yang berakhir menerima ajakan Max.


Diam-diam mereka melangkah meninggalkan sel Underwall. Meninggalkan Robin dan Luc yang masih berdebat sengit. Keduanya baru sadar, ketika pintu lift yang membawa Reine dan Max, telah tertutup rapat.


~~


“Magie de toutes les magies. Le pouvoir de tous les pouvoirs. S’il vous plaît, protégez-le...” bisik sebuah suara. Suara itu, terdengar menggelitik di telinga Reine. Suaranya terasa dalam dan menusuk hati.


Suara tersebut, bak memohon dengan tulus. Suara yang membuat Reine ingin sekali terbangun dari ranjang klinik hotel. Suara yang membuatnya ingin berkata, “tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja.”


Namun, pria itu masih terus bergumam pelan di telinga Reine.


“Ciel, entends notre voix. S’il vous plaît, protégez-le. Et le libérer de tous les pouvoirs maudits”


“Kau... Siapa?” tanya Reine sembari mencoba meraih sesuatu dengan jemarinya. “Ciel, entends notre voix. S’il vous plaît, protégez-le. S’il vous plaît, protégez-le...” lanjut pria itu lagi. “Tolong, jawablah!” pinta Reine tegas.

__ADS_1


“Oh, kamu sudah bangun rupanya. Maaf, suaraku mengganggumu. Aku akan diam. Jadi, tolong tidurlah lagi...” jawab suara tersebut. “Kau... Siapa?” tanya Reine untuk yang kedua kali. Sebuah tangan berukuran besar, terasa sedang mengelus kening Reine dengan lembut. Telapaknya yang kapalan, semakin membuat jantung Reine berdegup kencang.


“Aku, akan menjagamu...”


__ADS_2