
“Bagaimana bisa, Kupu-kupu pelindung melakukan hal seperti itu? Bukankah, ini adalah Underwall? Underwall lah yang seharusnya, memberikan keputusan untuk hukuman yang akan diterima Arthur” ujar Luc yang masih tak habis pikir. Dia terlihat duduk di salah satu kursi ruang kontrol sel. “Kamera pengawas merekam, Arthur lah yang menyerang Lady Dia terlebih dahulu” koreksi Robin, berdasarkan fakta yang dilihatnya dari kamera pengawas.
Luc menghela nafas panjang. “Tapi, aku tidak mengerti... Kenapa Arthur menyerang Lady Dia? Wanita itu, tak ada kaitannya, bukan?” tanyanya heran. “Benar. Lady Dia harusnya, tidak ada sangkut pautnya dengan Arthur. Arthur begitu keji, membunuh Lady Dia. Padahal, wanita itu berasal dari dunia manusia biasa” timpal Robin. “Shh, tapi, apakah karena Lady Dia seorang manusia biasa, Arthur jadi... tertarik untuk meminum darahnya?” tebak Luc sembari memiringkan kepala.
“Arthur bukanlah iblis rendahan. Dia seorang penjahat kelas kakap yang dipuja dalam klannya”
“Itu juga benar. Tidak mungkin, dia mendadak menyerah untuk kehidupan mewahnya itu. Dan malah, bersenang-senang dengan darah manusia biasa”
“Kau tahu betul. Baginya, darah manusia menjijikkan. Sebab itu, darah mereka hanya akan mengotori martabatnya”
“Lalu, ke mana Max akan membereskan jasad mereka? Kenapa sih, Kupu-kupu pelindung tidak membuatnya terbunuh dengan pedang berlumur Abu Kematian? Kalau sudah begini, bakal repot harus menutupi kematian dua orang sekaligus, bukan?”
“Yang kupikirkan sekarang adalah... Marc. Dia pasti syok dan berusaha untuk menghandle rapat antar tetua klan para iblis”
“Hh, para tetua itu, mereka... sangat merepotkan. Marc sampai tidak mau ku kawal, kalau sedang menghadiri pertemuan dengan mereka. Aku, jadi tidak enak”
“Kenapa? Karena Marc berusaha melindungi perasaanmu dari penolakan para tetua, terhadap kehormatan klanmu? Kalau yang itu sih, memang keterlaluan. Mereka harusnya sadar, dunia itu mudah berubah”
__ADS_1
Luc menunduk lesu. Dia tak menyangkal atau menyetujui perkataan Robin. Dunia klan iblis pengisap darah, memang rumit. Mereka selalu mendongak ke atas dan tak pernah peduli pada yang di bawah. Hanya klan Deval, satu-satunya klan yang memiliki kerendahan hati.
“Aku masih tidak bisa percaya. Aku harus melihat rekamannya sekali lagi. Melihat Max begitu terkejut atas kejadian ini, aku yakin ini adalah hal yang berada di luar jangkauannya” kata Luc sembari membuka sebuah dokumen rekaman di layar monitor. Robin yang sedari tadi bersandar di pintu ruang kontrol sel, mendadak ikut penasaran. Dia segera turut menyaksikan kembali rekaman dari kamera pengawas sel.
Dan sekarang, kejadian asli dari hal itu akan kuungkapkan...
Selama Carine menguasai tubuh Reine, dia selalu rutin mengunjungi Lady Dia di dalam sel. Ya, karena Lady Dia adalah ibu yang sangat di cintai olehnya. Carine juga tak habis pikir dengan pola yang sedang diterapkan oleh Marc.
“Dia hanya seorang manusia biasa? Bukankah sudah seharusnya, ibu di kembalikan ke dunianya?” tanya Carine agak kesal. Dia terlihat duduk di hadapan seorang wanita yang mulai terlihat menua tersebut. Lady Dia tersenyum tipis. “Deval sedang kebingungan, akibat kebodohan ibu, yang mulia” jawabnya.
Carine menghela nafas panjang. “Aku tahu, ibu hanya tidak ingin anak ini jatuh ke tangan yang salah, bukan? Kau melindunginya, dari anak bernama Reine ini, masih dalam kandungan. Kau bahkan sengaja, mendekati ibu Reine agar bisa melihatnya dari jarak dekat” tebaknya pas. Lady Dia kembali tersenyum. “Ternyata, kau masih mengingat ibu...” ucapnya lega, sekaligus senang.
Carine pun, turut mendekatkan dirinya ke arah sang ibu. “Sel di sebelahku adalah sel tempat Arthur di kurung. Anda pasti telah mendengar, tentang perang Vosre dan musuh terbesar klan Deval, klan Archeneux. Beberapa orang di sel mengatakan, Arthur berasal dari klan Archeneux. Semalam dia mengigau dengan keras. Dia bilang, para penyihir hitam telah menemukan 2 dari 7 Permata Legendaris. Jika mereka berhasil mendapatkan ketujuhnya, apa yang akan terjadi, yang mulia? Bukankah... sebuah kehancuran?” jelas Lady Dia dengan nada pelan. Carine tampak diam. Dia tak menjawab dan hanya menyedekapkan kedua tangannya.
“Aku akan membuat Deval memindahkanmu, ibu. Sampai saat itu terjadi, harap berhati-hati dengan Arthur” pesan Carine kemudian. “Yang mulia, bagaimana dengan?” “Aku yang akan mengurusnya. Ibu tidak perlu cemas. Karena aku selalu datang kemari, hal itu pasti akan menarik perhatiannya. Dan juga, dapat membahayakan ibu. Jadi untuk sementara, aku akan mengirim orang untuk memastikan keadaan ibu” sela Carine tegas. “Baik. Kau juga berhati-hatilah, yang mulia” pesan Lady Dia.
Carine melangkah menuju ke tempat Marc berada. Hanya ada dua tempat yang selalu Marc singgahi. Taman atau ruangannya. Dan kali ini, tebakan Carine tepat. Pria itu, sedang berada di ruangannya.
__ADS_1
“Hai...” sapa Carine melembut. Dia masuk, usai Marc terdengar mempersilakan. “Kejutan apa ini? Apa yang mendadak membawamu kemari? Kamu bisa menunggu di rumah” balas Marc terlihat kaget. “Entah, aku merasa harus menemuimu sekarang. Mungkin, rindu? Setelah tugas luar itu berakhir membawa Max kembali ke mari, aku merasa... kau selalu sibuk. Jadi, aku yang harus mendatangimu. Aku takut, kau berusaha menghindariku lagi” kata Carine, seolah dirinya adalah Reine tanpa keraguan apapun.
Marc buru-buru memeluk wanita tersebut. “Aku tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi. Aku sudah berjanji padamu, bukan? Aku akan terus melindungimu. Tapi sayangnya, untuk yang tugas lapangan... aku benar-benar menyesal. Jadi, aku harus mengirim pasukan yang terdekat denganmu. Dan untungnya, Maximilien berhasil melindungimu” ucapnya lembut. Dia terlihat menyandarkan keningnya ke arah kening Carine. Dari sini, dia terasa sangat dekat dengan Carine.
Pacarmu sedang merindukanmu, sayang. Segeralah pulih dan peluk dia dengan erat, batin Carine merasa sedih. Beberapa menit yang lalu, dia sempat memeriksa keadaan Reine. Rupanya, luka yang di dapat Reine dari Tobie, masih belum pulih sepenuhnya.
Reine mendapatkan luka yang cukup besar, tepat di punggungnya. Tanpa sepengetahuan siapapun. Kecuali, Gray tentunya. Andai saja Carine tak ada di dalam tubuh Reine, dia mungkin sudah tewas. Karena Reine, hanyalah manusia biasa yang kebetulan, dipilih oleh langit untuk menjaga permata perak. Ya, sebab itu pula, Reine di anugerahi kekuatan yang istimewa.
“Apa yang sedang kau cemaskan?” tanya Carine penuh kasih, bak Reine seperti biasa. Marc terdengar menghela nafas berat. “Arthur...” jawabnya pelan. Carine mengerutkan keningnya.
“Kenapa dengan Arthur?” tanya Carine yang harus lagi-lagi mendengar nama dari iblis pengisap darah kejam tersebut. “Para tetua di klan akan mengadakan perkumpulan. Hukuman Arthur, akan di tentukan oleh mereka. Secara adat ataukah hukum dunia ini” jelas Marc. Terlihat jelas, dia sedang kesulitan.
“Kenapa kita perlu mendengar pendapat dari mereka? Bukankah, kau yang bertanggung jawab penuh atas hukuman yang akan diterima Arthur?”
“Arthur adalah Archeneux. Sebab itu, seluruh klan terhormat dalam pengisap darah, berhak untuk di dengar”
“Itu hanyalah sebuah tradisi, bukan?”
__ADS_1
Marc mendadak terkejut, usai mendengar ucapan Carine. “Kamu ini, siapa?” tanyanya syok. Carine menyadari sesuatu. Harusnya, dia berlagak polos sedari awal.
Bodoh.