
Dia hanyalah seorang manusia yang menjadi korban dari rencana pengkhianatan iblis. Dia akan mencelakai lainnya, tapi tidak akan pernah mencelakaimu. Bukan karena Permata yang Ini alasannya. Melainkan, karena ikatan yang sudah terjalin, sebelum hari ini terjadi. Reine, aku percaya padamu. Aku yakin, ketika waktunya tiba... kau pasti akan dapat menyelesaikannya
Suara itu, semakin lama semakin mengecil. Tak ada yang bisa Reine lakukan, agar suara tersebut dapat terus membimbingnya. Dan selalu berakhir begitu.
Mau tidak mau, Reine harus bangun dari tidurnya. Semacam, serangan dari sebuah mimpi buruk. Tapi isinya, bukanlah sesuatu yang membuat takut atau panik.
Ini sudah mimpi yang ke sepuluh. Suara itu, selalu saja muncul ketika Reine mendapatkan masalah yang pelik. Hanya saja, Reine tak bisa menceritakannya.
Bukan karena dia takut atau tak yakin. Namun, memang suara tersebut seakan berasal dari dalam dirinya. Dia merasa, suara itu adalah dirinya.
Karena alasan tersebut, Reine merasa tak harus menanyakannya pada orang lain. Atau bahkan, menceritakannya. Dia hanya yakin, bahwa suara itu adalah dirinya yang memberi sebuah pesan.
Di ruangan yang berbeda, di pagi yang masih cerah, Marc berada di dalam ruangan pertemuan. Di sana, Robin juga sudah hadir. Tak lama, Gray membuka pintu ruangan dan duduk di sembarang tempat yang dia mau.
Ruangan tersebut memang, terbilang sangat besar untuk seukuran ruang pertemuan bagi staf penting. Karena, staf penting yang ada di dalam Underwall ya cuman ada 4. Marc, Gray, Robin dan juga, Luc. Mereka adalah petinggi di sana, mewakili klan masing-masing.
Banyak hotel di dunia baru. Namun, hanya ada satu hotel yang memiliki fasilitas seperti di Underwall. Hotel yang di dalamnya, terdapat sebuah pengadilan paling tinggi di dunia baru.
Hotel satu-satunya yang memiliki tingkat keamanan tinggi, setelah dibobol beberapa iblis akhir-akhir ini. Hotel yang juga, satu-satunya memberikan akses dunia baru dengan dunia manusia biasa. Meski, harus mendapatkan perizinan yang ketat dulu sebelum melewati pintu untuk ke seberang.
Tapi yang paling beda dari yang lain adalah...
Perisai.
Hanya ada satu perisai yang menghubungkan pintu dunia iblis dengan dunia manusia biasa. Dan perisai tersebut, hanya muncul pada orang-orang yang memiliki niat baik. Jika tidak, perisai akan menempatkan siapapun yang menyeberang, ke tempat tujuan yang berbeda.
__ADS_1
Kematian.
“Tapi, perisai sudah tidak seperti yang dulu lagi. Dia tak lagi bisa mementalkan sihir kelas kakap. Buktinya, Lady Dia bisa melewatinya, meski dia memiliki misi yang buruk” kata Robin. “Dia juga memiliki misi yang baik, kok. Menyelamatkan Reine dari tangan klan Deval, bukan? Bagi perisai, itu dihitung menjadi sebuah kebaikan” tanggap Gray santai. Dan segelas anggur, tak pernah luput dari agenda obrolan paginya.
“Walau tidak terbukti, kan? Kalau klan Deval adalah klan yang mengerikan? Seperti yang dia katakan” balas Robin. “Yang penting itu, niatnya. Kalau perisai membiarkannya masuk, artinya, dia masih memiliki niat baik” ujar Gray. “Niat baik yang seperti apa, ya? Sampai saat ini, aku masih tak bisa menebaknya” kata Robin sembari mengerutkan kening.
“Kita tidak bisa... mencari tahu apa yang telah di putuskan oleh perisai. Atas dasar apa, kita juga tidak berhak untuk mengetahuinya” timpal Marc. Robin mengangguk paham, meski pemikirannya masih agak janggal. Sementara Gray, dia memilih untuk tak memberikan penjelasan apapun.
Lady Dia... Wanita itu adalah ibu Carine. Tentu, perisai tidak akan menolaknya. Walaupun, dia juga memiliki rencana buruk untuk Underwall. Namun, kabar yang dia bawa untuk putrinya, mengenai para iblis yang mulai berkuasa di dunia manusia biasa... tetap tak bisa di acuhkan oleh perisai. Sebab itu, dia berhasil melewatinya, pikir Gray. Kemudian, dia kembali meneguk segelas anggurnya. Gray mulai berpikir, dia harus memeriksa sesuatu yang terus membuat pikirannya tak stabil.
“Yang jelas, perisai tidak akan salah dalam menerima seseorang. Sebab, tak hanya mendapatkan perlindungan dari Langit saja. Kupu-kupu penjaga pun, turut andil dalam pengawasannya. Jadi, apakah kalian tetap meragukannya?” ucap Gray, tak dapat di debat. Seketika, Marc maupun Robin mendadak terdiam. Mereka mengakui dan percaya, bahwa kupu-kupu pelindung selalu melindungi dunia mereka. Dunia para iblis.
Gray beranjak pergi dari ruangan Marc. Kegelisahan hatinya, membuat tak nyaman hingga dia harus mencari tahu itu. Dia terlihat melangkah ke arah perisai berada.
Gray menatap ke arah Raven yang berada di bahunya. “Selama aku tidak ada di tempat, siapa lagi yang mengurusnya?” balasnya cuek. “Yang mulia...” rengek Raven. “Lagian, dia Nonamu! Urusi saja dia sana! Bukankah, ini hal yang biasa kau lakukan? Sama seperti dulu, bukan? Jadi, ini akan mudah. Aku harus memeriksa sesuatu. Ingat, jangan buat onar, sampai aku kembali” pinta Gray agak mengancam.
Tanpa memberi balasan, Raven segera menjauh dari bahu Gray. Dia terbang tinggi ke atas langit-langit. Menatap kepergian Gray yang mulai melangkah masuk ke dalam perisai. Tak lama, Gray telah menghilang.
~~
Marc sering berdiam diri di perpustakaan Underwall, usai Luc memutuskan untuk mengambil jalan yang berseberangan. Robin pun, juga melakukan hal yang sama beberapa hari ini. Dia fokus pada 7 permata dan sejarah kejahatan Pvalka. Buku-buku kuno yang dulunya, tak pernah dia butuhkan.
Reine turut merasakan ketegangan itu. Underwall sudah seperti hendak pergi berperang. Ancaman dari para iblis, memang bukan main. Terlebih, mereka memanfaatkan Luc untuk menghancurkan Underwall.
Reine memutuskan untuk bergabung dengan Marc di perpustakaan. Dia mengelus lembut bahu Marc yang terlihat tegang. Ketika menyadari keberadaan Reine, Marc tampak tersenyum lebih tenang.
__ADS_1
“Kamu melihat Robin?” tanya Reine, karena tak menemukan Robin di segala tempat. Usai dihabisi Luc, dia merasa lemah. Dia juga terus menyalahkan diri, atas kejadian yang menimpa Reine. Termasuk, saat Reine terjatuh dari cengkeraman siluman waktu itu.
Mungkin, Reine tak akan selamat jika Luc tak menangkapnya. Dan hal itu pun, masih menjadi titik berat bagi Reine. Kenapa dan kenapa, terus saja terbesit dalam pikirannya.
“Luc itu, tidak akan mungkin menyakiti orang yang dia sayangi. Aku, Robin, Luc dan Max, kami semua menyayangimu dan memiliki tujuan yang sama. Selepas, kamu membawa permata atau tidak” kata Marc membuka obrolan. “Kenapa?” tanya Reine tak mengerti. “Karena kamu adalah putrinya Adrien” ungkap Marc pendek.
Reine tampak mengerutkan kening. “Hanya sesederhana itu?” tanyanya tak percaya. Marc pun tersenyum. “Ayahmu... adalah segalanya bagi kami. Ketika kami masih muda dan belum mengenal dunia iblis yang penuh dengan intrik, ayahmu selalu memberi sebuah nasihat yang pas” kisah Marc mengulang masa lalu.
“Saat masih muda?”
“Ya, ayahmu dulu pernah menjadi guru di sekolah kami. Di sekolah khusus para penyihir. Bagi kami para klan atas, pasti akan dikirim ke sekolah khusus para penyihir”
“Penyihir? Jadi, kamu juga belajar sihir? Ayahku... mengajar di sana?”
“Ya, dia mengampu pelajaran senjata. Dia adalah salah satu guru yang kami segani”
“Kalian benar-benar sedekat itu, ya?”
Marc mengangguk membenarkan. Persahabatan mereka berempat, tidak hanya karena Underwall. Mereka bersahabat, jauh sebelum itu. Bahkan mereka, menempuh sekolah yang sama selama bertahun-tahun.
“Dulu, kami berempat pernah berjanji. Kami akan melindungi putri Adrien, karena dia adalah satu-satunya keturunan manusia dan seorang penyihir” ujar Marc masih mengingat jelas janji itu “Saat kamu lahir di dunia, situasi dunia sedang kacau. Kalau seorang iblis berhasil mencium baumu, mereka akan memakanmu hidup-hidup” lanjutnya. Mendengar hal tersebut, Reine akhirnya mengerti.
“Sebab itu, kami tidak bisa melepaskanmu begitu saja. Bahkan, ketika kamu berada di luar dunia iblis ini, kami selalu berusaha untuk mencarimu. Dan ternyata, takdir berpihak pada kami” jelas Marc menambahkan. Reine mengangguk penuh syukur. Dia makin paham, mengapa Luc tak bisa mencelakainya.
Karena, pria itu berusaha memegang janjinya sebagai seorang iblis yang melindungi Reine dari bahaya. Putri dari Adrien, seorang guru yang dia hormati.
__ADS_1