
Robin membawa dua cangkir berisi kopi. Dia baru saja membuatnya, di sebuah meja dekat jendela. Ruangannya, benar-benar rapi hingga tak bercela. Walau barang-barangnya banyak, ruangannya terlihat bersih.
Ruangan Robin juga dilengkapi jendela yang besar. Dia tak selalu membuka gorden dan membiarkan sinar matahari masuk begitu saja. Zaman dahulu, iblis penghisap darah memang tidak bisa terkena sinar matahari. Namun karena zaman telah berubah, mereka mulai menyesuaikan cara hidup mereka.
Sepertinya, Robin sangat menyukai pemandangan dan cahaya. Ruangannya, tidak gelap seperti milik Marc. Ruangannya, benar-benar terorganisir dengan baik, batin Reine.
“Kamu sedang mengagumi apa? Ruangan ini atau orang yang punya ruangan ini?” tanya Robin menjebak. Reine menghela nafas panjang. “Sudah kuduga, aku akan terjebak. Jadi, aku menolak untuk menjawab” tanggapnya kemudian.
Robin tampak tertawa pelan. “Aku bercanda. Tentu, kamu tidak perlu menjawabnya. Lagi pula, kamu kubawa kemari bukan untuk membicarakan ruanganku. Duduklah...” ujarnya. Reine mengangguk sembari mengambil tempat duduk yang ada. “Jadi, apa yang akan kau katakan?” tanya Reine mendadak penasaran.
Robin tampak duduk di hadapan Reine. “Aku terkesan. Hari ini, kamu telah membuktikan kalau dirimu berbeda dari yang lain” ucap Robin memulai. Reine mengerutkan kening. “Maksudmu? Berbeda dari yang lain?” tanyanya tak mengerti.
~~
Reine terdiam di hamparan padang rumput yang luas. Hamparan rumput itu, hanya ada di balik taman belakang hotel. Untuk masuk ke dalam sana, Reine harus melewati beberapa semak dan pepohonan. Susah, pokoknya.
Tapi, namanya kesulitan pasti akan membuahkan sebuah kebahagiaan. Reine suka menyendiri di sana. Dia hanya sekedar ingin menenangkan pikiran.
Selama bekerja di Underwall, semuanya terasa berbeda. Meski dia sudah bisa beradaptasi dengan mudah, tetap saja masih ada kejanggalan di hatinya. Beban terasa makin berat, walau dia tak perlu mencemaskan uang dan tempat tinggal.
Kamu adalah manusia yang berbeda dari lainnya. Kamu memiliki kekuatan yang terpendam di dalam darahmu. Dengan kekuatan itu, kamu tak hanya bisa melindungi dirimu. Tapi juga, orang-orang di luar sana. Kami berharap, kamu bisa meminjamkan kekuatan itu untuk Underwall...
Perkataan Robin, sekilas membuatnya semakin terbebani. “Dia memintaku untuk meminjamkan kekuatan. Tapi, aku sendiri masih enggak mengerti. Aku tidak percaya, kalau kejadian demi kejadian yang mampu membuatku bertahan itu... akibat dari munculnya kekuatanku. Apa? Apanya yang berbeda dari manusia lainnya?” kata Reine bertanya-tanya sambil menatap ke atas. Siapa tahu, langit bisa membantunya untuk menjawab.
“Aku bahkan, tidak tahu kalau yang melindungi semua itu asalnya dari dalam diriku. Bagaimana aku bisa percaya pada sesuatu yang tak pernah kulihat dengan kedua mata? Kalau aku saja tidak tahu bagaimana caranya membuat kekuatanku muncul... bagaimana caranya aku bisa melindungi semuanya?” keluh Reine. Nadanya terdengar frustrasi. Dia menatap tajam ke arah langit yang, sama sekali tak membalas.
__ADS_1
“Rasakan... Hanya dengan merasakannya, kau akan percaya bahwa hal itu ada” celetuk seseorang. Reine tersentak. Hampir saja, dia kehilangan keseimbangan dan terpeleset rumput yang basah.
Buru-buru, Reine menoleh ke asal suara. Di sampingnya, Marc telah berdiri sembari memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. “Aih, kau rupanya... Ku kira, siapa...” tanggap Reine berusaha menenangkan jantungnya yang masih deg-degan.
“Padahal, dengan siluman seperti yang tempo hari saja... kau tidak takut. Ini cuma aku, lho... Sampai sekaget itu. Kenapa? Takut? Atau... lainnya?” canda Marc. “Bukan takut. Hanya kaget, kok!” balas Reine mengalihkan pandangan. Marc mengangguk mengerti. “Baguslah...” ujarnya.
Hening.
Suasana apa ini? Meski sepi, aku tetap merasa aman. Kekuatan Marc, benar-benar luar biasa, batin Reine.
“Benar, kan? Kau juga merasakan kekuatanku, meski aku sedang tidak melakukan apapun?” ucap Marc mendadak. Reine kembali terkejut. Refleks, Reine menatap ke arah Marc lagi.
“Kenapa kau bisa... mendengar perkataanku? Tadi kan, aku... bicara dalam hati?” tanya Reine heran. Marc tersenyum tipis. Pria tersebut tampak menatap ke arah langit.
“Entah. Semenjak kau ada di sini, kekuatanku mendadak aneh”
“Mungkin, tidak. Selama aku menggunakannya hanya untuk melindungimu, mungkin tidak akan ada masalah”
“Bagaimana dengan yang tempo hari? Kekuatanmu itu... aku sempat membacanya di perpustakaan. Sebuah buku menuliskan, kalau kau...” kata Reine terhenti, usai tangan Marc memegang pergelangan tangan Reine. “Suatu saat nanti, aku akan menceritakan semuanya padamu” tanggap Marc. Reine tampak kecewa. Bukan itu, yang ingin dia dengar dari Marc.
“Tapi... ada satu permintaan dariku untukmu. Jika kau berhasil melakukannya, waktu untuk menjelaskan semuanya padamu... akan semakin dekat. Itu pun, kalau kau benar-benar berhasil melakukannya” ujar Marc. Ucapan tersebut, seakan membuat Reine mendapatkan kesempatan. “Apa yang harus kulakukan?” tanyanya bersemangat.
Tiba-tiba, wajah Marc kembali mendekat ke arah wajah Reine. Marc benar-benar sukses, membuat Reine kewalahan dengan detak jantungnya yang tak karuan. “La.ti.han” bisik Marc setengah mengeja.
Reine berubah cemberut. “Aku ingin, kau menghadiri kelas menembak besok" perintah Marc. “Memangnya, selama ini... aku selalu absen untuk latihan apa? Sampai-sampai, kau mengikutiku kemari hanya untuk mengatakan hal itu” gerutu Reine. Marc terdengar menghela nafas. “Tempat ini adalah tempat rahasiaku untuk menenangkan diri. Jadi, kenapa aku harus mengikutimu?” balasnya.
__ADS_1
“Uh, kau seperti anak kecil saja! Ya, ya! Ini milikmu! Nikmatilah~” kata Reine agak kesal. Dia berbalik dan hendak meninggalkan Marc. Namun, Reine mungkin harus mengurungkan niatnya.
Karena tangan Marc, terlihat mencekal tangan Reine lebih dulu. “Siapa bilang, kau boleh pergi? Tempat ini, kuberikan untukmu. Hanya untukmu saja” ucap Marc kemudian. Reine buru-buru menatap ke arah Marc dengan ekspresi terkejut.
Tatapan yang tajam, namun lembut itu. Tangannya yang dingin, tapi terasa hangat ini... Seperti sesuatu yang sudah ku kenal sebelumnya. Hanya dengan senyum setipis itu, hatiku terasa... Tenang? Kau ini, siapa? Kau seperti, pernah berada di beberapa sudut memori dalam otakku. Apakah aku... Mengenalmu? Ku kira, aku kehilangan sesuatu, pikir Reine keras.
“Karena tempat ini ku hadiahkan untukmu, kau harus menggunakannya untuk melakukan sesuatu yang penting” pesan Marc. “Berpikir? Apa itu sesuatu yang penting?” tanya Reine. “Tentu, itu penting. Tapi, aku ingin kau melakukan sesuatu yang lain” jawab Marc.
Reine mengerutkan kening sebentar, kemudian dia tersadar. “Kau ingin, aku latihan di sini kan?” tebak Reine pas. “Eh? Ketahuan, ya?” balas Marc, seolah merasa kaget. “Dasar...” keluh Reine sebal.
“Jadi, apa yang harus kulakukan?” tanya Reine tak lama setelah terdiam sejenak. “Bisa kau ingat, bagaimana keadaanmu saat kekuatan itu muncul?” jawab Marc balik bertanya. “Biasa saja, sih. Cuman berdiri biasa...” terang Reine.
“Kakimu? Pikiranmu? Atau tangan dan gerakan tubuh lainnya? Kalau aku nih... Kalau mau kekuatanku muncul, biasanya aku bakal berpusat pada target dan wuush, muncullah”
“Kau gila? Kau sudah seperti, bocah-bocah penggemar film super hero. Kayaknya, aku salah orang nih buat melatih kekuatanku”
“Apa maksudmu? Kau saja, yang tidak paham-paham... Duh, susahnya...”
“Kalau murid sampai tidak paham, berarti pengajarnya yang tidak bisa mengajar!”
“Lho, kok jadi marah? Aku niat nih, ngajarinnya!”
“Wuahh, kau juga bisa berteriak, ya? Kau memarahiku?” ujar Reine tercengang. Marc menyadari sesuatu. Bicaranya, sudah kelewat batas. “Aku... tidak berteriak kok. Aku juga, tidak marah. Aku hanya sedikit... berbicara tegas. Itu semua kulakukan, agar kau bisa mengerti” tanggap Marc berusaha mengelak.
Reine masih mengerutkan kening. Dia menatap tajam ke arah Marc. Tanda bahwa, dirinya masih curiga. Mendadak, kedua pipi Marc terlihat merona.
__ADS_1
Jantungnya, berdetak cepat. Hal yang terjadi malam ini, sungguh di luar dugaan. Nafasnya, terasa telah berhenti.
Tidak. Jangan begini. Alihkan perhatianmu ke arah lain, Marc. Jangan... Tolong, jangan... jatuh cinta, ucapnya dalam hati.